
Tasya terpaksa keluar dengan menggunakan syal pagi ini.
Saat bangun, Tasya bahkan sampai menjerit melihat lehernya yang penuh dengan tanda merah hasil perbuatan Dion semalam.
Dan jangan tanya bagaimana ekspresi Dion saat melihat itu semua, tentu saja pria itu langsung tertawa puas dan memasang wajah menggelikan sepanjang pagi.
"Sya, kamu sakit?" Mama Wina yang melihat Tasya mengenakan syal, sedikit khawatir.
"Tidak, Ma. Tasya baik-baik saja." Jelas Tasya berusaha menenangkan mertuanya tersebut.
"Pagi, Ma" Dion yang juga baru turun dari kamarnya, menyapa mama Wina dengan senyum sumringah.
"Kalian berdua mau pergi? Kok pagi-pagi sudah rapi?" Mama Wina melihat ke arah Dion dan Tasya bergantian.
"Kami akan ke panti, Ma. Menjenguk anak-anak." Tasya yang menjawab pertanyaan dari mama Wina.
"Oh, begitu. Lalu kapan kalian akan kembali ke Jakarta?" Tanya mama Wina lagi.
"Mungkin besok" jawab Tasya cepat.
Mama Wina mengangguk,
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati" pesan mama Wina.
Tasya dan Dion mengangguk berbarengan. Mereka lalu mencium punggung tangan mama Wina sebelum akhirnya berangkat menuju ke panti asuhan.
Di perjalanan,
"Ada masalah apa di panti?" Tanya Dion kepo. Ia belum sempat bertanya pada Tasya karena dari semalam dirinya sibuk menggoda istrinya tersebut.
Tasya mengendikkan bahu,
"Salsa tak mau membicarakannya di telpon. Karena itu dia memintaku untuk datang." Jelas Tasya juga tak mengerti.
Mobil yang membawa keduanya sudah berbelok masuk ke halaman panti. Suara riuh anak-anak panti yang sedang bermain di halaman, langsung bisa Tasya dengar.
Tasya bergegas turun dan menyapa anak-anak yang sedang bermain. Salsa maupun Ronny masih belum terlihat. Mungkin mereka masih sibuk di dalam.
Dion menyusul Tasya dan ikut menyapa anak-anak.
"Kalian sudah datang" suara Ronny sedikit mengejutkan Tasya dan Dion.
"Hai, kak. Mana Salsa?" tanya Tasya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling Ronny, mencari-cari keberadaan Salsa.
"Ada di dalam. Bagaimana kabar kalian?" Ronnyy berbasa -basi.
"Kami baik. Kak Ronny sendiri?" Dion yang menjawab dan balik bertanya.
"Baik. Ayo masuk!" Ronny memberikan kode pada pasangan tersebut agar mengikutinya masuk ke dalam panti.
Di dalam, Tasya melhat seorang anak perempuan yang tengah terduduk lesu dan sedang di suapi makan oleh Salsa. Di sebelahnya ada anak perempuan lain yang terlihat ceria dan sedang memainkan boneka beruang berwarna coklat.
Tasya mengernyit bingung, siapa anak-anak ini.
"Hai, Sya. Hai, Dion" Salsa menyapa Dion dan Tasya.
Buru-buru Tasya menghampiri Salsa dan kedua anak perempuan tersebut.
Satu anak yang sedang memainkan boneka beruangnya itu, Tasya yakin kalau itu adalah Flo, anak Salsa dan Ronny.
Tapi anak perempuan yang satunya?
Kelihatan seusia dengan Flo, tapi kenapa anak ini terlihat lesu
dan pucat
"Apa dia sedang sakit?" Tasya langsung buru-buru memeriksa anak perempuan tersebut.
"Namanya Zhia. Kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium" ujar Salsa menjelaskan.
"Hai, Zhia. Berapa umur kamu?" Tasya menyapa anak perempuan tersebut.
"Umurnya Zhia lima tahun, tante. Sama seperti Flo" bukan Zhia yang menjawab, melainkan Flo yang duduk di samping Zhia.
"Hai, Flo. Apa Flo ingat sama tante dan om?" Tasya menyapa Flo yang terlihat sangat ceria.
Flo mengangguk,
"Tante Tasya dan Om Dion" jawab Flo bersemangat.
Dion ikut menghampiri Flo
"Pinter. Tos sama om" Dion mengangkat tangan kanannya dan mengajak Flo melakukan tos.
Mereka berdua pun tos dengan keras.
"Apa yang ingin kamu bicarakan kemarin tentang Zhia ini, Sal?" Tanya Tasya sambil menatap serius ke arah Salsa.
Wanita itu mengangguk.
"Pah, bisa ajak Flo dan Zhia main dulu di kamar? Biar aku yang menjelaskan pada Tasya dan Dion" Salsa menatap ke arah Ronny yang sedari tadi masih berdiri di situ.
Ronny mengangguk dan segera membawa Zhia serta Flo masuk ke dalam panti.
Tasya dan Dion segera duduk di sofa tak jauh dari Salsa untuk mendengarkan penjelasan ibu satu anak tersebut.
"Namanya Zhia. Bulan kemarin dia datang sendirian ke panti ini..." sejenak Salsa menjeda ucapannya seperti memberi ruang pada Dion dan Tasya untuk bertanya.
__ADS_1
"Tunggu, kamu bilang sendirian?" Tasya mengernyit bingung. Bagaimana bisa anak umur lima tahun berkeliaran di jalan dan datang sendirian ke panti asuhan.
"Ya, mungkin lebih tepatnya Zhia mungkin tersesat dan dia berhenti tepat di depan pagar panti, lalu Flo dan kak Ronny menemukannya" Salsa meralat penjelasannya barusan.
"Sudah lapor polisi?" Tanya Dion tak kalah serius.
"Sudah, tapi sayangnya Zhia bahkan tidak ingat bagaimana wajah orang tua ataupun keluarganya. Hanya namanya saja yang dia ingat. Yang lain entahlah. Polisi sudah mencoba mencari tahu, tapi tak ada hasil apapun, jadi kami merawatnya disini" jelas Salsa panjang lebar
"Lalu kenapa wajahnya sepucat itu?" Tasya sudah tak sabar untuk tak bertanya.
"Itulah alasanku memintamu datang kemari..." Salsa menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Dua hari setelah Zhia datang kesini, gadis itu sering mimisan dan muntah-muntah, awalnya aku dan kak Ronny mengira Zhia hanya sakit biasa.
Namun semakin hari, nafsu makan Zhia semakin menurun dan tubuhnya semakin kurus, jadi aku dan kak Ronny berinisiatif minta cek darah lengkap dan cek laboratorium. Hari ini hasilnya keluar. Aku akan mengambilnya ke rumah sakit." Jelas Salsa panjang lebar.
Bisa Tasya lihat ada gurat kelelahan dan kesedihan di wajah Salsa. Merawat Zhia yang sakit-sakitan mungkin menjadi beban tersendiri bagi wanita satu anak tersebut.
Apalagi ada anak-anak lain juga di panti ini yang juga butuh perhatian Salsa dan Ronny.
"Aku akan ikut ke rumah sakit" ujar Tasya cepat.
Salsa mengangguk.
"Baiklah, aku bisa di sini bersama kak Ronny menjaga anak-anak" Dion menimpali.
Tasya dan Salsa mengangguk berbarengan.
"Ma, Zhia muntah lagi" Flo berlari dari dalam dan menghampiri sang mama untuk membuat laporan.
Tasya segera beranjak berdiri dan masuk ke kamar Zhia.
Terlihat kak Ronny yang sedang membersihkan lantai bekas muntahan Zhia.
Dan gadis kecil itu terlihat semakin pucat saja.
Tasya menghampiri Zhia dan melepaskan baju yang di kenakan Zhia karena kotor.
Dan Salsa dengan cepat mengambilkan baju ganti yang baru untuk Zhia dari dalam lemari dan segera menyodorkannya pada Tasya.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang, Sal" ujar Tasya cepat. Salsa mengangguk.
Tasya segera menggendong Zhia keluar dari panti asuhan dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Dion memberikan kunci mobil pada Salsa yang segera menyusul Tasya masuk ke dalam mobil.
Dua wanita itu yang akan membawa Zhia ke rumah sakit.
******
Mobil yang di kemudikan oleh Salsa memasuki halaman rumah sakit dan berhenti tepat di depan ruang UGD. Tasya bergegas turun dan menggendong Zhia masuk ke dalam ruang UGD. Salsa lanjut menuju halaman parkir untuk memarkirkan mobil dengan benar sebelum menyusul Tasya masuk ke dalam rumah sakit.
Tasya berusaha menjelaskan sedetail mungkin apa yang sudah terjadi pada Zhia.
Tasya memperhatikan dengan seksama saat para perawat itu melakukan tindakan pada Zhia.
Meskipun Tasya juga seorang dokter anak, tapi Tasya tak bisa berbuat apapun di sini, ini bukanlah tempat kerjanya.
"Apa ada dokter anak yang bisa menanganinya?" Tanya Tasya tak sabaran.
"Anak ini harus cek darah dulu," ujar dokter jaga yang ada di ruangan tersebut.
"Dia sudah cek darah lengkap beberapa hari yang lalu, seharusnya hasilnya keluar hari ini" Salsa yang baru saja tiba langsung menimpali dan memberi penjelasan.
"Siapa namanya?" Tanya dokter tersebut
"Zhia" jawab Salsa cepat.
Dokter tersebut segera meminta salah seorang perawat untuk mengambil hasil tes Zhia di laboratorium.
"Aku ingin dia di tangani oleh dokter spesialis anak" Tasya bersikeras.
Salsa menatap bingung pada Tasya,
Bukankah Tasya juga seorang dokter anak? Tidak bisakah sahabatnya itu saja yang turun tangan.
"Baiklah, kami akan memanggil dokter anak kesini" ucap dokter itu sedikit kesal karena Tasya yang terus-terusan memaksa.
Namun Tasya memilih untuk mengabaikannya.
Tak berselang lama, seorang perawat masuk membawa map hasil laboratorium Zhia, disusul kedatangan seorang dokter laki-laki.
Tasya sedikit terkejut melihat dokter tersebut, tentu saja Tasya mengenalnya. Itu adalah teman kuliah Tasya dulu.
"Tasya, ada apa ini?" Sapa Rio yang juga sama terkejutnya dengan Tasya.
"Ini dokter" seorang perawat menyodorkan hasil lab Zhia pada dokter Rio.
"Aku tidak tahu kamu praktek di sini" Tasya sedikit berbasa-basi pada Rio.
"Baru sekitar dua tahun. Kamu sendiri? Aku dengar kamu pindah ke Jakarta bersama suamimu, lalu apa yang kamu lakukan di kota ini? Apa ini keponakanmu?" Tanya Rio kepo sambil membaca hasil lab Zhia.
"Ya, dia keponakanku dan aku sedang mengunjunginya." Jawab Tasya berbohong. Tasya merasa malas untuk menjelaskannya secara detail.
Raut wajah Rio yang tadinya terlihat santai mendadak berubah menjadi raut serius dan sedikit khawatir.
Tasya yang bisa membaca perubahan raut wajah Rio, segera bertanya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Tasya khawatir
Rio menyerahkan berkas itu pada Tasya.
"Bacalah sendiri" ujar Rio lesu.
Tasya dengan cepat menyambar berkas-berkas itu dari tangan Rio dan segera membacanya.
Mata Tasya melotot tak percaya saat membaca hasil lab dari Zhia.
"Sya, ada apa?" Salsa yang sedari tadi hanya diam ikut-ikutan bertanya karena melihat raut wajah Tasya yang berubah menjadi pucat
"Leukemia" jawab Tasya lirih.
"Berapa usia keponakanmu? Apa memang ini bawaan atau ada faktor lain?" Rio langsung menginterogsi Tasya.
Namun Tasya hanya menggeleng.
"Sebenarnya dia bukan keponakanku, dia salah satu anak asuh di panti asuhan milik sahabatku, Salsa" jelas Tasya sambil melirik ke arah Salsa yang kini juga terlihat shock.
"Masih ada harapan, Sya. Kita tidak boleh menyerah begitu saja" Rio menepuk punggung Tasya mencoba memberikan semangat.
Tasya hanya mengangguk samar.
Tasya berjalan mendekati ranjang tempat Zhia terbaring.
Mata gadis kecil itu terpejam rapat.
"Sya," Saksa mengusap lengan sahabatnya tersebut.
"Kita harus mencari tahu dimana keluarga Zhia, Sal. Aku ingin Zhia sembuh" ucap Tasya lirih.
Hanya itu harapan satu-satunya yang bisa menolong Zhia.
"Tapi bagaimana caranya, Sal. Bahkan polisi saja sudah angkat tangan dan menemui jalan buntu. Bagaimana jika ternyata Zhia adalah seorang anak yatim piatu?" Tukas Salsa putus asa.
Tasya menghela nafas.
"Pulanglah dulu, Sal. Flo pasti mencarimu. Aku yang akan menjaga Zhia di sini. Dan bisakah kamu minta Dion datang ke sini? Tas dan ponselku tertinggal di panti" pinta Tasya pada Salsa.
Tadi mereka memang buru-buru membawa Zhia ke rumah sakit. Bahkan Tasya tak lagi memikirkan tas maupun ponselnya.
"Kapan kamu dan Dion akan kembali ke Jakarta?" Tanya Salsa serius.
"Seharusnya besok, tapi mungkin aku akan tetap di sini sampai kondisi Zhia stabil. Aku akan mengambil cuti dan menjaga Zhia" ujar Tasya sambil mengelus pipi gadis kecil di hadapannya tersebut.
Jujur, saat pertama kali melihat wajah Zhia, Tasya langsung jatuh hati pada gadis kecil ini.
Ah, andai saja Zhia memang seorang anak yatim piatu, Tasya tak akan keberatan mengadopsi gadis kecil ini.
Seorang perawat masuk dan memberitahu Salsa kalau Zhia akan dipindah ke ruang perawatan. Salsa hanya mengangguk dan mengiyakan.
"Sya, Zhia akan di pindah ke ruang perawatan. Aku akan pulang dan meminta Dion datang ke sini" ujar Salsa memberitahu Tasya.
Tasya mengangguk,
"Aku akan menjaga Zhia" ucap Tasya singkat.
Salsa mengangguk dan segera keluar dari ruang tersebut untuk selanjutnya pulang kembali ke panti.
*****
Zhia sudah di pindahkan ke ruang perawatan.
Tasya sedang berbicara dengan Rio di dalam ruangan tersebut, saat Dion datang.
"Nat," sapa Dion saat mendapati Tasya yang tengah mengobrol dengan seorang dokter. Keduanya terlihat akrab.
"Kamu sudah datang, Di" Tasya segera menyambut kedatangan Dion dan mengambil tas yang dibawa Dion yang berisi perlengkapan dan baju untuk Zhia.
"Apa ini suamimu?" Tanya Rio berbasa-basi.
Tasya mengangguk,
"Ya, dia Dion suamiku. Dan, Di... ini Rio temanku saat kuliah dulu. Dia dokter di sini yang menangani Zhia" Dion dan Rio saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri masing-masing.
"Baiklah, aku harus pergi sekarang. Kita tunggu hasil tes lanjutannya, Sya" Rio akhirnya berpamitan.
Tasya hanya mengangguk.
"Selamat siang" pamit Rio sebelum akhirnya dokter itu keluar daru ruangan Zhia.
Kini suasana menjadi hening.
Hanya ada suara dari alat-alat medis yang terhubung ke tubuh kurus Zhia.
"Nat, sebaiknya kamu makan dulu. Tadi aku membelikan makanan untukmu" Dion mengambil bungkusan yang tadi ia bawa. Mengeluarkan kotak berisi makanan dan menyodorkannya pada Tasya.
"Bagaimana cara kita menemukan keluarga Zhia, Di?" Tanya Tasya khawatir
Dion bahkan bingung harus menjawab apa. Bisa Dion lihat ada kekhawatiran di sorot mata Tasya.
Apa Tasya selalu seperti ini pada semua pasiennya.
Hampir semua pasien Tasya pastilah bayi atau anak-anak seperti Zhia.
Wajar jika akhirnya rasa empati Tasya pada anak-anak sangat tinggi.
__ADS_1
"Di, aku ingin membawa Zhia pulang" ucapan singkat dari Tasya sukses membuat Dion terkejut sekaligus bingung.