Natasya

Natasya
Patah Hati


__ADS_3

Gadis itu bernama Davina,


Atau yang lebih akrab di panggil Vina oleh teman temannya.


Vina adalah seorang putri kesayangan di rumahnya.


Sang papi begitu memanjakan Vina.


Berdandan dan shopping di mall adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan seorang Vina.


Selain dua hal tersebut satu hal lain yang membuat Vina selalu bersemangat adalah saat dirinya bertemu dengan cowok ganteng.


Banyak teman temannya yang mengira Vina adalah seorang cewek yang suka gonta ganti pacar. Padahal pada kenyataannya, Vina belum pernah sekalipun pacaran. Ia memang menyukai banyak cowok tampan, namun itu hanya sebatas fans buta tanpa ada pernyataan cinta atau sejenisnya.


Satu cowok yang selalu ada dihatinya dan benar benar menarik perhatiannya adalah Bagas, salah satu anggota tim basket sekolahnya.


Vina bertemu Bagas saat pertama kali masuk ke bangku SMA. Sejak saat itu, Vina gencar mendekati Bagas, meskipun seringkali diabaikan, namun Vina tak menyerah.


Belakangan, usaha Vina sepertinya membuahkan hasil.


Bagas mulai menanggapinya meskipun tidak seperti ekspetasi Vina, namun hal itu tentu saja sudah membuat Vina bahagia.


Bagas sudah mulai mau mengobrol dengan Vina dan saling menyapa saat keduanya bertemu.


Harapan Vina untuk memenangkan hati Bagas tentu saja semakin membuncah.


Vina semakin berbunga bunga manakala dirinya bertemu dengan Bagas.


Namun kejadian di kafe saat akhir pekan kemarin, sungguh membuat harapan Vina hancur seketika.


Hatinya sakit dan terluka saat mendapati ternyata Bagas sudah mempunyai seorang kekasih.


Jadi selama ini Bagas menganggap dirinya apa?


Pertanyaan itu yang selama dua hari ini terus berkecamuk di hati Vina.


Apakah dirinya yang terlalu berharap banyak pada Bagas?


Atau memang Bagas yang tidak pernah peka pada perasaannya?


*****


"Loe kemana sih, Vin waktu itu. Ngilang gak ada kabar" Silvi mengomeli Vina yang baru saja datang masuk kelas.


Perasaannya saja, atau memang wajah Vina terlihat murung hari ini? Bukan seperti Vina yang biasanya.


"Berisik loe. Pinjem tugas dong" jawab Vina sedikit ketus.

__ADS_1


"Gue juga belum ngerjain." Ucap Silvi cengengesan.


"Ju..." Silvi memanggil Julian yang kebetulan lewat di dekat mejanya.


"Apa?" Tanya Julian galak


"Pinjem tugas loe dong, gue lupa belum ngerjain" kata Silvi sambil memasang wajah semanis mungkin.


Julian langsung memasang wajah sinis.


"Ogah. Makanya, tugas dikerjain. Jangan nongkrong mulu" omel Julian pada Silvi dan sukses membuat gadis itu manyun.


"Dasar pelit" gerutu Silvi sambil melotot tajam pada Julian.


Vina yang menyaksikan perdebatan sengit itu hanya tertawa kecil.


"Apaan sih, loe ketawa ketawa gak jelas" gantian Silvi mengomel pada Vina.


"Lah kalian kalo ketemu ribut aja kerjaannya. Kenapa nggak jadian aja sih kalian berdua" ucap Vina sambil terkekeh.


"Ogah..." jawab Silvi dan Julian berbarengan.


Vina tertawa semakin keras.


"Ciyee yang kompak" kata Vina sambil terus ketawa.


"Gue juga ogah sama cowok culun macem elo. Mending jadi perawan tua" timpal Silvi tak mau kalah.


"Ati ati kalian berdua kalo ngomong. Entar kena karma, jadian beneran gue yang tertawa paling depan" celoteh Vina sambil masih terus tertawa.


Salsa dan Tasya masuk kedalam kelas.


Sedikit menoleh ke arah Silvi dan Vina yang sepertinya sedang membahas hal seru.


"Tu, genk loe berdua udah datang. Pinjem gih ke mereka contekan tugasnya" ucap Julian sarkas sambil berlalu meninggalkan Silvi dan Vina.


Julian tentu saja tahu kalo keempat gadis itu sedang ada konflik dan saling diam.


Tapi sepertinya dia sengaja mengucapkan kata kata barusan untuk menyindir mereka.


Vina menyenggol lengan Silvi.


"Apa? Ogah. Mending gue dihukum" ucap Silvi galak. Tangannya bersedekap menunjukkan kalau dirinya masih marah.


Vina menarik nafas panjang.


"Sal, boleh pinjam tugas loe gak buat gue salin?" Vina akhirnya buka suara dan menyapa Salsa.

__ADS_1


Ia merasa lelah diem dieman dengan Salsa dan Tasya beberapa bulan ini.


Vina ingin mengakhiri semuanya.


"Ini, Vin" Salsa menyodorkan bukunya pada Vina.


Tentu saja Salsa merasa senang saat Vina mulai bicara padanya, meskipun hanya karena dia ingin meminjam tugas.


"Thanks ya, Sal" ucap Vina cepat.


Silvi terlihat semakin manyun dan melotot tajam pada Vina.


Namun sepertinya Vina cuek saja dan memilih untuk segera menyalin tugas dari buku Salsa.


****


"Vin, " suara Denny yang memanggilnya dari lapangan berusaha Vina abaikan.


Vina mempercepat langkahnya menuju ke kantin.


Namun sepertinya Denny lebih cepat. Cowok itu sudah menyamai langkah Vina sekarang.


"Vin, gue mau bicara" ucap Denny serius.


"Bicara apa? Gak ada yang perlu dibicarakan lagi. Gue udah lupain yang kemarin itu" jawab Vina dengan cepat. Sebisa mungkin ia berusaha menghindar dari cowok tinggi besar tersebut.


Melihat wajah Denny hanya membuat Vina kembali mengingat kejadian buruk beberapa hari yang lalu.


"Vin, gue minta maaf. Gue benar benar gak berniat buat nglakuin itu" Denny memegang tangan Vina. Raut bersalah tampak jelas di wajah Denny.


"Bukan salah loe. Kita lupain aja. Anggap aja gak pernah ada apa apa diantara kita" ucap Vina sambil menunduk.


Dalam hati Vina merasa menyesal karena telah melakukan hal bodoh itu.


Andai saja waktu itu dirinya tidak mabuk berat, pasti hal itu tidak akan pernah terjadi.


Kilas kilas kejadian itu terus saja berkelebat di benak Vina. Meninggalkan sebuah penyesalan mendalam.


Namun Vina juga tidak bisa menyalahkan Denny.


Mereka berdua sama sama mabuk kemarin.


"Vin, kalo ada apa apa loe hubungin gue ya" ucap Denny dengan nada memohon.


"Gue bakalan baik baik aja kok, Den. Gue duluan ya" Vina melepaskan tangannya dari Denny dan segera berlalu meninggalkan cowok tersebut.


Ada sebuah ketakutan besar di hati Vina.

__ADS_1


__ADS_2