Natasya

Natasya
Takut Kehilanganmu


__ADS_3

Dion sedang menyuapi Tasya, saat mama Sarla datang ke rumah sakit.


"Dion?" Ucap mama Sarla terkejut. Ia tak menyangka Dion sudah berada di tempat ini. Yang mama Sarla tahu, Dion sekarang menjadi pemain pro di sebuah klub basket di Jakarta


"Siang, Tante" sapa Dion ramah pada mama Sarla. Dion segera mencium.punggung tangan wanita paruh baya tersebut.


Mama Sarla bergegas menghampiri Tasya.


"Kenapa gak ngabarin mama, Sya? Kamu kenapa?" Tanya mama Sarla khawatir. Ia mengelus lembut puncak kepala Tasya


"Tasya gak papa kok, Ma." Ucap Tasya sambil menunduk. Ia berusaha tegar. Namun lagi lagi air matanya jatuh tanpa permisi.


Tasya berusaha menghapus airmatanya yang sudah terlanjur jatuh. Tasya sungguh tidak ingin menangis di depan mama Sarla sekarang.


"Sya, ada apa?" Maka Sarla semakin khawatir.


"Dion, ada apa ini sebenarnya?" Mama Sarla ganti bertanya pada Dion.


Namun Dion hanya tertunduk. Ia bahkan bingung harus mulai bercerita darimana.


Ceklek,


Suara pintu di buka.


Rupanya Ronny sudah kembali dari mengantar Salsa.


"Tante, sudah datang?" Tanya Ronny sedikit salah tingkah.


"Ronny. Apa yang sebenarnya terjadi pada Tasya?" Tanya mama Sarla serius. Ia menatap tajam pada Ronny.


"Tante duduk dulu, biar Ronny jelaskan" Ronny membimbing mana Sarla agar duduk di sofa.


Setelah mama Sarla terlihat tenang, Ronny mulai menceritakan semua kejadian yang sudah menimpa Tasya.


Ronny bercerita sedetail mungkin. Terlihat mama Sarla mulai emosi.


Tasya masih menangis dalam diam. Dion yang merasa prihatin, hanya bisa memeluk gadis itu dan mencoba untuk menenangkannya.


Dion tahu, semua ini pasti terasa berat untuk Tasya.


"Lalu, dimana sekarang orang jahat itu?" Tanya mama Sarla emosi.


"Kevin masih dirumahnya, tante. Tapi Ronny sudah lapor ke polisi. Mungkin sebentar lagi Kevin akan ditahan" ucap Ronny setenang mungkin. Ia juga emosi dan marah pada Kevin. Namun Ronny tak mau bertindak main hakim sendiri.


Rasanya Ronny sudah puas melihat wajah Kevin yang babak belur karena dihajar Dion tadi pagi.


Untuk selanjutnya, biarlah polisi yang bertindak.


Mama Sarla berjalan mendekat ke arah Tasya.


Ia segera memeluk Tasya dengan erat.


Mama Sarla sungguh tak menyangka kalau Tasya akan mengalami nasib semalang ini.


"Mama turut prihatin, Sya. Tapi mama yakin kamu akan jadi wanita yang tegar dan kuat" ucap mama Sarla sambil berlinang airmata.


Hatinya ikut sakit dan merasakan apa yang kini dirasakan oleh Tasya.


Gadis ini pasti sekarang merasa hancur dan putus asa.


"Kapan Tasya diperbolehkan pulang, Ron?" Tanya mama Sarla pada Ronny.


Mama Sarla ingin merawat Tasya dirumah.


"Sebenarnya, kondisi Tasya sudah membaik tante. Dia hanya perlu banyak istirahat dan tidak boleh stress. Dokter sudah memperbolehkan Tasya pulang" jelas Ronny panjang lebar.

__ADS_1


Mama Sarla mengangguk tanda paham.


*****


Dion menyesap kopi pahit yang masih mengepulkan asap itu.


Pikirannya benar benar kacau belakangan ini.


Ia berpikir cutinya selama dua minggu ini akan berjalan sesuai rencananya.


Namun yang terjadi malah di luar dugaan.


"Bro" Denny menepuk punggung Dion, membuat semua lamunan Dion menjadi buyar.


Denny duduk di kursi di depan Dion.


Mereka berdua sedang berada di kafe milik Denny.


"Gue turut prihatin atas apa yang menimpa Tasya" ucap Denny tulus.


Dion hanya mengangguk samar.


"Gue bingung, Den" Akhirnya Dion mengungkapkan kebimbangannya.


"Soal perasaan loe ke Tasya?" Tebak Denny.


Dion tak menyangka jika temannya ini sekarang menjadi peka.


Mungkin pernikahan memang telah membentuk karakter Denny menjadi lebih dewasa.


"Mendadak gue jadi ragu sama perasaan gue sendiri.


Kadang gue berpikir kalau Tasya juga menyukai Kevin. Lalu mereka akan menikah seperti yang terjadi pada loe dan Vina" Dion mengungkapkan semua hal yang mengganjal di hati nya.


"Kejadiannya beda, Di. Dulu gue dan Vina nglakuin itu karena kami sama-sama khilaf. Tapi yang menimpa Tasya, itu disengaja sama Kevin. Jadi jangan samakan situasinya" jelas Denny mematahkan teori Dion.


"Dion, semua keputusan ada di tangan loe. Kalau loe masih cinta dan sayang sama Tasya, baiknya loe lanjutin hubungan ini. Tapi kalo loe merasa gak sanggup lagi, mungkin baiknya loe akhiri sekarang." Denny menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Tapi kalau loe bertahan hanya karena tak mau menyakiti Tasya, gue kira itu salah, Di. Karena nanti ujung ujungnya loe tetep akan nyakitin Tasya di belakang. Lebih baik loe jujur dari awal, mungkin Tasya akan merasa kecewa. Namun setidaknya Tasya tidak akan merasa dibohongi" ujar Denny panjang lebar.


Dion masih tak menjawab.


Ia ingat kata kata Salsa beberapa hari yang lalu tentang Tasya yang takut jika Dion meninggalkannya.


"Mungkin gue butuh waktu buat mikirin ini semua, Den" ucap Dion akhirnya.


"Gue percaya loe bakal kasih yang terbaik untuk Tasya" ucap Denny optimis.


Dion hanya mengangguk.


Hatinya sedikit ragu antara bertahan atau melepaskan Tasya.


Sudah hampir sepekan Tasya kembali ke rumahnya.


Dion masih setia menjenguk Tasya setiap hari. Ia terus berusaha menjaga hati Tasya agar tidak rapuh dan psikisnya kembali normal.


Namun Dion juga tidak bisa membohongi hatinya kalau sebenarnya Dion mulai ragu dengan hubungan ini.


Entahlah, Dion mulai dilema.


Lusa ia sudah harus kembali ke Jakarta dan mulai berlatih lagi.


Pikirannya,masih saja kacau.


Laga profesional antar klub akan dimulai beberapa pekan ke depan.

__ADS_1


Dion kini benar benar tak tahu harus bagaimana.


*****


Tasya sedang duduk di teras rumahnya.


Sudah hampir sepekan ia pulang kerumah. Tidak ada kegiatan berarti yang Tasya lakukan.


Tasya mengambil cuti kuliah untuk beberapa bulan. Ia masih harus memulihkan kondisi psikisnya.


Mimpi buruk itu masih saja datang saat malam.


Tasya tak lagi bekerja di kafe milik Denny.


Kak Ronny melarang keras Tasya pergi sendirian.


Tasya menghela nafas panjang.


Ia masih memikirkan tentang sikap Dion belakangan ini.


Dion memang masih bersikap sama kepadanya, seolah-olah tidak ada sesuatu apapun yang terjadi.


Tapi terap saja, Tasya merasa ada yang mengganjal dihatinya.


Tasya sungguh takut jauh dari Dion. Tasya takut Dion akan meninggalkannya tiba tiba.


Hari ini Dion berjanji akan mengajak Tasya jalan jalan, karena lusa Dion sudah akan kembali ke Jakarta.


Jujur Tasya belum siap berpisah dan menjalin hubungan jarak jauh lagu dengan Dion.


Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Tasya.


Tasya tak terlalu menghiraukanya, hingga si pengemudi keluar dari dalam mobil.


Sesaat Tasya tertegun melihat siapa yang datang.


Tasya berharap ini hanya sebuah mimpi buruk.


Kevin berjalan cepat ke arah Tasya.


"Sya, kamu udah pulang" ucap Kevin sambil tersenyum senang.


Kevin berusaha meraih tangan Tasya, namun secepat kilat gadis itu menghindar.


"Sya, aku ingin bicara sama kamu" ucap Kevin memohon.


"Pergi, pergi kamu. Aku benci sama kamu" teriak Tasya histeris.


"Sya, kita bisa mulai semuanya dari awal. Aku janji bakalan sayang sama kamu" Kevin terus memohon dan mendekat kearah Tasya.


"Pergi. Pergi.


Mama..." Tasya berteriak memanggil mama Sarla sambil menangis ketakutan


Kevin terus saja mencoba mendekati Tasya.


Mama Sarla datang tergopoh gopoh.


"Tasya, ada apa?" Tanya Mama Sarla sebelum menyadari kehadiran Kevin.


Saat tahu Kevin yang datang dan memaksa menemui Tasya, sontak Mama Sarla langsung emosi.


"Mau ngapain lagi kamu? Pergi!" Bentak mama Sarla pada Kevin.


"Tante, saya mau bicara sama Tasya" ucap Kevin memohon.

__ADS_1


"Belum puas apa kamu nyakitin Tasya.


Pergi dari rumah saya" usir mama Sarla. Namun sepertinya Kevin tetap tak bergeming


__ADS_2