
Hari berlalu, bulan berganti.
Tasya kini sudah duduk di kelas duabelas.
Tasya sudah beberapa bulan bekerja di kafe milik Denny. Ia sudah mulai terbiasa.
Hubungan Tasya dengan Vira masih tetap berjalan harmonis.
Dion tetap setia menjemput Tasya setiap malam dan mengantarkannya pulang ke rumah.
Dion sungguh khawatir dan tak mau hal buruk terjadi pada Tasya.
Dia juga yang memberikan pekerjaan ini pada Tasya, tentu saja ia merasa harus bertanggung jawab.
******
Pulang sekolah,
"Sya," Ronny yang sedari tadi menunggu di depan sekolah menyapa Tasya yang baru keluar bersama Salsa.
"Eh, kak Ronny. Tumben disini?" Tanya Tasya bingung.
"Iya, tadi ada urusan bentar sama pak Harry. Kamu udah mau pulang?" Tanya Ronny.
"Iya, Tasya mau pulang bareng Salsa" jawab Tasya.
Salsa hanya diam disamping Tasya menyimak obrolan dua orang di depannya tersebut.
"Kakak antar aja yuk, kakak pengen bicara sama kamu" tawar Ronny.
Tasya sedikit ragu merasa tak enak pada Salsa.
Namun sepertinya Salsa bisa menangkap kegalauan Tasya.
"Udah, Sya gak papa. Gue udah biasa balik sendiri" ucap Salsa santai.
Ronny melihat ke arah Salsa. Perasaannya saja atau gadis ini memang semakin manis?
"Hati hati nona manis" Ronny mengacak rambut Salsa dan sukses membuat gadis itu mencebik.
"Jangan pegang pegang ya, Pak. Saya buka gadis sembarangan" ucap Salsa galak sambil menjauh dan menjaga jarak dari Ronny
Sontak Tasya langsung tertawa melihat tingkah Salsa yang mendadak galak pada Ronny.
Ronny tersenyum kecil. Ia merasa semakin gemas pada sahabat Tasya tersebut.
"Gue duluan, Sya" pamit Salsa sambil berlalu meninggalkan Tasya dan Ronny.
Tasya dan Ronny berjalan beriringan menuju halaman parkir.
Beberapa bulan belakangan Ronny memang keluar kota menjalani pertandingan bersama klub profesionalnya.
Ia tak ada waktu untuk menemui Tasya.
Baru kemarin Ronny kembali ke kota ini dan ia putuskan untuk langsung menemui Tasya.
Tasya mengikuti Ronny masuk ke dalam mobil. Keduanya segera melaju meninggalkan halaman parkir sekolah.
Dion yang sempat melihat Tasya masuk ke mobil Ronny hanya bisa melihat sampai mobil tersebut tak terlihat lagi.
Tadinya Dion ingin mengantar Tasya pulang. Tapi rupanya Ronny yang sudah terlebih dahulu mengantar Tasya.
Sudahlah, mungkin memang ada hal penting yang ingin mereka berdua bicarakan.
Dion sendiri sudah tidak terlalu memusingkan hubungan antara Ronny dan Tasya.
Dion menganggap Ronny adalah kakaknya Tasya, jadi dia berusaha bersikap santai dan tak mau lagi cemburu buta.
Apalagi Dion juga sudah lumayan akrab dengan Ronny sejak Ronny menjadi pelatih untuk tim basketnya.
__ADS_1
Dion segera naik ke atas motormya dan ikut pergi meninggalkan sekolah.
******
"Benar kamu sekarang kerja part time?" Tanya Ronny serius.
Ronny dan Tasya tengah duduk di bangku di taman kota sekarang.
Tasya mengangguk,
"Aku hanya ingin mandiri, Kak" jawab Tasya lirih. Matanya menerawang ke arah danau yang ada di taman tersebut.
Entah mengapa ketakutan itu tak pernah hilang dari hati Tasya meskipun hubungannya dengan Vira sudah baik baik saja.
"Kakak bisa saja membiayai sekolahmu, tapi kakak yakin kamu pasti akan menolaknya" tebak Ronny terus terang. Gadis di depannya ini memang keras kepala.
"Tasya yakin kakak punya kebutuhan lain. Kakak kan juga harus menabung untuk masa depan kakak kelak. Kapan kakak akan menikah?" Tasya mengalihkan pembicaraan.
Ronny berdecak.
"Bisakah kita bahas saja tentang pekerjaanmu dan tak perlu mengurusi kehidupan pribadiku?" Ujar Ronny sedikit kesal.
Tasya hanya terkikik.
"Jadi kamu kerja dimana?" Tanya Ronny kembali serius
"Di kafe milik Denny, temannya Dion" jawab Tasya.
"Berarti memang Dion juga yang mencarikanmu pekerjaan? Bisakah hidupmu tak terlalu bergantung pada lelaki itu?" Ucap Ronny merasa keberatan.
Tasya mengernyitkan kedua alisnya.
"Memang apa masalahnya? Dion baik dan perhatian sama Tasya. Bahkan dia yang selalu mengantar Tasya pulang setiap malam" jawab Tasya tak mengerti.
Ronny mendengus.
Tasya dan Dion bagai dua sejoli yang tak dapat dipisahkan.
Dion punya potensi basket yang bagus, Ronny tahu sudah ada klub profesional yang menyodorkan kontrak untuk Dion. Namun sepertinya Dion masih ragu untuk mengambilnya.
Takut jauh dari Tasya, pasti itulah yang membuat Dion menjadi dilema.
Ingin rasanya Ronny memberitahu Tasya mengenai hal ini, namun ini semua bukanlah urusannya.
"Apa kak Ronny masih belum punya pacar?" Tanya Tasya menyelidik. Ia sungguh penasaran pada kehidupan pribadi kaka angkatnya tersebut.
"Apa kau mau mencarikannya?" Ronny malah balik bertanya.
Tasya terkekeh.
"Aku rasa Salsa cocok untuk kakak" jawab Tasya sambil masih tertawa.
"Si gadis galak itu?" Ronny sedikit mencibir, padahal jantungnya sudah berdetak tak karuan sekarang.
"Tasya pikir kakak tertarik pada Salsa. Kakak selalu memandangnya dengan tatapan aneh" Tasya mulai berasumsi
Sontak Ronny jadi salah tingkah.
Apa Tasya selalu memperhatikannya saat dirinya memandang Salsa?
"Apa dia sudah punya pacar?" Tanya Ronny menyelidik. Tasya langsung tertawa terbahak bahak.
"Ciyee yang kepo" Tasya masih belum berhenti tertawa.
Ronny mengacak rambut Tasya berharap bisa membuat gadis itu berhenti untuk menggodanya.
"Kakak kan cuma nanya" ucap Ronny sedikit mencebik.
"Salsa itu anti pacaran. Katanya mau langsung merried aja tanpa pacaran pacaran gak jelas" jelas Tasya pada Ronny.
__ADS_1
Ronny mengangguk angguk tanda mengerti.
Mungkin dirinya harus langsung melamar Salsa jika ingin mendekatinya.
Hahaha...
Sungguh pemikiran yang konyol.
Tasya melihat arloji di tangannya.
"Tasya harus pulang sekarang, Kak. Bentar lagi harus masuk kerja" ucap Tasya kemudian.
"Ayo kakak antar" Ronny berdiri diikuti oleh Tasya. Ronny merangkul Tasya menuju ke arah mobilnya.
Keduanya masih sempat bersenda gurau.
*****
Mobil Ronny sudah berhenti tepat di depan rumah Tasya.
"Gak mampir dulu, Kak?" Tasya menawarkan.
"Lain kali aja. Kakak langsung balik. Kamu hati hati ya yang kerja" sekali lagi Ronny mengacak rambut Tasya.
"Oke" jawab Tasya sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Tasya bergegas turun dari mobil Ronny.
Setelah melambaikan tangan, mobil Ronny pun melaju meninggalkan rumah Tasya.
Tasya berjalan santai masuk ke halaman rumahnya,
"Hai, baru pulang?" Sebuah suara membuat Tasya menoleh ke arah rumah tante Desi.
"Dion?" Gumam Tasya tak percaya.
Tasya mendekat ke pagar yang menjadi pembatas antara rumahnya dan rumah tante Desi.
Dion terlihat santai dengan kaos dan celana pendeknya. Tak lupa bola basket yang selalu ada di tangannya.
Apa Dion memang membawa bola itu kemana mana?
"Di antar pelatih Ronny ya?" Tanya Dion berbasa basi.
Tasya mengangguk.
"Tumben kesini? Kangen ya sama aku?" Tasya balik bertanya.
"Dasar geer" ucap Dion sambil tertawa. Tasya mencibir.
"Tante Desi sudah kembali?" Tanya Tasya lagi.
Beberapa bulan terakhir yang Tasya tahu tante Desi menyusul suaminya keluar kota.
"Udah, tadi pagi. Makanya aku kesini" jawab Dion
"O" hanya itu yang Tasya ucapkan.
"Hari ini kerja?" Tanya Dion
"Iya, mau nganterin?" Ucap Tasya sambil terkekeh. Ia hanya berniat menggoda Dion.
Biasanya Tasya berangkat sendiri naik angkutan umum. Dion hanya menjemputnya saat pulang.
"oke, aku anterin. Kamu siap siap dulu sana. Aku tunggu disini" ucap Dion tulus.
"Serius?" Tanya Tasya tak percaya.
Dion mengangguk.
__ADS_1
Tasya pun bergegas masuk ke dalam rumah untuk bersiap siap menuju tempat kerjanya.