Natasya

Natasya
SEASON KEDUA: Ketahuan


__ADS_3

"Aku merasa, Raka menaruh perasaan pada Kiki. Bagaimana kalau kita menjodohkan mereka berdua?" Ucapan Egi barusan sontak membuat Elena yang sedang mengunyah sarapannya menjadi tersedak.


Elena kaget dengan pendapat Egi barusan.


"Jangan buru-buru menyimpulkan, Gi. Kamu juga harus minta pendapat dari Kiki" ujar Elena bijak


"Kau benar. Bagaimana jika kau saja yang bicara pada Kiki, bukankah kalian dekat dan saling bertukar pikiran" usul Egi antusias.


Elena hanya memutar bola matanya.


'Dekat? Kami bahkan sering berdebat di belakang Egi' El hanya bergumam dalam hati.


"Pagi semua," Kiki yang baru saja turun dari kamarnya di lantai atas langsung menyapa Egi dan Elena.


"Kamu libur lagi hari ini, Ki?" Tanya Egi pada sang adik.


"Ya, tapi aku akan pergi keluar. Aku akan bertemu Tasya" jawab Kiki menjelaskan.


"Tasya di kota ini?" Tanya Egi lagi.


Kiki mengangguk.


"Aku kemarin juga bertemu dengannya di rumah sakit." Elena menimpali.


Egi yang sudah menyelesaikan sarapannya, beranjak berdiri untuk segera berangkat ke kantor.


Elena ikut berdiri dan mengantar Egi hingga pintu depan.


"Aku akan membicarakannya dengan Kiki sore ini, tapi tolong kamu bantu aku membujuk gadis itu" Egi sedikit memaksa.


"Aku tidak janji" ujar Elena sedikit malas.


Sejujurnya Elena enggan ikut campur tentang perjodohan ini.


Bukankah ini adalah hal sensitif?


Dan hubungan Elena dan Kiki bisa dibilang tidak baik-baik saja.


Kalau Elena ikut berperan dalam perjodohan ini, bukan tak mungkin Kiki malah akan semakin membencinya.


"Aku pergi dulu, bye" Egi mencium kening Elena dan bergegas berangkat menuju kantor.


*****


Dion dan Tasya sudah sampai di halaman parkir sebuah kafe, dimana Tasya dan Kiki janjian untuk bertemu.


"Kamu tak akan percaya," Dion menahan tawanya.


Tasya mengernyit tak mengerti.


"Vian ke kota ini lagi. Dan sekarang mengajakku pergi bersama teman-teman tim yang lain" Dion menunjukkan layar ponselnya kepada Tasya.


Tasya membaca sejenak pesan di ponsel Dion, sebelum akhirnya ikut tertawa.


"Apa dia memang kurang kerjaan seperti itu?" Tanya Tasya heran.


Dion hanya mengendikkan bahu.


"Apa kamu tidak apa-apa kalau aku tinggal sendiri? Aku akan menjemputmu nanti" tanya Dion sedikit ragu.


Tasya menggeleng,


"Pergilah bersama temanmu. Aku akan menelponmu saat sudah selesai" ujar Tasya santai.


"Baiklah, hati-hati!" Dion mengecup bibir istrinya tersebut.


"Kau juga hati-hati menyetir. Bye" pamit Tasya sebelum turun dari dalam mobil.


Setelah Tasya turun dan melambaikan tangan, Dion segera melajukan mobilnya meninggalkan halaman parkir kafe tersebut.


Bergegas Tasya masuk ke dalam kafe untuk bertemu dengan Kiki.


Gadis itu sudah menunggu Tasya di dalam.


"Sya!" Kiki melambaikan tangan pada Tasya yang baru memasuki pintu masuk kafe, untuk memberitahukan posisinya pada Tasya


"Hai, bagaimana kabarmu?" Tasya dan Kiki bercipika-cipiki dan saling bertanya kabar.


Keduanya sudah cukup lama tak berjumpa.


"Asyik nih, yang honey moon terus" Kiki mulai menggoda Tasya.


"Dinikmatin ajalah, Ki. Selagi masij berdua" tukas Tasya menanggapi ocehan Kiki.


"Enak ya, Sya jadi kamu. Bisa nikah sama orang yang bener-bener kamu cintai. Pasti rasanya bahagia banget" ujar Kiki panjang lebar.


Tasya menangkap ada nada kesedihan di sana.


"Bukankah kamu juga bisa menikah dengan orang yang kamu cintai suatu hari nanti, Ki?" Tasya mengernyit bingung.


Kiki menggeleng,


"Kak Egi mau jodohin aku sama rekan bisnisnya" ucap Kiki lirih nyaris tanpa suara.


Pagi tadi, sebenarnya Kiki mendengar saat Egi dan Elena membahas tentang perjodohan dirinya dan Raka.


Huh, kenapa harus Raka?


Bahkan usianya dan usia Raka terpaut jauh.


Ya, meskipun wajahnya belum terlihat tua, tetap saja Raka itu playboy.


Dan Kiki paling benci laki-laki playboy.


Kiki tahu banyak tentang pria itu dari teman-temannya.

__ADS_1


Raka yang suka gonta-ganti teman kencan.


Apa kak Egi tidak tahu itu semua?


"Kiki?" Teguran dari Tasya sontak membuyarkan lamunan Kiki tentang kebenciannya pada Raka.


"Eh, iya. Kamu mau pesan sesuatu, Sya" jawab Kiki gelagapan.


Tasya hanya menggeleng, mereka berdua bahkan sudah memesan makanan tadi dan kini sedang menunggunya. Kenapa Kiki bertanya lagi?


"Kak Egi pasti ingin yang terbaik untuk kamu, Ki" ujar Tasya berusaha bijak.


Kiki mendengus,


"Aku bisa mencari calon suamiku sendiri" ujar Kiki bersungut-sungut.


Tasya tersenyum simpul.


"Kalau memang kamu sudah menemukan pilihan hatimu, kenapa tidak kamu kenalkan saja pada kak Egi? Aku yakin kak Egi akan mengerti. Bukankah dia menyayangimu" usul Tasya memberi solusi.


Sekali lagi Kiki mendengus.


Kak Egi tak lagi menyayangi Kiki sejak kak El hadir di kehidupan kak Egi.


Bahkan sekarang kak Egi sering mengabaikan Kiki.


"Jangan buru-buru berprasangka buruk, Ki. Cobalah untuk bicara dari hati ke hati dengan kak Egi" nasehat Tasya sekali lagi.


Kali ini Kiki mengangguk,


"Baiklah, aku akan membicarakannya nanti bersama akak Egi" putus Kiki akhirnya.


Tasya sedikit bernafas lega.


Makanan yang tadi di pesan oleh Kiki dan Tasya sudah datang.


Keduanya pun menikmatinya sambil melanjutkan obrolan.


*****


Kiki baru saja sampai di rumah saat hari sudah menjelang sore.


Ada Elena yang tengah bermain bersama Rhea di ruang tengah. Egi tidak terlihat, mobilnya juga belum ada di garasi. Pria itu sepertinya memang belum pulang.


"Kak, aku mau bicara" ujar Kiki dengan anda ketus.


Kiki mendaratkan bokongnya di sofa ruang tengah dengan kasar.


Gadis itu melempar tas nya ke sembarang arah.


"Kamu sudah pulang?" Elena berbasa-basi.


"Apa kakak yang memberi ide konyol itu pada Kak Egi?" Tuduh Kiki pada sang kakak ipar.


Elena mengernyit tak paham.


Kiki berdecak,


"Kakak ingin menyingkirkanku dari rumah ini, kan? Karena itu kak El mendukung Kak Egi untuk menjodohkanku dengan Raka" tuduh Kiki berapi-api.


Elena benar-benar tak menyangka Kiki akan punya teori seperti ini?


"Kenapa aku harus menyingkirkanmu? Apa teorimu tidak ada yang lebih konyol lagi?" Kini Elena mulai kesal dengan tuduhan Kiki yang ngawur itu.


"Tidak usah berpura-pura. Sejak awal kak El memang tidak pernah menyukaiku, kan? Kakak selalu saja mengatur-atur hidupku. Aku bukan boneka" Kiki mulai bersungut-sungut.


El menggeleng-gelengkan kepalanya, tak mengerti.


'Apa adik iparnya ini sedang mabuk?'


"Kakak menasehatimu karena kakak menyayangimu dan peduli kepadamu, Ki. Semua itu demi kebaikan kamu" Elena terus menyangkal dari tuduhan Kiki yang terdengar semakin ngawur tersebut.


Kiki berdecak,


"Kiki sudah dewasa, Kak. Kiki bisa mengurus hidup Kiki sendiri. Kakak tak perlu ikut campur apalagi sok mengatur-atur hidup Kiki" Gadis itu masih tidak mau kalah dari kakak iparnya.


Elena semakin kesal saja.


"Baiklah, baiklah. Kakak tidak akan mengatur hidupmu. Kakak tidak perlu lagi membantu menyembunyikan kelakuan nakalmu, kakak tidak akan lagi membantumu jika kamu pulang dalam keadaan mabuk lagi. Kakak akan diam mulai sekarang. Terserah kamu mau melakukan apa. Biar sekalian Egi tahu semua kelakuan burukmu itu" ucap Elena berapi-api.


Wanita itu seperti sedang meluapkan semua uneg-uneg yang menggunung di dadanya selama dua tahun terakhir.


"Apa barusan kamu bilang, El? Kiki mabuk?" Suara Egi yang entah sejak kapan sudah berdiri di ruangan tersebut membuat Kiki san Elena sejenak mematung.


Kiki dan Elena sama-sama terperangah dengan kedatangan Egi yang mendadak.


Namun, sesaat Elena sadar dan buru-buru mengkonfirmasi ucapannya barusan. El sungguh tak mau Kiki terkena masalah lagi kali ini.


"Ee...enggak, Gi. Aku gak bilang begitu" ucap Elena gelagapan.


"Tidak. Kamu diam Elena! Aku sudah mendengar semuanya" Egi mengangkat tangan kanannya memberi kode pada Elena agar tak menyangkal ataupun menyela ucapannya lagi.


"Benar, kamu pernah pulang dalam keadaan mabuk?" Gantian Egi bertanya pada Kiki.


Gadis itu tampak bingung mau menjawab apa. Habis sudah riwayatnya kali ini.


Sekarang bahkan belum jam pulang kantor, kenapa tiba-tiba kakaknya itu sudah berada di rumah, di ruangan ini.


Dan sialnya, kenapa kak Egi harus mendengar semua ini


"Jawab, Kiki!" Gertak Egi sambil menaikkan nada bicaranya, membuat Kiki dan Elena sama-sama tersentak karena kaget.


"Kiki... kiki hanya dikerjain sama temannya Kiki, kak" ucap Kiki mencari alasan.


Egi berdecak tak percaya.

__ADS_1


"Dan kamu membantu menutupi perbuatan Kiki dariku, El?" Egi beralih menatap tajam kepada Elena. Egi benar-benar tak percaya istri dan adik kandungnya bisa kompak seperti ini.


Suara tangisan Rhea membuat El mengurungkan niatnya untuk membela Kiki lagi.


Egi memijat kepalanya sendiri, karena mendadak merasa pening dengan apa yang baru saja terjadi.


"El, bawa Rhea masuk ke kamar! Aku akan bicara empat mata dengan Kiki" ujar Egi sambil menatap istrinya yang kini sibuk menenangkan Rhea.


El tidak menyahut lagi.


Ia menurut dan langsung membawa Rhea masuk ke dalam kamar.


Setelah Elena dan Rhea tak terlihat lagi, Egi menatap tajam pada Kiki.


"Apa semua ini, Ki?" Tanya Egi tak mengerti.


"Apa memang? Kak Egi selalu saja membela kak El. Kak Egi tak pernah peduli lagi pada Kiki setelah ada kak El di kehidupan kak Egi. Dan sekarang kalian berdua ingin menyingkirkanku dari rumah ini dengan rencana perjodohan konyol itu" ucap Kiki meledak-ledak.


Egi sudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan siap menampar pipi adik perempuannya tersebut.


Namun dengan cepat Egi mengurungkan niatnya.


Tidak, tidak mungkin Egi menampar adik kesayangannya tersebut.


"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu, Ki? Kakak menyayangimu. Kak Elena juga menyayangimu. Apa masalahmu?" Sebisa mungkin Egi menahan emosinya.


Kiki terisak,


"Lalu kenapa kakak ingin menjodohkanku dengan Raka?" Tanya Kiki di sela isak tangisnya.


Egi mendengus.


Pria itu mengusap wajahnya sendiri dengan kasar.


"Raka itu pria baik, Ki. Dia akan bisa menjaga kamu" Egi mencoba menjelaskan.


Kiki tetap menggeleng. Gadis itu juga masih menangis sesenggukan.


"Baiklah beri kakak satu alasan kenapa kamu tidak mau menerima Raka? Apa sudah ada pria lain?" Ujar Egi akhirnya.


Kiki bingung harus menjawab bagaimana. Ia tak mungkin bilang kalau dia sudah punya pacar. Dia bahkan baru beberapa minggu yang lalu putus dari Jerry karrna pria itu berselingkuh.


Bisa saja Kiki berbohong, tapi tetap saja kak Egi pasti akan minta bertemu dengan pacar Kiki.


"Raka itu playboy, Kak" entah kenapa malah kata-kata itu yang Kiki ucapkan.


Egi mengernyit.


"Kenapa menuduh Raka seperti itu?" Egi seperti tidak terima.


"Kiki tidak menuduh, Kiki tahu semuanya. Raka itu suka gonta-ganti teman kencan. Makanya sampai dia setua itu gak ada gadis yang mau sama dia" ucap Kiki berapi-api.


Egi sungguh dibuat melongo dengan kata-kata Kiki barusan.


"Lalu sekarang maumu apa?" Tanya Egi akhirnya.


"Kiki belum ingin menikah" hanya itu yang bisa di ucapkan Kiki.


Egi berdecak.


"Baiklah, tapi kakak akan menghukummu. Mobil kamu kakak sita tiga bulan" ucap Egi tegas.


Kiki langsung melotot tak percaya.


"Tapi, bagaimana Kiki akan berangkat bekerja, Kak?" Kiki mulai merengek.


"Kakak yang akan mengantar jemput kamu sementara ini. Sampai kakak dapat sopir yang pas untuk mengawasi gerak-gerik kamu. Kamu hanya akan keluar rumah untuk bekerja. Selebihnya kamu bisa duduk manis di rumah. Gak ada lagi hang out atau nongkrong di mall" jelas Egi panjang lebar.


"Dan kakak akan minta jadwalmu di rumah sakit jadi kamu tidak akan bisa berbohong lagi" lanjut Egi.


Kiki benar-benar mati kutu sekarang.


Gadis itu tak bisa lagi membantah sekarang.


Egi berlalu dari ruangan itu dan masuk ke kamar menyusul Elena dan Rhea.


Rhea sudah tidur rupanya.


Sedangkan Elena sibuk dengan ponselnya.


"El, ada apa semua ini?" Gantian Egi menginterogasi Elena.


El menghela nafas panjang.


"Aku harus ke rumah sakit sekarang, Gi. Ada hal darurat. Kita bisa membahas soal Kiki malam ini" El menunjukkan pesan di ponselnya pada Egi.


Egi membaca dengan seksama pesan tersebut.


"Baiklah, aku antar" ujar Egi.


Elena menggeleng cepat.


"Tidak. Kamu pasti lelah. Kamu istirahat saja. Aku akan menyetir sendiri" ujar Elena tegas.


Egi mendengus.


Elena benar. Dirinya memang lelah sekarang.


Di tambah perdebatan dengan Kiki tadi membuat kepala Egi sedikit pening.


"Baiklah, hati-hati di jalan. Aku akan menjaga Rhea" ujar Egi akhirnya.


El mengangguk dan segera berganti baju.


Setelah siap, El segera berpamitan dan mencium punggung tangan Egi.

__ADS_1


Sebelum akhirnya wanita itu meluncur menuju ke rumah sakit.


__ADS_2