Natasya

Natasya
SEASON KEDUA: Kunjungan


__ADS_3

Dion menutup pintu kamar perlahan.


Setelah memastikan Tasya sudah tidur dan terlelap, Dion bergegas keluar dari kamarnya.


Dion ingin segera menemui papa Rian.


"Dion, kapan sampai?" Vira yang melihat Dion turun dari tangga segera menyapa.


"Baru saja, Vir." Jawab Dion berbasa-basi.


"Tasya kemana? Kok gak kelihatan?" Tanya Vira lagi.


"Tasya sedang istirahat. Dia kurang enak badan" jawab Dion lagi.


Dion menghampiri Axel yang tengah bermain di ruangan tersebut dan menyapa anak kecil itu.


"Mama kemana?" Gantian Dion yng bertanya pada Vira.


"Sedang keluar tadi, katanya mau belanja untuk masak makan malam" jawab Vira menjelaskan.


Dion mengangguk dan lanjut bermain bersama Axel.


Vira masuk ke dapur untuk mengambil sesuatu.


"Apa papa masih tidur?" Tanya Dion lagi pada Vira yang baru kembali dari dapur.


Rupanya wanita itu mengambil makanan untuk Axel.


"Papa sedang di halaman belakang, kau belum bertemu papa?" Tanya Vira sedikit terkejut.


Dion menggeleng,


"Aku akan menemui papa" tukas Dion sambil berlalu meninggalkan Vira yang kini sibuk menyuapi Axel.


*****


"Pa," Dion menyapa lelaki paruh baya yang kini sedang duduk di kursi taman tersebut.


Papa Rian segera menengok ke arah Dion dan tersenyum hangat.


Dion segera memeluk papa Rian.


"Maaf, Dion baru sempat datang hari ini" ucap Dion seraya duduk di samping papa Rian.


"Tak apa. Papa paham, kamu pasti sibuk dengan masalah di perusahaan itu" ujar papa Rian.


Dion menghela nafas,


Ia sudah berjanji pada Kevin untuk tidak membahas hal ini bersama papa Rian. Kondisi kesehatan papa yang belum pulih sepenuhnya, membuat Kevin khawatir.


Baik Kevin maupun Dion tidak mau membebani pikiran papa Rian denag masalah di perusahaan.


"Semuanya akan kembali membaik, Pa..." ujar Dion sedikit ragu,


"...papa tak perlu khawatir. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan papa" lanjut Dion lagi.


"Papa sudah sehat, Dion" papa Rian menepuk punggung putranya tersebut.


Dion yang sekarang tampak lebih dewasa dan selalu berpikiran matang. Terselip rasa bangga di hati papa Rian melihat putranya yang sekarang.


"Papa dengar Tasya sakit. Apa dia ikut ke sini juga?" Papa Rian mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya, Tasya sedang istirahat di kamar sekarang. Dia hanya kurang enak badan belakangan ini" jawab Dion menjelaskan.


Papa Rian mengangguk,


"Apa dia masih bekerja di rumah sakit?" Tanya papa Rian lagi.


"Iya, pa. Tasya masih bekerja di sana. Tapi dalam waktu dekat mungkin dia akan segera resign" jelas Dion lagi.


Papa Rian terlihat mengernyit,


"Apa ada masalah?" Tanya papa Rian tak mengerti.


"Ya, masalahnya adalah papa akan mendapat cucu sebentar lagi, jadi aku ingin Tasya istirahat di rumah saja dan fokus pada kehamilannya" tukas Dion sambil berbinar bahagia.


Dan papa Rian benar-benar terkejut dengan berita besar ini.


Segera saja papa Rian memeluk putranya tersebut.


"Jadi, kalian datang membawa kabar baik ini?" Tanya papa Rian masih tak percaya.


Dion mengangguk dengan cepat.


"Iya, Pa. Doa kami akhirnya terjawab. Sebentar lagi kami berdua akan menjadi orang tua" ucap Dion lagi masih dengan mata berbinar. Ada genangan air mata di pelupuk mata Dion.


Tentu saja itu adalah air mata kebahagiaan.


Dion merasa bahagia.


*****


Makan malam kali ini terasa begitu hangat. Apalagi saat Dion dan Tasya mengabarkan tentang kehamilan Tasya pada seluruh anggota keluarga, aura kebahagiaan langsung terasa di ruangan tersebut.


Semua berbahagia dengan kabar baik ini.


Semua doa terbaik tercurah untuk Tasya dan kedua calon bayinya.


Selesai makan malam, Tasya berbincang bersama mama Wina dan Vira di ruang tengah.


Kevin mengajak Dion berbicara di ruang kerja papa Rian untuk membahas hal penting.


Papa Rian sendiri langsung masuk kamar untuk beristirahat setelah makan malam.


Kevin dan Dion duduk berhadapan, di pisahkan oleh meja kerja besar. Wajah keduanya sama-sama menunjukkan ekspresi serius.

__ADS_1


"Jadi bagaimana, Kev? Apa sudah ada jalan keluarnya?" Tanya Dion penuh harap.


Namun gelengan dari Kevin, seketika membuat harapan Dion hilang menguar entah kemana.


"Perusahaan mereka lebih besar, Di. Sulit menemukan cara untuk menyelesaikan semua ini. Kecuali kalau kita punya uang lebih banyak" ujar Kevin menerawang.


Dion menghela nafas,


"Apa kau mengenal pemiliknya?" Tanya Dion lagi.


Kevin menggeleng.


"Yang aku tahu, mereka tidak tinggal di kota ini" jawab Kevin lagi.


"Semoga kantor cabang yang saat ini kamu pegang masih bisa di selamatkan." Ucap Kevin penuh harap.


"Aku masih tidak mengerti kenapa harus perusahaan milik keluarga kita yang mereka sasar" Dion mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja kaca.


"Ini hanya soal persaingan bisnis" jawab Kevin singkat.


"Aku akan mengabarimu minggu depan soal status kantor cabang yang kamu pegang" Tambah Kevin lagi.


Dion mengangguk,


"Bagaimana dengan papa?" Terdengar jelas nada kekhawatiran dari cara Dion bertanya.


Kevin menghela nafas.


"Kita harus tetap menyembunyikan semuanya dari papa hingga kondisi perusahaan benar-benar pulih. Kita akan memperbaikinya bersama" ucap Kevin sambil menatap ke arah netra milik Dion.


Dulu, mereka berdua selalu berseteru dan tidak pernah akur.


Kevin saat itu pernah bermimpi, andai dirinya dan Dion bisa dekat pastilah mereka akan jadi saudara yang hebat dan keren.


Waktu berlalu, dan lihatlah sekarang.


Dion dan Kevin sudah menjadi saudara yang akur.


Kenangan pahit di masa lalu bahkan tak lagi membuat persaudaraan ini menjadi renggang.


Kevin dan Dion sudah sama-sama dewasa sekarang.


Dan mereka akan melakukan apapun untuk menjaga kehangatan keluarga ini.


"Kau dan Tasya akan kembali lagi ke kota?" Tanya Kevin memecah keheningan diantara dirinya dan Dion.


Dion mengangguk.


"Mungkin lusa kami sudah kembali. Aku masih harus menyelesaikan urusan dengan para karyawan." Pikiran Dion kembali mengembara.


Masih lekat di ingatannya, wajah lesu para karyawannya saat Dion dengan terpaksa harus memberhentikan mereka karena perusahaan yang sedang mengalami masalah.


"Kau tahu kantor cabang kita yang dulu di pegang okeh om Bimo?" Lanjut Kevin lagi.


"Ya, apa yang itu juga kena imbas?" Tanya Dion mengernyit.


Kevin menggeleng


"Aku rasa yang itu masih aman. Tapi sudah dua tahun terakhir yang itu tidak lagi di pegang oleh om Bimo karena beliau sibuk dengan bisnisnya sendiri..." Kevin terlihat menghela nafas.


"...aku masih mencari orang yang tepat untuk mengurusnya." Lanjut Kevin lagi.


Suasana di ruangan tersebut kembali hening.


Kakak beradik beda ibu itu, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Sungguh ini merupakan pukulan yang berat.


Perusahaan yang susah payah di rintis oleh papa Rian, sekarang sedang ada di tengah badai masalah.


Dion tahu, Kevin sedang bekerja keras dari sini.


Pun Dion juga sedang berusaha turut membantu agar perusahaan sang papa segera keluar dari badai ini.


*****


"Mau makan sesuatu, Sya? Mumpung sedang di kota ini" tanya mama Wina sekali lagi.


Entah sudah berapa kali mama Wina bertanya hal yang sama pada Tasya. Namun lagi-lagi Tasya hanya menggelengkan kepalanya.


Tasya sedang tak ingin makan apapun sekarang.


"Apa mabukmu masih parah?" Tanya Vira prihatin.


Wajah Tasya masih terlihat pucat meskipun wanita itu mencoba untuk tersenyum.


"Aku juga bingung. Tapi kata dokter ini hal wajar karena aku mengandung bayi kembar. Jadi mabukku memang lebih parah" jawab Tasya lirih.


Mama Wina dan vira tampak mengangguk.


Dion sudah keluar dari ruang kerja disusul oleh Kevin.


"Ngobrolin apa?" Tanya Dion seraya duduk di sofa di samping Tasya.


Pria itu mengulurkan tangannya dan langsung merangkul Tasya.


"Obrolan wanita. Kau tidak akan paham" jawab Tasya datar.


Dion mendengus,


Mama Wina dan Vira tertawa kecil.


"Mama akan melihat papa ke kamar" ujar mama Wina seraya beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke kamar papa Rian.


Kini hanya ada Dion, Tasya, Kevin dan Vira di ruangan itu.

__ADS_1


Sesaat suasana hening.


"Kabar mengenai klub basketmu itu, apa benar adanya, Di?" Kevin yang terlebih dahulu memecah keheningan di antara mereka berempat.


Dion mengangguk,


"Aku sudah bukan anggota lagi. Aku sudah mundur satu bulan yang lalu" jawab Dion dengab nada datar.


Ada raut terkejut di wajah Vira dan Kevin.


"Pindah klub?" Tanya Vira penasaran.


Dion menggeleng,


"Dion pensiun main basket" kali ini Tasya yang menjawab.


"Aku hanya ingin fokus menjaga Tasya, jadi aku putuskan untuk berhenti saja. Lagipula kerjaan di kantor sudah cukup menyita waktu" tambah Dion menjelaskan.


"Sayang sekali. Kariermu bagus di dunia basket" ujar Kevin menyayangkan.


Dion tersenyum simpul,


"Tidak ada yang abadi, Kev. Saatnya memberi kesempatan pada mereka yang lebih muda" jawab Dion bijak.


"Aku sudah main basket sejak SMA. Aku pikir itu sudah terlalu lama" tambah Dion lagi.


Kali ini kevin mengangguk. Setuju dengan pendapat Dion.


"Mungkin kau bisa mulai melelang sepatu-sepatu mahalmu itu untuk amal" timpal Tasya sedikit terkekeh.


Dion tersenyum simpul dan memandang wajah sang istri. Pipi Tasya yang dulu chubby terlihat sedikit tirus sekarang. Istrinya ini tidak bisa makan dengan benar sejak hamil.


"Tasmu lebih mahal dari sepatuku bu dokter" ujar Dion dengan nada menyindir.


Tasya mencebik tak terima dan langsung mencubit perut Dion.


Pria itu meringis kesakitan. Tasya tersenyum puas.


"Kau masih bekerja di rumah sakit, Sya?" Tanya Vira sekali lagi.


Tasya mengangguk,


"Masih, tapi mungkin minggu depan aku akan resign. Dion yang memaksa untuk resign" jawab Tasya sembari melirik ke arah Dion.


"Aku tidak memaksa, kau mual-mual terus jadi aku hanya tidak tega jika kamu harus praktek dengan wajah pucat seperti itu" Dion menyangkal tuduhan dari Tasya.


Kevin dan Vira hanya tertawa menyaksikan perdebtan di antara Dion dan Tasya.


"Kalian masih saja seperti remaja SMA yang suka berdebat" ucap Kevin masih sambil tertawa.


"Dia memang masih kekanak-kanakan. Aku sudah sering mengingatkannya" timpal Tasya sambil menunjuk ke arah Dion.


"Ya, ya, ya. Wanita selalu benar dan aku yang selalu di salahkan" Dion menjawab sambil bersedekap. Pria itu sudah malas berdebat sepertinya.


"Kau dengar itu, Kev. Wanita selalu benar. Jadi jangan pernah menyangkal ucapanku" sekarang Vira ikut-ikutan. Kevin memutar bola matanya.


"Bukankah itu memang senjata andalanmu selama ini? Wanita selalu benar dan kami kaum pria yang selalu teraniaya. Benar kan bro" Kevin melirik ke arah Dion yang langsung mengangguk mengiyakan.


Kedua pria itu berangkulan dan memasang wajah menggelikan.


"Apa setelah ini kita akan perang antar gender?" Tanya Tasya polos.


Sontak semua yang ada di ruangan itu langsung tertawa.


"Perang di kamar masing-masing" timpal Dion sambil melihat ke arah Tasya dan menaik turunkan alisnya.


Dan yang terjadi selanjutnya, Tasya langsung melemparkan bantal sofa tepat mengenai wajah Dion.


Tawa Kevin dan Vira langsung meledak melihat Dion yang mengaduh dan berpura-pura kesakitan.


"Mama..." terdengar suara serak dari Axel yang sepertinya terbangun dan kini mencari mamanya.


"Tugas negara sudah memanggil. Aku masuk kamar dulu. Selamat malam semua" pamit Vira sambil beranjak dari duduknya dan segera menghmpiri Axel yang kini sedang berdiri di ambang pintu kamarnya sambil mengucek kedua matanya.


"Aku juga ingin pergi tidur" ucap Kevin sambil menguap lebar. Pria itu sudah bangun dari duduknya sekarang.


"Kalian berdua silahkan lanjutkan perangnya di dalam kamar" lanjut Kevin sambil terkekeh dan berlalu meninggalkan Tasya dan Dion.


Dion dan Tasya masih duduk di tempatnya semula.


"Kau ingin tidur sekarang?" Tanya Dion seraya mengusap lembut kepala Tasya.


"Boleh aku tanya sesuatu?" Bukannya menjawab pertanyaan Dion, Tasya malah balik bertanya.


"Tentu sayangku. Ada apa?" Dion merangkul Tasya dengan mesra.


"Kapan terakhir kamu olahraga angkat beban?" Tanya Tasya sambil memasang wajah serius.


Dion tampak mengingat-ingat.


"Mungkin satu bulan yang lalu. Aku sudah lama tidak pergi ke gym" jawab Dion sekenanya.


"Bagus. Kau bisa olahraga lagi malam ini dan menggendongku sampai ke kamar" ujar Tasya bersorak senang.


Segera saja Tasya mengalungkan kedua lengannya di leher Dion, memberi kode agar Dion segera menggendongnya naik tangga sampai ke kamar mereka yang ada di lantai dua.


"Apa kau sudah bertambah gemuk sekarang?" Tanya Dion sambil mulai mengangkat tubuh istrinya tersebut.


"Menurutmu?" Tasya membenamkan kepalanya di dada bidang Dion.


"Sedikit berat" Dion terlihat menarik nafas dalam.


Sepertinya ini akan menjadi sebuah perjalanan panjang menuju kamar tidur karena Dion harus menggendong Tasya menaiki satu per satu anak tangga di depannya.


"Baiklah bidadariku, kita akan terbang" bisik Dion sambil mulai melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.

__ADS_1


Tasya hanya tersenyum sambil terus menatap lekat wajah suami tercintanya.


*****


__ADS_2