Natasya

Natasya
SEASON KEDUA : Mengungkap Rahasia (3)


__ADS_3

Diandra turun dari mobilnya dengan tergesa. Wajahnya sudah merah padam menahan amarah yang membuncah di dadanya.


Daffi benar-benar sudah gila.


"Kak Diandra, tumben pagi-pagi ke sini?" Nuna yang baru saja akan keluar menuju teras sedikit terkejut saat mendapati kakak iparnya tersebut ypsudah berada di teras rumahnya.


"Di mana Daffi?" Tanya Diandra tak sabar.


"Daffi sedang di belakang rumah menemani Kenzo berolahraga pagi" jawab Nuna masih bingung.


Kenapa wajah kak Diandra merah padam?


Apa kak diandra sedang marah?


Tapi marah ke siapa?


Berbagai macam pertanyaan memenuhi kepala Nuna sekarang.


"Ayo ikut!" Ajak Diandra pada Nuna.


Nuna menurut saja dan mengekori Diandra menuju ke halaman belakang rumah besar tersebut.


"Kak Diandra, tumben pagi-pagi sudah datang?" Daffi yang melihat sang kakak langsung menyapanya dengan hangat.


Diandra mendengus mencoba menahan emosinya.


"Kakak ingin bicara, Daff" ujar Diandra sambil menatap tajam pada Daffi.


"Bicara saja, apa ada yang penting?" Jawab Daffi santai.


Diandra bergantian memandang ke arah Nuna dan Kenzo. Diandra sungguh tak mau meledak didepan adik ipar dan keponakannya tersebut.


"Na, bisa tolong bawa Kenzo pergi dari sini?" Kak diandra berbicara pada Nuna atau lebih ke arah menyuruh Nuna untuk pergi dari tempat itu.


Daffi mengernyit bingung.


Sedangkan Nuna memilih untuk langsung membawa Kenzo masuk ke dalam rumah. Nuna paham, mungkin ada hal serius yang perlu dibahas oleh Diandra dan Daffi. Dan Nuna tak mau ikut campur.


Setelah Nuna dan Kenzo tidak terlihat, Diandra segera mendekat ke arah Daffi.


"Apa ini, Daff?" Diandra melemparkan map yang sedari tadi ia bawa ke arah Daffi.


Dengan cepat Daffi menangkapnya dan membuka serta membacanya sejenak.


"Apa Raka mengadu pada kakak?" Daffi terlihat mulai emosi.


"Tidak perlu membawa-bawa Raka, kakak tanya apa yang kamu lakukan pada perusahaan itu?" Tanya Diandra tak kalah galak.


"Kak, ini bisnis. Siapa yang besar, dia yang berkuasa" jawab Daffi dengan nada pongah.


Diandra berdecak.


"Kau tahu siapa mereka?" Diandra benar-benar ingin meledak sekarang.


"Siapa memang? Keluarga dari dokter yang menangani Kenzo? Aku sudah membayar jasanya sebagai dokter, jadi aku rasa tidak ada hutang budi. Bukankah itu adalah pekerjaannya dan sama sekali tidak ada hubungannya dengn bisnis ini" Daffi masih pada pendiriannya.


"Kau salah!" Diandra menunjuk ke arah wajah Daffi.


"Kau berhutang budi pada mereka" Diandra membuka tasnya dengan kasar dan mengeluarkan setumpuk foto Zhia yang kemarin diberikan oleh Tasya.


"Lihat ini! Lihat semuanya" Diandra melemparkan foto-foto itu ke atas meja yang ada di taman tersebut.


Daffi melihat sekilas foto-foto tersebut, namun saat netranya menangkap sebuah wajah yang selama dua tahun ini hanya bisa ia kenang, tubuhnya membeku.


Daffi memungut satu foto yang tak asing untuknya, terang saja itu adalah foto dari putri kesayangannya yang sudah meninggal dua tahun yang lalu,


Tapi foto-foto ini...


Semuanya terasa asing.


Zhia seperti berada di tempat asing, dan beberapa foto bahkan menunjukkan kalau Zhia tengah dirawat di rumah sakit terlihat dari jarum infus di tangan putrinya.


"Zhia..." ratap Daffi tertahan.


"Orang yang saat ini sedang kau hancurkan perusahaannya, adalah orang yang sama yang sudah merawat putrimu denagn penuh kasih sayang" jelas Diandra terisak.


Diandra kembali ingat cerita Tasya dan Dion beberapa hari yang lalu tentang perjuangan Zhia dalam melawan penyakitnya.


Anak sekecil Zhia...


Kenapa harus menghadapi penyakit mengerikan itu.


"Apa maksud kakak? Zhia sudah meninggal dalam kecelakaan itu, Kak" Daffi mencari pembelaan.


Diandra menggeleng,


"Zhia selamat dari kecelakaan itu, Daff. Zhia melarikan diri dari tempat kejadian dan kehilangan ingatannya. Karena itulah kita tidak pernah menemukannya" ujar Diandra lirih.

__ADS_1


Daffi tertegun mendengar penjelasan dari Diandra.


Diandra juga menceritakan semua detail kejadian mulai dari Zhia yang tersesat di panti asuhan, Tasya dan Dion yang akhirnya membawa pulang dan merawat Zhia, hingga saat-saat terakhir saat Zhia berjuang keras melawan penyakitnya.


Daffi sudah berurai airmata sekarang. Bagaimana bisa, disaat-saat terakhir perjuangan putrinya, Daffi justru tidak berada di sampingnya.


"Zhia... maafkan papa, Nak" sekali lagi Daffi meratap. Dia bahkan tak bisa melihat wajah terakhir Zhia.


Kini Daffi hanya bisa memandangi satu persatu foto Zhia yang tadi dibawa oleh Diandra.


"Daff, apa semuanya baik-baik saja?" Entah sejak kapan, Nuna tiba-tiba sudah berada di tempat tersebut.


Cepat-cepat Daffi mengusap airmatanya dengan kasar.


"Foto siapa ini?" Tanya Nuna penasaran. Dengan cepat wanita itu mengambil salah satu foto yang berserakan di atas meja taman


Baik Daffi maupun Diandra tak sempat lagi mencegah Nuna.


Dan yang terjadi selanjutnya...


"Zhia..." butir bening sudah meluncur di kedua pipi Nuna


"Kak Diandra ini ada apa sebenarnya?" Nuna menatap tajam ke arah kakak iparnya seolah meminta penjelasan.


Diandra menarik nafas panjang sebelum akhirnya mengajak Nuna untuk duduk di kursi taman.


Diandra kembali mmenceritakan semua detail kejadian saat Zhia selamat dari kecelakaan, hingga saat Zhia dirawat oleh Tasya dan Dion di masa-masa terakhir hidupnya.


"Daff, kita harus minta maaf pada mereka" ucap Nuna pada sang suami yang sejak tadi merangkul dan terus menguatkannya.


Daffi mengangguk.


Diandra akhirnya bisa bernafas lega sekarang.


*****


Dion dan Tasya baru saja menyelesaikan sarapan.


Ini hari Minggu dan Tasya sedang libur.


"Kau ingin jalan-jalan hari ini?" Tanya Dion seraya membereskan piring dan peralatan makan lain yang tadi mereka pakai untuk sarapan.


Dion membawa semuanya ke dapur dan mencucinya.


"Tidak, aku sedang malas" Tasya meneguk air putih yang ada di gelasnya hingga tandas.


"Baiklah, kita dirumah saja kalau begitu." Ujar Dion sambil terkekeh.


"Kita bisa membayar orang untuk melakukannya, Nat. Kau tinggal pilih warna cat dan perlengkapan lainnya" jawab Dion enteng.


Tasya sudah beranjak dari duduknya dan menyusul Dion yang belum selesai mencuci piring.


"Tapi akan lebih romantis dan berkesan jika kita melakukannya sendiri" bisik Tasya di telinga suaminya tersebut. Tangan Tasya bahkan sudah melingkar di pinggang Dion.


Baiklah, sekarang Dion sadar kalau Tasya sedang merayunya.


Dion segera menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah Tasya.


"Baiklah, jika kamu memaksa. Aku akan berbelanja cat dan perlengkapan lainnya hari ini" ucap Dion sambil tersenyum tipis.


Tasya langsung bersorak girang.


"Yeay, terima kasih suamiku sayang. Mmuah" sebuah kecupan langsung mendarat di pipi Dion, membuat wajah Dion menghangat.


"Apa aku akan dapat hadiah malam ini?" Bisik Dion nakal, membuat wajah Tasya menjadi merona merah.


Tasya menatap dalam ke arah netra milik Dion. Sebuah senyuman juga langsung tersungging di bibir Tasya.


"Kau bisa minta hadiahmu sekarang, kenapa harus menunggu nanti malam?" Tukas Tasya tak kalah nakal.


Sontak Dion langsung mencium bibir Tasya yang sejak tadi terlihat menggoda.


Namun baru saja keduanya akan menikmati momen romantis itu, sebuah ketukan dari pintu depan mengagetkan mereka berdua.


Dion berdecak sedikit kesal.


Tasya menahan tawanya karena melihat wajah kesal Dion.


"Biar aku yang buka" tawar Tasya akhirnya. Wanita itu sudah berjalan menuju ke arah pintu depan.


Dion mengekor di belakang Tasya untuk melihat siapa tamu yang datang di hari Minggu pagi.


Tasya dan Dion sedikit terkejut saat tahu siapa tamu mereka pagi ini.


"Hai, selamat pagi. Apa kami mengganggu?" Nuna menyapa pasangan di depannya itu dan sedikit berbasa-basi.


"Selamat pagi, silahkan masuk!" Tasya yang masih bingung dengan kedatangan pasangan ini ke rumahnya sedikit salah tingkah. Namun akhirnya Tasya dan Dion mempersilahkan keduanya untuk masuk dan duduk di ruang tamu yang mungil tersebut

__ADS_1


"Silahkan duduk" sekarang gantian Dion yang mempersilahkan Daffi dan Nuna untuk duduk di sofa ruang tamu.


Sesaat suasana menjadi canggung setelah empat orang tersebut duduk bersama di sofa ruang tamu.


Bahkan Dion maupun Tasya merasa bingung harus mengawali obrolan dengan kalimat bagaimana.


Daffi mengambil map dari tas yang memang sejak tadi ia bawa,


"Aku mau minta maaf sekaligus mengembalikan semua yang menjadi milik keluargamu" Daffi menyodorkan sebuah map berwarna biru ke atas meja yang ada di hadapan Dion.


Dion dan Tasya saling melempar pandangan tak mengerti,


"Kak Diandra sudah menceritakan semuanya tentang Zhia..." suara Nuna tertahan. Seperti ada kesedihan mendalam yang di tahan oleh ibu hamil tersebut.


Daffi mengusap punggung sang istri untuk memberinya kekuatan sekaligus membuatnya tenang.


Nuna menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Kami sungguh berterima kasih karena kalian berdua sudah merawat putri kami dengan baik" lanjut Nuna tulus, butir bening sudah jatuh di kedua pipi Nuna sekarang.


Tasya tersenyum tipis,


"Zhia gadis yang kuat..." jawab Tasya sambil menerawang dan mengingat kembali semua tentang Zhia.


"Zhia tidak pernah mengeluh dan selalu tertawa riang meskipun merasakan sakit" Dion menyambung kalimat Tasya.


"Kami sudah berusaha mencari keberadaan keluarga Zhia saat itu, kami berharap akan segera menemukan kalian jadi Zhia bisa di sembuhkan..." Tasya mengusap airmata yang jatuh di kedua pipinya.


"...namun ternyata takdir berkata lain. Tuhan lebih sayang pada Zhia. Setidaknya, Zhia tidak perlu merasakan sakit lebih lama lagi" pungkas Tasya mengakhiri ceritanya.


"Kalian juga adalah orang tua angkat yang hebat untuk Zhia. Tidak banyak orang baik seperti kalian. Zhia pasti beruntung karena bisa bertemu dengan kalian berdua yang mau tulus merawat dan menyayangi Zhia" Daffi menatap Dion dan Tasya bergantian.


Sesaat rasa bersalah membuncah di dadanya. Ia nyaris saja menyakiti dua orang baik yang ada di hadapannya ini sekarang.


"Kami sudah menganggap Zhia seperti putri kandung kami. Kami menyayangi Zhia" ucap Dion dengan nada bersungguh-sungguh.


Bagi Dion, Zhia tetaplah putri pertamanya. Selalu begitu dan akan seterusnya begitu.


Tasya beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar. Tak berselang lama, Tasya sudah kembali lagi dan membawa sebuah kotak berwarna merah muda.


Tasya memberikan kotak tersebut pada Nuna.


"Aku pikir kalian lebih berhak menyimpan semua barang-barang milik Zhia" ucap Tasya sebelum akhirnya kembali duduk di samping Dion.


Nuna membuka kotak berukuran besar tersebut. Ada beberapa foto, baju, dan sebuah boneka beruang coklat kesayangan Zhia. Nuna kembali terisak saat memandangi barang-barang milik putrinya tersebut.


"Kami sudah menyumbangkan sebagian barang-barang Zhia. Dan hanya itu yang tersisa. Sengaja kami simpan karena itu semua adalah barang-barang kesayangan Zhia" Dion mencoba menjelaskan.


Daffi dan Nuna mengangguk bersamaan dan tak mampu lagi berkata-kata.


Sejenak suasana kembali hening.


Suara segerombolan anak yang melintas di depan rumah Dion terdengar hingga ke ruang tamu tersebut.


Sesaat Daffi mengedarkan pandangannya ke ruangan yang tak terlalu luas tersebut. Tidak banyak barang di ruangan itu. Hanya ada satu set sofa yang kini mereka duduki dan beberapa bingkai foto yang tergantung di dinding.


Benar-benar rumah yang sederhana namun penuh kehangatan. Berbeda jauh dengan rumah besar Daffi yang kadang terasa sepi apalagi sejak kepergian Zhia dan mami Salma.


"Kami ingin berkunjung ke makam Zhia," ucap Daffi singkat memecah keheningan di ruangan tersebut.


"Kami tidak keberatan mengantar jika memang diijinkan" jawab Dion bersungguh-sungguh.


"Zhia kami makamkan di dekat panti asuhan tempat ia ditemukan pertama kali" Tasya ikut menjelaskan.


Daffi dan Nuna mengangguk bersamaan.


Hari sudah menjelang siang, Nuna dan Daffi akhirnya berpamitan,


"Sekali lagi kami berterima kasih atas ketulusan kalian dalam merawat putri kami Zhia." Ucap Nuna sekali lagi sambil memeluk erat Tasya.


Daffi dan Dion juga saling berpelukan erat.


Setelah berbasa-basi seperlunya, pasangan itu akhirnya meninggalkan rumah Dion dan Tasya.


Sebuah senyuman tersungging di bibir Tasya.


Tasya merasa lega karena akhirnya semua masalah rumit ini sudah berakhir dengan bahagia.


Kini Tasya juga sudah menemukan siapa orang tua Zhia yang sebenarnya dan Tasya sudah bisa memberitahu mereka semua hal tentang Zhia.


Dion merangkul bahu Tasya dan membimbingnya untuk masuk kembali ke dalam rumah. Senyuman tak lepas dari bibir keduanya hari ini.


*****


Hai hai.. adakah yang mampir baca hari ini?


Author mau kasih info aja kalau kisahnya Kezhia dan Kenzo bakalan author angkat jadi sekuel dari "ISTRI KEMBARANKU"

__ADS_1


Untuk cuplikan dari bab nya sudah bisa kalian baca di novel saya "ISTRI KEMBARANKU" bab 42-44.. hari ini sudah saya upload semuanya.


Happy Reading...


__ADS_2