
Tasya mengaduk-aduk sarapan yang ada di piringnya.
Tasya tak mengerti, sudah satu minggu terakhir dia kehilangan nafsu makan.
Nasi goreng buatan Dion yang biasanya sangat ia sukai pun, sama sekali tak menarik baginya pagi ini.
Tasya tak tahu, kalau stress juga bisa membuat seseorang kehilangan nafsu makan.
"Kamu ingin makan yang lain, Nat?" Pertanyaan dari Dion membuyarkan lamunan Tasya.
Dion menatap prihatin pada nasi goreng di piring Tasya yang sedari tadi tidak juga dimakan.
Tasya menggeleng.
"Aku sedang tidak nafsu makan hari ini, Di" ujar Tasya lirih.
"Apa yang mengganggumu?" Tanya Dion seraya duduk di samping istrinya tersebut.
Sekali lagi Tasya menggeleng,
Tasya sendiri juga bingung dan tak mengerti.
Ini bukan kali pertama Tasya stres dan banyak pikiran, namun sebelum-sebelumnya Tasya tetap bisa makan dengan enak meskipun pikirannya sedang kacau.
"Nat, kita sudah sama-sama berjanji untuk tak menyimpan masalah apapun di antara kita. Jika memang ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, ceritakan kepadaku" ujar Dion kembali mengingatkan.
Tasya menghela nafas,
"Aku juga tidak tahu, Di. Aku hanya tidak nafsu makan saja belakangan ini, entahlah..." Tasya memainkan sendok di tangannya.
"...Semua makanan baunya aneh dan rasanya juga aneh" lanjut Tasya lagi.
"Kau sudah dapat tamu bulanan?" Tanya Dion tiba-tiba.
Tasya menggeleng,
"Mungkin aku harus ke dokter untuk menanyakan ini" gumam Tasya lirih.
Tasya belum pernah terlambat haid selama ini.
"Aku temani. Kamu selesai praktek jam berapa hari ini?" Tanya Dion lagi.
Tasya melihat arloji yang melingkar di tangannya.
"Setelah makan siang. Apa kamu tidak ke kantor hari ini?" Tasya balik bertanya.
Dion menggeleng.
"Aku akan ke kantor pagi ini setelah mengantarmu, jadi nanti siang aku bisa meluangkan waktu sebentar untuk menemanimu bertemu dokter" ujar Dion panjang lebar.
"Baiklah, kita berangkat sekarang?" Tasya menyingkirkan nasi yang belum dia makan sejak tadi.
"Kamu gak sarapan? Aku buatin roti isi ya?" Tawar Dion sekali lagi.
Namun lagi-lagi Tasya menggeleng,
"Aku akan makan di kantin rumah sakit nanti kalo lapar, Di. Jangan khawatir!" Ucap Tasya sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Ayo berangkat, Dion!" Ucap Tasya sedikit keras pada Dion yang masih duduk termenung di tempatnya semula.
Dion tak menjawab, namun pria itu segera beranjak berdiri dan menyambar tasnya yang ada di atas sofa. Dion mengekori Tasya yang sudah terlebih dahulu keluar dari pintu depan.
*****
Mobil yang membawa Dion dan Tasya sudah sampai di halaman parkir rumah sakit tempat Tasya bekerja.
"Nat, kamu yakin akan bekerja hari ini."Tanya Dion khawatir.
Wajah Tasya mendadak terlihat pucat. Mungkin karena istrinya ini belum sarapan tadi, atau Tasya memang sedang sakit?
"Aku baik-baik saja, Di" jawab Tasya bersungguh-sungguh.
"Tapi wajah kamu pucat, Nat. Kamu ijin aja ya. Trus istirahat. Biar aku yang ngomong ke dalam" kekhawatiran di wajah Dion semakin terlihat jelas.
"Enggak Di, aku baik-baik saja" Tasya mencoba untuk tersenyum dan menepuk pundak Dion. Sekedar meyakinkan kalau dirinya benar-benar baik.
Dion menghela nafas,
"Baiklah, telpon aku jika ada apa-apa" putus Dion akhirnya.
"Datanglah setelah makan siang jika ingin menemaniku bertemu dokter" pesan Tasya sekali lagi sebelum berpamitan pada Dion.
Pria itu mengangguk dan mengecup bibir Tasya sekilas.
"Bye" Tasya segera turun dari mobil dan melambaikan tangan pada Dion.
Setelah Tasya turun, Dion lanjut meluncur ke arah kantor.
Tasya berjalan santai masuk ke dalam rumah sakit. Beberapa perawat dan dokter yang berpapasan dengan Tasya, menyapa wanita itu.
Tasya mempercepat langkahnya saat melewati koridor di depan poli kandungan. Sudah cukup banyak ibu hamil yang mengantri di sana.
Tasya menarik nafas panjang berkali-kali, mencoba untuk bernafas dengan benar matanya mendadak terasa panas dan ada sesuatu yang menggenang di sudut matanya yang mendesak untuk segera di keluarkan.
Tasya berbelok sebentar ke dalam toilet sebelum masuk ke ruang prakteknya.
Tasya menumpahkan airmata sejenak, dan mencoba untuk mengendalikan emosinya.
Setelah menarik nafas panjang berkali-kali dan memastikan tak ada airmatanya yang tertinggal, Tasya segera merapikan kembali penampilannya, dan keluar dari toilet tersebut.
"Selamat pagi, Dokter Tasya" dua orang perawat yang membantu Tasya hari ini menyapa dengan senyuman hangat.
"Pagi," ucap tasya membalas sapaan perawat tersebut.
Di ruang tunggu Tasya hanya melihat beberapa pasien anak beserta orang tuanya yang mengantri.
Tasya bergegas masuk ke dalam ruangan.
"Apa dokter baik-baik saja? Wajah dokter terlihat pucat." Tanya salah seorang perawat yang tadi menyapa Tasya.
"Ya aku baik-baik saja. Aku hanya kurang tidur" jawab Tasya memberi alasan. Perawat tadi hanya mengangguk.
"Panggil pasien pertama" titah Tasya pada perawat tersebut. Tak berselang lama, ada sepasang suami istri yang membawa anak mereka masuk ke dalam.
Tasya lanjut memeriksa satu per satu pasiennya.
Setelah pasien terakhir Tasya periksa, mendadak kepalanya terasa pusing.
Ah iya,
Tasya belum makan sedari pagi.
Seorang perawat masuk ke ruangan Tasya,
"Maaf, dokter. Ada jadwal kunjungan ke beberapa pasien anak yang sedang rawat inap" perawat itu menyodorkan beberapa kertas kepada Tasya.
Tasya membaca beras-berkas pasien di tangannya sambil memegang kepalanya yang semakin pusing.
__ADS_1
"Baiklah aku akan ke sana. Tapi mungkin aku akan makan dulu ke kafetaria. Aku lupa belum sarapan tadi." ujar Tasya sambil beranjak berdiri.
Dan saat Tasya hendak melangkah, mendadak semuanya terasa berputar dengan cepat.
Pusing di kepala Tasya berubah menjadi dentuman menyakitkan.
Semua benda di sekitar Tasya terasa berputar, hingga akhirnya semuanya menjadi gelap untuk Tasya.
Tasya jatuh pingsan di ruang prakteknya.
*****
Dion berlari dengan tergesa dari tempat parkir menuju ke UGD rumah sakit yang ada di bagian depan.
Dion baru selesai meeting saat mendapat telepon dari Risha, teman Tasya yang juga sesama dokter di rumah sakit ini.
Risha memberitahu Dion kalau Tasya mendadak pingsan saat di ruang praktek.
Dion sudah sampai di UGD, rupanya Tasya sudah bangun dan kini sedang duduk di ranjang perawatan.
Jarum infus tampak terpasang di tangan kiri Tasya.
"Nat, kamu kenapa?" Tanya Dion khawatir.
Dion baru kali ini mendengar Tasya pingsan di rumah sakit. Wajar jika pria itu begitu khawatir.
"Aku baik-baik saja, Di. Jangan khawatir begitu" jawab Tasya santai.
Dion mendengus dan ganti bertanya pada Risha yang kini juga ada di ruangan tersebut.
"Ada apa dengannya, Ris?" Tanya Dion.
"Kelelahan, tekanan darah rendah, dan apa Tasya tidak sarapan pagi ini?" Tanya Risha menatap tajam ke arah Dion.
"Ya, dia belum makan apapun sedari pagi" jawab Dion menjelaskan.
"Sya, kamu itu dokter. Kamu pasti paham mana yang baik dan tidak untuk tubuhmu. Bagaimana bisa kamu mengabaikan kesehatanmu sendiri seperti ini" Risha tampak berdecak tak percaya.
"Aku kehilangan nafsu makan beberapa hari terakhir, Ris" jawab Tasya sekenanya.
Tentu saja Tasya malas berdebat dengan temannya yang satu ini.
"Bagaimana jadwal menstruasi mu? Apa kau terlambat?" Tanya Risha bersemangat.
"Ya, aku sudah terlambat berbulan-bulan..." jawab Tasya dengan nada sedikit ketus. Ia sungguh malas membahas hal ini lagi.
"Bagus, bagaimana kalau kita tes..." belum selesai Risha berbicara, Tasya sudah memotong kalimatnya dengan cepat.
"Tidak perlu. Aku sudah melakukan tes dua minggu yang lalu dan hasilnya negatif. Aku yakin ini hanya jadwal menstruasi yang berantakan karena stress" potong Tasya mengambil kesimpulan sendiri.
Risha menghela nafas.
"Bagaimana kalau kamu langsung USG saja untuk memastikan? Kadang saat tes negatif belum tentu benar-benar negatif" Risha mengemukakan pendapatnya.
Tasya tersenyum kecut.
"Tidak, Ris. Aku hanya kelelahan. Itu saja" Tasya bersikeras.
"Ayolah, Sya. Kau harus memeriksanya." Risha terus saja memaksa.
Tasya menggeleng dan tetap pada pendiriannya. Ia sungguh tak mau kecewa lagi untuk kesekian kalinya.
"Dion, bujuk istrimu!" Risha yang menyerah akhirnya meminta bantuan Dion yang sedari tadi hanya diam.
"Risha benar, Nat. Sebaiknya kamu melakukan USG. Kalaupun hasilnya negatif, setidaknya kita tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu kenapa bisa telat berbulan-bulan seperti ini" ujar Dion panjang lebar.
Dion menghela nafas,
Pria itu duduk di ranjang di samping Tasya dan merengkuh bahu sang istri.
"Ayolah, Nat. Kita harus memeriksanya" bujuk Dion sekali lagi.
"Dan menerima kekecewaan lagi saat hasilnya negatif" sergah Tasya sedikit emosi.
Masih lekat di ingatannya seminggu yang lalu saat Dion memaksanya untuk melakukan tes, dan berakhir dengan pertengkaran antara dirinya dan Dion.
"Apa kamu merasa mual-mual" Risha meneriksa sekali lagi kondisi temannya tersebut.
Tasya menggeleng,
"Aku hanya sering pusing belakangan ini. Dan merasa hambar saat mencicipi semua makanan" jawab Tasya menjelaskan.
Risha menatap ke arah Dion, seakan memberi tahu kalau yang dialami Tasya ini mirip dengan tanda-tanda di awal kehamilan.
Tapi Risha masih belum berani menyimpulkan sebelum Tasya benar-benar melakukan USG.
"Sya, kamu yakin gak mau USG?" Tanya Risha sekali lagi.
Tasya tak langsung menjawab, wanita itu tampak berpikir sejenak.
"Nat, ayolah. Aku akan menemanimu" bujuk Dion sekali lagi.
"Siapa yang praktek di poli kandungan hari ini?" Tanya Tasya pada Risha.
"Ada dokter Ina" jawab Risha cepat.
'Ah, dokter senior yang baik hati itu.' Gumam Tasya dalam hati.
Tasya menghela nafas,
"Baiklah, aku akan melakukan USG. Tapi bisakah kamu tidak terlalu berharap kali ini? Aku sungguh tidak mau kamu kecewa lagi, Di" Tasya menatap tajam pada netra milik Dion.
Dion hanya tersenyum seraya mengangguk. Meskipun dalam hati, Dion tetap berharap akan ada kabar baik hari ini.
Seorang perawat membawakan kursi roda untuk Tasya. Meskipun Tasya tak lagi sepucat sebelumnya namun wanita itu seoertinya masih belum sanggup jika harus berjalan dari UGD ke poli kandungan yang jaraknya lumayan jauh.
Dion membantu Tasya untuk duduk di kursi roda, lalu mendorongnya menuju ke arah poli kandungan. Risha juga ikut bersama mereka berdua untuk melihat hasilnya.
Di depan poli kandungan, antrian sudah tidak terlalu banyak. Hanya tinggal dua pasien yang masih menunggu.
Risha berbicara sebentar pada perawat yang menjadi asisten dokter Ina hari ini.
Perawat itu langsung mempersilakan Tasya masuk untuk di periksa terlebih dahulu.
Dion mendorong kursi roda Tasya masuk ke dalam poli kandungan.
Dan mereka langsung terkejut saat mendapati Elena yang juga ada di dalam sana.
"Hai, ada apa ini?" Tanya Elena yang juga terkejut melihat Tasya sedang duduk di kursi roda.
"Aku pingsan di ruang praktek, dan Risha memaksaku melakukan USG. Apa yang kau lakukan di sini, El?" Tasya balik bertanya pada Elena.
"Dokter Elena membantuku hari ini, Sya" bukan Elena, melainkan dokter Ina yang menjawab pertanyaan dari Tasya.
Elena terkekeh,
"Sebenarnya aku hanya mampir. Tadi aku ikut seminar di aula rumah sakit ini. Dan setelah selesai aku memutuskan untuk mampir menyapa dokter Ina" jawab Elena santai.
__ADS_1
"Apa yang terjadi padanya?" Elena ganti bertanya pada Risha.
"Tekanan darah rendah, nafsu makan berkurang, dan dia sudah terlambat beberapa bulan" Risha sedikit ragu saat mengucapkan kata-kata yang terakhir.
"Oh, ya? Dan kau tidak memberitahuku?" El bersedekap sambil menatap tajam pada Tasya.
Tasya hanya mengendikkan bahu,
"Aku hanya stress , El" Tasya membela diri.
"Lagi pula dua minggu yang lalu aku sudah melakukan tes dan hasilnya negatif. Tanya saja pada Dion!" Lanjut Tasya lagi.
El ganti melihat ke arah Dion, dan pria itu langsung mengangguk membenarkan ucapan Tasya.
"Baiklah, ayo kita periksa saja" kata Elena pada akhirnya.
Dion kembali membantu Tasya naik ke ranjang tempat USG.
"El..." panggil Tasya lirih pada sahabatnya tersebut.
Elena segera mendekat ke arah Tasya.
"Jika bukan kabar baik bisakah kau diam saja dan tak perlu mengatakannya kepadaku" pinta Tasya dengan nada memohon.
El menangkap sebuah keputusasaan di mata Tasya.
"Baiklah, aku akan diam saja dan berbicara pada Dion nanti. Kau bisa menunggu di luar jika belum siap" tukas Elena memberi solusi.
Tasya dan Dion hanya diam dan tak menanggapi. Pasangan suami istri itu saling bergenggaman tangan.
El mulai memutar-mutar alat itu di atas perut Tasya. Dokter Ina juga ada di sana untuk ikut melihat hasilnya.
Tasya sungguh tak paham apa arti gambar yang ada di layar monitor itu.
Ekspresi Elena hanya datar.
Elena juga sempat berdiskusi sebentar sambil berbisik bersama dokter Ina.
Baiklah, Tasya benar-benar penasaran sekarang.
Elena sudah selesai memeriksa Tasya. Ekspresi wajahnya tetap datar.
'Pasti bukan kabar baik' gumam Tasya dalam hati.
Elena mengambil hasil print USG dan melihatnya sekali lagi.
"Bagaimana, El?" Tanya Dion tak sabar.
"Kau ingin keluar atau ingin tetap disini dan mendengar hasilnya?" Elena menatap ke arah Tasya.
Baiklah, Tasya benar-benar bimbang sekarang.
"Apa itu bukan kabar baik?" Tasya balik bertanya.
Elena tersenyum simpul,
Sungguh saat Elena bersikap seperti ini mendadak Tasya jadi ingat dengan Vian yang juga selalu bertingkah menyebalkan saat datang ke rumah Tasya.
Apa dua saudara ini memang selalu menyebalkan.
"El, katakan cepat!" Dion benar-benar sudah tak sabar.
"Silahkan, dokter Ina." Elena malah mempersilahkan dokter Ina untuk mengatakan hasilnya.
'Dasar wanita aneh' gumam Tasya mulai kesal.
Dokter Ina tersenyum hangat sebelum mulai berbicara.
Dan wanita paruh baya itu tiba-tiba langsung memeluk Tasya.
"Selamat ya, Sya. Akhirnya kamu akan menjadi seorang ibu" ucap Dokter Ina sambil memeluk Tasya.
Tasya masih terpaku di tempatnya. Wanita itu sepertinya masih belum percaya.
Apa ini mimpi?
Elena tersenyum sumringah dan berjalan mendekat ke arah Tasya dan Dion,
"Lihat! Penantian kalian berdua selama lima tahun ini akhirnya membuahkan hasil. Aku ikut senang" kini gantian Elena yang memeluk Tasya.
Dion yang sedari tadi berdiri di samping Tasya ikut tersenyum bahagia. Hatinya bersorak gembira.
Penantiannya selama lima tahun ini ternyata berbuah manis.
Dion akan menjadi seorang ayah sebentar lagi.
Dion menatap ke arah Tasya yang terlihat masih bingung.
Pria itu semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Tasya.
Ah, andai saja tidak banyak orang di sini, mungkin Dion sudah memeluk serta menggendong Tasya untuk meluapkan kegembiraannya.
"El, apa ini bukan mimpi?" Bahkan Tasya masih belum percaya.
"Ini bukan mimpi, Sya. Dan kabar baiknya lagi... kalian akan punya sepasang bayi kembar" ucap El girang.
Baiklah, untuk yang satu ini, Dion benar-benar tak bisa lagi menahan diri.
Bergegas pria itu mendekap Tasya ke dalam pelukannya dan meluapkan semua kegembiraan dalam hatinya.
"Kau dengar itu, Nat. Kita akan punya bayi. Kita akan menjadi orang tua" ucap Dion dengan mata berbinar-binar.
Pria itu terlihat sangat gembira.
Mendadak atmosfer di ruangan itu berubah menjadi mengharukan.
Tasya sudah berlinang airmata kegembiraan.
Wanita itu sungguh tak menyangka, penantiannya selama lima tahun ini, akhirnya berbuah manis.
Ya...
Tasya bahagia sekarang.
Benar-benar bahagia.
*****
Yeay.. akhirnya Tasya hamil. Kira-kira ngidamnya apa ya? Xixixi
Apa setelah ini bakalan langsung melahirkan, trus happy ending?
Hahaha, tidak sesingkat itu marimar...
Konflik masih panjang.
Bakalan nongol tokoh-tokoh baru di luar dugaan.
__ADS_1
Ikuti terus pokoknya...