
"Tasya!" Suara Kiki yang memanggil Tasya langsung membuat gadis itu menoleh.
Tasya dan Kiki berpelukan erat dan saling berbagi kebahagiaan.
"Selamat ya, Sya!" Ucap Kiki sambil tersenyum bahagia.
Binar-binar kebahagiaan nampak jelas di raut wajah gadis tersebut.
"Selamat juga untuk kamu, Ki!" Balas Tasya tak kalah bahagia.
Sejenak Tasya lupa tentang hatinya yang merasa kecewa karena ketidakhadiran Dion.
Kiki memperhatikan satu persatu keluarga Tasya yang hadir.
"Dion gak datang?" Tanya Kiki serius.
Sontak wajah Tasya yang tadinya tersenyum bahagia, sedikit berubah menjadi raut kekecewaan.
Namun dengan cepat Tasya memasang senyum tegar.
Gadis itu menggeleng.
"Dion sedang ada acara penting. Jadi dia tidak bisa hadir hari ini." Jelas Tasya.
Kiki tampak mengangguk mengerti.
"Hai, Sya. Selamat ya" Dokter Elena yang juga hadir bersama kak Egi langsung memeluk Tasya.
"Terima kasih, Dok" jawab Tasya masih berusaha untuk tersenyum bahagia.
"Selamat, Sya" kak Egi juga memeluk Tasya.
"Terima kasih kak Egi" jawab Tasya tulus.
"Apa setelah ini kamu akan menikah?" Tanya kak Egi dengan nada menggoda.
Tasya hanya terkekeh menanggapinya.
"Aku kira kak Egi dan dokter Elena yang akan terlebih dahulu menikah. Aku akan mengalah saja" jawab Tasya masih terkekeh.
Egi hanya garuk-garuk kepala. Berbeda dengan Elena yang kini tersipu malu.
"Ya, sebenarnya memang begitu" ucap Egi sambil merangkul mesra dokter Elena.
Tasya hanya tersenyum menyaksikan kemesraan pasangan itu.
"Tasya!" Panggilan dari tante Desi membuat Tasya menoleh.
Tante Desi memberi kode pada Tasya untuk segera masuk ke dalam gedung karena acara akan segera dimulai.
"Baiklah, sebaiknya kita masuk ke dalam. Ayo, Ki!" Tasya meraih tangan Kiki yang sedari tadi hanya diam.
Rombongan itu pun segera memasuki gedung untuk mengikuti acara utama hari itu.
*****
__ADS_1
"Dion tidak menelponmu?" Tanya Salsa saat mereka baru saja keluar dari dalam gedung.
Acara utama sudah selesai. Hanya tinggal sesi foto-foto sekarang.
Tasya memeriksa ponselnya, lalu menggeleng. Tampak sekali raut kekecewaan di wajah gadis itu.
"Mungkin acaranya belum selesai. Aku akan menelponnya nanti saat sudah sampai dirumah" Jawab Tasya sambil berusaha tersenyum.
Tasya tak mau menangis sekarang meskipun hatinya sedang kecewa.
Seorang pria asing yang berpakaian seperti kurir datang menghampiri Tasya membawa satu buket besar bunga yang cantik.
"Nona Natasya?" Tanya pria asing tersebut.
"Iya, saya. Ada apa?" Tanya Tasya penasaran.
"Ada kiriman untuk nona" pria asing itu menyerahkan buket bunga besar untuk Tasya.
Salsa membantu untuk memegangnya.
"Maaf, tapi ini dari siapa?" Tanya Tasya masih bingung.
"Ada kartunya di dalam. Saya permisi dulu" kurir itupun undur diri setelah menunjukkan kartu ucapan yang terselip di dalam buket bunga tersebut.
"Terima kasih ya, Pak" ucap Salsa sebelum kurir itu berlalu.
Tasya masih bingung itu buket bunga dari siapa?
Kenapa besar sekali?
Tasya hanya mengendikkan bahu, dan mengambil kartu ucapan yang ada di dalam buket bunga tesebut.
Tasya sendiri juga penasaran siapa pengirimnya.
Tasya membuka kartu ucapan tersebut dan membacanya dengan cepat,
"Hai, Nat.
Apa kamu masih marah?
Apa kamu menyukai hadiah kejutan dariku?
Tak apa kalau kamu masih marah, mungkin satu lagi hadiah kejutan akan membuatmu tersenyum hari ini.
Berbaliklah!"
Tasya mengernyit bingung.
Seperti tulisan tangan Dion.
Tapi apa maksudnya?
Tasya melihat ke arah Salsa yang berdiri di sampingnya dengan bingung.
"Dari siapa, Sya?" Tanya Salsa masih penasaran.
__ADS_1
Tasya hanya diam tak menjawab.
Setelah menimbang sejenak, gadis itu memutuskan untuk berbalik dan melihat kejutan macam apa yang ada di belakangnya saat ini.
Bukankah sedari tadi hanya ada tante Desi, om Bimo, papa Anton dan mama Sarla di sana?
Tasya berbalik dengan cepat,
Netranya langsung menangkap satu sosok yang langsung membuatnya membeku.
Sosok yang selama beberapa bulan ini selalu ia rindukan.
Apa ini hanya mimpi atau khayalan saja?
Dion sudah berdiri di sana sambil merentangkan tangannya, seolah siap memeluk Tasya.
Sesaat, Tasya langsung sadar kalau ini bukanlah mimpi.
Dion benar-benar datang.
Tasya segera menghambur ke pelukan Dion dan memeluk erat pria tersebut. Menumpahkan segala kerinduan yang sudah beberapa bulan ini ia pendam.
"Maaf, aku datang terlambat." Ujar Dion masih memeluk erat tubuh Tasya.
Tasya masih diam.
Ia memilih untuk menikmati momen indah ini.
"Kamu jahat, Di. Kamu membuatku menangis semalaman. Kenapa harus berbohong?" Tasya protes seraya mencebik.
Bukannya menjawab Dion malah tertawa kecil.
"Aku hanya ingin memberi kejutan, Dokter Tasya" Dion mengusap lembut puncak kepala Tasya.
Membuat gadis itu tersipu malu.
"Eheem, udah belum yang kangen-kangenan, Sya?" Salsa sedikit mengeraskan suaranya bermaksud menyindir pasangan tersebut.
Buru-buru Tasya melepaskan pelukan Dion.
"Sudah senang sekarang?" Ronny ikut menimpali.
Sepertinya Salsa dan Ronny memang kompak dalam hal menggoda Tasya dan Dion.
Dan semua yang hadir di situ ikut tertawa, membuat Tasya semakin tersipu.
Berbeda dengan Dion yang sepertinya tetap santai saja menanggapi itu semua.
"Sudah, sudah. Ayo kita foto bersama dulu sebelum pulang" ajak mama Sarla.
Semuanya segera mengangguk.
Senyuman bahagia tak lepas dari bibir Tasya hari itu.
Ia merasa bahagia sekarang, benar-benar bahagia.
__ADS_1