
Mobil yang membawa Silvi dan Julian kini sudah sampai di sebuah rumah.
Rumah itu bukanlah sebiah rumah mewah, hanya rumah sederhana, namun memiliki halaman yang sangat asri.
Dan meskipun rumah itu terlihat sederhana, namun Silvi bisa merasakan kehangatan dirumah itu, meskipun dirimya belum masuk ke dalamnya.
"Tidak semewah rumah kamu, semoga kamu tidak kecewa mampir kesini" ucap Julian merendah.
Silvi langsung menggeleng cepat sedikit mencebik.
"Kamu pikir aku cewek matre gitu?" Jawab Silvi tak terima.
"Aku tidak mengatakan begitu, Vi. Baiklah. Ayo masuk!" Ucap Julian akhirnya.
Julian berusaha menyudahi perdebatan diantara dirinya dan Silvi sebelum benar-benar memanas.
"Apa Bunda kamu ada?" Silvi mendadak merasa ragu atau dia sedang grogi saja?
"Ya, Bunda ada di dalam. Ayo masuk. Gak apa-apa Vi. Bunda gak galak kok" jawab Julian sambil terkekeh.
"Ju, kamu sudah pulang, Nak?" Seorang wanita paruh baya yang berpenampilan sederhana keluar dari dalam rumah.
Sedikit terkejut saat mendapati putra semata wayangnya pulang bersama seorang gadis yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Iya, Bun. Julian baru pulang.
Segera saja Jukian meraih tangan sang Bunda dan mencium punggung tangannya.
"Ini siapa? Pacar kamu ya?" Tanya Bunda sambil melihat ke arah Silvi.
"Siang tante, saya Silvi. Temannya Julian" Silvi memperkenalkan dirinya sendiri sambil mencium punggung tangan Bunda.
"Oh, begitu. Ayo masuk Silvi." Bunda langsung saja menggandeng Silvi masuk ke dalam rumah tersebut.
Ruang tamu yang tidak terlalu besar namun penataan yang tepat membuatnya terlihat apik.
Silvi duduk di sofa ruang tamu.
"Aku masuk dulu, Vi. Mau mandi" Pamit Julian.
Silvi hanya mengangguk sambil tersenyum.
Bunda ikut duduk di samping Silvi.
"Jadi, kamu temen kuliah Julian? Kok tante kayak belum pernah lihat kamu?" Bunda membuka obrolan.
"Silvi teman Julian waktu SMA tante. Kemarin kita gak sengaja ketemu lagi. Hehe" Silvi menjelaskan sedikit malu-malu.
Kembali teringat pertemuan konyolnya dengan Julian tempo hari.
"Oh, begitu. Silvi tinggal di kota ini juga?" Bunda kembali bertanya.
Silvi menggeleng,
"Sebenarnya Silvi pindah ke Paris setelah lulus SMA. Sekarang Silvi lagi liburan aja disini" jawab Silvi menjelaskan.
Bunda mengangguk.
"Ayo, ikut bunda masak makan siang" Bunda beranjak dari duduknya,dan segera menggandeng tangan Silvi untuk mengajaknya menuju ke dapur.
Silvi sedikit ragu.
__ADS_1
Memasak?
Yang benar saja, Silvi jarang sekali memasak makanannya sendiri.
Silvi adalah seorang nona besar, bisa dihitung berapa kali dalam setahun dirinya masuk ke dapur.
Tapi Silvi mau tak mau terpaksa mengikuti langkah Bunda Julian menuju dapur.
"Silvi biasanya masak apa?" Tanya Bunda sembari mengambil bahan-bahan dari dalam kulkas.
Silvi menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sebenarnya Silvi gak bisa masak, tante" jawab Silvi sambil menunduk.
Mamanya tak pernah mengajari Silvi bagaimana cara memasak atau menyiapkan makanan.
Atau mungkin mamanya juga tak bisa memasak? Bukankah mama Silvi seorang wanita karier yang selalu gila kerja.
Bunda sedikit terkejut, namun dengan cepat Bunda memasang senyum ramahnya.
"Begitu, ya?
Silvi mau belajar memasak?
Bunda mau kok ngajarin Silvi" ucap Bunda tulus.
Deg,
Seketika ada perasaan aneh di hati Silvi.
Kenapa wanita di depannya ini begitu tulus dan sepertinya ia adalah sosok bunda yang penyayang.
Betapa beruntungnya Julian memiliki sosok ibu seperti ini.
"Silvi potong-potong sayurannya dulu ya, nanti sambil bunda ajarin pelan-pelan" ucap Bunda dengan sabar. Ia menyodorkan sekeranjang sayuran pada Silvi.
"Baik, Bunda" jawab Silvi singkat.
"Eh maksud Silvi, iya Tante" ucap Silvi cepat meralat ucapan sebelumnya.
Bunda hanya tertawa kecil.
"Gak papa panggil Bunda.
Bunda gak keberatan kok." Ucap Bunda masih tersenyum.
Sepertinya wanita paruh baya itu memang murah senyum.
Silvi ikut tersenyum.
Kedua wanita itupun melanjutkan acara memasak makan siang.
Julian yang melihat keakraban diantara Silvi dan bundanya hanya tersenyum bahagia.
Bulat sudah tekadnya kini untuk menjalin sebuah hubungan yang serius dengan Silvi.
*****
Sejak kunjungan Silvi ke rumah Julian itulah, hubungan Silvi dan Julian perlahan mulai menuju ke arah serius.
Silvi juga cepat akrab dengan bundanya Julian.
__ADS_1
Bahkan kadang Julian merasa cemburu karena bundanya lebih perhatian ke Silvi dari pada kepada dirinya.
Namun sekali lagi Julian tetap merasa bahagia, karena dengan begitu hubungan dirinya bersama Silvi semakin dekat dan serius.
Mereka hanya perlu memberitahu orang tua Silvi tentang hubungan ini sebelum menuju ke jenjang yang lebih serius lagi.
"Jadi, loe beneran mau serius sama Silvi?" Dion bertanya sekali lagi pada Julian.
Julian mengangguk mantap.
Dirinya dan Dion memang sering bertukar pikiran mengenai hal-hal pribadi.
"Rencananya minggu depan, aku akan menemui orang tua Silvi untuk meminta restu sekaligus melamar Silvi"
Dion menerawang, sedikit ragu dengan keputusan Julian.
Dion paham betul bagaimana keluarga Silvi, bagaimana orang tua Silvi.
Meskipun Dion tak pernah meragukan perasaan diantara Julian dan Silvi, namun tetap saja Dion ragu tentang restu dari kedua orang tua Silvi.
Dion menghela nafas,
"Baiklah, semoga semuanya lancar. Aku menunggu kabar baik dari kalian" ucap Dion penuh harap.
Semoga orang tua Silvi sudah berubah dan tidak seperti yang Dion pikirkan.
Bukankah semua orang bisa berubah seiring berjalannya waktu?
*****
Di sebuah restoran mewah.
Julian tampak gugup sekarang.
Ini kali pertama dirinya akan berjumpa dengan kedua orang tua Silvi.
"Selamat malam om, tante" Jukian langsung menyapa dengan ramah kedua orang tua Silvi yang baru datang.
Meskipun kedua orang tua Silvi sudah berpisah, tapi malam ini keduanya menyempatkan untuk datang bersama sesuai dengan permintaan Silvi.
Silvi tampil cantik malam ini mengenakan dress selutut warna hitam.
Mama Silvi memandang Julian dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan.
"Apa kamu Julian, pacarnya Silvi?" Tanya papa Silvi tegas.
Julian langsung mengangguk sambil tersenyum. Jantungnya berdetak tak beraturan.
"Iya, om. Saya Julian" jawab Julian mantap.
"Apa pekerjaanmu?" Tanya mamanya Silvi masih dengan tatapan sinis.
"Saya pemain basket, tapi..." belum selesai Julian berbicara, papa Silvi sudah memotongnya.
"Pemain basket? Pria tanpa masa depan." Kata-kata pedas dari papanya Silvi barusan seketika langsung membuat nyali Julian menjadi ciut.
"Putri kami, Silvi sudah terbiasa dengan kehidupan mewah. Apa kamu bisa memberikan itu semua dengan gajimu yang tak seberapa itu?" Gertak papanya Silvi.
"Papa! Silvi bukan gadis seperti itu" Silvi mencoba menyangkal.
Ia memang terbiasa dengan kehidupan yang serba mewah. Tapi Silvi bukanlah gadis matre.
__ADS_1
"Tak perlu menyangkal, Silvi. Kamu tidak akan bisa bertahan dengan pria seperti ini" mamanya Silvi ikut menimpali.