
Tasya memandangi bintang yang berkelap-kelip dari balkon yang ada di luar kamar Dion.
Malam sudah sangat larut, namun Tasya tak bisa memejamkan matanya sedari tadi.
Bahkan kini Dion sudah tertidur lelap di dalam kamar.
Hanya ada suara jangkrik dari kejauhan yang memecah keheningan malam ini.
Tasya berulang kali menarik nafas panjang.
Ia baru beberapa jam yang lalu resmi menjadi istri Dion, tapi mendadak pikirannya menjadi kacau sekarang.
Di satu sisi Tasya merasa sangat bahagia, namun disisi lain ada sebuah ketakutan yang tak bisa di jelaskan di lubuk hatinya yang terdalam.
Entah perasaan macam apa yang sebenarnya Tasya rasakan sekarang.
"Masuklah, atau kau akan sakit nanti" suara lembut dari Dion yang mendadak sudah memeluk Tasya dari belakang, sungguh membuat Tasya terkejut.
Dion menyandarkan dagunya di bahu Tasya untuk menghirup aroma tubuh istrinya tersebut.
"Kenapa kamu bangun?" Tanya Tasya tanpa menoleh ke arah Dion.
Tasya memilih untuk menikmati momen kemesraan ini.
"Kau tidak ada di sampingku, jadi aku mencarimu" jawab Dion sedikit berbisik di telinga Tasya.
Tasya berbalik dan memandang wajah suaminya tersebut.
Pun sebaliknya, Dion memandang penuh kehangatan wajah Tasya yang kini sudah menjadi istri sah nya.
Dion mengecup singkat bibir Tasya, wajah wanita itupun langsung merona merah.
Namun tak ada reaksi protes dari Tasya, jadi Dion kembali mengulangi perbuatannya.
Kali ini sedikit lebih lama.
Tasya segera mendorong tubuh Dion agar sedikit menjauh.
Wajahnya sudah semerah buah tomat sekarang.
"Hentikan, Di. Atau akan ada yang melihat kita" protes dari Tasya membuat Dion sedikit tergelak.
"Tidak ada siapapun yang akan melihat, Nat. Malam sudah larut" ucap Dion nakal.
Tasya hanya berdecak.
"Masuklah atau aku akan memaksamu" Dion mengangkat tubuh mungil Tasya membuat wanita itu sedikit menjerit.
Dion membawa Tasya masuk ke dalam kamar dan mendaratkan tubuhnya dengan lembut di atas tempat tidur.
Dion langsung menindih tubuh Tasya dan menciumi istrinya itu berulang-ulang.
Tasya hanya bisa pasrah dan memilih untuk menikmati semuanya.
Dion membuka kaosnya, menampilkan tubuh kekarnya yang membuat Tasya sedikit ternganga.
Ya, meskipun Tasya sudah pernah melihat Dion bertelanjang dada, tetap saja saat melihatnya dari jarak sedekat ini, jantung Tasya langsung berdegup tak karuan.
Dion menatap ke arah netra milik Tasya.
Tatapan keduanya kini bertemu. Tatapan penuh cinta dari mata keduanya.
Perlahan, Dion menyusuri setiap inchi tubuh Tasya. Membuka dengan perlahan gaun malam yang dikenakan oleh Tasya.
Dion memperlakukan Tasya dengan sangat lembut, berbeda dengan apa yang pernah dilakukan oleh Kevin saat itu.
Tunggu...
Mendadak kilas-kilas kejadian malam itu saat Tasya bersama Kevin melintas di benak Tasya.
Sekuat tenaga Tasya mencoba mengusir semua bayangan itu dari kepalanya, namun sepertinya sia-sia.
Tepat saat Dion akan membuka satu pakaiannya yang tersisa, Tasya menahan tangan Dion.
Tasya menatap bersalah ke arah mata Dion.
Tasya belum siap untuk ini.
"Ada apa, Nat?" Tanya Dion bingung.
Kabut gairah yang ada dimatanya mendadak hilang, saat mendapati wajah Tasya yang berubah menjadi raut kesedihan.
"Maaf," hanya itu yang bisa keluar dari bibir Tasya. Lidahnya terasa kelu untuk melanjutkan kata-katanya.
Kini Dion paham, apa yang ada di pikiran Tasya.
Mungkin Tasya belum siap atau trauma masa lalu itu kembali hinggap di pikiran Tasya?
Dion menarik nafas panjang, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Tasya yang sudah terbuka sebagian.
Dion ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk erat tubuh istrinya itu.
"Apa mimpi itu masih sering hadir?" Tanya Dion khawatir.
"Kadang-kadang. Saat aku sedang banyak pikiran atau sedang ada masalah" jawab Tasya lirih.
Ia selalu berusaha keras menghapus kenangan buruk itu, namun semakin keras ia mencoba, bayangan itu malah akan semakin sering mampir di mimpinya.
__ADS_1
"Tidak apa, kita bisa melakukannya lain kali. Saat kamu sudah benar-benar siap" ucap Dion sambil mengecup lembut puncak kepala Tasya.
"Maaf aku membuatmu kecewa, Di. Maaf karena aku tak lagi..." belum selesai Tasya berbicara, Dion sudah menutup bibir istrinya itu dengan jari telunjuknya.
"Ssstt! Kita sudah berjanji untuk tidak membahas hal itu. Aku menerima kamu apa adanya, Nat. Aku mencintaimu apa adanya" ucap Dion bersungguh-sungguh sambil menatap dalam ke arah netra milik Tasya.
"Tidurlah! Kau pasti lelah setelah acara seharian tadi" ucap Dion akhirnya. Ia kembali menarik Tasya ke dalam pelukannya.
Dion mengusap lembut kepala Tasya.
Tak berselang lama, Tasya sudah bernafas dengan teratur menandakan kalau wanita itu sudah lelap dalam tidurnya.
Dion menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya.
Rasa kantuknya sudah menguap entah kemana.
Sesekali Dion akan memandang wajah Tasya yang kini sudah terlelap di pelukannya.
Dion bahagia karena kini Tasya sudah menjadi istri sahnya.
Dion berjanji akan menghapus rasa trauma yang selalu menghantui Tasya.
"Aku akan membuatmu bahagia dan melupakan semua kenangan buruk itu" janji Dion kepada Tasya dan dirinya sendiri.
Sekali lagi Dion mengecup puncak kepala Tasya, menghirup aroma tubuh istrinya tersebut untuk kemudian Dion patri ke sudut hatinya yang terdalam.
Dion mencoba untuk memejamkan matanya, menyusul Tasya ke alam mimpi.
*****
Sinar matahari pagi menyusup masuk lewat jendela yang ada di kamar besar tersebut.
Tasya membuka matanya, dan mendapati Dion yang masih tertidur lelap sambil memeluk tubuhnya.
Tasya memandang wajah Dion dan mengusapnya perlahan, sesaat ada rasa iba sekaligus rasa bersalah atas sikapnya semalam pada Dion.
Seharusnya Tasya tidak menolak Dion semalam.
Seharusnya Tasya bisa melawan pikirannya sendiri dan mengabaikan semua kenangan buruk itu. Pasti Dion merasa sangat kecewa terhadap dirinya.
Tasya menarik nafas panjang. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ranjang mencari-cari gaun malamnya yang tadi malam sudah sempat di tanggalkan dari tubuhnya oleh Dion.
Setelah menemukan gaun itu, Tasya memakainya dengan cepat dan langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
*****
Tasya sudah menyelesaikan ritual mandinya.
Saat baru keluar dari kamar mandi, Tasya terkejut karena ternyata Dion sudah bangun dan sedang duduk bersandar pada kepala ranjang.
Tasya hanya berdecak.
Wanita itu menghampiri Dion dan duduk di sisi ranjang.
"Aku tak mau mengganggumu. Kau tidur nyenyak sekali" ucap Tasya setengah berbisik.
Dion hanya tersenyum kecil.
"Aku masih tak percaya ini semua" ucap Dion kemudian.
Tasya mengernyit bingung.
"Ada bidadari cantik di kamarku setiap malam sebelum aku memejamkan mata dan setiap pagi saat aku membuka mata" Dion melanjutkan kata-katanya.
Tasya hanya mencibir.
"Dasar gombal" ucap Tasya masih mencibir.
Dion meraup Tasya ke dalam pelukannya.
"Kamu memang bidadariku, Nat. Aku merasa beruntung memiliki kamu dalam hidupku" ujar Dion sekali lagi. Kali ini ucapannya terdengar serius dan bersungguh-sungguh.
"Baiklah kalau begitu, suami bidadari. Bisakah kau mandi sekarang karena hari sudah siang dan perutku lapar sekali" ucap Tasya berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Dion yang begitu erat.
Dion terkekeh mendengar kata-kata Tasya barusan.
Lalu melepaskan pelukannya pada tubuh mungil Tasya.
Dion sedikit meregangkan otot-ototnya sebelum akhirnya menyibak selimut yang sedari tadi menutup bagian bawah tubuhnya dan beranjak dari atas ranjangnya yang empuk itu.
"Astaga, Di. Bisakah kau memakai celanamu dulu?" Tasya menutup matanya dengan kedua tangannya. Mencoba tidak melihat pemandangan yang kini terpampang nyata dihadapannya.
Dion tertawa geli melihat tingkah laku istrinya tersebut.
"Apa kau menyukainya? Kau pasti akan menyukainya" Dion malah menggoda Tasya sekarang.
"Mandi sana!" Tasya memukul lengan Dion dan berusaha mengusir suaminya tersebut agar segera masuk ke kamar mandi.
Masih bisa Tasya dengar gelak tawa dari Dion yang sudah pasti sedang menertawakan dirinya sekarang.
Setelah Dion tidak terlihat lagi, Tasya segera menghirup nafas dalam-dalam.
Mendadak paru-parunya tidak bisa bernafas dengan benar setelah melihat pemandangan "aneh" barusan.
Tasya lanjut merapikan tempat tidur dan menyiapkan baju untuk Dion.
*****
__ADS_1
Dion sudah selesai mandi dan sudah terlihat segar sekarang.
Pasangan pengantin baru itu menuruni tangga menuju ke ruang makan. Rumah besar itu tampak sepi, entah pergi kemana semua penghuninya.
"Kau ingin makan apa?" Tanya Tasya pada Dion saat keduanya sudah sampai di ruang makan
"Apa saja, asal kau yang memasaknya" Dion masih tak berhenti menggoda istri barunya tersebut.
Sepertinya ini akan jadi kebiasaan baru untuk Dion.
Dion suka melihat wajah Tasya yang merona merah saat wanita itu sedang tersipu malu.
Tasya hanya berdecak.
Ia membuka kulkas untuk memeriksa apa yang ada di dalamnya dan bisa dia masak untuk Dion.
"Kalian sudah bangun?" Suara mama Wina yang baru saja masuk ke ruangan itu membuat Tasya sedikit tersentak kaget.
"Pagi, Ma" sapa Dion pada sang mama.
Tasya menutup kulkas di hadapannya dan ikut menyapa mama Wina.
"Mama sudah masak sarapan untuk kalian berdua" mama Wina membuka tudung saji yang ada di atas meja makan.
"Maaf, Ma. Tasya bangun kesiangan" ucap Tasya merasa bersalah.
Mama Wina hanya tersenyum kecil.
"Tidak apa, kalian pasti lelah karena acara kemarin. Ayo sarapan dulu!" Mama Wina menyiapkan sarapan untuk Tasya dan Dion.
"Mama gak makan?" Tanya Tasya saat mama Wina akan beranjak meninggalkan keduanya.
"Mama sudah sarapan tadi pagi. Kalian makan saja." Jawab mama Wina sambil berlalu meninggalkan pasangan itu.
Dion dan Tasya menghabiskan sarapan mereka dalam diam.
Hanya ada suara denting peralatan makan di ruangan tersebut.
Selesai makan, Tasya memilih untuk pergi ke ruang tengah.
Sedangkan Dion memilih kembali masuk ke kamar. Entah apa yang akan pria itu lakukan.
Ada suara Vira yang tengah mengobrol dengan mama Wina di ruang tengah.
"Sudah selesai sarapannya?" tanya mama Wina sedikit terkekeh.
Bahkan jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Sarapan yang kesiangan atau makan siang yang kepagian?" Vira ikut menimpali.
Tasya ikut-ikutan tertawa.
"Aku akan pergi ke rumah mama Sarla, apa kalian berdua mau ikut?" Tawar Vira pada Tasya.
Tasya tampak berpikir sejenak.
"Aku akan bertanya dulu pada Dion" putus Tasya akhirnya.
"Baiklah, aku akan menunggu" jawab Vira.
Tasya bergegas menuju ke kamarnya untuk bertanya pada Dion.
Tasya membuka pintu kamar.
Terlihat Dion sedang asyik bermain playstation di dalam kamar.
Tasya berdecak tak percaya.
Dion yang menyadari kehadiran Tasya kalang kabut mematikan playstation nya.
Dion memasang senyum manis pada Tasya, berharap istrinya tersebut tidak akan marah atau mengomel.
"Apa ini?" Tanya Tasya sambil bersedekap kesal.
"Aku sedang libur, Nat. Aku butuh hiburan" Dion mencari alasan.
Tasya hanya mendengus.
Tasya mendaratkan bokongnya di sofa di samping Dion.
"Aku akan pergi ke rumah mama Sarla bersama Vira. Apa kau mau ikut?" Tanya Tasya kemudian.
Dion tampak berpikir sebentar.
"Baiklah, aku ikut." Jawab Dion akhirnya.
"Setelah berganti baju dan bersiap-siap keduanya segera turun ke bawah menghampiri Vira yang sudah menunggu.
"Gimana? Jadi ikut?" Tanya Vira sambil melihat ke arah pengantin baru tersebut.
Dion dan Tasya kompak mengangguk.
"Mama mau belanja beberapa kebutuhan dapur ke supermarket di depan. Apa mama bisa sekalian menumpang?" Mama Wina yang baru keluar dari dalam kamarnya bertanya pada ketiga anak dan menantunya tersebut.
"Tentu. Ayo, Ma!" Vira menggamit tangan mama Wina dan mereka berjalan menuju halaman depan tempat mobil terparkir.
Dion dan Tasya mengekor di belakang Vira dan mama Wina.
__ADS_1