
Egi membuka perlahan pintu kamar yang sedari tadi di kunci oleh Elena.
Kunci sudah dibuka sekarang. Egi mengendap-endap masuk ke dalam.
Sepertinya Elena sudah tidur.
Egi menghampiri istrinya tersebut, berlutut di depan Elena dan mengusap dengan lembut wajah Elena yang tenang.
Namun tiba-tiba Elena membuka matanya dan melotot tajam pada Egi. Baru saja Elena ingin mengelak dan memunggungi Egi, namun dengan cepat Egi meraih tangan Elena.
"El, biarkan aku menjelaskan semuanya" pinta Egi sedikit memohon.
Elena hanya diam, namun pandangannya masih menatap tajam ke arah Egi. Masih ada kemarahan di sana.
"Aku minta maaf, jika aku menyakiti hatimu" Egi mengusap lembut kepala istrinya tersebut. Sedikit merapikan rambut Elena yang jatuh menutupi wajahnya.
"Aku tidak pernah memyimpan perasaan apapun pada Tasya. Yang kamu lihat siang ini hanya sebuah kesalahpahaman. Aku sedang membeli hadiah untukmu..." Egi menunjukkan sebuah kotak kado berwarna gold yang terbungkus rapi dengan pita di atasnya.
"...lalu aku tak sengaja bertemu Dion dan Tasya yang juga sedang berbelanja. Tasya sedikit membantuku karena aku kebingungan. Tapi Dion juga ada di sana. Kau bisa menelpon Dion sekarang dan bertanya tentang detail kejadian siang tadi" Egi menyodorkan ponselnya ke arah Elena. Namun Elena tetap diam seakan tak mau menanggapi apapun.
"Kau pernah jatuh cinta pada Tasya?" Tanya Elena membuat Egi sedikit terkejut.
Namun sesaat kemudian Egi tersenyum simpul.
"Itu hanya masalalu, El. Itu jauh sebelum aku mengenalmu. Dan aku sudah membuang jauh perasaan itu saat aku mengenalmu. Aku sungguh-sungguh mencintaimu dan tidak pernah menjadikanmu sebagai pelarian cintaku" Egi menggenggam erat tangan Elena dan mengecupnya berulang kali.
"Maaf," ucap Elena lirih.
Egi mengernyit.
"Maaf karena sudah menuduhmu dengan tuduhan konyol seperti tadi" lanjut Elena lagi. Ada nada bersalah di sana.
"Aku mengerti. Kau hanya cemburu, betul begitu?" Egi memencet hidung Elena, membuat pipi wanita itu merona merah.
Elena bangun dari posisinya semula dan kini duduk di tepi ranjang.
Egi ikut duduk di samping Elena. Pria itu merangkul mesra Elena dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Jadi, kau mau menerima hadiahku sekarang?" Egi kembali menyodorkan bungkusan yang tadi ia tunjukkan pada Elena.
Elena segera menerimanya sambil tersenyum senang.
"Aku juga punya hadiah untukmu" ujar Elena sambil membuka laci nakas yang ada di samping tempat tidur.
Elena mengambil sesuatu dari dalam laci tersebut dan memberikannya pada Egi.
Egi menatap tak percaya pada benda putih panjang dengan dua garis merah yang diberikan oleh Elena tadi.
"Kamu hamil?" Ucap Egi tak percaya. Matanya berbinar-binar karena bahagia.
Elena mengangguk,
"Baru enam minggu. Tapi tak lama lagi Rhea akan segera mempunyai adik" jawab Elena menjelaskan. Mata Elena sudah berkaca-kaca sekarang karena bahagia.
Egi segera meraup kembali tubuh Elena ke dalam pelukannya. Memeluk dengan erat istrinya tersebut.
"Terima kasih sayang. Ini adalah hadiah terindah untuk ulang tahun pernikahan kita" ucap Egi bahagia.
"Aku mencintaimu" bisik Elena lirih.
Egi mengangguk dengan cepat dan mengecup puncak kepaka Elena.
"Aku juga mencintaimu, Elena" balas Egi bahagia.
Langit di luar sudah berubah menjadi gelap. Malam sudah tiba.
"Ayo, aku punya kejutan lagi untukmu" Egi membimbing Elena agar bangkit berdiri. Keduanya berjalan keluar dari kamar.
Suasana rumah sudah sepi.
Egi sengaja meminta Kiki untuk membawa Rhea jalan-jalan dan menginap di rumah omanya malam ini.
Egi ingin menikmati momen romatis malam ini bersama Elena.
Pasangan suami istri itu berjalan ke arah halaman belakang.
Elena terperangah dan tak percaya dengan kejutan yang di berikan Egi kali ini.
Sejak kapan Egi jadi romantis begini?
Sebuah meja dengan dua kursi sudah ada di tengah taman. Kelap-kelip lampu yang entah sejak kapan ada di taman tersebut semakin menambah kesan romantis.
Lampu rumah yang sengaja dimatikan oleh Egi semamin menambah suasana menjadi hangat dan romantis.
Dan sekarang Egi sudah membawa satu buket besar bunga mawar, dan sedang berlutut di depan Elena sambil menyodorkan bunga tersebut pada Elena.
Elena memutup mulutnya dengan telapak tangan karena menahan rasa haru.
Di satu sisi El ingin tertawa karena bahagia mendapat kejutan indah ini dari Egi. Namun yang terjadi sekarang El malah menangis karena terharu dan tidak percaya dengan sikap romantis Egi.
"Seharusnya aku tadi memakai gaun, bukan piyama. Aku seperti salah kostum" ucap Elena sambil terkekeh.
Elena mengambil buket bunga yang di berikan oleh Egi, lalu menghirup aroma wanginya.
"Kau tetap cantik meskipun hanya memakai piyama" puji Egi sambil menatap penuh cinta ke arah netra Elena.
"Ayo kita makan malam" Egi merangkul Elena dan membimbingnya agar duduk.
"Kau menyiapkan semua ini sendirian?" Tanya Elena masih tak percaya.
Egi mengendikkan bahu,
"Semuanya kecuali makanannya. Aku tidak bisa memasak,jadi aku memesannya dari restorant Bang Vian" jawab Egi sedikit terkekeh.
Elena ikut terkekeh.
__ADS_1
Elena menatap satu persatu makanan yang tersaji di ats meja, semuanya adalah makanan favorit Elena.
"Ini indah dan...romantis. Aku tidak tahu kau bisa romantis seperti ini" puji Elena masih tak percaya.
Egi menggaruk kepalanya yang tidak gatal,
"Aku belajar banyak dari seseorang bagaimana menjadi romantis dan membuat istriku terkejut" Egi akhirnya mengaku.
Sejujurnya, Egi memang sempat bertanya beberapa hal pada Dion sebelum membuat semua kejutan ini.
Selama ini Egi adalah suami yang kaku dan tidak romantis, dan Elena selalu bisa mengerti itu semua.
Tapi tiba-tiba, malam ini Egi menjelma menjadi sosok suami yang romantis. Sungguh sebuah kejutan besar untuk Elena.
"Aku rasa aku tahu siapa seseorang itu" Elena tertawa kecil.
"Bisakah kalau kita tidak membahasnya sekarang? Ini makan malam romantis, El." Egi menggenggam erat tangan Elena sebelum mengecupnya dengan mesra.
"Baiklah. Terima kasih suamiku sayang yang sekarang sudah jadi orang romantis" tukas Elena dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
"Sama-sama istriku sayang. Tolong jangan cemburu buta lagi seperti tadi sore" balas Egi sedikit terkekeh.
Elena langsung mencebik karena merasa Egi sedang mengejeknya sekarang.
"Baiklah, kita lupakan yang itu. Jangan mencebik seperti itu atau aku akan mrnciummu semalaman" ancam Egi sembari mengusap lembut bibir Elena.
"Aku tidak keberatan kamu cium semalaman" jawab Elena sedikit nakal.
Egi berdecak tak percaya,
"Baiklah, kita habiskan dulu semua makanan ini sebelum berciuman sepanjang malam" pungkas Egi sambil menatap nakal ke arah Elena.
Suasana romantis itupun berlanjut hingga malam mulai larut.
Egi dan Elena sungguh menikmati momen indah malam ini.
Cuaca malam yang cerah dan penuh bintang seakan mendukung acara romantis Egi dan Ekena malam ini.
*****
Jam makan siang baru saja berlalu beberapa saat yang lalu.
Dion sudah kembali lagi ke kantor karena ada meeting mendadak.
Tasya masih membereskan bekas makan siangnya tadi.
Tasya sudah tidak praktek di rumah sakit. Dokter anak yang kemarin Tasya gantikan sudah kembali, jadilah sekarang Tasya kembali menjadi seorang pengangguran.
Tok tok tok
Suara ketukan di pintu depan membuat Tasya harus menghentikan aktivitasnya sejenak.
Tasya berjalan ke pintu depan untuk melihat siapa yang datang bertamu.
Tasya mengernyit tak mengerti.
"Kau sedang sibuk?" Tanya Elena berbasa-basi.
Tasya tersenyum tipis dan segera mempersilahkan sahabatnya tersebut untuk masuk ke dalam.
"Hanya sedang beres-beres saja." Jawab Tasya.
"Duduk, El!" Ujar Tasya selanjutnya.
Dua sahabat itupun duduk di sofa yang ada di ruang tamu minimalis tersebut.
"Aku ingin minta maaf" Elena menyodorkan goodybag yang tadi ia bawa kepada Tasya.
"Minta maaf soal apa?" Tanya Tasya tak mengerti. Hubungannya dengan Elena belakangan ini tidak ada masalah dan mereka berdua tidak sedang terlibat dalam konflik apapun.
"Karena sudah menuduhmu berselingkuh dengan Egi" jawab Elena sambil terkekeh.
Elena menertawakan dirinya sendiri yang langsung mengambil kesimpulan tanpa bertanya atau mencari kebenaran terlebih dahulu.
Tasya semakin mengernyit bingung, namun Elena masih belum berhenti tertawa.
"El, aku tak mengerti" Tasya masih terlihat bingung.
"Kemarin saat kau membantu Egi berbelanja di mall, aku tak sengaja melihat itu semua dan aku berpikir kau sedang berselingkuh dengan Egi" Elena mencoba menjelaskan pada Tasya. Namun Elena masih tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.
Tasya yang tadinya bingung sekarang ikut tertawa bersama Elena.
"Ya ampun, El. Ada-ada saja kamu ini" timpal Tasya masih tertawa.
"Entahlah aku memang sensitif belakangan ini. Mungkin karena bawaan bayi" tukas Elena sambil mengendikkan bahu.
"Tunggu, apa katamu barusan?" Tasya terbelalak tak percaya.
"Aku akan punya bayi, sama seperti kamu" jawab Elena santai.
"Kamu hamil lagi, El?" tanya Tasya berbinar-binar tak percaya.
Elena mengangguk sambil tersenyum.
Tasya segera memeluk sahabatnya tersebut dengan heboh.
"Selamat ya, El. Aku ikut bahagia" ucap Tasya memberikan selamat.
"Ya, aku juga sangat bahagia" jawab Elena terkekeh.
Mereka pun kembali duduk di sofa dan melanjutkan obrolan.
Namun sesaat wajah Elena berubah serius saat pandangan matanya tak sengaja tertumbuk pada kaki Tasya yang bengkak.
"Sejak kapan kakimu seperti ini?" Tanya Elena serius. Cepat-cepat Elena memeriksanya.
__ADS_1
Dua minggu yang lalu saat Tasya datang kontrol sepertinya belum sebengkak sekarang ini.
"Baru beberapa hari, tapi bukaknkah katamu kemarin ini hal yang wajar?" Tanya Tasya bingung.
"Tidak wajar jika bengkaknya sebesar ini, Sya. Kenapa tidak menelponku?" Elena mulai menggerutu.
Wanita itu merogoh tasnya dan mencari-cari keberadaan ponselnya.
Setelah mendapatkan ponselnya, Elena terlihat menelpon seseorang.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang" ujar Elena yang sudah selesai menelpon. Wanita itu bahkan sudah beranjak berdiri sekarang.
"Aku akan ke rumah sakit nanti sore, El. Tunggu Dion pulang dulu" tolak Tasya halus.
Elena berdecak,
"Kau harus ke rumah sakit sekarang, Sya. Aku harus memeriksamu" Elena memaksa.
Tasya menghela nafas,
Sepertinya tidak ada gunanya ia berdebat dengan Elena kali ini.
Kepalanya memang sering sakit belakangan ini. Mungkin Elena benar. Tasya harus secepatnya ke rumah sakit.
"Baiklah, aku akan ganti baju dulu" jawab Tasya sambil beranjak berdiri.
Dengan sigap Elena membantu ibu hamil tersebut untuk berdiri.
Sepertinya Tasya sedikit kepayahan karena perutnya yang sudah semakin membesar.
Terakhir saat hamil Rhea, perut Elena sebesar itu saat sudah mendekati hari persalinan.
Dan sekarang? Bahkan kandungan Tasya belum genap tujuh bulan. Tapi perut sahabatnya tersebut sudah terlihat besar sekali.
"Aku bisa sendiri, El. Tunggulah di sini! " ucap Tasya sambil berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Elena hanya mengawasi Tasya hingga punggung wanita itu menghilang di balik pintu kamar. Elena kembali duduk di sofa sembari menunggu Tasya siap.
Tak sampai lima belas menit, Tasya sudah kembali keluar dari kamarnya dan menghampiri Elena yang masih duduk di sofa dan menunggu dirinya.
"Ayo El, aku sudah siap" ucap Tasya pada Elena yang kini juga sudah beranjak berdiri.
Setelah mengunci pintu, Tasya segera menyusul masuk ke dalam mobil milik Elena yang terparkir di depan garasi.
Mobil pun melaju membelah jalanan yang sedikit lengang dan langsung menuju ke arah rumah sakit.
*****
Tasya masih terbaring di atas ranjang di ruang USG.
Hari ini yang praktek adalah salah satu dokter senior di rumah sakit ini yang juga merupakan teman dari Elena. Dokter Adhi namanya.
Dan kini dokter Adhi dan Elena sama-sama menangain Tasya.
"Apa kondisiku begitu parah? Sampai harus ditangani dua dokter begini?" Gumam Tasya tak mengerti.
Sedari tadi dua dokter kandungan tersebut terus-terusan menatap ke layar monitor sambil berdiskusi kecil. Tasya sungguh tidak paham apa sebenarnya yang sedang mereka bahas.
"Tidak, dua minggu yang lalu tidak seperti itu aku yakin aku sudah memeriksanya dengan benar" ucap Elena bersikeras.
"Mungkin belum terlihat dua minggu yang lalu sekarang sudah terlihat jelas, dan ini sungguh buka kabar baik" timpal dokter Adhi. Wajah mereka berdua terlihat khawatir.
Elena mengatakan pada Tasya jika USG sudah selesai.
Seorang perawat membantu Tasya untuk bangun dan membenarkan kembali baju Tasya. Perawat tersebut juga membantu Tasya untuk turun dari ranjang.
Di ruang sebelah, tempat Tasya biasa berkonsultasi sepertinya masih terdengar diskusi kecil antara dokter Adhi dan Elena.
"El, ada apa sebenarnya?" Tasya benar-benar tak tahan untuk tidak bertanya.
Sesaat Elena dan dokter Adhi menghentikan diskusi mereka dan ganti menatap prihatin pada Tasya yang kini sudah berdiri di dekat mereka.
"Duduklah dulu, Sya" Elena membimbing Tasya agar duduk di kursi yang ada di depan meja konsultasi. Elena ikut duduk di samping Tasya.
Dokter Adhi juga sudah duduk di kursinya.
Sesaat suasana hening. Elena masih mencoba merangkai kata yang pas untuk memberi penjelasan pada Tasya.
Tok tok tok,
Seorang perawat masuk ke dalam ruangan dan memberikan secarik kertas pada dokter Adhi. Sepertinya hasil laboratorium milik Tasya.
Tadi Tasya memang melakuan cek urin dan cek darah sesuai dengan permintaan Elena.
"Terima kasih, suster" ujar dokter Adhi pada perawat tersebut.
Perawat tadi hanya mengangguk dan segera undur diri dari ruangan tersebut.
Dokter Adhi membaca dengan seksama hasil lab tersebut.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Elena tak sabar.
Dokter Adhi menggeleng,
"Tidak terlalu bagus" jawab dokter Adhi lesu. Dokter senior tersebut menyodorkan kertas hasil lab kepada Elena.
Dengan cepat Elena menerimanya dan membaca hasilnya.
Tasya ikut membaca hasil lab yang berisi angka dan huruf tersebut.
"Kita harus segera menentukan tanggal operasi untukmu, Sya" ujar dokter Adhi lirih.
Tasya menggeleng dengan cepat,
"Tidak, aku tidak mau. Bayi-bayiku belum siap untuk di lahirkan!" Bantah Tasya setengah berteriak.
__ADS_1