Natasya

Natasya
Wisuda


__ADS_3

Sudah hampir sepekan ini Tasya tidak membaca pesan dari Dion yang entah sudah ada berapa ratus yang masuk ke ponselnya.


Anehnya, Dion sama sekali tidak mencoba untuk menelpon Tasya. Pria itu hanya terus mengirim pesan yang membuat ponsel Tasya penuh.


"Apa dia memang tidak ada niat untuk memperbaiki semua ini?" Gerutu Tasya sekali lagi.


Tasya bolak-balik membuka layar ponselnya.


Sudah ada kontak Dion tertera di layar ponselnya


Tasya ingin menghubungi Dion, karena jujur dirinya merindukan Dion sekarang.


Selama sepekan tidak berbicara dengan Dion sungguh membuat hati Tasya menjadi galau.


Namun Tasya sedikit ragu.


Kemarin dirinya yang ngambek, lalu sekarang?


Bukankah seharusnya Dion yang membujuk Tasya.


"Aaaah" Tasya mengacak-acak rambutnya sendiri.


Dirinya dan Dion sudah berpacaran selama hampir tujuh tahun. Tapi kenapa perasaannya masih seperti anak SMA saja.


Baru saja Tasya akan memencet tombol hijau itu, tiba-tiba ponselnya sudah berbunyi.


Hal itu sungguh membuat Tasya menjadi kaget.


Dion menelpon.


Astaga,


apa ini yang disebut ikatan batin? Baru saja Tasya akan menelpon, sekarang malah Dion yang menelponnya terlebih dahulu.


Tasya menarik nafas panjang sebelum mengangkat panggilan dari Dion.


"Hai, Nat" sapa Dion sesaat setelah Tasya mengangkat telepon.


Dion terlihat segar lengkap dengan jersey kebanggaannya.


Ya,


Kini Tasya tahu Dion menelponnya sebelum bertanding di court.


"Hai, ada apa?" Jawab Tasya dengan nada dingin.


Entahlah.


Tadi Tasya merindukan Dion lalu kenapa sekarang dirinya malah bersikap dingin begini pada Dion.


Namun sepertinya sikap dingin Tasya tak terlalu menjadi masalah untuk Dion. Pria itu masih saja tersenyum sumringah.


"Apa kamu masih marah?" Tanya Dion berbasa-basi.


Tasya menatap wajah Dion. Menatap netra milik pria itu.


"Apa kamu sungguh tidak akan datang besok?" Tasya balik bertanya dengan mimik sedih.


Tasya masih berharap Dion akan datang besok ke acara penting itu.


"Aku minta maaf, Nat" jawab Dion lirih.


Sekali lagi ia harus membuat Tasya kecewa.


Tasya berdecak dan langsung membuang pandangannya ke arah lain.


"Bukankah seharusnya kamu datang besok, membawakanku sebuket bunga mawar, lalu berlutut dan melamarku seperti di novel-novel itu?" Tasya berucap sambil berderai airmata. Namun gadis itu juga sedikit tertawa.


Mungkin Tasya sedang menertawakan dirinya sendiri yang berkhayal terlalu tinggi.


Dion hanya mengangguk,


"Mungkin sebaiknya kamu mengurangi membaca novel-novel itu" ucap Dion sedikit terkekeh.

__ADS_1


Kini Tasya mencebik,


"Lalu kapan kamu akan melamarku? Bukankah kamu selalu bilang ingin segera menikah denganku?" Ucap Tasya lirih di tengah isak tangisnya.


Dion hanya tersenyum.


"Aku akan melamarmu di waktu yang tepat" jawab Dion bersungguh-sungguh.


"Apa kamu akan meninggalkanku lagi?" Tasya mulai berprasangka buruk.


"Kenapa berbicara seperti itu? Aku tidak akan meninggalkanmu, Nat. Aku mencintaimu" ucap Dion dengan wajah yang serius.


Dion paling tidak suka saat Tasya bertanya ataupun membahas tentang hal itu lagi.


Tasya mengusap airmata yang jatuh di kedua pipinya.


"Apa nada bicaraku terlalu kasar? Aku minta maaf, Nat" kini Dion merasa bersalah.


Tasya menggeleng.


Gadis itu menarik nafas panjang.


"Dion!" Samar-samar bisa Tasya dengar ada yang memanggil Dion.


"Aku harus ke court. Pertandingan akan segera di mulai" ucap Dion berpamitan.


Benar saja, tadi itu rekan Dion yang memanggil dan memberi kode agar Dion segera keluar menuju court.


Tasya hanya mengangguk. Gadis itu sepertinya masih enggan untuk berbicara


"Aku akan menelponmu lagi besok, mungkin sebelum acaramu dimulai" ucap Dion lagi.


Namun kali ini Tasya menggeleng.


"Tidak perlu, atau kamu akan membuatku menangis sepanjang acara" jawab Tasya sedikit terkekeh.


Dion ikut terkekeh,


"Baiklah aku akan menelponmu setelah acaramu selesai" Dion membuat penawaran.


"Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik. Semoga acaramu besok lancar" pamit Dion sekali lagi.


Tasya mengangguk.


"Kamu juga jaga kesehatan. Semoga pertandinganmu hari ini juga lancar." balas Tasya.


"Aku mencintaimu, Nat" ucap Dion sekali lagi.


"Aku juga mencintaimu, Di" jawab Tasya sambil menatap lekat netra milik Dion.


Tasya seakan enggan menutup telpon ini sekarang.


Namun Dion harus segera bertanding dan mengakhiri panggilan ini.


Tasya hanya bisa menarik nafas panjang.


Rasa sedih dan kecewa membaur menjadi satu.


Tak ada gunanya juga dirinya menangis, Dion tetap tidak akan datang besok.


"Sya," suara tante Desi membuat Tasya tersentak.


Sejak kapan tante Desi ada di kamarnya?


Oh iya, Tasya lupa.


Tasya memang tidak menutup rapat pintu kamarnya tadi.


"Iya tante ada apa?" Tasya dengan cepat mengusap airmata yang masih saja jatuh di kedua pipinya.


"Kamu menangis? Ya ampun, jangan menangis, Sya. Atau matamu akan bengkak besok" tante Desi meraih tisu di atas meja rias dan segera membantu Tasya mengusap airmatanya.


"Maaf, tante. Tasya hanya sedikit sedih" ucap Tasya mencari alasan.

__ADS_1


Padahal dalam hatinya bukan hanya sedikit, namun Tasya merasa sedih sekali.


"Apa Dion benar-benar tidak bisa datang?" Tebak tante Desi.


Tasya mengangguk.


Tante Desi tampak berdecak,


"Tante akan memberinya pelajaran saat bertemu nanti" janji tante Desi pada Tasya.


Namun Tasya menggeleng,


"Dion ada acara penting, tante. Tasya bisa memakluminya. Tolong jangan marahi dia" pinta Tasya sedikit memohon.


Tante Desi hanya tersenyum,


Tasya selalu saja membela Dion.


"Baiklah kalau begitu. Ini baju kamu untuk acara besok" tante Desi memberikan setelan baju berbahan brukat pada Tasya.


"Terima kasih tante karena sudah membantu Tasya mencapai semua ini" Tasya menghambur ke pelukan tante Desi.


"Tante senang akhirnya kamu bisa meraih cita-cita kamu, Sya" jawab tante Desi tulus.


Tasya hanya mengangguk sambil tersenyum bahagia.


*****


Pagi yang cerah.


Hari ini adalah hari besar untuk Tasya.


Gadis itu sudah bersiap sedari pagi.


Papa Anton sudah tiba dirumah tante Desi sejak semalam.


Kak Ronny, Salsa, dan mama Sarla juga menyempatkan hadir hari ini.


Mungkin hanya Dion yang tidak hadir.


Lagi-lagi Tasya merasa sedih.


Kenapa saat hari pentingnya, Dion justru tidak bisa datang.


"Hayo ngelamun" Salsa yang tiba-tiba sudah berada di kamar Tasya membuyarkan lamunan Tasya.


"Kapan datang?" Tanya Tasya berusaha menutupi kekagetanannya.


"Baru saja. Lagi mikirin apa?" Salsa balik bertanya.


Wanita satu anak itu sedikit membantu Tasya membenarkan riasan di wajah Tasya.


"Gak ada. Lagi fokus make up begini" Tasya berusaha mencari alasan.


"Pasti mikirin Dion" timpal Salsa sambil terkekeh.


"Udahlah, gak usah nyebut namanya. Dia juga gak bakal datang hari ini" ucap Tasya dengan nada kecewa.


"Baiklah, dokter Tasya sudah cantik sekarang" ucap Salsa bersemangat.


Salsa mencoba untuk menghibur Tasya agar gadis itu tidak bersedih di hari pentingnya ini.


"Belum, masih calon" Tasya sedikit terkekeh.


"Beberapa jam lagi akan segera resmi." Ucap Salsa ikut terkekeh.


"Sya, udah siap?" Tante Desi sudah muncul di depan kamar Tasya.


"Ia tante. Tasya udah siap." Jawab Tasya penuh keyakinan.


"Kita berangkat sekarang. Ayo!" ajak tante Desi.


Tasya dan Salsa segera keluar dari kamar Tasya dan mengekori tante Desi menuju ruang tengah.

__ADS_1


Semuanya sudah siap dan berkumpul di sana.


Setelah memastikan tidak ada yang mereka lupakan, mereka pun bergegas berangkat menuju tempat wisuda.


__ADS_2