Natasya

Natasya
SEASON KEDUA : Kabar Duka (2)


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Raka sudah tiba di rumah Elena.


"Pagi, El. Apa Tasya sudah bangun?" Tanya Raka sambil celingukan mencari keberadaan Tasya.


Elena menggeleng,


"Sepertinya belum. Ayo kita bicara di halaman belakang saja!" Ajak Elena sambil berjalan menuju ke halaman belakang rumahnya. Raka mengekor di belakang Elena.


Kamar Tasya masih tertutup rapat. Sepertinya wanita hamil itu memang belum bangun.


Elena dan Raka sudah duduk di kursi taman yanga da di halaman belakang sekarang.


"Jadi, ada kabar apa?" Tanya Elena yang memilih untuk mengawali pembicaraan.


"Aku sudah mengurus semua hal untuk acara pemakaman" Raka memberi laporan.


"Bagus" jawab Elena singkat sambil mengangguk.


"Dan kabar baiknya, Dion dan Egi sudah selesai mengurus semuanya di sana. Merrka akan secepatnya terbang ke sini. Jadi mungkin nanti sore merrka sudah tiba di sini" lanjut Raka lagi.


"Syukurlah kalau begitu" jawab Elena sekali lagi.


Sesaat suasana hening, hanya ada suara gemericik air dari kolam kecil yang ada di sudut taman tersebut


Elena terlihat menarik nafas panjang.


"Tasya dan Dion pasti sangat sedih dengan kepergian om dan tante mereka yang mendadak ini" ujar Elena dengan nada sedih.


Raka pun ikut prihatin dengan kabar duka yang mendadak ini.


"El..." suara Tasya yang memanggil Elena dari dalam rumah cukup membuat Raka dan Elena tersentak.


Bergegas Elena masuk ke dalam untuk menemui Tasya.


Raka mengekor di belakang Elena.


"Iya, Sya ada apa? Kau sudah bangun?" Tanya Elena bertubi-tubi.


"Aku pikir kamu masih menyiapkan sarapan. Maaf aku bangun terlambat" ucap Tasya merasa bersalah.


"Pagi, Tasya" Raka yang tadi mengekori Elena ikut menyapa Tasya.


"Raka, kamu sudah di sini pagi-pagi?" Tanya Tasya bingung. Raka hanya nyengir.


"Kan aku sudah bilang padamu, dia itu suka minta sarapan gratis" ucap Elena menjawab kebingungan Tasya.


Elena membuka tudung saji yang ada di atas meja makan.


"Aku sudah selesai memasak sarapan, Sya. Ayo kita sarapan bareng!" Ajak Elena.


Raka langsung tersenyum sumringah melihat sarapan yang sudah tersaji di hadapannya. Perutnya memang sudah keroncongan sedari tadi.


"Kalian ada jadwal praktek pagi ini?" Tanya Raka membuka obrolan. Pria itu sudah menghabiskan sarapannya


"Ya, kami ada dinas pagi. Kau sendiri?" Jawab Elena sebelum balik bertanya.


"Ada sesuatu yang harus kuurus" jawab Raka sebelum meneguk habis minuman yang ada di gelasnya.


Elena dan Tasya juga sudah menyelesaikan sarapan mereka.


Tasya beranjak berdiri untuk membereskan piring bekas sarapan.


"Sya, biar aku saja" Elena mencoba mencegah Tasya.


"Tak apa, El. Aku butuh bergerak." Ucap Tasya sambil terkekeh.


Tasya membawa semua piring dan gelas bekas sarapan ke dapur lalu mencucinya.


"Baiklah aku harus pergi sekarang. Masih banyak yang harus ku urus" pamit Raka sedikit berbisik pada Elena yang sedang membereskan meja makan. Raka berharap Tasya tidak mendengar ucapannya barusan.


Pria itu pun beranjak berdiri dan pergi meninggalkan ruang makan.


Di ruang tengah, Raka tak sengaja berpapasan dengan Kiki yang sepertinya baru pulang dari shift malam sebagai dokter jaga di IGD rumah sakit.


Tidak ada tegur sapa, namun keduanya saling menatap tajam.


Sesaat pandangan keduanya bertemu, namun dengan cepat Raka mengalihkan pandangannya. Jantungnya sudah berdetak tak beraturan sekarang.


Setelah tiga tahun Raka berusaha melupakan Kiki dan membuang jauh perasaannya pada Kiki, kini semuanya terasa sia-sia belaka.


Bahkan Raka masih menyimpan perasan pada gadis di hadapannya tersebut sekalipun Kiki pernah menyakiti hatinya.


Perasaan macam apa ini?


Kiki memperhatikan sekali lagi penampilan Raka.


Setelah hampir tiga tahun tidak bersua, Kiki merasa ada yang berbeda dengan Raka.


Perasaannya saja atau Raka memang berubah lebih tampan sekarang?


Ah, tapi bukankah sejak dulu Kiki tidak pernah memperhatikan penampilan Raka?


"El, terima kasih sarapan paginya. Aku pergi dulu" ucap Raka sedikit berteriak, seolah memberitahu Kiki bahwa dirinya datang kesini untuk minta sarapan.


Tidak ada jawaban dari Elena dan Raka pun melanjutkan langkahnya keluar dari rumah sahabatnya tersebut.


Sesaat Kiki menengok dan menelusur ke arah langkah Raka, sedikit berharap bahwa Raka akan berbalik dan memandang Kiki sekali lagi.


Namun harapan tinggallah harapan, bahkan Raka sudah tidak terlihat sekarang. Hanya ada suara deru mobil yang semakin lama semakin menjauh.


Kiki hanya bisa menghela nafas kecewa.


Salahnya memang, dulu saat Raka tulus mencintainya, Kiki malah mengabaikan pria itu dan bahkan menyakiti hatinya.


Dan sekarang Kiki seperti menerima karma dari perbuatannya di masa lalu.


Mungkinkah Kiki jatuh cinta pada Raka sekarang?


Kiki berusaha membuang jauh perasaannya itu. Mungkin saja sekarang Raka sudah memiliki gadis lain yang benar-benar tulus mencintainya dan tidak pernah menyakiti hatinya.


Raka mungkin juga sudah tidak peduli lagi pada perasaan Kiki.

__ADS_1


Kini Kiki hanya bisa meratapi perasaannya sendiri.


"Baru pulang, Ki? Apa kamu menginap di rumah temanmu lagi?" Teguran dari Elena langsung membuyarkan semua lamunan Kiki tentang Raka.


"Sebenarnya, Kiki ada kuliah sore kemarin, kak. Jadi pulang Kuliah Kiki lanjut ke rumah sakit untyk shift malam" jawab Kiki sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Belakangan ini, Kiki memang melanjutkan studinya untuk mengambil jurusan spesialis.


Elena berdecak,


"Berapa kali kakak bilang kepadamu, Ki. Kamu tidak boleh memforsir tenagamu seperti ini" nasehat Elena sedikit tegas.


Sebenarnya sejak Kiki memutuskan untuk kuliah lagi, Elena dan Egi sudah meminta Kiki untuk berhenti bekerja di rumah sakit. Namu sepertinya gadis itu memang keras kepala.


"Hari ini Kiki libur, kak. Jadi Kiki bisa istirahat" bantah Kiki dengan senyum nyengir. Kiki berharap kakak iparnya ini tidak akan melapor pada kak Egi.


"Hai, Ki. Baru pulang?" Tasya yang sudah selesai mencuci piring, ikut menyapa Kiki.


"Hai, Sya. Kau di sini?" Tanya Kiki sedikit terkejut.


"Ya, aku menginap di sini karena Dion sedang keluar kota dan Elena mengkhawatirkan keadaanku" jawab Tasya sambil melirik ke arah Elena.


Kiki hanya mengangguk.


"Lalu, kemana kak Egi? Apa dia ke luar kota juga?" Tanya Kiki pada sang kakak ipar.


Elena mengangguk,


"Ya, Egi pergi bersama Dion. Tapi sore ini mungkin mereka sudah pulang" jawab Elena menjelaskan.


Sesaat suasana hening,


"Sebaiknya kita bersiap-siap, Sya. Kita harus berangkat lebih cepat dan mampir ke rumah mamaku untuk menitipkan Rhea" Elena memecah keheningan di ruangan tersebut.


"Kak, aku bisa menjaga Rhea" pinta Kiki sedikit memohon.


"Tidak, Ki! Kamu harus istirahat hari ini. Kakak tidak mau kamu sakit" tolak Elena tegas.


Kiki langsung mencebik kecewa.


Bahkan sejak kemarin Kiki belum bertemu keponakannya tersebut.


"Lalu di mana Rhea? Aku ingin menyapanya sebentar" ucap Kiki akhirnya.


Mengobrol sebentar dengan Rhea mungkin bisa mengobati rasa kangen Kiki.


"Tante Kiki" sebuah suara mungil mengejutkan tiga wanita tersebut.


"Hai, sayang. Sudah mandi?" Tanya Kiki sambil memencet hidung Rhea dengan gemas.


Gadis kecil itu menggeleng.


"Pagi, Rhea. Baru bangun?" Tasya ikut menyapa Rhea yang terlihat masih sedikit mengantuk.


"Pagi tante Tasya" jawab Rhea sambil tersenyum manis pada Tasya.


Sesaat Tasya jadi ingat pada Zhia yang juga selalu menyapanya dengan sebuah senyuman manis setiap pagi.


"Kak, bolehkan aku yang memandikan Rhea dan menyiapkan keperluannya sebelum Rhea ke rumah omanya?" Kiki sedikit memohon pada Elena.


"Baiklah, jika kamu tak keberatan, kakak juga harus siap-siap untuk ke rumah sakit" jawab Elena santai.


Kiki segera membimbing Rhea untuk masuk ke kamarnya dan bersiap pergi ke rumah sang oma.


Sedangkan Tasya dan Elena memilih untuk segera bersiap-siap.


*****


Sore hari,


Tasya sedang bersantai di teras rumah Elena. Dion belum menelponnya sedari pagi.


Tapi kata Elena, Dion dan Egi akan pulang sore ini. Jadi mungkin nanti malam Tasya sudah bisa pulang ke rumahnya.


Mobil Egi terlihat memasuki halaman.


Senyuman langsung tersungging di bibir Tasya.


Tasya sudah benar-benar rindu pada Dion dan ingin bercerita banyak hal pada Dion termasuk soal Kenzo yang wajahnya mirip dengan Zhia.


Mobil Egi berhenti tepat di depan garasi.


Tasya sudah beranjak dari duduknya untuk menyambut Dion.


Dion menarik nafas panjang sebelum turun dari dalam mobil Egi.


Inilah saatnya Dion harus menyampaikan berita duka ini kepada Tasya.


Bisa Dion lihat senyuman tipis yang tersungging di wajah Tasya sekarang, senyuman yang mugkin sebentar lagi akan berubah menjadi isak tangis.


Egi menatap prihatin pada Dion yang kini terlihat lesu. Egi menepuk bahu Dion sekedar untuk menyalurkan kekuatan.


Dion akhirnya turun dari dalam mobil Egi.


Dion berusaha untuk menyembunyikan rasa sedihnya di depan Tasya Dion harus kuat.


"Hai, sudah pulang?" Sapa Tasya pada sang suami yang baru saja datang. Dion memaksa tersenyum dan mengusap lembut kepala Tasya.


"Apa kau baik-baik saja, Sayang?" Tanya Tasya khawatir karena melihat wajah Dion yang lesu dan sedikit sembab.


Apa Dion habis menangis?


"Bisa bicara sebentar?" Tanya Dion seraya membimbing Tasya agar duduk di kursi yang ada di teras tersebut.


Egi sudah turun dari mobil dan kini menghampiri Elena yang juga sudah berada di teras.


Tasya sudah duduk di kursi teras, Dion berlutut di depan Tasya dan memegang kedua tangan istrinya tersebut.


"Di, ada apa ini?" Tanya Tasya mulai bingung. Tasya merasa ada sesuatu yang tidak beres.


Dion terlihat menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Nat, aku harap kamu bisa tabah setelah mendengar berita duka ini..." Dion menarik nafas sekali lagi demi mengendalikan emosinya. Butir bening sudah menggenang di sudut mata pria itu.


"Tante Desi dan Om Bimo... Mereka berdua sudah pergi untuk selamanya, Nat. Mereka menjadi korban kecelakaan pesawat" ujar Dion lirih, sangat lirih nyaris tanpa suara. Hatinya ke,bali terasa pedih saat menyampaikan berita duka ini.


Sesaat Tasya hanya diam dan menatap lekat ke netra milik Dion.


Apa suaminya ini sedang bercanda sekarang?


Tidak...


Tidak mungkin...


Dion tidak mungkin bercanda,


Ini berarti...


Tes,


Air mata Tasya jatuh tanpa permisi.


"Tidak mungkin, Di" Tasya berusaha untuk menyangkal. Airmatanya sudah jatuh bercucuran sekarang.


"Katakan kalau ini hanya bercanda. Di. Tante Desi dan Om Bimo sedang berlibur" Baiklah, Tasya mulai histeris sekarang.


Dion segera bangkit berdiri dan meraup Tasya ke dalam pelukannya demi menenangkan istrinya tersebut.


"Ini benar, Nat. Ini kenyataan. Mereka berdua sudah pergi untuk selamanya" ucap Dion berulang-ulang, berharap Tasya akan percaya dan tak menyangkal lagi.


Tasya menangis tergugu dalam pelukan Dion.


Elena yang sedari tadi berdiri tak jauh dari Tasya dan Dion juga ikut berurai airmata sekarang. Egi terus merangkul istrinya tersebut. Egi tahu betul bagaimana perasaan Tasya dan Dion sekarang. Kehilangan orang yang kita sayangi, rasanya memang menyakitkan.


Egi juga pernah di posisi itu saat kedua orang tuanya meninggal secara mendadak dalam sebuah kecelakaan.


'Kenapa harus secepat ini tante Desi dan om Bimo pergi?' Gumam Tasya masih merasa tak percaya.


*****


Tasya menatap untuk terakhir kalinya wajah pucat tante Desi dan om Bimo yang kini sudah terbujur kaku.


Tak ada lagi tangisan histeris, Tasya dan Dion sudah bisa menerima kenyataan ini.


Pada akhirnya, semua yang bernyawa pasti akan menemui kematian.


Tante Desi dan om Bimo sudah pergi dengan bahagia. Mereka seakan membuktikan bahwa cinta sejati memang nyata adanya bahkan di saat terakhir pun, mereka masih bersama, dan terus bersama untuk selamanya di dalam keabadian.


'Lihat! Semua usaha dan doamu tidak sia-sia, Sya. Akhirnya Tuhan menitipkan dua bayi di dalam rahimmu. Kamu akan menjadi seorang ibu sebentar lagi'


Kata-kata tante Desi saat terakhir kali Tasya menjumpainya mendadak terngiang kembali di benak Tasya.


Tante Desi adalah wanita paling sabar dan bijak yang pernah Tasya kenal.


Tante Desi dan om Bimo sudah bermurah hati menjadi orang tua asuh untuk Tasya dan membiayai kuliah kedokteran Tasya yang tidak sedikit itu. Tante Desi dan om Bimo adalah orang tua untuk Tasya.


Nasehat-nasehat bijak dari tante Desi akan selalu Tasya kenang dan Tasya jadikan pegangan hidup.


'Semoga tante dan om bahagia di sana. Tante dan om adalah orang baik. Pasti kalian akan bahagia' gumam Tasya lirih.


Dion tak beranjak dari samping Tasya sedari tadi. Dion hanya ingin memastikan kalau istrinya itu baik-baik saja.


Keluarga besar Dion juga sudah hadir di acara pemakaman pagi ini. Semua orang tentu saja turut berduka atas kepergian tante Desi dan om Bimo yang mendadak ini.


*****


Hari sudah beranjak malam.


Semua keluarga Dion sedang berkumpul di rumah Dion dan Tasya sekarang.


Mama Wina masih menemani Tasya di kamar, sedangkan Dion memilih untuk duduk di ruang tengah bersama Kevin dan papa Rian.


Mama Sarla dan Papa Anton yang tadi juga hadir, langsung pamit pulang setelah acara pemakaman karena ada keperluan yang tidak bisa di tunda.


Suasana di ruang tengah terasa hening. Meskipun ada tiga pria di sana, namun ketiganya hanya saling diam seakan enggan untuk memulai obrolan.


Mama Wina sudah keluar dari dalam kamar Tasya dan sekarang ikut bergabung bersama tiga pria tadi.


"Tasya sudah tidur, dia tak lagi menangis" ujar mama Wina memberi laporan.


Dion mengangguk,


"Terima kasih, Ma. Sudah membantu menenangkan Tasya" ucap Dion tulus.


Mama Wina hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Kenapa kalian tidak pulang saja, Dion. Itu juga rumah kamu" papa Rian mulai buka suara.


Papa Rian sendiri sudah merasa pasrah dengan nasib perusahaannya. Yang terpenting baginya sekarang adalah keluarganya.


Tak apa papa Rian kehilangan cabang perusahaan yang ada di kota ini, asalkan Dion dan Tasya mau pulang dan kembali berkumpul dengannya di rumah besar itu.


"Ini rumah kami, Pa. Dion dan Tasya sudah nyaman di rumah ini, di kota ini. Biarkan kami hidup mandiri di sini" Dion sedikit memohon.


"Dan soal perusahaan itu, Dion akan terus memperjuangkannya, Pa" tambah Dion lagi.


Papa Rian hanya menghela nafas.


Rasanya tak mungkin memaksa putranya yang satu ini.


"Apa sudah ada perkembangan berarti sekarang?" Kevin ikut bertanya.


Dion menggeleng,


"Masih ada harapan, Kev. Kita tidak boleh menyerah begitu saja." Dion berusaha berpikir positif.


Kevin dan papa Rian mengangguk dan sependapat dengan Dion.


Malam sudah semakin larut.


Meskipun suasana duka masih Dion rasakan, namun malam itu Dion mencoba untuk memejamkan matanya.


Dion sudah ikhlas melepas kepergian tante dan om kesayangannya tersebut. Kini Dion dan Tasya akan tetap melanjutkan hidup dan menunggu kedua bayinya lahir ke dunia ini.

__ADS_1


Dion melingkarkan tangannya memeluk Tasya yang kini sudah tertidur lelap.


Tak lupa Dion mengusap perut Tasya dan mengucapkan selamat malam untuk kedua calon anaknya, sebelum akhirnya pria itu ikut terlelap ke alam mimpi.


__ADS_2