
Mama Sarla sudah selesai berbelanja.
Setelah keluar dari swalayan, dirinya segera menyetop taksi yang mengantarnya ke sebuah restorant di pusat kota.
Mama Sarla akan bertemu mama Wina hari ini.
Mama Sarla sudah tak sabar ingin bercerita banyak hal pada sahabat lamanya tersebut.
Mereka dulu adalah sahabat semasa kuliah.
Namun setelah lulus, keduanya terpaksa berpisah dan hidup di kota yang berbeda, karena mama Sarla waktu itu di tugaskan oleh kantornya di kota lain.
Sementara mama Wina tetap tinggal di kota ini namun keduanya memang putus komunikasi saat itu dan tidak saling memberi kabar lagi.
Takdir yang aneh, tapi akhirnya keduanya kembali di pertemukan karena anak mereka yang sedang dekat.
Mama Sarla menarik nafas panjang. Sedikit tersenyum bahagia mengingat momen momen kebersamaannya bersama mama Wina dulu.
Taksi yang ditumpangi mama Sarla sudah sampai di depan sebuah restorant.
Setelah membayar sejumlah uang, mama Sarla bergegas masuk ke dalam restorant.
Ia menyebutkan nama mama Wina dan seorang pelayan segera mengantarnya menuju sebuah meja di salah satu sudut restorant tersebut. Mama Wina sudah tiba terlebih dahulu rupanya
"Halo, Win. Maaf aku terlambat" ucap Mama Sarla sambil bercipika-cipiki dengan sahabat lamanya tersebut.
"Aku juga baru sampai kok, Sar. Ayo duduk!" mama Wina berbasa basi.
Mama Sarla segera duduk di kursi.
Seorang pelayan datang membawakan buku menu.
Dua wanita paruh baya itu pun segera memesan makanan.
__ADS_1
Sembari menunggu pesanan siap, keduanya membuka obrolan.
"Habis belanja ya, Sar?" Tanya mama Wina sembari memperhatikan kantong belanjaan yang tadi di bawa oleh mama Sarla.
"Iya, nih. Sekalian pergi. Mumpung pulang cepet"jawab mama Sarla santai.
"Gak nyangka ya, akhirnya kita bisa ketemu lagi di kota ini. Anak kamu udah besar juga. Padahal aku belum dapat undangan nikahan kamu" mama Wina terkekeh.
Saat keduanya terpisah, status mereka memang sama sama masih gadis. Keterbatasan sarana komunikasi membuat keduanya tak pernah bertukar kabar lagi.
Bahkan undangan pernikahan pun tak sempat dikirim pada sahabat tersayang.
"Putri kandungku mungkin sekarang juga sudah seusia Tasya. Tapi aku gak tahu keberadaannya sekarang. Aku kehilangan dia, Win," cerita mama Sarla sedih.
Sontak mama Wina langsung terkejut dengan cerita sahabatnya tersebut.
"Apa maksud kamu, Sar? Tasya,bukan anak kandung kamu?" Mama Wina sedikit merendahkan volume suaranya.
Nyaris berbisik demi menjaga perasaan mama Sarla.
"Tasya anak yatim piatu yang ku adopsi dari sebuah panti asuhan."jelas mama Sarla.
Raut wajah terkejut langsung nampak di wajah mama Wina.
Ia mengira Tasya adalah anak kandung mama Sarla.
"Anak kandungku namanya Vira. Saat suamiku meninggal, Vira baru berusia enam tahun. Keluarga mas Bram memaksa membawa Vira bersama mereka.
Mereka membatasi akses ku untuk bertemu dengan Vira.
Mereka punya banyak uang, jadi jalur apapun yang aku tempuh, aku selalu gagal membawa Vira pulang." Air mata jatuh tanpa permisi di pipi mama Sarla.
Mama Wina menggenggam erat tangan mama Sarla untuk menyalurkan kekuatan pada sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Satu tahun kemudian mereka membawa Vira pergi ke luar kota. Tak ada lagi kabar atau jejak apapun.
Aku kehilangan Vira, Win.
Aku sudah berusaha untuk mencarinya. Tapi tetap saja aku tak pernah menemukan Vira" mama Sarla menangis sesenggukan.
Hatinya sakit dan perih mengingat putri semata wayangnya yang hilang entah kemana.
Mama Wina segera memeluk sahabatnya tersebut memcoba menenangkan.
Hatinya turut prihatin dan sedih mendengar cerita mama Sarla. Namun tak banyak yang bisa ia lakukan selain memberikan semangat dan kekuatan.
Karena kisah pernikahannya pun sama rumitnya dengan mama Sarla.
Belum lagi hubungannya dengan Dion yang tidak pernah baik baik saja.
"Apa menurutmu Vira masih hidup?" Tanya mama Wina sedikit ragu.
"Entahlah. Tapi perasaanku selalu mengatakan kalau Vira,masih hidup dan dia sekarang ada di kota ini. Tapi aku tidak tahu bagaimana caraku mencarinya. Aku bahkan tak pernah lagi melihat wajahnya sejak delapan tahun yang lalu" jawab mama Sarla sedih.
Raut keputusasaan nampak jelas di wajah mama Sarla.
"Bagaimana dengan Tasya? Apa gadis itu juga tahu semuanya" tanya mama Wina penasaran.
Mama Sarla menggeleng.
"Tasya gadis yang tegar. Sejak aku mengadopsinya, Tasya tak pernah malu menceritakan identitasnya yang sebenarnya pada teman temannya.
Namun soal Vira, aku belum berani menceritakannya pada Tasya. Aku rasa dia masih terlalu muda untuk tahu semuanya
Aku akan menunggu waktu yang tepat untuk menceritakannya." Tekad mama Sarla.
Mama Wina hanya mengangguk seakan menyetujui pemikiran dari mama Sarla. Ia juga tak ingin ikut campur.
__ADS_1
Baginya, ini adalah sebuah rahasia dari sahabatnya tersebut dan tentu saja mama Sarla punya hak penuh untuk memilih siapa-siapa saja yang berhak mengetahui rahasia besar ini.
Mama Wina cukup tahu saja tanpa perlu ikut campur.