Natasya

Natasya
Depresi


__ADS_3

"Kev, kamu darimana semalam? Mama hubungi kok ponselmu tidak aktif?" Mama Wina bertanya pada Kevin yang baru saja pulang.


Mama Wina sedikit heran melihat penampilan Kevin yang berantakan.


"Eeee, Kevin nginep di rumah temen, Ma" jawab Kevin berbohong.


"Kenapa tidak menghubungi mama? Mama kan cemas, Kev" tanya Mama Wina lagi.


Ia merasa aneh dengan gelagat Kevin.


Kevin baru sepekan ini tinggal dirumah karena kuliahnya sedang libur panjang.


Namun mama Wina merasa, Kevin banyak berubah semenjak kuliah di Singapura.


Entahlah, mungkin perasaan mama Wina saja.


"Kevin bukan anak kecil lagi, Ma. Kevin bisa kok jaga diri" ucap Kevin sedikit ketus.


"Iya, iya. Mama tahu. Kamu liburan disini sampai kapan?" Tanya mama Wina mengalihkan pembicaraan.


"Minggu depan Kevin udah balik lagi ke Singapura, Ma" jawab Kevin sedikit malas.


"Baguslah kalau begitu. Kemungkinan lusa Dion juga akan cuti dari pelatihannya dan pulang beberapa hari kesini." Cerita mama Wina.


Kevin mendengus.


Lagi lagi mamanya membahas Dion. Kevin merasa jengah mendengar nama itu.


Sejak hubungan Dion dan mama Wina membaik, Kevin merasa mamanya lebih sayang dan peduli pada Dion.


Kevin merasa terabaikan. Mama Wina selalu saja membela Dion.


Bahkan mama Wina mendukung hubungan Dion dan Tasya tanpa memikirkan perasaannya.


Tapi kini, semua hal itu akan segera berakhir.


Sebentar lagi, Tasya akan menjadi milik Kevin selamanya. Kini Kevin hanya perlu mencari tahu keberadaan Tasya.


"Kevin ke kamar dulu, Ma" pamit Kevin akhirnya.


Ia merasa sangat lelah.


Mama Wina hanya mengangguk. Kevin bergegas menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.


*****


Salsa dan Ronny berlarian di koridor rumah sakit.


Mereka sudah tak sabar untuk segera melihat kondisi Tasya.


Dua orang polisi berjaga di depan sebuah ruangan.


Salsa dan Ronny berjalan sedikit cepat menuju ke ruangan tersebut, bergegas keduanya menghampiri kedua polisi tersebut.


"Siang, Pak. Saya Ronny kakaknya Tasya" Ronny memperkenalkan dirinya kepada polisi tersebut.


"Oh, Ronny. Ayo duduk dulu" salah satu dari polisi tersebut mengajak Ronny dan Salsa duduk di kursi tunggu yang ada du depan ruangan tersebut.


Sepertinya polisi tersebut ingin menjelaskan sesuatu.


"Gadis yang di dalam ruangan itu, kami tidak menemukan identitas apapun. Tapi seorang warga menemukannya tergeletak di pinggir jalan tadi pagi.


Ciri ciri dan wajahnya sama dengan Tasya yang kalian laporkan hilang kemarin" jelas polisi itu panjang lebar.


"Lalu bagaimana keadaannya, Pak" tanya Salsa tak sabar.


"Dokter sudah melakukan pemeriksaan. Sepertinya gadis oni baru saja mengalami penganiayaan dan kasus pemerkosaan. Tapi kami belum tahu siapa pelakunya. Tak ada petunjuk apapun. Sepertinya korban kabur lumayan jauh dari tempat kejadian" jelas polisi itu lagi.

__ADS_1


Salsa dan Ronny terkejut tak percaya.


Salsa menutup mulutnya demi menahan isak tangisnya.


Salsa tak menduga Tasya akan mengalami kejadian naas seperti ini.


Ronny mengepalkan tangannya berusaha meredam emosi yang kini memuncak di dadanya.


Siapapun pelakunya, Ronny akan membuat perhitungan.


"Kami masih menunggu korban sadar, mungkin korban akan mau menceritakan kejadian yang sebenarnya dan memberitahu siapa pelakunya" jelas polisi itu lagi.


"Bisakah kami menemui Tasya, Pak" tanya Ronny


"Ya, silahkan masuk" polisi itu mempersilahkan.


Ronny dan Salsa segera masuk ke dalam ruang perawatan.


Tasya terbaring diatas ranjang perawatan. Matanya terpejam rapat.


Salsa mendekat ke arah Tasya, meraih tangan sahabatnya tersebut dan menggenggamnya erat.


Air mata Salsa jatuh tanpa permisi.


Salsa prihatin melihat kondisi Tasya saat ini. Hatinya ikut sakit dan perih mengingat apa yang baru saja menimpa sahabat baiknya tersebut.


"Sya, kamu yang kuat ya" ucap Salsa lirih.


Ronny mengelus lembut pundak Salsa, berusaha menenangkan gadis tersebut.


Ronny juga sedih dengan apa yang menimpa Tasya, namun Ronny harus tetap kuat sekarang.


*****


Hari sudah beranjak sore. Salsa masih setia menunggui Tasya.


Ronny baru kembali dari membeli makanan.


Salsa yang sedari tadi duduk di samping Tasya segera berusaha menenangkan Tasya.


Salsa menepuk nepuk tangan Tasya agar gadis itu bangun dan membuka matanya.


"Sya, Tasya" Salsa terus berusaha membangunkan Tasya.


Namun Tasya malah semakin meronta dan mengamuk


Ronny ikut membantu menenangkan Tasya.


Ronny memegang kuat badan Tasya agar gadis itu tak lagi meronta ronta.


"Pergi... jangan lakukan itu... jangan lakukan itu" Tasya masih saja berteriak histeris. Kini airmatanya jatuh bercucuran.


Sepertinya Tasya mengalami sebuah trauma.


"Sya, kamu kenapa, Sya? Ini aku Salsa. Bangun, Sya. Buka mata kamu" Salsa ikut menangis menyaksikan Tasya yang histeris tak karuan.


"Sal, panggil dokter cepat" ucap Ronny sambil masih terus memegang tubuh Tasya. Gadis itu terus saja meronta dan mengamuk.


Salsa menghapus airmatanya dan bergegas keluar dari ruangan untuk memanggil dokter atau perawat.


Tak selang berapa lama, Salsa kembali bersama seorang dokter dan dua orang perawat.


"Sya, tenang Sya. Kamu udah aman disini" Ronny masih terus berusaha menenangkan adik angkatnya tersebut.


Dokter menyuntikkan sesuatu ke selang infus Tasya.


Gadis itu masih berontak dan berteriak teriak.

__ADS_1


Namun tak lama, Tasya mulai tenang dan diam.


Perlahan, Ronny melepaskan pegangannya pada Tasya.


Salsa masih menangis sesenggukan. Ia sungguh tak sampai hati melihat kondisi Tasya saat ini.


Siapapun yang melakukan perbuatan bejat itu pada Tasya sungguh adalah orang yang tak punya perasaan.


Ronny memeluk Salsa mencoba untuk menenangkannya.


Ronny tahu Salsa juga ikut terpukul dengan apa yang telah menimpa Tasya.


Salsa adalah sahabat baik Tasya sejak keduanya duduk di bangku SMA.


"Tasya akan baik baik saja, Sal" ucap Ronny penuh harap.


Salsa hanya mengangguk. Tangisnya mulai mereda.


*****


Sudah larut malam. Salsa sudah terlelap di samping ranjang Tasya.


Pun dengan Ronny, ia juga sudah tidur lelap di sofa yang ada di sudut ruangan tersebut.


Perlahan Tasya membuka matanya.


Ia merasakan tangannya yang digenggam oleh seseorang. Tasya menoleh dan melihat Salsa yang tertidur lelap di samping ranjangnya.


Airmata Tasya kembali jatuh.


Kilas kilas kejadian di dalam mobil bersama Kevin malam itu terus saja berkelebat di benak Tasya.


Sekuat apapun Tasya mencoba melupakannya semuanya terasa sia sia sekarang.


"Kamu akan menjadi milikku selamanya"


"Dion akan meninggalkanmu"


"Kamu milikku Tasya"


Kata kata dari Kevin terus saja berputar putar di kepala Tasya.


Airmata Tasya jatuh semakin deras.


"Enggak, enggak. Dion gak akan ninggalin aku. Dion gak akan ninggalin aku" ucap Tasya sambil menangis sesenggukan.


"Dion akan ninggalin aku. Dion gak akan mau sama gadis kotor kayak aku" Tasya mulai meracau lagi.


"Kamu jahat, Kevin. Aku benci kamu. Dasar brengsek" Tasya tak berhenti mengata ngatai Kevin


Dulu Tasya selalu menganggap kakak tiri Dion itu orang baik.


Bahkan Tasya merasa bersalah saat harus menyakiti hati Kevin karena dia dan Dion yang berpacaran diam diam.


Namun kini, Tasya membenci Kevin.


Kevin tidak sebaik yang Tasya duga.


Kevin adalah orang jahat.


Kevin bahkan menggunakan cara bejat dan kejam untuk memisahkan dirinya dengan Dion.


Tasya memandang ke arah langit langit kamarnya.


Pandangannya kosong.


Tasya tak tahu bagaimana ia akan menjelaskan ini semua pada Dion.

__ADS_1


Tasya belum siap berpisah dengan Dion.


Tasya tak mau kehilangan Dion.


__ADS_2