
Tasya membuka panggilan video call dari Dion.
Gadis itu baru selesai mandi dan masih belum selesai membereskan barang-barangnya.
"Hai Dion" sapa Tasya bersemangat.
"Hai, Nat. Gimana? Kamu udah sampai di rumah mama Sarla?" Tanya Dion dari seberang sana.
"Ya, aku sudah sampai sejak tadi" jawab Tasya santai.
Dion tampak mengangguk.
"Kamu lagi ngapain? Trus mau terbang kesini kapan?" Tanya Tasya bertubi-tubi.
"Aku baru selesai latihan. Nanti sabtu malam mungkin aku baru berangkat. Masih ada jadwal game hari sabtu" jelas Dion panjang lebar.
Tasya menghela nafas,
"Gak bisa gitu ambil cuti. Yang menikah kan kakak kamu" Tasya memberikan saran. Sontak Dion langsung terkekeh.
"Kamu kira aku kerja kantoran apa? Tinggal minta cuti kalo ada acara. Hahaha" Dion masih belum berhenti tertawa.
"Aku kan cuma ngasih saran" Tasya sedikit mencebik
"Baiklah, baiklah. Terima kasih sarannya Natasya sayang" ucap Dion dengan nada genit.
Sontak Tasya yang tadinya kesal menjadi tertawa geli dengan nada bicara Dion.
"Tasya," terdengar suara mama Sarla dari depan kamar Tasya.
Bergegas Tasya berpamitan pada Dion.
"Udah dulu ya, mama udah manggil tu," pamit Tasya akhirnya.
Dion mengangguk.
"Nanti aku telpon lagi" pesan Dion menutup obrolan mereka.
Kali ini gantian Tasya yang mengangguk.
Setelah menutup telepon dari Dion, bergegas Tasya membuka pintu kamar.
Mama Sarla sudah berdiri di depan kamar Tasya.
"Iya, Ma. Ada apa?" Tanya Tasya.
"Mama mau bicara sama kamu, ayo" mama Sarla membimbing Tasya agar ikut dengannya.
Tasya menurut saja.
Gadis itu mengikuti mama Sarla yang berjalan menuju ke arah ruang tamu.
Sampai di ruang tamu, Tasya sedikit terkejut karena ada seorang pria asing yang sedang duduk di sofa.
"Duduk, Sya" ujar mama Sarla.
Tasya segera duduk tak jauh dari sang mama.
Pria paruh baya yang entah siapa itu terus saja mengawasi Tasya.
Tentu saja hal itu membuat Tasya merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Sya, kenalin ini pak Anton" mama Sarla memperkenalkan pria paruh baya tersebut kepada Tasya.
Tasya hanya mengernyit bingung.
Mama Sarla menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Sya, pak Anton ini... papa kandung kamu" mama Sarla melanjutkan kata-katanya.
Sesaat suasana menjadi hening.
Tasya menatap lekat pria paruh baya,yang kini duduk tepat di hadapannya
Tasya tidak pernah mengenal pria ini, lalu secara tiba-tiba mama Sarla memperkenalkan pria asing ini sebagai papa kandung Tasya.
Apa ini sebuah lelucon?
Tasya tertawa datar.
"Apa mama sedang membuat lelucon?" Tasya kini ganti menatap tajam ke arah mama Sarla.
"Mama gak bercanda, Sya. Pak Anton adalah papa kandung kamu" wajah mama Sarla terlihat serius.
Ekspresi wajah Tasya masih datar. Gadis itu bergantian melihat ke arah mana Sarla dan pria asing tersebut.
"Sya..." mama Sarla mulai khawatir.
"Natasya..." pria asing yang kata mama Sarla bernama Pak Anton itu menyebutkan nama lengkap Tasya.
Tasya menatap tajam pada pria paruh baya itu.
Netra keduanya kini bertemu.
"Natasya, papa minta maaf karena sudah menelantarkan dirimu. Saat itu papa..." pak Anton tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Karena mendadak Tasya sudah berdiri dari tempat duduknya dan melotot tajam pada pak Anton.
"Karena anda tidak pernah menginginkan saya lahir ke dunia ini. Begitu?" Ucap Tasya setengah berteriak.
Butir air mata jatuh tanpa permisi di pipi Tasya.
"Tasya" mama Sarla sudah ikut berdiri dan merangkul bahu Tasya, mencoba untuk meredamkan amarah gadis itu.
"Anda pikir dengan minta maaf semua akan selesai, lalu saya akan berlari memeluk anda, memanggil anda papa lalu melupakan semuanya?" Tasya masih menatap tajam pada Pak Anton.
Lelaki paruh baya itu menunduk. Ia sadar, terlalu besar kesalahannya pada Tasya.
Wajar jika akhirnya Tasya marah dan kecewa atau bahkan membenci dirinya.
"Sya, biarkan papa kamu menceritakan dulu semuanya" mama Sarla masih mencoba membujuk dan meredam emosi Tasya
"Gak perlu" Tasya segera berlalu dari ruangan itu dan berjalan cepat menuju kamarnya.
Mama Sarla hanya bisa menarik nafas panjang sambil menatap prihatin pada papa Anton.
"Maafkan atas sikap Tasya. Mungkin dia hanya shock dengan ini semua" ujar mama Sarla prihatin.
"Tak apa, Sar. Mungkin Tasya memang butuh waktu untuk bisa menerima ini semua. Seharusnya aku tidak buru-buru menemuinya. Tasya pasti sangat kecewa padaku" ucap Papa Anton lirih.
Di satu sisi dirinya senang karrna akhirnya bisa melihat wajah putri kandungnya, namun di sisi lain dirinya juga sedih saat mendapati kenyataan, bahwa Tasya belum bisa menerima kehadiran dirinya.
"Aku akan pulang sekarang, ini alamat rumahku. Mungkin nanti Tasya menanyakannya" papa Anton menyerahkan secarik kertas yang langsung diterima oleh mama Sarla.
Tak ada salahnya berharap bukan?
__ADS_1
Papa Anton masih berharap Tasya akan memcari dirinya, entah kapan.
"Aku akan coba membujuk Tasya dan menjelaskan semuanya" mama Sarla mencoba untuk membuat papa Anton merasa tenang.
"Terima kasih, Sar. Untuk semuanya. Selamat sore" papa Anton segera beranjak dan keluar dari rumah mama Sarla membawa semua rasa kecewanya.
Putri kandungnya tak mau mengakui dirinya.
*****
Tasya masih mengurung diri di kamarnya. Gadis itu bahkan melewatkan makan malam.
Mama Sarla membuka pintu kamar Tasya perlahan.
Membawakan sepiring nasi lengkap untuk Tasya.
Mama Sarla paham, Tasya pasti merasa kaget dengan situasi sore tadi. Seharusnya memang mama Sarla tidak buru-buru mempertemukan Tasya dengan papa kandungnya.
"Sya..." mama Sarla mengedarkan pandangannya ke kamar Tasya. Gadis itu terlihat sedang tidur meringkuk di sudut ranjang.
Samar-samar terdengar isak tangis.
Tasya pasti sedang menangis.
Mama Sarla meletakkan makanan yang ia bawa di nakas sebelum akhirnya ia mendekat ke arah Tasya dan mengelus lembut punggung gadis itu.
"Sya... apa kamu baik-baik saja?" Tanya mama Sarla prihatin.
Tasya menyeka air mata di kedua pipinya sebelum berbalik dan memandang wajah sang mama.
Tasya bangun dari posisinya semula dan kini sudah duduk di atas ranjang bersama dengan mama Sarla.
"Tasya hanya...Tasya hanya bingung dengan semua ini, Ma" ucap Tasya sambil terisak.
Mama Sarla segera merengkuh tubuh gadis itu ke pelukannya.
"Mama tahu, kamu pasti shock dengan semua kenyataan ini. Tapi bagaimanapun juga, kamu harus bisa menerimanya, Sya. Papa Anton itu papa kandung kamu" mama Sarla mencoba berucap dengan nada selembut mungkin. Ia tak mau melukai hati dan perasaan Tasya.
"Tasya masih belum yakin, Ma" Tasya masih mencoba menyangkal.
Mama Sarla menarik nafas panjang.
"Papa Anton mencarimu ke panti, namun ia tak menemukanmu. Lalu papa Anton bertemu bu Ranti dan akhirnya bu Ranti memberikan alamat mama kepadanya. Dia memiliki semua foto kamu saat bayi, dan Bu Ranti sangat yakin kalau dia memang papa kandung kamu.
Kamu bisa bertanya langsung pada bu Ranti" ujar mama Sarla panjang lebar.
"Lalu untuk apa dia mencari Tasya sekarang setelah dulu dia membuang Tasya?" Tanya Tasya emosi.
"Dia tidak membuangmu, Sya. Dia hanya menitipkanmu di panti. Karena saat itu dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya" mama Sarla sedikit ragu saat menjawab pertanyaan Tasya.
Tasya mengernyit bingung.
Perbuatan macam apa?
"Apa maksud mama? Bertanggungjawab jawab soal apa?" Tanya Tasya bertubi-tubi.
Mama Sarla terlihat berpikir sejenak.
Terlihat sebuah raut keraguan di wajahnya.
Ingin rasanya mama Sarla menceritakan semuanya, namun apa ini adalah hak nya?
__ADS_1