Natasya

Natasya
Teman Lama


__ADS_3

Motor mama Sarla memasuki halaman rumah Tasya.


Mama Sarla sedikit terkejut melihat Tasya dan Tante Desi yang berkerumun di halaman rumahnya bersama dua orang asing.


Setelah memarkirkan motor dn melepas helmnya, buru-buru mama Sarla menghampiri kerumunan tersebut.


"Baru pulang, jeng?" Tante Desi yang terlebih dahulu menyapa mama Sarla.


"Iya nih, sabtu masih aja lembur" jawab mama Sarla sedikit terkekeh.


"Ini siapa, Sya? Ada tamu kok gak diajak masuk?" Mama Sarla menegur putrinya tersebut.


"Mereka mama papanya Dion, Ma"jawab Tasya lirih.


"Loh, mama papanya Dion kesini? Mau melamar kamu?" Tanya mama Sarla sedikit terkejut.


Sontak saja kata-kata mama Sarla tesebut membuat tante Desi, mama Wina dan Papa Rian tertawa


"Mama ih" Tasya mencebik karena malu. Mamamya ini selalu ceplas-ceplos kalau bicara.


"Tadinya kita mau melamar, bu. Tapi kata Tasya dia gak pacaran tu sama Dion" timpal papa Rian masih terkekeh. Alhasil Tasya semakin mencebik dan memilih menundukkan wajahnya karena malu.


"Gak pacaran tapi kemana-mana berdua boncengan motor" cibir mama Sarla.


"Anak-anak jaman sekarang, malu-malu tapi mau memang" tante Desi menimpali. Dan ketiga orang tua itu kembali tertawa


"Oh, ini orang tuanya Dion ya?" Tanya mama Sarla selanjutnya.


"Iya jeng, kenalin. Ini mas Rian, dan istrinya mbak Wina." Tante Desi memperkenalkan mama papa Dion pada mama Sarla.

__ADS_1


Mama Sarla menjabat tangan keduanya,


Namun saat menjabat tangan mama Wina, mama Sarla tampak berpikir sejenak.


"Loh, kamu Wina yang dulu kuliah di universitas X kan?" Tanya mama Sarla menerka-nerka


"Iya, dan kamu... Sarla.


Ya ampun aku hampir tak mengenalimu" kedua wanita paruh baya itupun berpelukan bahagia.


Sepertinya keduanya pernah saling kenal.


Ponsel papa Rian tiba-tiba saja berdering. Papa Rian berjalan agak menjauh untuk mengangkat telpon.


"Gak nyangka, Win. Kita bisa ketemu disini" ucap mama Sarla senang.


"Iya, kamu udah lama ya tinggal disini?" Tanya mama Wina


"Oh, begitu." Ujar mama Wina sambil mengangguk.


Papa Rian sudah kembali dan menghamipri istrinya yang sedang asyik bercerita dengan sahabat lamanya tersebut.


"Ma, ada tamu yang nungguin papa dirumah. Kita pulang dulu yuk" ucap Papa Rian sedikit berbisik pada mama Wina.


Mama Wina hanya mengangguk. Lalu berpamitan pada tante Desi dan mama Sarla.


"Mungkin lain waktu kita atur jadwal ketemuan, Sar. Aku pengen cerita banyak ke kamu" janji Mama Wina sebelum masuk ke dalam mobil suaminya.


"Bisa diatur itu, Win." Ucap mama Sarla sambil mengacungkan jempol.

__ADS_1


"Kita pulang dulu ya. Bye semua" pamit papa Rian dan mama Wina berbarengan sambil melambaikan tangan.


Ketiga wanita itu pun balas melambaikan tangan. Mobil papa Rian pun melaju meninggalkan kompleks perumahan tersebut.


"Jeng Desi kapan kembali? kemarin katanya di luar kota?" Mama Sarla berbasa-basi pada tetangganya tersebut.


"Iya baru sore tadi jeng, diantar mbak Wina sama mas Rian." Jawab tante Desi.


"Jeng, saya,masuk duluan ya. Udah gerah ni. Mau mandi" pamit tante Desi pada akhirnya.


Ia benar-benar sudah merasa lelah dan ingin segera betistirahat.


"Oh, iya jeng, silahkan" ucap mama Sarla.


Tante Desi pun bergegas masuk ke dalam rumahnya.


"Trus Dion mana? Tadi katanya kamu pergi sama Dion?" Mama Sarla beralih bertanya pada Tasya.


Mereka berdua berjalan perlahan menuju teras rumah.


"Dion udah pulang, Ma sedari tadi. Kecapekan katanya" jawab Tasya berbohong. Ia tak mungkin menceritakan pada mamanya tentang Dion yang mendadak ketus gara-gara bertemu papanya.


"Kabar Bu Ranti bagaimana?" Tanya mama Sarla mengalihkan topik pembicaraan.


"Bu Ranti sehat. Tadi Tasya ngobrol banyak sama beliau" cerita Tasya antusias.


Ia dan mama Sarla sudah duduk di kursi teras sekarang.


"Syukurlah kalo begitu" ujar mama Sarla senang.

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan obrolan hingga hari beranjak gelap dan malam.


__ADS_2