
"Aku ingin membawa Zhia pulang, Di" ucap Tasya sedikit memohon pada Dion.
Dion masih diam,
"Zhia butuh perawatan ekstra, dan aku rasa Salsa akan sedikit kewalahan jika harus merawat Zhia yang sakit-sakitan. Lagipula fasilitas kesehatan di rumah sakit tempatku bekerja lebih bagus dan lebih lengkap ketimbang di sini. Aku ingin Zhia di rawat saja di sana" ujar Tasya menjelaskan.
Tasya sangat berharap Dion tak akan menolak permintaannya kali ini.
"Tapi kondisi Zhia masih lemah, Nat. Kita tidak mungkin membawanya sekarang. Kita juga harus bicara pada Salsa dan Kak Ronny dulu" Dion mengemukakan pendapatnya.
Tasya berdecak,
"Aku akan menunggu di sini hingga kondisi Zhia stabil. Aku bisa ambil cuti beberapa hari lagi" Tasya masih kekeh dengan pendapatnya.
Dion mengusap wajahnya, sebelum akhirnya mendekat ke arah Tasya dan merangkul istrinya tersebut.
"Kamu sungguh-sungguh ingin merawat Zhia?" Tanya Dion sekali lagi.
Tasya mengangguk yakin.
"Baiklah, tapi aku harus kembali besok. Banyak urusan di kantor yang harus aku selesaikan. Dan jadwal pertandingan juga tidak bisa di tunda" ujar Dion panjang lebar.
"Bisakah kamu membantuku untuk bicara pada salsa dan kak Ronny? " ucap Tasya memohon.
Dion tersenyum simpul sebelum akhirnya mengangguk.
"Tentu" jawab Dion singkat.
Tasya bisa bernafas lega sekarang.
*****
Hari masih pagi.
Namun Salsa dan Ronny sudah sampai di rumah sakit tempat Zhia di rawat. Dan kini mereka berdua sudah berada di ruang perawatan Zhia bersama Tasya dan Dion.
"Bagaimana kondisi Zhia?" Tanya Salsa masih khawatir.
"Sudah lebih baik. Hanya tinggal menunggu hasil tes lanjutan" jelas Tasya berusaha menenangkan sahabatnya tersebut.
"Kalian tidak jadi kembali hari ini?" Tanya Ronny sambil menatap bergantian ke arah Dion dan Tasya.
Tasya menggeleng,
"Tasya akan di sini sampai kondisi Zhia stabil, dan akau akan kembali sore nanti" Dion yang menjawab pertanyaan dari Ronny sedikit memberi penjelasan.
"Sal," Tasya meraih tangan Salsa dan mengusapnya.
Terlihat Tasya yang menarik nafas panjang sebelum mulai berbicara.
Salsa hanya mengernyit bingung.
"Sal, aku ingin merawat Zhia dan membawanya pulang ke Jakarta" Tasya berkata dengan nada sedikit memohon.
Sesaat suasana di ruangan itu menjadi hening. Salsa belum memberikan jawaban, wanita itu masih tampak diam.
Tasya menatap Dion seakan meminta tolong Dion untuk ikut membujuk Salsa.
"Tapi, Sya..." Salsa menjeda kalimatnya seakan berpikir bagaimana menyusun kata-kata yang pas.
"Apa kamu dan Dion tak akan kerepotan? Bukankah kalian sama-sama bekerja?" Terdengar sedikit keraguan saat Salsa mengucapkan kalimat tersebut.
Tasya langsung menggeleng dengan cepat,
"Kami akan mengatur waktu, lagi pula fasilitas rumah sakit di sana lebih lengkap, Sal. Jadi aku pikir Zhia akan lebih cepat sembuh jika aku membawanya ke sana" ujar Tasya panjang lebar.
Ronny mendekat ke arah Salsa dan merangkul pundak istrinya tersebut.
"Ini demi kebaikan Zhia, Sal. Tasya pasti akan merawat Zhia dengan baik" ujar Ronny ikut mendukung keputusan Tasya.
Salsa menarik nafas panjang, sejujurnya dirinya memang sedikit kewalahan selama sebulan ini merawat Zhia.
Namun hati Salsa seperti masih berat berjauhan dengan gadis kecil itu, apalagi Flo begitu dekat dengan Zhia bagaimana jika nanti Flo menanyakan Zhia?
"Bagaimana dengan Flo?" Tanya Salsa lirih pada Ronny.
"Kita akan menjelaskannya nanti pada Flo. Anak itu pasti mengerti" jawab Ronny menenangkan Salsa.
Akhirnya Salsa mengangguk pada Tasya.
"Rawatlah Zhia, Sya. Aku yakin kamu dan Dion akan memberikan yang terbaik untuk Zhia." Ucap Salsa bersungguh-sungguh.
Tasya langsung menghambur ke pelukan Salsa dan memeluk erat sahabatnya tersebut.
"Pasti, aku akan memberikan yang terbaik untuk perawatan Zhia, Sal" ucap Tasya bersungguh-sungguh.
"Jadi, kapan kalian akan membawa Zhia?" Ronny memecah keharuan di ruangan itu.
"Kata Tasya kita harus menunggu kondisi Zhia stabil." Ucap Dion menjelaskan. Ronny hanya mengangguk.
Menjelang siang, Ronny dan Salsa sudah pulang dan kembali ke panti asuhan.
Dion juga pamit pulang ke rumah untuk mengemasi barang-barangnya.
Tasya memilih untuk tetap berada di rumah sakit dan menemani Zhia.
Tasya juga terus memantau kondisi gadis kecil itu.
*****
Tasya sedang memejamkan matanya sebentar di kursi yang ada di samping ranjang Zhia, saat tangan mungil itu meraba-raba kepala Tasya yang memang Tasya sandarkan di atas ranjang Zhia.
Tasya yang terkejut langsung bangun dari tidurnya dan mendapati Zhia yang rupanya sudah membuka matanya.
"Zhia di mana, tante?" Tanya Zhia dengan suara lemah.
Tasya mengelus lembut kepala Zhia,
"Hai sayang, kamu udah bangun. Kamu masih di rumah sakit" jawab Tasya sambil tersenyum.
"Dimana Flo?" Tanya Zhia lagi.
"Flo di rumah. Nanti Flo kesini bareng mama Salsa. Sekarang Zhia istirahat dulu di sini bareng tante ya," ucap Tasya selembut mungkin.
Wajah Zhia sudah tak sepucat kemarin saat Tasya bertemu dengannya.
Tasya sedikit bernafas lega.
Tak selang berapa lama, Dion datang dan membawa koper.
"Zhia sudah bangun, Nat?" Tanya Dion pada Tasya yang masih duduk di kursi di samping ranjang Zhia.
Tasya beranjak dari tempatnya dan menghampiri Dion.
"Dia baru saja bangun, dan menanyakan Flo" ujar Tasya singkat.
"Kau sudah menghubungi Salsa?" Tanya Dion lagi.
__ADS_1
Tasya mengangguk.
Dion berjalan ke arah ranjang perawatan tempat Zhia terbaring.
"Halo, Zhia" sapa Dion ramah pada Zhia.
"Om siapa?" Tanya Zhia bingung
"Bagaimana kalau kita kenalan dulu. Nama om Dion. Jadi Zhia bisa memanggil om Dion" Dion mengulurkan tangannya pada Zhia untuk mulai berkenalan.
Meskipun ragu, Zhia akhirnya menurut dan menjabat tangan Dion.
"Lalu tante itu?" Zhia menunjuk ke arah Tasya yang kini berdiri di belakang Dion.
"Hai Zhia, nama tante Tasya." Tasya memperkenalkan dirinya sendiri.
Zhia menatap lekat wajah Tasya. Gadis kecil itu baru ingat, Tasya lah yang kemarin mengganti bajunya, lalu menggendongnya dan memangkunya sepanjang perjalanan menuju ke tempat ini.
"Apa tante seorang dokter?" Tanya Zhia tiba-tiba.
Tasya sungguh terkejut dengan pertanyaan Zhia kali ini. Ia bahkan belum memberitahu Zhia, namun bagaimana gadis kecil ini bisa tahu?.
Tasya mengangguk,
"Bagaimana kamu bisa tahu?" Tanya Tasya penasaran.
Zhia mengendikkam bahu,
"Zhia hanya menebaknya" jawab Zhia sekenanya.
"Zhia juga ingin jadi dokter kalau nanti sudah besar" ucap Zhia lagi dengan wajah polosnya.
Sesaat ada nyeri di hati Tasya,
Tasya meraih tangan mungil Zhia untuk kemudian ia cium.
"Zhia pasti akan jadi dokter yang hebat suatu hari nanti" ucap Tasya dengan suara bergetar.
Penyakit yang kini di derita oleh Zhia...
Bagaimana mungkin gadis sepolos dan semaniss Zhia harus melawan penyakit mengerikan ini.
Tapi Tasya terus meyakinkan dirinya, bahwa Zhia adalah ggadis yang kuat.
Zhia kan sembuh. Zhia pasti sembuh.
Tasya sudah bertekad untuk merawat dan terus mendampingi Zhia hingga gadis kecil itu sembuh dan berhasil melawan penyakit ini.
Harapan sekecil apapun, akan tetap Tasya perjuangkan.
"Apa om Dion mau pergi? Kok bawa koper?" Zhia melihat ke arah koper yang tadi di bawa oleh Dion.
Dion tersenyum kecil,
"Om mau pulang ke rumah om di Jakarta. Apa Zhia mau ikut ke sana kalau Zhia sudah sembuh?" Tanya Dion sambil membelai rambut panjang Zhia.
Zhia menatap bingung pada Dion dan Tasya secara bergantian.
"Apa om dan tante akan membawa Zhia pergi dari rmah mama Salsa?" Tanya Zhia lirih. Seperti ada nada kesedihan di sana.
Sesaat Tasya jadi merasa bersalah.
"Zhia suka ya, tinggal di rumah besarnya mama Salsa?" Tanya Tasya dengan nada sehalus mungkin.
Zhia mengangguk,
"Apa teman Zhia itu merasa sedih?" Kali ini Dion yang bertanya pada Zhia.
Gadis kecil itu menggeleng,
"Kata teman Zhia, di rumah barunya banyak mainan. Jadi dia suka pindah ke rumah baru" cerita Zhia lagi.
"Kalau om dan tante mengajak Zhia pindah ke rumah baru apa Zhia akan sedih?" Tanya Dion lagi.
Zhia tak langsung menjawab, gadis kecil itu menatap lekat wajah Tasya dan Dion secara bergantian.
"Apa Zhia masih bisa bertemu Flo?" Tanya Zhia polos.
Kali ini Tasya bingung harus menjawab bagaimana.
Tok tok tok
Suara ketukan di pintu, sedikit membuat mereka bertiga kaget.
Dion segera beranjak dan membuka pintu ruang perawatan.
"Selamat sore," sapa dokter Rio ramah.
Dion mengangguk dan membalas sapaan dokter muda tersebut.
"Bagaimana kondisi Zhia, Sya. Apa dia masih mengeluh sakit?" Rio bertanya pada Tasya yang sedari tadi masih duduk di samping ranjang perawatan Zhia.
"Tidak. Kondisinya sudah stabil. Bagaimana dengan hasil tes lanjutannya?" Tanya Tasya dengan nada serius.
Rio memberikan sepucuk amplop putih pada Tasya.
Tasya langsung mengambil dan membukanya.
Dion ikut melihat hasilnya, meskipun jujuur dia tidak paham.
"Sya, peralatan disini kurang lengkap. Jadi mungkin Zhia tidak akan bisa menjalani perawatan dengan maksimal" ucap Rio berkata jujur.
"Aku akan membawa Zhia ke Jakarta" jawab Tasya cepat.
Rio sedikit terkejut.
"Kau serius?" Tanya Rio lagi.
Tasya mengangguk. Tekadnya sudah bulat. Zhia harus mendapatkan perawatan maksimal.Zhia harus sembuh.
"Jadi kapan kira-kira aku bisa mengajak Zhia melakukan perjalanan. Kau bisa membantuku kan?" Tanya Tasya sambil menatap serius pada Rio.
Rio mengangguk,
"Tapi kita harus observasi dulu dua sampai tiga hari dan memastikan kondisi Zhia benar-benar stabil" ujar Rio menjelaskan.
Tasya mengangguk.
"Ya, aku tahu" jawab Tasya singkat.
"Baiklah, aku permisi dulu kalau begitu. Selamat sore" pamit Rio sebelum akhirnya dokter muda itu keluar dari ruang perawatan Zhia.
"Nat," Dion sedikit ragu.
"Kita harus membujuk Zhia bagaimanapun caranya, Di. Kankernya sudah masuk stadium akut" Tasya berkata dengan berbisik pada Dion.
Tasya tak mau Zhia mendengar ini semua.
__ADS_1
"Zhia harus cepat di beri tindakan, atau...." Tasya sungguh tak bisa melanjutkan kata-katanya.
Andai saja Tasya tahu keberadaan keluarga Zhia, pastilah harapan kesembuhan untuk Zhia akan semakin besar.
Namun kini Tasya hanya bisa berharap pada pengobatan serta terapi yang mungkin akan menyakitkan untuk Zhia.
Ah, anak sekecil ini kenapa harus menanggung penyakit mengerikan ini.
Seharusnya Zhia masih bermain dengan teman-teman sebayanya. Berlari kesana kemari dan tidak terbaring lemah seperti sekarang ini.
Entah sudah berapa jarum suntikan yang mampir ke tangan mungilnya hari ini.
"Aku akan bicara pada pihak rumah sakit tempatmu bekerja" ujar Dion akhirnya.
"Kau akan berangkat sekarang?" Tanya Tasya sambil menatap wajah Dion.
Dion mengangguk,
"Akan ku siapkan semuanya di sana. Hubungi aku kalau Zhia sudah siap berangkat. Aku akan menjemput kalian berdua" ujar Dion lagi.
Tasya mengangguk,
"Hati-hati. Dan maaf karena tidak menemanimu pulang" ucap Tasya sambil membenarkan kemeja Dion.
"Tidak masalah. Aku akan menelponmu nanti. Jangan lupa makan. Kamu juga harus jaga kesehatan" Dion memeluk Tasya sebelum berpamitan.
"Aku akan berpamitan pada Zhia" ujar Dion sambil menghampiri Zhia yang kini masih terbaring di ranjang perawatan.
"Hai, Zhia" sapa Dion lagi.
Zhia tersenyum tipis.
"Om akan pulang dulu. Nanti Zhia kalau sudah sembuh, Zhia nyusul om ya sama tante Tasya. Nanti om belikan banyak mainan untuk Zhia" ucap Dion bersemangat
"Benarkah, om?" Tanya Zhia antusias.
Mata Zhia terlihat berbinar karena senang.
Dion mengangguk.
"Zhia cepat sembuh ya! Tante Tasya akan menjaga dan merawat Zhia" ucap Dion lagi.
Kali ini Zhia mengangguk senang.
"Baiklah. Om pergi dulu. Sampai jumpa Zhia" Dion mengecup kening gadis kecil itu.
Harus Dion akui, gadis kecil ini memang manis.
Wajar jika Tasya mearsa jatuh hati dan ingin merawatnya. Mungkin nanti dengan hadirnya Zhia, kehidupan Tasya dan Dion tak akan terasa hampa lagi dan sedikit bisa mengobati kerinduan mereka berdua akan hadirnya seorang anak.
Dion ganti pamit ke Tasya,
"Aku pergi dulu" Dion mengecup singkat bibir istrinya tersebut.
"Hati-hati, Di" pesan Tasya.
Dion hanya mengangguk sambil tersenyum sebelum akhirnya pria itu menyeret kopernya dan meninggalkan ruang perawatan Zhia.
Kini hanya tinggal Zhia dan Tasya yang ada di ruang perawatan tersebut.
*****
Mama Sarla dan mama Wina datang menjenguk Zhia hari ini.
Ini hari ketiga Zhia di rawat di rumah sakit. Semua keluarga Dion dan Tasya sudah tahu tentang Zhia dan tentang niat Tasya yang ingin merawat Zhia dan membawanya pulang.
Tasya masih membersihkan tubuh mungil Zhia.
Tasya menyeka tubuh mungil itu dengan air hangat. Tasya melakukannya dengan sangat telaten.
Mama Wina dan mama Sarla tersenyum senang melihat Tasya yang sangat telaten merawat Zhia.
Ya, meskipun Tasya belum menjadi seorang ibu, tapi jiwa keibuan Tasya sepertinya sangat kuat.
Mungkin juga karena Tasya adalah seorang dokter anak yang hampir setiap hari berhadapan dengan anak-anak yang membuat jiwa keibuan di dalam diri Tasya semakin kuat.
"Jadi, bagaimana perkembangan kondisi Zhia, Sya?" Mama Sarla membuka obrolan di ruangan tersebut.
Tasya sudah selesai membersihkan badan dan mengganti baju Zhia. Tasya membantu gadis itu bangun untuk ia suapi.
"Sejauh ini bagus dan stabil, Ma. Besok kami sudah bisa berangkat. Dion akan datang malam ini untuk menjemput kami berdua" jelas Tasya .
"Baguslah kalau begitu, semoga Zhia akan semakin membaik ke depannya" mama Wina beranjak dari duduknya dan menghampiri Tasya serta Zhia.
Tasya masih menyuapi gadis kecil itu dengan sabar.
Mama Wina mengusap lembut kepala Zhia dan sedikit merapikan rambut gadis kecil tersebut.
"Apa benar-benar tidak ada kabar mengenai keliarga Zhia?" Tanya mama Whina prihatin.
Tasya menggeleng,
"Semuanya buntu, Ma." Jawab Tasya lesu.
Mama Wina memperhatikan sekali lagi wajah gadis kecil itu.
"Zhia makan yang banyak, ya. Biar cepat sehat dan cepat bisa main lagi" mama Wina berkata kepada Zhia yang masih mengunyah makanan di mulutnya.
Zhia hanya mengangguk mengerti.
Sejak di rawat di sini, banyak yang datang mengunjungi Zhia dan membawakan Zhia beberapa boneka serta mainan.
Tentu saja Zhia merasa senang.
Kata mama Tasya itu semua adalah keluarga mama Tasya yang artinya juga adalah keluarga Zhia.
Ya, sekarang bahkan Zhia memanggil Tasya dengan sebutan mama.
Tasya adalah mama baru Zhia.
Kemarin Salsa sudah datang dan menjelaskan semuanya pada Zhia. Salsa menjelaskan semuanya, tentang Zhia yang nantinya akan tinggal bersama Tasya dan Dion.
Dan kehadiran Tasya di samping Zhia selama tiga hari ini ternyata memang banyak membantu.
Zhia sudah mulai terbiasa dan akrab dengan Tasya. Jadilah gadis kecil itu tak lagi protes.
Salsa juga yang meminta Zhia untuk memanggil Tasya dengan sebutan mama. Karena bagaimanapun juga, Tasya dan Dion nantinya akan menjadi orang tua angkat untuk Zhia.
Mama Sarla ikut menghampiri Tasya yang kini sudah sekesai menyuapi Zhia.
"Mama tahu kamu akan merawat Zhia sepenuh hati. Mama salut dengan jiwa keibuan kamu yang begitu kuat pada Zhia..." ujar mama Sarla sambil menepuk punggung Tasya.
"Semoga dengan kehadiran Zhia, nantinya rumah kalian berdua akan lebih berwarna dan tak lagi terasa sepi." Lanjut mama Sarla.
Tasya hanya mengangguk dan tersenyum.
Dalam hati Tasya pun berharap begitu. Semoga Dion juga akan bisa akrab dengan Zhia nantinya.
__ADS_1
Tasya sungguh tak sabar untuk segera membawa Zhia pulang ke apartemennya.