
Tasya menatap lekat wajah Dion di layar ponselnya.
"Di, apa kamu masih tetap mencintaiku?" Tanya Tasya tiba-tiba.
Seketika, Dion langsung menghentikan tawanya.
"Kenapa bertanya seperti itu, Nat? Aku mencintaimu, selalu begitu dan akan seterusnya begitu" Dion sedikit mengernyit heran.
"Tapi, masa laluku, masa lalu papa kandungku..." Tasya tertunduk sedih.
Kenapa harus seperti ini jalan hidupnya.
Tasya bukan lagi wanita yang sempurna untuk Dion.
Di tambah papa kandungnya yang ternyata adalah seorang pembunuh.
Apakah Tasya masih layak bersanding dengan Dion?
Dion menarik nafas panjang,
"Nat, kita sudah sama-sama berjanji untuk tidak membahas hal ini. Aku menerima kamu apa adanya, Nat. Aku mencintai kamu" ucap Dion bersungguh-sungguh.
"Maaf..." hanya itu yang bisa keluar dari bibir Tasya.
Airmatanya mendadak jatuh tanpa permisi.
Dion sekali lagi menarik nafas panjang, mengendalikan emosinya dan berharap nada bicaranya tidak terdengar membentak.
"Nat, aku mohon jangan menangis lagi. Aku sayang sama kamu. Semuanya akan baik-baik saja" Dion ingin menghapus airmata yang kini sudah mengalir deras di kedua pipi Tasya, namun itu sungguh tak mungkin.
Dion hanya bisa memandang Tasya dari layar ponselnya.
"Aku juga mencintaimu, Di. Terima kasih karena selalu ada untukku" ucap Tasya lirih di sela-sela tangisnya.
Dion benar-benar ingin berlari ke rumah Tasya dan memeluk gadis itu sekarang.
"Istirahatlah, aku akan datang besok pagi" ucap Dion akhirnya.
Ia benar-benar ingin memeluk Tasya dan menghapus air mata gadis itu.
Tasya mengangguk.
"Maaf sudah mengganggumu malam-malam begini" Tasya menyeka air mata di kedua pipinya. Lalu memaksa untuk tersenyum.
"Tidak masalah. Aku mencintaimu, Nat. Selamat malam" ucap Dion berpamitan.
"Selamat malam, Di" balas Tasya sebelum mematikan ponselnya.
Tasya menarik nafas panjang, sebelum merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
Tasya akan mencoba untuk memejamkan matanya, meskipun banyak hal berputar-putar di pikirannya sekarang.
*****
Tasya masih termenung di salah satu sudut ruangan nan megah tersebut.
Hari ini, pesta pernikahan Vira dan Kevin tengah di laksanakan.
Tasya memandang dari kejauhan, sepasang mempelai yang kini tengah berfoto di atas pelaminan dalam berbagai pose.
Ruangan yang kini disulap menjadi serba putih dan penuh dengan bunga tak juga membuat suasana hati Tasya membaik.
Pesta ini begitu mewah dan glamour, mengingat posisi Kevin saat ini yang adalah seorang Direktur di perusahaannya. Banyak tamu penting yang hadir tentu saja.
__ADS_1
Dion membawa dua gelas minuman dan berjalan menghampiri Tasya.
Sudah sedari pagi Dion menemani Tasya, namun gadis itu masih saja murung.
"Minumlah" ucap Dion lembut sambil menyodorkan segelas minuman pada Tasya.
Tasya menerima gelas dari Dion, namun tanpa berkata sepatah kata pun.
Entahlah, hatinya sedang kacau.
Melihat pesta pernikahan Kevin dan Vira, membuat Tasya bertanya-tanya. Apa kelak saat dia menikah dengan Dion juga akan semewah ini?
"Kamu tidak ingin berdiri diatas sana bersamaku?" Dion mencoba mencairkan suasana.
Tasya hanya tertawa datar.
"Tersenyumlah, Nat" sekali lagi Dion memohon.
Tasya menarik nafas panjang.
"Aku hanya bingung, Di" ucap Tasya lirih.
Tadi malam mimpi itu kembali hadir.
Mimpi yang sungguh mengganggu.
Tasya tak mengenal orang-orang dalam mimpinya, namun mengapa semua terlihat begitu nyata?
'Siapa Erin?
Kenapa dia mau menikam seorang bayi kecil tak berdosa itu?'
Pertanyaan itu terus saja berputar di kepala Tasya sedari pagi.
Tasya benar-benar bingung sekarang.
"Sya..." sebuah suara lembut yang menyapanya membuyarkan lamunan Tasya.
"Tante Desi" Tasya segera menghambur ke pelukan tante Desi.
Baru sepekan dirinya tak berjumpa dengan tante Desi tapi Tasya merasa itu waktu yang lama.
"Kenapa murung?" Tanya tante Desi khawatir. Ia mengusap lembut kepala Tasya.
Tasya menggeleng samar.
"Tante sudah mendengar semuanya dari Dion" ujar tante Desi lagi.
Tasya sedikit terkejut.
"Tante paham perasaan kamu saat ini. Tapi Sya, menurut tante kamu tidak boleh egois seperti ini.
Papa kamu pasti punya sebuah alasan melakukan itu semua" Tante Desi berkata bijak sambil terus menjaga nada bicaranya.
"Tasya harus bagaimana, tan?" Ucap Tasya bingung. Mata Tasya mulai berkaca-kaca sekarang.
"Tasya ingin tahu semuanya, tapi saat nanti Tasya tahu kenyataan yang sebenarnya, Tasya takut.
Tasya takut tidak akan bisa menerima semuanya" lanjut Tasya.
Kali ini suaranya sedikit terisak.
"Karena itulah, biarkan papa kamu menceritakan semua detail kejadiannya, barulah kamu bisa mengambil kesimpulan. Kalau kamu hanya menebak-nebak dan berasumsi sendiri, itu hanya akan menyakiti hatimu sendiri" nasehat tante Desi lagi.
__ADS_1
Sesaat Tasya terdiam,
Ucapan tante Desi benar, Tasya seharusnya memberi kesempatan pada papa Anton untuk menceritakan semuanya.
Bukan malah memberikan tuduhan berdasarkan asumsinya sendiri.
"Temui papa kamu, Sya. Minta dia menceritakan semuanya." Ucap tante Desi lembut.
Dion yang sedari tadi ikut menyimak pembicaraan dua wanita tersebut ikut mengangguk, membenarkan saran dari tante Desi.
"Baiklah, Tasya akan menemuinya sebelum kembali" jawab Tasya akhirnya.
Dion dan tante Desi tampak bernafas lega.
Kali ini Tasya akan lebih mempersiapkan dirinya.
Ia tidak bisa terus-terusan menghindar.
Seburuk apapun masa lalu papa Anton, ia tetaplah papa kandung Tasya.
Tasya tidak akan bisa menyangkal itu semua.
"Sudah cukup bersedih nya. Aku akan mengantarmu bertemu Om Anton besok. Semuanya akan baik-baik saja" Dion sudah duduk di depan Tasya dan menghapus air mata gadis itu.
Tasya memaksa untuk tersenyum.
"Baiklah, sepertinya tante harus pergi dari sini, tante sungguh tidak mau jadi obat nyamuk disini" ujar tante Desi sambil terkekeh.
Sontak Tasya dan Dion ikut terkekeh.
"Tante akan mencari om Bimo" lanjut tante Desi sambil beranjak dari tempat duduknya.
Tasya dan Dion mengangguk bersamaan.
Setelah tante Desi berlalu meninggalkan mereka, Tasya dan Dion masih saling diam.
Hanya tangan keduanya yang saling menggenggam erat.
"Pernikahan yang mewah" gumam Tasya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Aku akan membuat pesta yang mewah juga jika nanti kita menikah" Dion menanggapi gumaman Tasya barusan.
Tasya langsung menggeleng dengan cepat.
"Aku lebih suka pernikahan yang sederhana" ucap Tasya sambil menatap dalam ke arah Dion.
Tampak Dion mengernyit bingung.
"Mungkin sebuah pernikahan dengan latar sebuah pantai akan terlihat lebih romantis" Tasya mengemukakan pendapatnya.
"Atau kita bisa menggelar pernikahan di court basket dan membiarkan semua tamunya duduk di tribun" Dion menimpali pendapat Tasya dengan sebuah ide konyol.
"Itu konyol, Di.
Siapa coba yang menggelar pesta pernikahan di court basket" Tasya mencebik tak terima.
"Baiklah aku hanya bercanda. Kita akan membuat sebuah pesta pernikahan sesuai yang kamu inginkan. Kamu senang sekarang?" Dion mengusap lembut kepala Tasya membuat pipi gadis itu merona merah.
"Ayo, kita mengambil makanan. Aku benar-benar lapar sekarang" ucap Dion sambil menggandeng tangan Tasya menuju meja perjamuan.
Tasya menurut saja.
Pesta pernikahan yang mewah itu berlangsung hingga malam.
__ADS_1
Semua yang hadir tampak bahagia.