Natasya

Natasya
Kak Ronny


__ADS_3

Seorang laki-laki berperawakan tinggi besar, berdiri di koridor utama sekolah dekat pintu masuk.


Lelaki itu hanya diam dan memperhatikan siswa yang lalu lalang di depannya.


Beberapa siswa terlihat mencuri-curi pandang pada lelaki manis tersebut.


Kulitnya yang cokelat eksotis ditambah perawakannya yang tinggi besar, membuat lelaki itu cukup menarik perhatian dari para siswa terutama siswa perempuan.


Mereka akan berbisik-bisik setelah berhasil mencuri pandang pada lelaki tersebut.


Silvi, Tasya, Vina, dan Salsa masuk melalui pintu utama sekolah sembari bersenda gurau.


Mereka asyik membicarakan pertunjukan pentas seni beberapa hari yang lalu.


"Gaes, siapa itu..." Vina yang terlebih dahulu melihat lelaki tampan di dekat pintu masuk, langsung heboh dan bersikap lebay.


Silvi dan yang lain melihat ke arah yang ditunjuk oleh Vina.


"Guru baru mungkin. Tapi ganteng banget. Dan body nya" Silvi bersikap lebay dan menunjukkan ekspresi yang menurut Salsa sungguh menggelikan.


Salsa memutar bola matanya.


Tidak terlalu tertarik pada lelaki yang kata teman-temannya ganteng tersebut.


Sedangkan Tasya hanya terkekeh menyaksikan Silvi dan Vina yang mendadak salting karena kehadiran seorang pria asing di sekolah.


Keempat gadis itu pun berlalu masuk ke dalam sekolah dan berjalan menuju kelas mereka.


Sepanjang perjalanan mereka tak henti membicarakan pria asing barusan yang entah darimana datangnya.


*****


Ronny masih berdiri di dekat pintu masuk sekolah swasta tersebut.


Beberapa murid yang lalu-lalang di depannya memberikan tatapan heran.


Yang lainnya lebih memilih mengabaikannya.

__ADS_1


Roni memperhatikan remaja-remaja yang berseragam abu-abu, yang mungkin tengah mencari jati dirinya.


Diapun dulu pernah ada di posisi itu.


Namun bukan itu yang Ronny pikirkan. Melainkan seorang gadis kecil dari masa lalunya, yang sudah hampir sepuluh tahun berpisah dengannya.


Gadis kecil itu pastilah sekarang sudah tumbuh menjadi gadis remaja berseragam abu-abu seperti segerombolan siswi perempuan yang sekarang lewat di depannya dan saling bersenda gurau sambil berbisik-bisik.


"Tasya, dimana kamu sekarang? Seperti apa wajahmu sekarang? Pasti kami tumbuh jadi gadis yang cantik" gumam Ronny dalam hati.


Sudah lama ia merindukan Tasya. Namun Ronny tidak tahu harus mencari Tasya kemana.


Dulu Tasya di adopsi oleh seorang wanita baik hati dan di bawa pergi ke kota lain, yang Ronny sendiri tidak tahu.


Ia ingat sekali saat itu, dirinya menangis sesenggukan karena tidak rela berpisah dari Tasya.


Ronny sudah menganggap Tasya seperti adik kandungnya.


Ronny ingin selalu menjaga Tasya.


"Ronny, ya?" Seorang guru menyapa Ronny dan membuyarkan semua lamunan Ronny tentang Tasya.


"Iya, pak" jawab Ronny sopan sambil menjabat tangan laki-laki paruh baya di depannya tersebut.


"Mari ikut saya ke kantor" ucap pak Hari yang kemudian berjalan menuju kantornya.


Ronny hanya mengangguk dan segera mengekor di belakang pak Hari.


Mengikutinya menuju kantor.


*****


Dion baru saja sampai di kelas dan sudah hendak duduk di bangkunya.


Namun Denny menghampirinya dan mengajaknya untuk bertemu dengan Pak Hari.


Tentu saja Dion merasa bingung

__ADS_1


"Ada apaan, Den?" Tanya Dion masih tak mengerti.


"Gue juga gak tahu. Cuma tadi kata Pak Hari semua anak-anak tim basket disuruh kumpul di lapangan" jawab Denny yang juga sama-sama bingung.


Kedua cowok itupun berjalan sedikit cepat menyusuri koridor sekolah menuju lapangan basket.


Sampai di sana, ternyata anggota yang lain juga sudah berkumpul.


Ada Pak Hari juga dan seorang pria asing yang belum pernah dilihat oleh Dion.


Dion dan Denny segera bergabung bersama kawan-kawannya.


Menunggu Pak Hari buka suara.


Entah apa yang akan di sampaikan oleh guru olahraga tersebut.


"Selamat pagi semua," Pak Hari menyapa pada semua anggota tim basket yang hadir.


"Pagi pak" jawab semuanya serempak


"Pagi ini, bapak mau memperkenalkan pelatih baru untuk tim kalian.


Namanya Pak Ronny, dia pernah bermain sebagai pemain profesional di beberapa klub basket.


Nanti silahkan kalian berkenalan dan atur jadwalnya" jelas Pak Hari panjang lebar.


Dion dan yang lainnya hanya mengangguk tanda mengerti.


"Baiklah, cukup itu saja yang bapak sampaikan. Silahkan bubar dan kembali ke kelas masing masing" lanjut Pak Hari.


Tim basket itupun segera bubar dan berpisah kembali ke kelas masing-masing.


Dalam hati mereka sebenarnya timbul berbagai pertanyaan.


Sejak kapan tim basket sekolah diberikan pelatih khusus. Bukankah biasanya yang mereka berlatih sendiri.


Kadang Pak Hari yang turun langsung jadi pelatih jika ada jadwal pertandingan antar sekolah.

__ADS_1


Tapi pertanyaan-pertanyaan itu hanya mereka simpan dalam hati.


Mungkin nanti saat pulang sekolah mereka akan membahasnya.


__ADS_2