
Hari sudah beranjak sore. Tasya dan Dion memutuskan untuk segera pulang ke rumah.
Setelah berpamitan pada Bu Ranti dan anak-anak, Dion dan Tasya melakukan perjalanan pulang.
Dion mengendarai motornya dengan santai.
Menikmati pemandangan sore bersama Tasya sungguh membuatnya bahagia.
Dion ingin berlama-lama menikmati momen indah ini.
"Dion" Tasya menepuk bahu Dion memberi isyarat bahwa dia ingin bicara.
"Ya, ada apa?" Jawab Dion sedikit keras agar suaranya tidak hilang ditelan angin.
"Aku lapar, bisa mampir ke kafe sebentar?" Tanya Tasya sedikit mendekat ke telinga Dion. Agar Dion bisa mendengarnya dengan jelas.
Dion hanya mengangguk dan mulai melihat ke kanan kiri jalan.
Beberapa saat kemudian Dion menemukan sebuah kafe dan langsung membelokkan motornya ke halaman parkir kafe tersebut.
Tasya dan Dion memilih untuk duduk di salah satu meja yang ada di sudut kafe tersebut.
Setelah membuat pesanan, keduanya mengobrol sembari menunggu pesanan siap.
"Makasih ya, Di. Udah nemenin aku hari ini" ucap Tasya tulus.
Dion tersenyum.
"Aku senang melihatmu tertawa bahagia hari ini" kata Dion sambil memegang tangan Tasya.
Pandangan keduanya bertemu membuat pipi Tasya bersemu merah.
Seorang pelayan datang membawakan makanan dan minuman mereka.
"Kamu ingin menonton pertandinganku?" Tanya Dion selanjutnya setelah pelayan tadi meninggalkan meja mereka.
"Apa boleh? Kapan?" Tanya Tasya antusias.
"Hari Rabu nanti. Aku akan senang jika kamu datang" ucap Dion sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku akan datang" janji Tasya bersungguh-sungguh.
*****
Motor Dion berhenti tepat di depan rumah Tasya.
Tasya bergegas turun dan melepas helm yang ia kenakan.
"Makasih, Di buat hari ini" ucap Tasya tulus
"Hubungi aku saat ada kabar soal kak Ronny. Aku akan mengantarmu lagi ke sana" pesan Dion. Tasya mengangguk.
Saat keduanya masih mengobrol, terdengar suara yang tidak asing dari rumah tante Desi. Sepertinya ada lebih dari satu orang yang berbicara.
Dion dan Tasya melihat ke arah sumber suara.
Tiga orang yang tidak asing bagi Dion keluar dari rumah tante Desi.
"Terima kasih lho ya udah mampir" ucap Tante Desi ramah pada pasangan paruh baya di depannya.
"Iya, kami senang bisa silaturahmi ke sini. Lain kali mampir ke rumah, Des" pesan mama Wina sambil memeluk tante Desi hangat.
Sepertinya mereka memang akrab.
Dion dan Tasya hanya tertegun menyaksikan pemandangan itu dari depan rumah Tasya.
Pagar pembatas antara rumah Tasya dan rumah tante Desi yang tidak terlalu tinggi, membuat mereka bisa melihat jelas pemandangan tersebut.
Saat akan masuk ke dalam mobilnya, papa Rian tak sengaja menoleh ke arah Dion dan Tasya yang masih berdiri melongo di tempat semula.
Dion langsung membuang muka.
Tasya bingung harus bagaimana.
Apalagi saat papa Rian tidak jadi masuk ke mobil dan malah menghampiri keduanya, Tasya semakin dibuat salah tingkah.
"Dion?" Kata papa Rian sembari mendekat ke arah Dion dan Tasya.
Dion masih membuang mukanya dan enggan menatap ke arah papanya.
__ADS_1
Mama Wina dan tante Desi yang melihat papa Rian berjalan ke arah rumah Tasya, sejenak terdiam dan melihat ke arah yang dituju oleh papa Rian.
"Sore, Om" Tasya yang bingung harus bersikap bagaimana akhirnya memutuskan untuk menyapa pria di depannya tersebut.
"Sore. Kamu temannya Dion? Kalian darimana" tanya papa Rian yang bersikap ramah pada Tasya.
"Iya om, kami dari..."
"Bukan urusan papa" ucap Dion ketus memotong kalimat Tasya yang belum selesai.
Tasya sedikit terlonjak mendengar kata-kata ketus Dion.
Ini aneh, tadi Dion berbicara nada lembut pada Tasya, lantas kenapa sekarang nadanya berubah ketus begitu?
Apalagi Dion sedang berbicara pada papa nya. Bukankah seharusnya Dion memakai tutur kata yang santun dan lemah lembut?
Mama Wina dan Tante Desi mendekat ke arah mereka karena mendengar Dion yang berbicara dengan nada tinggi.
"Di, baru pulang?" Tanya tante Desi berbasa-basi. Dion masih diam tak menjawab.
Tasya semakin bingung harus bersikap bagaimana.
"Tadi tante baru pulang,Di. Gak sengaja ketemu mama papa kamu di bandara. Jadi tante diantar pulang sama mereka berdua" Tante Desi seakan bisa membaca pikiran keponakannya tersebut. Jadi ia berusaha menjelaskan kronologi yang sebenarnya.
Namun Dion tak merespon apapun.
Dion malah beralih melihat ke arah Tasya,
"Nat, aku langsung balik ya" hanya kata-kata itu yang diucapkan oleh Dion. Membuat Tasya mengangguk samar.
"Iya, hati-hati, Di" pesan Tasya.
Dion memakai kembali helmnya dan langsung menghidupkan motornya untuk selanjutnya pergi meninggalkan kerumunan canggung tersebut.
Tak sedikitpun Dion menyapa papa Rian, mama Wina, maupun tante Desi.
Setelah kepergian Dion, Tasya merasa semakin canggung. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung harus bagaimana sekarang.
Mungkin dia akan masuk saja ke dalam setelah berbasa-basi sebentar.
__ADS_1