
Tasya melihat dengan bahagia undangan wisuda yang ada di tangannya.
Ia sungguh tak sabar memberitahukan kabar gembira ini kepada Dion dan papa Anton.
Tasya akan menghubungi Dion malam ini.
"Apa Dion akan datang?" Tanya Kiki penasaran.
Tasya belum menjawab dan malah tersenyum.
"Semoga Dion bisa datang." Jawab Tasya penuh harap.
"Apa setelah ini kalian akan menikah?" Tanya Kiki lagi sambil tertawa cekikikan.
Tasya mengendikkan bahu.
"Mungkin. Hahahaha."jawab Tasya ikut tertawa.
"Tapi aku kagum sama hubungan kalian yang bisa awet lama begini. Huh andai aku punya calon pacar seperti Dion" Kiki mulai berandai-andai.
"Kamu gadis yang baik, Ki. Jadi aku yakin kamu akan dapat pacar yang baik juga" ucap Tasya penuh keyakinan.
"Semoga." Jawab Kiki sambil menghela nafas.
"Hai girls" sapa seorang wanita pada kedua gadis tersebut.
Kiki sedikit terkejut saat mendapati calon kakak iparnya yang menjemput dirinya, bukan kak Egi.
"Kak Egi mana? Kenapa kak El yang menjemput?" Tanya Kiki sedikit malas.
"Kak Egi ada meeting penting. Dan kebetulan kakak sedang libur hari ini. Jadi kakak yang menggantikan kak Egi." Jelas Elena, dokter muda yang merupakan calon kakak ipar Kiki.
Kiki mendengus kesal.
"Tasya mau bareng?" Tanya Elena menawarkan.
"Apa tidak merepotkan kak?" Tanya Tasya sedikit ragu.
Elena tersenyum simpul.
"Tentu saja tidak. Ayo!" Jawab Elena sambil masuk ke dalam mobil.
Kiki memberikan kode pada Tasya agar gadis itu duduk di depan di samping kak Elena.
Kiki memilih untuk duduk saja di jok belakang.
Tasya menangkap seperti ada perseteruan antara Kiki dan dokter Elena.
Entah apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak ada obrolan berarti selama perjalanan.
Kini mobil Elena sudah sampai di depan rumah Tasya.
"Mau mampir dulu, Kak?" Tawar Tasya berbasa-basi.
"Enggak. Kapan-kapan aja Sya" Elena menolak dengan halus.
Kiki sepertinya sudah tertidur di jok belakang.
"Baiklah, Tasya duluan Kak. Terima kasih sudah ngasih tumpangan" pamit Tasya sebelum keluar dari mobil milik Elena tersebut.
Elena hanya mengangguk sambil tersenyum.
Setelah Tasya turun dan melambaikan tangan, Elena segera memacu kembali mobilnya meninggalkan rumah Tasya.
******
Tasya masuk ke dalam rumah tante Desi dengan wajah berbinar.
Ia sungguh tak sabar untuk segera menunjukkan undangan wisudanya pada tante Desi.
"Siang tante" Tasya menyapa tante Desi yang sedang sibuk memasak di dapur.
"Udah pulang, Sya?" Tanya tante Desi.
"Iya, tante. Tasya pulang cepat. Tante bikin apa?" Tanya Tasya penasaran sambil mendekat ke arah tante Desi.
__ADS_1
"Bikin kue. Tapi udah hampir jadi. Ada berita apa?" Tanya tante Desi lagi.
"Taraaa" Tasya menunjukkan undangan pada tante Desi.
"Wah, wah yang udah mau jadi dokter" ucap tante Desi senang.
Tasya ikut tersenyum senang.
"Kamu sudah menghubungi papa kamu?" Tanya tante Desi lagi.
"Belum. Mungkin sore ini Tasya akan menghubunginya. Dan menghubungi Dion juga" jawab Tasya santai.
"Dion akan datang?" Pertanyaan dari tante Desi membuat senyuman yang tadi merekah di bibir Tasya mendadak hilang.
Tasya mengernyit bingung.
"Dion kan masih ada pemusatan latihan bersama timnas, Sya" ujar tante Desi lagi.
"Apa dia tidak bisa ambil cuti satu hari, Tan?" Tanya Tasya sedikit ragu.
Tante Desi mengendikkan bahu.
"Mungkin kamu bisa menanyakannya." Saran tante Desi.
Tasya hanya mengangguk.
Rasa kecewa mendadak menyeruak di hatinya.
Bagaimana kalau ternyata Dion benar-benar tidak bisa datang?
******
Cukup lama Tasya menghubungi Dion sebelum akhirnya lelaki itu mengangkat panggilan dari Tasya.
Hari sudah cukup larut, seperrinya Dion baru saja keluar.
"Hai" sapa Dion sambil tersenyum lebar.
Sebuah senyuman yang sangat Tasya rindukan belakangan ini.
"Darimana?" Bukannya membalas sapaan Dion, Tasya malah langsung menginterogasi.
Tasya hanya berdecak.
"Jangan sering begadang, Di" ujar Tasya khawatir.
"Aku tidak begadang. Ini masih sore, Nat" sekali lagi Dion memcari alasan.
Tasya melirik jam dinding yang tergantung di kamarnya. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, dan Dion bilang masih sore.
Tasya memutar bola matanya.
"Apa kamu marah?" Tanya Dion sedikit menggoda.
Tasya masih diam.
"Baiklah, aku minta maaf" Dion menangkupkan kedua tangannya sebagai permintaan maaf.
"Apa kamu sibuk terus belakangan ini?" Tasya mengalihkan topik pembicaraan.
"Begitulah. Jadwal latihan sedikit padat. Dan ada beberapa kegiatan saat break" jelas Dion panjang lebar.
"Tapi kamu akan datang kan?" Tasya menunjukkan undangan wisuda pada Dion.
Dion tampak tersenyum senang.
"Kapan itu?" Tanya Dion bersemangat.
"Minggu depan. Acaranya cuma satu hari, Di. Jadi kamu harus datang" ucap Tasya memohon.
Dion tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya lelaki itu menggeleng.
"Aku tidak bisa, Nat" ucap Dion lirih. Ada raut bersalah di wajahnya.
"Tapi bukankah pertandinganmu sehari sebelumnya. Hari itu jadwalmu kosong" Tasya masih bersikeras.
Raut kekecewaan tampak jelas di wajah Tasya. Bahkan mata Tasya sudah berkaca-kaca sekarang.
__ADS_1
"Aku sudah terlanjur berjanji untuk menghadiri pertemuan penting" ucap Dion menjelaskan.
"Batalkan kalau begitu. Kamu harus datang, Di" ucap Tasya sambil mencebik.
Butir airmata sudah jatuh di kedua pipinya sekarang.
"Aku minta maaf. Aku janji akan secepatnya menemuimu saat semuanya selesai" Dion memberi penawaran.
Tasya menggeleng.
"Jangan menangis, Nat" ucap Dion memohon.
Tasya masih mencebik.
"Kamu jahat" ucap Tasya sambil membuang pandangannya.
"Nat," sapa Dion lembut.
Tasya masih diam tak bergeming.
Gadis itu masih enggan menatap wajah Dion di layar ponselnya.
"Natasya" panggil Dion sekali lagi. Namun Tasya masih membuang pandangannya ke arah lain.
"Natasya sayang" rayu Dion sekali lagi.
"Pergilah! Gak usah datang, gak usah kesini. Gak usah ketemu aku sekalian" ucap Tasya berapi-api sambil bersedekap marah.
Namun entah apa yang lucu, Dion justru tergelak menyaksikan tingkah Tasya yang sedang marah.
Sontak hal itu membuat Tasya semakin kesal.
"Baiklah. Sudah cukup tertawanya. Tidak perlu lagi menghubungiku" Tasya yang sudah kesal langsung mematikan video call dari Dion.
Tasya melemparkan begitu saja ponselnya ke atas ranjang tempat tidur.
"Dasar tidak punya perasaan. Memangnya selama ini dia nganggep aku apa? Satu hari saja dan dia tidak bisa menyempatkan waktu. Kamu jahat Dion. Jahat" Tasya menggerutu meluapkan semua emosi yang mendadak memenuhi dadanya.
"Sya" terdengar suara tante Desi yang mengetuk pintu kamar Tasya.
Buru-buru Tasya menghapus airmatanya dan sedikit merapikan penampilannya.
"Iya tante" jawab Tasya sambil membuka pintu kamarnya.
Tante Desi yang berpenampilan rapi sudah berdiri di depan kamar Tasya.
"Tante mau pergi?" Tanya Tasya bingung.
"Tante ada acara sama om Bimo. Apa kamu akan baik-baik saja di rumah?" Tanya tante Desi sedikit khawatir.
Tasya langsung tersenyum lebar.
"Tasya baik-baik saja tante." Jawab Tasya masih tersenyum.
"Kamu habis menangis ya?" Tante Desi kembali memperhatikan wajah Tasya yang terlihat sembab.
Tasya jadi salah tingkah sekarang.
"Ee... Enggak tante. Tadi habis nonton drama aja jadi sedikit sedih" Tasya mencari alasan.
"Yasudah kalau begitu. Tante pergi dulu. Tante bawa kunci cadangan. Jadi kalau kamu mau tidur langsung tidur aja. Gak usah nungguin tante pulang" pesan tante Desi.
Tasya mengangguk paham.
"Siap tante. Hati-hati di jalan" jawab Tasya sebelum tante Desi berlalu.
Setelah tante Desi pergi, Tasya kembali masuk ke dalam kamarnya.
Ponselnya berbunyi beberapa kali menandakan ada pesan yang masuk.
Tasya mengecek sebentar untuk melihat siapa yang mengirim pesan.
Saat tahu itu semua pesan dari Dion, Tasya memilih untuk mengabaikannya.
Terserah saja, Tasya sedang merajuk sekarang.
*****
__ADS_1
**NATASYA sedang dalam tahap revisi ya.. upload episode baru insyaa allah hari minggu lagi.
Terima kasih buat para reader. Terima kasih juga yang udah mampir, like, vote, dan komen**.