Natasya

Natasya
Melupakan Tasya


__ADS_3

Kevin berdecak kesal. Ia membuka pintu mobil dengan kasar.


Hatinya sakit dan sesak melihat Tasya bersama Dion barusan.


Ia sudah berusaha untuk melupakan Tasya, namun rasa cintanya pada Tasya terlanjur besar.


Kevin duduk di dalam mobil menunggu sang mama keluar.


Kevin heran, kenapa mama Wina bersemangat sekali mendukung hubungan Tasya dan Dion?


Apa mana Wina tak memikirkan perasaannya yang terluka?


Ah, tapi bagaimana mama Wina bisa tahu kalo dirinya tengah terluka dan patah hati? Kevib saja tak pernah bercetita ke mama Wina siapa gadis yang selama ini telah berhasil mencuri perhatiannya.


Sekali lagi Kevin berdecak kesal.


Ia bertanya tanya, bagaimana bisa Tasya jatuh cinta pada cowok dingin dan ketus seperti Dion?


Ya, meskipun beberapa bulan terakhir Dion mulai ramah pada Kevin, tapi tetap saja Kevin masih bertanya tanya.


*****


"Tante dengar mama kamu udah nemuin putri kandungnya, Sya. Apa itu benar?" Mama Wina sudah ikut duduk di samping Tasya dan Dion.


"Iya, tant. Vira sekarang udah tinggal sama kami di rumah" jawab Tasya antusias.


"Syukurlah, kalo begitu. Tante ikut senang." Kata mama Wina sambil tersenyum.


"Habis ini kalian langsung pulang kan?" Tanya mama Wina lagi. Kali ini sambil menatap tajam ke arah Dion.


"Sebenarnya Dion mau antar Tasya dulu, Ma. Ke tempat kerja Tasya yang baru" jawab Dion ragu ragu.


"Tasya kamu kerja?" Tanya mama Wina terkejut


"Baru mau mulai tante. Tasya ambil part time aja biar gak ganggu jam sekolah" jelas Tasya.


Mama Wina merasa prihatin.


Mungkin ada ketakutan di hati Tasya soal statusnya yang hanya anak adopsi dari mama Sarla.


Terlebih dengan kembalinya putri kandung mama Sarla pastilah Tasya merasa dirinya hanya menjadi beban dari mama angkatnya tersebut.


"Yaudah, nanti kamu anter Tasya sampai rumah ya, Dion. Pulangnya jangan malam malam" pesan mama Wina akhirnya.


"Siap, Ma" jawab Dion.


"Mama pulang duluan. Semoga lancar kerjaan kamu ya, Sya" mama Wina memeluk tubuh mungil Tasya dan segera berlalu meninggalkan kedua remaja tersebut.


Mama Wina sudah tiba di parkiran dan membuka pintu mobil.


"Langsung pulang, Kev?" Tanya mama Wina.


"Terserah mama" jawab Kevin acuh. Hatinya masih terasa kesal.


Mama Wina sedikit heran dengan jawaban Kevin yang ketus.


Tapi mama Wina tak mau berpikir macam macam. Mungkin Kevin memang sudah lelah.


Jadi mama Wina bergegas melajukan mobil untuk pulang ke rumah mereka.


*****

__ADS_1


Tasya dan Dion sudah sampai di sebuah cafe.


"Ayo, Nat" Dion membimbing Tasya agar ikut masuk ke dalam.


Mereka duduk di salah satu meja yang ada di sudut cafe tersebut.


"Disini Di, tempatnya? Tanya Tasya tak percaya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala sudut cafe tersebut.


Konsep cafe yang anak muda banget.


Banyak sudut sudut unik yang sepertinya sengaja dibuat untuk menarik perhatian para pengunjung cafe yang suka berswafoto.


"Iya nanti kamu jadi pelayan disini. Tapi kamu kerjanya sore aja sampe malam. Bentar, biar pemiliknya langsung yang jelasin ke kamu" ujar Dion panjang lebar.


"Hai, udah lama?" Sebuah suara yang terdengar tak asing menghampiri mereka berdua.


"Denny?" Ucap Tasya tak percaya.


Denny masih mengenakan seragam sekolah juga. Sama seperti dirinya dan Dion.


"Hai, Sya. Gimana? Yakin mau kerja disini?" Tanya Denny sambil tersenyum.


Tasya sedikit bingung.


Dion dan Denny tertawa melihat kebingungan di wajah Tasya.


"Jadi cafe ini milik keluarga Denny. Kamu santai aja, Sya." Ucap Dion masih terkekeh.


"O" hanya itu yang keluar dari mulut Tasya.


Ternyata teman Dion yamg satu ini benar benar tajir.


Mobil gonta ganti, punya banyak cafe, sayang playboy.


"Tapi aku belum ada pengalaman, Den" ucap Tasya ragu.


"Gak masalah, ntar ada yang ngajarin sampe kamu bisa. Santai aja" jawab Denny santai.


Tasya menarik nafas lega.


"Makasih ya" Tasya bergantian memandang ke arah Dion dan Denny.


Ia sungguh beruntung memiliki teman teman yang baik.


"Kerja yang rajin" Dion mengacak rambut Tasya dan sukses membuat gadis itu mencebik.


Dion tertawa puas.


Mereka bertiga melanjutkan obrolan sambil sesekali bersenda gurau.


*****


Kevin memandangi brosur beasiswa yang ada di tangannya. Tekadnya kini sudah bulat. Kevin akan mengambil beasiswa itu dan melanjutkan kuliah ke Singapura.


Terus terusan berada disini, hanya akan membuat hatinya kian sakit.


Kevin sudah bertekad untuk melupakan Tasya dan inilah satu satunya solusi. Dia harus pergi sejauh mungkin dari Tasya.


"Kev," suara lembut mama Wina membuyarkan lamunan Kevin.


Sejak kapan mama Wina ada dikamarnya?

__ADS_1


"Mama benar benar gak tahu soal perasaanmu pada Tasya. Mama pikir gadis yang sering kamu ceritain ke mama itu bukan Tasya" ucap mama Wina prihatin.


Wanita paruh baya tersebut merangkul pundak Kevin. Mencoba memberi kekuatan pada anak lelakinya tersebut.


"Mama tahu darimana?" Tanya Kevin terkejut


"Silvi udah cerita semuanya. Mama bingung, kenapa kamu dan Dion bisa suka sama gadis yang sama?" Tanya mama Wina menyelidik.


Kevin hanya mengendikkan bahu.


Andai saja sejak awal Tasya dan Dion mau jujur soal hubungan mereka, mungkin Kevin tak akan menaruh harapan besar pada Tasya.


Tapi semua sudah terlanjur, kini Kevin yang harus menanggung sendiri rasa sakit itu.


Flashback on


"Sore tante" Silvi yang baru datang ke rumah mama Wina menyapa tantenya tersebut.


"Hai, Sil. Sendirian aja?" Tanya mama Wina berbasa basi. Silvi mengangguk.


"Kak Kevin mana tan?" Tanya Silvi celingukan.


"Kevin di kamar lagi istirahat." Jawab mama Wina sedikit murung.


Belakangan ini Kevin selalu berkata ketus dan lebih banyak mengurung diri di kamar. Mama Wina benar benar tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Kevin.


"Kenapa, tan? Apa ada masalah?" Silvi yang menangkap wajah murung mama Wina buru buru menyelidik.


"Kevin. Tante gak tahu kenapa tu anak murung terus sepekan ini" cerita mama Wina sedih.


"Kak Kevin lagi patah hati tan" ucap Silvi cepat.


Mana Wina mengernyitkan kedua alisnya.


"Tante ingat kan cewek di sekolah yang sering bikin kak Kevin senyum senyum sendiri itu?" Lanjut Silvi lagi. Kali ini mama Wina mengangguk.


"Jadi cewek itu ternyata udah punya pacar" jawab Silvi sambil tersenyum kecut.


"Emang siapa sih tu cewek? Tante jadi penasaran" ujar mama Wina


"Tasya" jawab Silvi singkat.


"Tasya? Kok bisa? Bukannya Tasya emang udah lama pacaran sama Dion? Kok rumit begini?" Mama Wina langsung melontarkan pertanyaan bertubi tubi.


Silvi menarik nafas panjang sebelum menjawab. Hatinya sudah kesal sekarang.


"Jadi Tasya sama Dion itu pacarannya diem diem tan, gak tahu apa maksudnya. Kalo kenarin tante gak godain Tasya, mungkin sampe sekarang Silvi masih gak tahu kalo mereka pacaran" cerita Silvi sedikit sinis


"Makanya, Kak Kevin pikir kan Tasya emang belum punya pacar. Jadi dia gencar aja tu pedekate sama Tasya. Eh ujung ujungnya jadi begini" lanjut Silvi lagi.


"Emang dari awal Tasya juga ngasih harapan gitu ke Kevin?" Tanya mama Wina penasaran.


Silvi menggeleng,


"Kalo menurut Silvi sih Tasya sebenernya juga kayak selalu menghindar gitu dari kak Kevin. Tapi kan tetep aja harusnya Tasya dan Dion itu terus terang. Jadinya kak Kevin juga gak perlu berharap banyak" ucap Silvi sebal.


Mama Wina tersenyum kecil.


Percintaan remaja memang kadang ada ada saja masalahnya.


Cuma ada satu hal yang membuat mama Wina bertanya tanya,

__ADS_1


"Kenapa kedua anak lelakinya harus jatuh cinta,pada gadis yang sama?"


Flashback off


__ADS_2