Natasya

Natasya
EXTRA PART: Vina dan Denny (1)


__ADS_3

Bagaimana perasaanmu saat akhirnya kamu harus menikah dengan seorang lelaki yang punya imej sebagai playboy?


Aneh,


Tidak mungkin,


Ini mustahil,


Tidak mungkin ini terjadi padaku,


Sebelum menjadi istri dari seorang Denny, tidak terbersit sedikitpun dalam pikiranku untuk menjalin hubungan dengan cowok playboy itu.


Tapi kejadian terkutuk beberapa bulan yang lalu ternyata mengubah semuanya.


Semua mimpi indah tentang kehidupanku yang sempurna harus menguap begitu saja hanya karena kejadian konyol malam itu.


Ah, dasar sialan.


Kenapa harus Denny?


Lelaki playboy itu...


Aku akui, Denny memang tampan, punya otak yang cerdas, kaya, tapi tetap saja dia itu playboy.


Sebelum menikah denganku, aku mendengar dari banyak orang Denny itu suka bergonta-ganti cewek.


Hubungannya yang paling lama dengan satu orang cewek hanya sebulan...


Ya Tuhan...


Bagaimana nasib pernikahanku kelak.


*****


"Kamu mau kemana lagi, Den?" Tanya Vina galak pada Denny yang terlihat sudah rapi.


"Keluar sebentar. Ada acara sama tim" jawab Denny santai.


Ia mematut sekali lagi penampilannya di kaca besar yang ada di kamar tersebut.


Terlihat Vina mendengus kesal.


"Mejeng terus sana-sini. Tebar pesona sana-sini. Sadar gak sih kamu itu udah punya istri bukan bujangan lagi. Cewek mana lagi yang ingin kamu goda?" Vina semakin menaikkan nada bicaranya.


Muak sudah dirinya dengan kelakuan Denny yang sudah enam bulan ini menjadi suaminya.


Denny balik melotot tajam pada Vina.


"Siapa yang mau godain cewek? Aku kan bilang aku mau ada acara sama anak-anak tim basket" ucap Denny tak kalah galak.


"Kamu itu egois, gak pernah mikirin perasaan aku yang tidak pernah bisa lagi pergi kumpul-kumpul sama temen aku" Vina mencebik masih tak terima.


Denny berdecak,


"Aku tidak pernah melarangmu untuk pergi atau berkumpul dengan teman-temanmu." Denny membela diri.


Vina yang merasa kalah berdebat dengan Denny akhirnya diam.


"Terserah kamu saja" ucap Vina akhirnya.


Calon ibu muda itu berbaring meringkuk di sudut ranjang.


Sengaja ia membelakangi Denny yang sudah akan pergi.


Sesaat kemudian terdengar isak tangis dari Vina.


Denny yang sudah akan membuka pintu, dan keluar dari kamar mendadak mengurungkan niatnya.


Ia menatap ke arah Vina yang masih membelakanginya.

__ADS_1


Istrinya itu sepertinya sedang menangis.


Denny menarik nafas panjang, mencoba mengumpulkan kesabarannya.


Entah perasaannya saja atau memang Vina jadi mudah tersinggung belakangan ini.


Mungkin bawaan ibu hamil atau memang itu sudah watak dari seorang Vina?


Entahlah...


Denny segera saja menghampiri Vina, berjongkok dan mengusap lembut kepala istrinya tersebut.


"Vin, aku minta maaf jika kata-kataku terdengar kasar" sekali lagi Denny memilih untuk mengalah dan minta maaf terlebih dahulu.


Vina masih tak menjawab. Hanya terdengar isak tangis dari wanita itu.


"Aku akan pergi sebentar, setelah itu aku akan mengantarmu ke mall untuk jalan jalan atau shopping atau mungkin kamu mau nonton. Terserah kamu saja. Tapi aku benar-benar harus pergi sekarang" Denny mencoba membujuk Vina dan membuat kesepakatan.


"Pergi saja sana. Gak usah pulang sekalian" jawab Vina ketus


Denny menarik nafas panjang.


Apakah semua ibu hamil selalu seperti ini?


Sungguh merepotkan.


"Baiklah aku pergi sebentar. Aku akan kembali secepat mungkin" ucap Denny akhirnya.


Bukankah Vina menyuruhnya pergi barusan?


Vina mendengus kesal.


'Dasar laki-laki tidak peka' gerutu Vina dalam hati.


Denny beranjak keluar dari kamar, kini hanya ada Vina yang mendengus kesal.


Vina benar-benar kesal sekarang.


*****


Entah berapa lama dirinya tertidur tadi, kenapa tiba-tiba rumahnya sudah seramai ini?


Apa Denny sedang arisan bersama tim basket di rumahnya sekarang?


Vina hendak ke dapur karena perutnya keroncongan. Sepertinya ia tertidur cukup lama tadi.


Sengaja Vina melongok ke ruang tengah untuk melihat apa yang sebenarnya tengah terjadi di ruangan tersebut.


Benar saja, Denny dan anggota tim basket yang tidak asing bagi Vina sedang berkumpul di ruangan tersebut.


Vina hanya memutar bola matanya.


Ia pun melanjutkan langkahnya masuk ke dapur dan mengambil makanan untuk mengganjal perutnya.


Samar-samar bisa Vina dengar obrolan para pria tadi.


"Istri loe gak keliatan Den?" Vina hafal suara itu. Itu adalah suara Julian.


"Dia kan tuan putri. Jam segini masih tidur" jawab Denny santai.


"Gue gak nyangka, seorang Denny akhirnya takluk di tangan seorang Vina hahaha" Rizky tertawa puas.


"Lebay loe. Gue kan lelaki bertanggung jawab. Dulu aja gue brengsek sekarang gue udah tobat" Denny menjitak kepaka Rizky.


"Tobat gara-gara kena karma hahaha. Gue jadi inget kata-kata Dion waktu itu" Julian menimpali.


"Trus cewek-cewek loe sebelumnya apa kabar sekarang? Apa mereka gak ngamuk denger kabar loe nikah" tanya Rizky penasaran.


Vina segera memasang tajam pendengarannya.

__ADS_1


Ia sendiri penasaran ada berapa sebenarnya pacar seorang Denny sebelum akhirnya resmi menjadi suaminya.


"Gue gak pernah punya pacar. Mereka semua bukan pacar gue" Denny mencoba menyangkal.


"Bukan pacar Riz, cuma teman berbagi ranjang" timpal Julian ceplas ceplos.


Sontak tawa Julian dan Rizky langsung meledak bersamaan.


Denny hanya melengos,


"Terserah kalian saja" ucap Denny masabodoh.


Sementara itu disisi ruangan lain Vina mendadak kehilangan selera makannya setelah mendengar obrolan para pria tersebut


Vina melempar dengan kasar garpu di tangannya.


"Sesial inikah nasib gue? Punya suami yang udah tidur dengan belasan wanita" Vina menggerutu sendiri.


Lagi-lagi dirinya meratapi nasibnya.


"Apa bener Denny udah tobat sekarang? Bagaimana kalo dia ternyata masih kencan dengan wanita lain?" Vina mulai berasumsi sendiri.


Mendadak kepalanya jadi pening memikirkan ini semua.


"Kalau dia memang masih mengencani banyak wanita, aku akan minta pisah setelah anak ini lahir." Tekad Vina dalam hati sambil mengelus perutnya yang kini sudah membulat sempurna.


*****


Vina baru saja masuk ke dalam kamar, setelah menghabiskan waktu sore di halaman belakang demi memcari angin segar.


Sepertinya Denny sedang mandi,


Vina mendaratkan bokongnya di sofa yang ada di kamarnya.


Belakangan ini badannya terasa makin berat saja.


Saat sedang mencari-cari remote televisi, Vina tak sengaja melihat ponsel milik Denny yang tergeletak di atas meja.


Ada panggilan masuk.


Vina penasaran, siapa yang menelpon.


Teenyata sebuah nomor asing, Vina iseng mengangkatnya.


Terdengar suara lembut seorang wanita dari seberang sana,


"Halo, Den. Kamu dimana? Kenapa gak balas pesan aku? Aku kangen sama kamu Den." Ucap wanita di seberang sana bertubi-tubi.


Mendadak ada suatu nyeri di hati Vina.


Vina masih diam.


"Den, kok diam? Kamu denger aku gak sih?" Tanya wanita itu lagi.


"Maaf anda salah sambung" ucap Vina ketus sebelum akhirnya menutup telpon dari nomer asing tersebut.


Vina segera membuka ponsel milik Denny.


Ada puluhan pesan dari beberapa nomer asing yang isinya sungguh membuat muak.


Nyeri di hati Vina semakin menjadi.


Seharusnya dirinya tidak se kepo ini.


Tapi semua sudah terlanjur,


Tak terasa butir bening jatuh di kedua pipi Vina.


Sekarang Vina benar-benar menyesal karena sudah melakukan hal bodoh itu bersama Denny, dan sekarang dirinya menjadi istri seorang playboy.

__ADS_1


"Vin, kamu menangis?"


Suara Denny yang baru keluar dari kamar mandi langsung membuyarkan semua lamunan Vina.


__ADS_2