
Patah hati,
Dua kata yang tidak ada di kamus seorang Salsa.
Salsa tak pernah tertarik dengan dunia pacaran atau cinta cintaan.
Bukan karena kuper atau tidak pede dengan penampilannya, tapi Salsa cukup jengah menyaksikan tingkah lebay teman temannya kala mereka sedang patah hati atau ditinggal pas lagi sayang sayangnya.
Dan sejak saat itu, Salsa memutuskan untuk tidak pacaran atau jatuh cinta pada cowok. Terutama mereka yang playboy.
Bagi Salsa semua cowok itu ngeselin. Terutama si pelatih resek yang entah sejak kapan mengikuti langkahnya.
"Sya, tunggu" pelatih Ronny memanggil Tasya yang sedang berjalan menuju parkiran bersama Salsa.
Tasya langsung menoleh dan menghentikan langkahnya.
"Ia, kak. Ada apa?" Jawab Salsa saat tahu yang memanggilnya adalah pelatih Ronny, kakak angkatnya.
Saat itulah Salsa langsung merutuki dirinya sendiri.
Pelatih resek itu ternyata membuntuti Tasya, bukan dirinya. Kenapa dirinya begitu percaya diri tadi.
'Huh, dasar bodoh' gumam Salsa kesal.
Tapi tunggu dulu, sejak kapan Tasya akrab dengan pelatih resek dan menyebalkan itu?
Dan Tasya barusan memanggilnya "Kak"
Apa Salsa tak salah dengar?
Salsa segera memasang pendengarannya baik baik, demi mengetahui kebenaran yang selanjutnya akan terjadi.
"Kau sudah ke panti belakangan ini?" Tanya Ronny serius.
"Belum. Apa ada masalah?" Tanya Tasya khawatir.
"Aku dengar bu Ranti sakit. Tapi aku juga belum sempat kesana. Jadwalku padat" kata Ronny menjelaskan.
Tasya tampak berpikir sebentar.
__ADS_1
"Mungkin lusa aku akan kesana." Tasya mengira ngira.
Lusa adalah weekend dan sekolah libur. Tasya akan menyempatkan datang ke panti untuk menengok kondisi Bu Ranti.
"Baiklah, jangan lupa kabari aku" pesan Ronny sambil mengacak rambut Tasya. Membuat gadis itu sedikit mencebik.
Tasya sudah akan berbalik dan melanjutkan langkahnya, namun tiba tiba Ronny kembali berbicara.
"Tidak menunggu pacarmu latihan?" ucap Ronny dengan ekspresi mengejek.
Tasya hanya memutar bola matanya dan segera berbalik. Meraih tangan Salsa dan memaksanya untuk segera pergi dari tempat itu.
Salsa yang sedari tadi hanya bengong menyimak obrolan Ronny dan Tasya mendadak seperti bangun dari tidur.
Buru buru Salsa menghentikan langkah Tasya.
"Tunggu, tunggu. Sejak kapan loe akrab sama pelatih resek itu?" Tanya Salsa dengan muka serius.
"Dia kakak angkatku" jawab Tasya singkat. Tapi sukses membuat Salsa terlonjak kaget.
"Serius loe Sya?" Ucap Salsa setengah berteriak.
Ingin rasanya Tasya menyumpal mulut temannya itu.
"Gak usah lebay gitu kenapa" Tasya memutar bola matanya.
"Ya kan gue kaget. Sejak kapan dia jadi kakak angkat loe? Bukannya kemarin loe bilang gak kenal sama dia?" Pertanyaan bertubi-tubi langsung di lontarkan oleh Salsa.
Berharap Tasya akan menjelaskan semua dengan sedetail detailnya.
"Ceritanya panjang" jawab Tasya. Dan tentu saja Salsa semakin penasaran.
"Gue siap dengerin kok" ucap Salsa dengan yakin.
Mereka berdua sudah sampai di halaman parkir sekarang.
"Kalian berdua darimana aja sih? Sampe lumutan kita berdua nungguin" Vina mulai mengomel.
Sejak tadi, Vina dan Silvi sudah terlebih dulu sampai di halaman parkir dan menunggu Salsa dan Tasya keluar.
__ADS_1
"Loe aja yang lumutan. Gue mah tetap cetar" ucap Silvi menanggapi omelan Vina.
Vina mencibir.
Tasya dan Salsa tertawa kecil..
"Maaf, tadi mendadak ada yang ngajak ngobrol. Lupa daratan deh" Salsa yang terlebih dahulu menjawab pertanyaan dua temannya tersebut.
Tentu saja Salsa menjawab sambil melirik ke arah Tasya. Bermaksud menyindir Tasya.
Namun rupanya gadis itu terlalu lugu dan polos untuk memahami sindiran dari Salsa.
Jadilah Tasya memasang wajah biasa saja dan sama sekali tak menanggapi ucapan dari Salsa.
Akhirnya Salsa menjadi kesal sendiri.
"Yaudah, balik yuk" ajak Tasya. Dan ketiga temannya langsung mengangguk.
Keempat gadis itupun segera masuk ke dalam mobil Silvi.
"Loe masih utang penjelasan sama gue" Salsa berbisik pada Tasya.
Membuat Tasya sedikit mengernyit bingung.
Ia pun memandang Salsa dengan tatapan bingung.
"Soal pelatih resek itu" bisik Salsa lagi. Suaranya terdengar geregetan kalo ini.
"O" jawab Tasya singkat dan baru paham maksud dari Salsa.
Entah mengapa Salsa berpikir temannya yang satu ini agak sedikit lola sekarang.
Efek kebanyakan jalan sama Dion sepertinya.
Huh, pacaran memang tak baik untuk kesehatan.
Beruntung Salsa selalu menghindari pacaran.
"Kan gak lucu kalo gue juga jadi lola kayak Tasya atau Vina" Salsa bergumam sendiri dalam hati.
__ADS_1