Natasya

Natasya
SEASON KEDUA: Datang Berkunjung


__ADS_3

Mobil yang membawa Dion, Tasya, dan Vira sudah berhenti di depan rumah mama Sarla.


Mama Sarla tampak berdiri di teras rumah menyambut kedatangan dua putrinya sekaligus menantu barunya.


"Wah, wah. Pengantin baru sudah jalan-jalan" mama Sarla menggoda Dion dan Tasya yang tampak berjalan bergandengan memasuki teras rumah.


Vira sudah menghambur ke pelukan sang mama terlebih dahulu.


"Sengaja Vira bawa kesini, Ma. Biar gak sibuk di kamar terus mereka berdua" ujar Vira sambil terkekeh.


Mama Sarla ikut terkekeh.


"Ayo masuk, kita ngobrol di dalam" ajak mama Sarla.


Tasya dan Dion hanya mengangguk dan ikut masuk ke dalam rumah yang tidak terlalu besar tersebut.


"Jadi, kapan kalian berdua akan berangkat ke Jakarta?" Tanya mama Sarla membuka obrolan.


Mama Sarla bertanya pada Dion dan Tasya.


"Mungkin lusa, Ma. Jadwal cuti Dion tinggal beberapa hari lagi. Kami juga masih harus membersihkan apartemen" jawab Tasya menjelaskan.


"Kalian tidak berbulan madu dulu?" Tanya Vira kepo.


"Mereka akan berbulan madu di apartemen, Vir" bukan Tasya dan Dion, melainkan malah mama Sarla yang menjawab.


Tasya dan Dion tertawa kecil mendengar jawaban dari mama Sarla.


"Kami akan berbulan madu saat kompetisi sudah selesai, dan aku punya waktu libur sedikit panjang" kali ini Dion yang menjelaskan.


Dion bahkan belum melakukan apapun dengan Tasya sejak semalam.


"Semoga cepat ada kabar baik bulan depan dari kalian." Ucap mama Sarla penuh harap.


Tasya dan Dion langsung mengaminkan doa dari mama Sarla.


"Kamu sudah mengunjungi papa kamu, Sya?" Tanya mama Sarla lagi.


Tasya menggeleng,


"Mungkin besok, Ma. Sekalian mau pamit" jawab Tasya.


Mama Sarla mengangguk saja.


"Mama akan memasak untuk makan siang"


Mama Sarla bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah dapur.


"Tasya bantuin, Ma" Tasya ikut beranjak dan mengekori mama Sarla menuju dapur.


Vira yang juga akan masuk ke dapur, mencegat Tasya.


"Biar aku saja yang membantu mama. Kalian istirahatlah, sepertinya suamimu kelelahan" Vira menunjuk ke arah Dion yang kini masih duduk di sofa ruang tamu.


Tasya ikut menoleh ke arah Dion.


Benar saja, Dion tampak mengantuk.


"Apa kalian lembur semalam?" Tanya Vira usil.


Sontak Tasya langsung menggeram kesal.


"Vira!!" Geram Tasya kesal.


Vira hanya tertawa cekikikan dan segera berlalu masuk ke dapur menyusul mama Sarla.


Ingin rasanya Tasya menyentil telinga Vira, andai saja wanita itu tidak sedang hamil besar.


"Huh, dasar usil" gerutu Tasya masih kesal.


Tasya kembali lagi ke ruang tamu untuk menghampiri Dion.


"Apa kau sakit?" Tanya Tasya khawatir.


Dion hanya mengendikkan bahu.


"Aku tidak bisa tidur semalam" jawab Dion lirih.


Namun sebenarnya ada hal lain yang Dion tahan yang membuat kepalanya pening sedari pagi.


"Kau bisa tidur dulu di kamar sekarang. Ayo!" Tasya membimbing suaminya tersebut agar berdiri dan masuk menuju kamar Tasya yang ada di rumah ini.


Kamar ini memang jarang Tasya tempati.


Namun saat pindah, mama Sarla sengaja membawa semua barang-barang Tasya dari rumah lama mereka dan menempatkannya di kamar ini.


Meskipun jarang ditempati oleh Tasya, namun kata mama Sarla kamar ini tetap menjadi kamar Tasya.


Tasya dan Dion sudah masuk ke dalam kamar.


Tasya membuka lemari besar di hadapannya dan memeriksa isinya.


"Apa yang kau cari?" Tanya Dion penasaran.


Tasya mengendikkan bahu.


"Aku hanya memeriksa barang-barangku. Mungkin ada beberapa yang harus ku bawa ke apartemen baru kita" jawab Tasya sekenanya


"Bukankah seharusnya kamu tidur? Tadi kamu bilang kalau kamu mengantuk?" Tanya Tasya sembari menatap wajah Dion.


"Aku tidak bisa tidur kalau kamu tidak ada di sampingku" Dion mulai merayu Tasya lagi.


Istrinya itu hanya berdecak.


"Nat," Dion melingkarkan kedua lengannya di pinggang Tasya, merangkul wanita itu dari belakang.


"Masih siang, Dion." Tasya berusaha mengelak.


Ia seperti sudah paham sinyal apa yang diberikan oleh Dion.


"Sebentar saja," pinta Dion dengan raut wajah memohon.


Tasya berbalik dan kini menatap wajah Dion.

__ADS_1


Tasya sungguh tidak tega kali ini. Tadi malam ia sudah menolak permintaan Dion.


Mungkin ini saatnya untuk Tasya melawan pikiran-pikiran buruk itu.


"Aku akan mengunci pintu" ucap Tasya akhirnya.


Dion langsung tersenyum lebar.


Hatinya bersorak senang.


Sudah sejak semalam Dion menahan diri. Tapi siang ini, Dion benar-benar tak bisa menahan diri lagi.


Ayolah, Dion juga pria normal yang sudah pasti akan bergairah saat memandang tubuh istrinya.


"Kau tidak akan menolakku lagi, kan?" Dion masih saja menggoda Tasya dan mengingatkan tentang kejadian semalam.


Tasya tersipu malu.


"Mungkin aku akan menendangmu kali ini" jawab Tasya sambil terkekeh.


"Aku akan melakukannya dengan benar dan perlahan" Dion berbisik di telinga Tasya dan lanjut mengecup tengkuk istrinya tersebut, menimbulkan sensasi aneh di tubuh Tasya.


Namun Tasya menikmatinya.


Tasya akan mencoba menikmati setiap sentuhan yang di lakukan oleh Dion.


Tasya harus melawan mimpi buruk dan rasa trauma itu.


Tasya mencintai Dion dan Dion mencintai Tasya, jadi apalagi yang harus di khawatirkan?


Mereka juga sudah resmi menjadi sepasang suami istri.


"Lakukan semaumu, Di. Aku mencintaimu" ucap Tasya lirih sebelum akhirnya bibir itu di kecup oleh Dion.


Pada akhirnya, Tasya berhasil melawan ketakutan dalam dirinya.


Mungkin dirinya tak lagi sempurna, tapi Tasya beruntung karena memiliki Dion yang selalu membuatnya merasa sempurna.


Tasya akan terus mencintai Dion, hingga nanti. Hingga maut memisahkan mereka.


*****


Tasya terbangun saat hari sudah beranjak sore.


Tasya memeriksa arlojinya yang ada di atas nakas di samping tempat tidur.


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore.


Astaga...


Bahkan Tasya melewatkan makan siang.


Tasya melihat ke arah Dion yang masih tertidur lelap di sampingnya.


Tasya mengusap wajah suaminya itu.


Wajah yang dulu selalu ia rindukan.


Kini Tasya bisa selalu memandangnya setiap saat, setiap waktu.


Saat Tasya akan mengangkat tangannya dari wajah Dion, tangan kekar pria itu menahan tangan Tasya. Seolah tak rela jika Tasya menghentikan usapan lembut di wajahnya.


Sepertinya Dion memang sudah bangun dan hanya berpura-pura tidur.


Dion tersenyum tapi matanya masih terpejam. Membuat Tasya ikut tersenyum geli.


Dion memggenggam erat tangan Tasya lalu membawanya ke depan bibirnya, untuk ia kecup berulang kali.


"Kau sudah merasa baikan sekarang?" Tanya Tasya sedikit menggoda Dion.


"Ya, aku sudah sehat sekarang. Bahkan aku sangat bahagia sekarang" jawab Dion sambil tersenyum puas.


"Bisakah kita melakukannya sekali lagi?" Pinta Dion.


Kali ini tidak ada raut memohon, hanya ada raut wajah nakal dan menggoda dari Dion.


Tasya langsung berdecak.


"Kita bahkan belum makan siang, Di. Apa kau tidak lapar?" Tanya Tasya bernada serius.


"Ya, aku lapar" jawab Dion ikut-ikutan serius.


"Tapi aku bisa memakanmu sekarang" Dion sudah bersiap untuk menerkam Tasya.


Namun wanita itu berhasil mengelak.


"Dasar mesum!" Ucap Tasya sembari bangun dan beranjak meninggalkan Dion yang kini mendengus.


"Apa salahnya? Aku mesum dengan istriku sendiri." Dion membela diri. Pria itu kini ikut bangun dan mengikuti langkah Tasya yang akan masuk ke dalam kamar mandi.


Di depan pintu kamar mandi, Tasya menghentikan langkahnya.


Wanita itu berbalik dan menghadap ke arah Dion yang tadi mengekorinya.


"Aku bisa mandi sendiri, Dion" ucap Tasya sambil mengibaskan tangan untuk mengusir Dion.


Sekali lagi Dion mendengus frustasi.


"Aku tidak akan macam-macam, Nat" Dion memohon.


"Tidak!" Ucap Tasya sambil menutup pintu kamar mandi.


Akhirnya Dion hanya bisa menelan kekecewaan.


Dion kembali duduk di sisi ranjang lalu mengambil ponsel miliknya.


Mungkin ia akan bermain game online sembari menunggu Tasya selesai mandi.


*****


Tasya keluar dari dalam kamarnya dalam keadaan segar.


Dion masih belum selesai mandi, jadi Tasya memutuskan untuk keluar duluan.

__ADS_1


Suasana rumah mama Sarla sepi.


Kemana Vira dan mama Sarla?


Tasya berjalan menuju dapur, kosong.


Tasya beralih menuju ke arah teras. Benar saja, Mama Sarla sedang menyirami bunga-bunga yang ada di teras mungil itu.


Namun Tasya masih tak melihat keberadaan Vira. Kemana ibu hamil yang satu itu?


"Sya, udah bangun?" Mama Sarla yang melihat Tasya keluar dari rumah dan celingukan, menegur Tasya.


"Iya, Ma. Tadi Tasya ketiduran di kamar" Tasya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Sedikit merasa salah tingkah mengingat apa yang sebenarnya terjadi di kamarnya tadi, antara dirinya dan Dion.


"Vira kemana, Ma?" Tasya akhirnya bertanya pada mama Sarla.


"Vira udah dijemput tadi sama Kevin. Mereka mau ke dokter untuk memeriksakan kandungan Vira" jelas mama Sarla.


"Oh" ujar Tasya singkat sambil mengangguk mengerti.


"Makanlah dulu! Kalian tadi belum makan siang" perintah mama Sarla.


"Iya, Ma. Tasya nungguin Dion dulu" jawab Tasya.


"Nat!" Suara Dion yang mencari-cari Tasya di dalam rumah, membuat Tasya segera beranjak masuk.


"Itu Dion udah selesai mandi. Tasya masuk dulu, Ma" pamit Tasya pada sang mama.


Mama Sarla hanya mengangguk dan melanjutkan kembali aktivitas menyiram bunga yang tadi sempat tertunda.


Tasya masuk ke dalam rumah dan mendapati Dion yang sedang celingukan di depan pintu kamar.


"Darimana?" Tanya Dion saat melihat kedatangan Tasya.


"Dari teras, ngobrol sama mama. Ayo makan!" Ajak Tasya sambil menggamit lengan Dion dan mengajaknya menuju ke ruang makan.


Tasya menyendokkan nasi ke piring Dion dan ke piringnya sendiri.


"Apa aku bisa minta nasinya lagi?" Tanya Dion sedikit ragu.


Tasya menambahkan nasi ke piring Dion.


"Lagi" pinta Dion sekali lagi sambil menampilkan senyuman garing.


Tasya mengernyit, tapi tangannya tetap mengambil nasi dan menambahkannya ke piring milik Dion.


"Baiklah, terima kasih istriku sayang" ucap Dion sambil tersenyum aneh ke arah Tasya.


Tasya melihat sekali lagi ke piring Dion yang kini sudah terisi penuh dengan nasi.


Tasya sungguh tak percaya, apa Dion akan menghabiskan nasi itu? Bahkan Tasya udah kenyang duluan melihat porsi makan dari Dion.


"Kau akan menghabiskannya?" Tanya Tasya sedikit ragu.


Dion mengangguk,


"Aku kelaparan, sayang. Kamu tidak ingat? Aku habis olahraga berat tadi." jawab Dion sedikit berbisik.


Tasya yang sedang meneguk minuman di gelasnya, nyaris tersedak mendengar jawaban dari Dion.


Tasya menahan tawanya.


"Kau tidak akan bisa lari lagi di court saat kembali nanti. Pelatih pasti akan memarahimu" Tasya mengejek Dion.


"Aku akan berolahraga lagi malam ini. Jadi kau tak perlu khawatir.


Badanku tetap akan terlihat bagus dan kau bisa memandanginya setiap hari" jawab Dion sambil menepuk dan memamerkan dadanya yang masih terlihat bidang.


Tasya hanya mencibir.


"Terserah saja" ucap Tasya sambil memutar bola matanya.


Tasya dan Dion pun melanjutkan acara makan siang yang kesorean itu.


*****


Dion dan Tasya memutuskan untuk menginap di rumah mama Sarla malam ini.


Ketiganya kini sedang duduk di sofa yang ada di ruang tengah sambil mengobrol ringan.


Dion fokus melihat ke arah layar televisi yang sedang menyajikan acara berita malam.


Tasya duduk di dekat mama Sarla dan bermanja-manja dengan mamanya.


Dion hanya tersenyum saat melihat tingkah manja istrinya pada mamanya tersebut.


"Apa Tasya selalu begitu, jika bersama mama?" Tanya Dion penasaran.


Mama Sarla mengangguk.


"Dia memang manja dan cengeng, Di.


Mama harap kamu nanti bisa sabar menghadapi tingkah manjanya" jawab mama Sarla sambil tertawa renyah.


"Mama, Tasya kan udah gak cengeng sekarang" Tasya menyangkal sembari mencebik tak terima.


Terang saja Dion dan mama Sarla langsung terkekeh.


"Lusa kan Tasya sudah pindah jauh dari mama. Jadi gak apa-apa kan kalo malam ini Tasya sedikit bermanja-manjaan sama mama" lanjut Tasya lagi mencari alasan.


Mama Sarla membelai kepala putrinya tersebut.


"Iya, tidak apa-apa, Sya" jawab mama Sarla.


"Kita akan rutin berkunjung ke sini, Nat. Jadi kamu tidak perlu merasa khawatir" Dion ikut menimpali.


Tasya hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Ma, apa boleh Tasya mengambil dan membawa beberapa barang Tasya yang ada disini?" Tanya Tasya pada sang mama.


"Tentu saja boleh. Itu semua kan barang-barang kamu, Sya. Kamu boleh membawanya" jawab mama Sarla bijak.

__ADS_1


Tasya mengangguk sambil tersenyum senang.


Ketiganya melanjutkan obrolan hingga malam semakin larut.


__ADS_2