Natasya

Natasya
EXTRA PART: Silvi dan Julian (4)


__ADS_3

"Saya mencintai Silvi, tante. Saya janji akan bisa membahagiakan Silvi" ucap Julian bersungguh-sungguh.


Kedua orang tua Silvi berdecak.


"Sampai kapanpun, kamu tidak akan pernah pantas untuk putri kami" ucap mamanya Silvi sinis.


Wanita paruh baya itu segera beranjak dari duduknya dan hendak pergi.


"Apa maksud mama? Silvi dan Julian saling mencintai, Ma" Silvi masih bersikeras.


"Ayo pulang. Mama tidak akan merestui hubungan kamu dengan pria miskin seperti dia" mamanya Silvi segera menarik tangan putrinya tersebut.


Silvi berusaha berontak, namun upayanya sia-sia.


Silvi akhirnya terpaksa menurut dan mengikuti langkah sang mama untuk keluar dari restorant tersebut.


Kini tinggal Julian dan papanya Silvi.


"Jauhi Silvi dan jangan pernah berharap untuk bisa bersanding dengannya" ucap papanya Silvi dingin.


"Om, beri saya kesempatan. Saya akan membuktikan kalo saya bisa mandiri dan punya masa depan" pinta Julian memohon.


Kalau perlu dirinya akan mengemis kesempatan malam ini demi memperjuangkan cintanya pada Silvi.


Papanya Silvi tampak berpikir sejenak.


"Baiklah, aku akan memberimu satu kesempatan. Dalam waktu satu tahun kamu harus bisa membuktikan semuanya. Jika kamu gagal, kamu harus pergi selamanya dari kehidupan Silvi" ucap papanya Silvi sambil beranjak dari duduknya.


Pria paruh baya itu segera pergi meninggalkan Julian yang masih duduk termenung.


Kini hanya tinggal Julian seorang diri.


Julian mengusap kasar wajahnya. Ia kini bingung harus bagaimana.


*****


"Pria seperti itu yang kamu sebut calon suami, ck" mamanya Silvi mengejek sekaligus berdecak tak percaya.


"Apa peduli mama? Bukankah selama ini mama dan papa memang tidak pernah menyayangi Silvi. Kenapa sekarang kalian ikut campur tentang siapa yanh pantas menjadi suami Silvi?" Jawab Silvi dengan galak.


Gadis itu bahkan sudah meninggikan suaranya hingga bergema ke seluruh penjuru rumah besar itu.


"Apa maksudmu? Kalau kami tidak menyayangimu, mana mungkin kamu bisa hidup bergelimang harta seperti sekarang ini?" Balas sang mama tak kalah galak.


"Mama pikir Silvi butuh semua ini? Mama salah besar. Silvi hanya butuh perhatian dan kasih sayang dari mama dan papa. Tapi selama ini mama dan papa selalu sibuk dengan pekerjaan, meeting, berkas. Mama dan papa benar-benar egois!" Bulir air mata kini sudah jatuh di kedua pipi Silvi.


"Kami bekerja keras untukmu, ini semua untuk kebahagiaan kamu, Sil" mamanya mencoba mencari pembelaan.

__ADS_1


Silvi menggeleng,


"Sayangnya Silvi tak pernah bahagia dengan ini semua. Silvi hanya ingin kalian berhenti mencampuri kehidupan Silvi sekarang dan biarkan Silvi bahagia dengan pilihan Silvi" Silvi masih bersikeras.


Sang mama terlihat mendengus kesal.


"Lalu apa kamu pikir,kamu akan bahagia setelah menikah dengan Julian yang miskin itu?" Tanya sang mama mulai emosi.


"Ya, Silvi pasti bahagia. Julian punya orangtua yang menyayanginya dan juga menyayangi Silvi seperti putri kandung mereka.


Julian di besarkan di keluarga yang berlimpah kadih sayang. Julian selalu berkata lembut pada Silvi dan tidak pernah membentak Silvi. Tidak seperti mama dan papa yang hanya memikirkan harta, harta, dan harta. Hingga lupa jika yang dibutuhkan gadis kecil mama dan papa ini bukanlah sekedar harta berlimpah. Tapi dia juga butuh kasih sayang" jawaban panajng lebar dari Silvi membuat sang mama terdiam.


"Silvi tidak akan pernah menikah dengan pria manapun yang mama dan papa pilihkan. Silvi hanya akan menikah dengan Julian" lanjut Silvi sekali lagi.


Gadis itu segera berlari menaiki anak tangga dan masuk menuju kamarnya.


Silvi menangis semalaman.


******


Julian baru saja selesai bercerita tentang kejadian makan malam di restorant bersama kedua orang tua Silvi kemarin lusa.


Semua yang di khawatirkan Dion ternyata benar-benar terjadi.


Kini Dion hanya bisa menatap prihatin pada Julian.


Dion hanya bisa memberikan dukungan dan semangat untuk Julian.


Dion menyarankan pada Julian agar meminta bantuan pada Denny.


Semoga semua masalah ini akan segera menemui jalan keluar.


*****


'Besok aku kembali ke Paris'


Pesan singkat dari Silvi sukses membuat Julian tertunduk lesu.


Lelaki itu seperti kehilangan semangat. Namun Julian juga tak bisa berbuat banyak.


Dirinya dan Silvi belum ada ikatan apapun.


Namun Julian sudah bertekad untuk membuktikan pada kedua orang tua Silvi bahwa dirinya pantas bersanding dengan Silvi.


Julian harus menepati janjinya pada Silvi untuk terus memperjuangkan hubungan ini.


Julian akan menemui Denny hari ini.

__ADS_1


*****


Satu tahun berlalu.


Perlahan tetapi pasti, usaha yanh dirintis oleh Julian mulai berkembang.


Sebuah usaha makanan franchise dengan beberapa cabang yang ada di kota tersebut.


Julian bukan hanya seorang atlit basket kini, ia juga sudah jadi seorang pengusaha.


Semua tak lepas dari usaha keras Julian dan sedikit bantuan dari sahabatnya, Denny.


Kini Julian bisa membuktikan pada kedua orangtua Silvi bahwa dirinya layak bersanding dengan Silvi.


Julian mengetuk pintu besar yang kini ada di hadapannya.


Julian bahkan rela terbang ke negara ini sendirian demi membuktikan kesungguhannya dalam memperjuangkan Silvi.


Tak berselang lama, pintu itupun di buka dari dalam.


Ada papanya Silvi yang menatap tajam pada Julian.


"Selamat malam, om" Julian berusaha menyapa dengan ramah.


"Selamat malam" papanya Silvi membalas sapaan dari Julian dengan nada dingin.


Namun ia tetap mempersilahkan anak muda di depannya itu untuk masuk ke dalam rumahnya.


Silvi yang tahu jika hari ini Julian akan datang, hanya bisa berdiri diatas ujung tangga. Silvi berharap kali ini sang papa akan luluh dan mau merestui hubungannya bersama Julian.


Papanya Silvi menatap tajam pada Julian,


"Aku sungguh tidak menyangka kamu benar-benar berjuang keras dan tidak menyerah demi mendapatkan putriku" ucap papanya Silvi masih dengan nada dingin.


"Saya mencintai Silvi, om." Jawab Julian bersungguh-sungguh.


Selama setahun ini, papa Silvi mencari tahu bagaimana kehidupan Julian, keluarganya, latar belakangnya, bahkan semua yang dilakukan Julian selama setahun ini demi memperjuangan Silvi tak luput dari pengawasan papanya Silvi.


Ia akui, anak muda di depannya ini memang pekerja keras dan pantang menyerah.


Mungkin memang sudah saatnya ia merestui hubungan putrinya bersama Julian.


Soal mamanya Silvi yang sepertinya masih keberatan dengan hubungan Silvi dan Julian, papanya Silvi memilih untuk mengabaikannya saja.


Toh sejak dulu mantan istrinya itu memang egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri.


Sekarang yang terpenting adalah kebahagiaan Silvi, putrinya.

__ADS_1


Dan papanya Silvi yakin Julian adalah orang yang tepat yang akan memberi kebahagiaan untuk sang putri.


__ADS_2