
Tasya sudah menyelesaikan kuliah Diploma nya di kota kecil ini.
Soal beasiswa itu, Tasya sudah mengikuti tahapan demi tahapan tes nya. Dan Tasya pun dinyatakan lolos.
Tasya mendapatkan beasiswa penuh.
Tentu saja ini adalah sebuah kabar baik.
"Jadi, kamu akan benar benar pergi?" Mama Sarla bertanya sekali lagi pada Tasya. Raut kesedihan nampak jelas di wajah mama angkatnya tersebut.
"Tasya akan menyempatkan diri untuk pulang, Ma. Saat liburan" ucap Tasya bersungguh sungguh.
Mama Sarla memeluk Tasya.
"Mama senang pada akhirnya kamu mendapatkan kesempatan bagus ini, Sya. Selalu ada hikmah dibalik semua masalah dan cobaan yang menimpamu selama ini" ucap mama Sarla penuh haru.
"Iya, ma. Tasya sangat bersyukur." Jawab Tasya.
"Bagaimana dengan Dion? Apa kau akan memberitahunya?" Tanya mama Sarla lagi.
Tasya menghela nafas.
"Dion masih fokus pada cita citanya. Tasya tidak ingin mengganggunya, Ma. Lagipula hubungan kami mungkin akan segera berakhir" ucap Tasya lirih.
"Apa maksud kamu? Kalian sedang ada masalah?" Tanya mama Sarla terkejut.
"Tasya rasa, Dion kecewa pada Tasya tentang kehamilan Tasya waktu itu" cerita Tasya sedih.
Selama ini dirinya memang menyembunyikan masalahnya dengan Dion dari mama Sarla.
"Yasudah, kamu yang sabar, Sya. Mama yakin kamu akan mendapatkan pasangan yang terbaik untukmu suatu hari nanti" ucap mama Sarla sambil menepuk lembut punggung Tasya.
Mama Sarla mencoba untuk memberikan semangat pada putri angkatnya tersebut.
Bim bim
Suara klakson mobil terdengar dari depan rumah Tasya.
"Apa kau akan pergi?" Tanya mama Sarla.
"Iya, ma. Tasya pergi bareng Salsa dan kak Ronny. Mungkin nanti pulang agak malam" jawab Tasya menjelaskan.
Ada suatu hal yang harus Tasya selesaikan sebelum ia pergi ke kota lain dan mengejar cita citanya.
"Baiklah, hati-hati" pesan mama Sarla.
Tasya mengangguk dan segera mencium punggung tangan mama Sarla.
Setelah Tasya masuk ke dalam mobil, Ronny segera melajukan mobilnya.
*****
Tasya memandang Dion yang sedang bermain di lapangan dari kejauhan.
Perasaan Tasya saja atau memang hari ini Dion tampak berbeda.
Mungkin karena sudah hampir setahun Tasya tidak berjumpa dengan Dion, mungkin karena Tasya merindukan Dion.
Tim Dion main di game terakhir.
Kompetisi hari ini memang digelar di kota yang tak jauh dari tempat tinggal Tasya. Karena itulah Tasya memutuskan untuk datang menonton.
Tasya akan menyelesaikan semuanya malam ini, saat pertandingan usai.
__ADS_1
"Sya...apa kau yakin?" Salsa terlihat prihatin.
Selama ini hanya Salsa dan Ronny yang tahu semua yang terjadi pada hubungan Tasya dan Dion.
"Aku hanya tidak ingin menjadi beban untuk Dion, Sal. Dion berhak dapat yang terbaik" ucap Tasya datar.
Salsa menghela nafas.
Quarter keempat hampir berakhir.
"Baiklah, mungkin kalian memang perlu bicara berdua.
Aku dan kak Ronny akan menunggumu di mobil." Salsa mengusap punggung tangan Tasya, mencoba memberinya kekuatan.
Suara peluit panjang menandakan bahwa game hari ini sudah berakhir.
Tasya tetap duduk di tempatnya.
Pandangan matanya tak beralih dari sosok Dion yang sekarang masih berdiskusi kecil dengan timnya.
Setelah Dion dan timnya membubarkan diri, bergegas Tasya turun dari atas tribun untuk menghampiri Dion.
Suasana sudah sedikit sepi. Hanya ada satu dua penonton yang masih tinggal.
Julian yang berjalan beriringan dengan Dion, segera menyenggol bahu Dion dan memberi kode tentang kehadiran Tasya.
Dion melihat ke arah yang ditunjuk oleh Julian. Sedikit teekejut saat mendapati Tasya yang sedang berdiri di dekat tribun penonton.
"Gue duluan" pamit Julian sambil berlalu.
Dion berjalan ke arah tribun. Berbagai pertanyaan memenuhi otaknya kini.
"Hai, kau datang?" Dion menyapa Tasya dengan canggung.
Tasya mengendikkan bahu, mencoba untuk tersenyum meskipun hatinya terasa sesak.
"Ya. Ayo kita cari tempat" Dion mengulurkan tangannya pada Tasya.
Tasya segera menyambut uluran tangan Dion yang menggandengnya berjalan keluar dari gedung olahraga tersebut.
Ada pantai yang tak jauh dari gedung tersebut,
Dion membawa Tasya kesana untuk menikmati angin sore yang sepoi sepoi.
Matahari sudah mulai turun. Semburat oranye tampak jelas di garis cakrawala.
Tasya dan Dion duduk di atas hamparan pasir putih
Tasya memejamkan matanya, mencoba menikmati udara sore ini.
Deburan ombak yang bergulung gulung, sesekali menyapu kaki keduanya.
Suasana masih hening, belum ada yang mulai membuka percakapan.
"Kau datang sendirian?" Tanya Dion khawatir.
"Kak Ronny mengantarku. Tapi dia sedang ada urusan. Mungkin sebentar lagi dia akan kembali" ucap Tasya datar.
Tasya masih mencoba mengumpulkan kekuatannya.
Ia harus segera mengakhiri ini semua. Tasya tahu, pasti Dion merasa tidak nyaman sekarang.
Dion menatap jauh ke arah lautan di depannya.
__ADS_1
Ia tak tahu, apa yang akan dibicarakan oleh Tasya.
Sudah lama, Dion tak pernah membalas pesan pesan dari Tasya. Selama ini Dion memang berusaha untuk menghindari Tasya. Dion hanya masih kecewa pada Tasya.
Namun hari ini, tiba tiba saja Tasya muncul di tempat ini.
"Aku akan pergi..." ucap Tasya tertahan. Ia menarik nafas panjang berusaha mengendalikan emosinya. Tasya tak mau menangis saat melakukan ini. Tasya harus kuat dan tegar di hadapan Dion.
Dion mengernyit bingung, namun tak sepatah katapun keluar dari bibirnya.
"Aku tahu, kamu kecewa padaku selama ini. Aku tak ingin lagi menjadi bebanmu, Di. Kamu pantas dapat yang terbaik..." Tasya menghela nafas
"...Sampai kapanpun, aku tak akan pernah pantas buat kamu. Ini semua bukan lagi menjadi tanggung jawabmu. Kau bisa melepaskanku. Kamu tak perlu lagi menjaga ataupun mengkhawatirkanku." Tasya kembali menghela nafas panjang.
Hatinya terasa sesak. Matanya terasa panas, Tasya ingin menangis. Namun ia berusaha keras untuk menahan agar airmatanya tidak jatuh di depan Dion.
Dion masih tetap diam.
Ia bingung harus berkata bagaimana.
Jadi ia putuskan untuk menunggu sampai Tasya menyelesaikan kata katanya.
"Aku akan pergi. Aku tak ingin menjadi bebanmu lagi. Maaf..." Tasya segera beranjak berdiri dan berbalik pergi meninggalkan Dion yang masih berusaha keras mencerna kata kata Tasya barusan.
Airmata Tasya jatuh bercucuran. Ia berjalan secepat mungkin kembali ke gedung olahraga tadi untuk menemui Ronny dan Tasya yang sudah menunggunya.
Hati Tasya terasa sakit, tapi ia tahu ini adalah yang terbaik yang bisa dirinya lakukan.
Tasya tak mau terus terusan membuat Dion kecewa.
Sementara itu, Dion masih terdiam di tempatnya semula. Jika dulu dia akan langsung lari menyusul Tasya, kali ini entahlah. Hati Dion mendadak terasa hambar.
Ia sadar selama setahun terakhir dia yang menggantung status Tasya tanpa sedikitpun memberi kepastian akan hubungan mereka.
Dan hari ini, Tasya yang memilih untuk mengakhiri semuanya. Semakin memperjelas bahwa Dion memang seorang pengecut.
Dion ingin melepaskan Tasya, namun tak bisa ia pungkiri bahwa masih ada sedikit rasa cinta pada Tasya di dalam hati kecilnya.
Namun, saat Dion memilih untuk bertahan, semakin lama hatinya malah semakin sakit apalagi saat mengingat apa yang terjadi diantara Tasya dan Kevin. Belum lagi tentang kehamilan Tasya yang waktu itu.
Entahlah.
Dion benar benar merasa bingung dan dilema.
Namun sore ini, semuanya telah jelas. Dion tak perlu lagi merasa bersalah karena sudah mengabaikan Tasya. Dion tak perlu lagi merasa bersalah karena tidak bisa pulang untuk menemui Tasya.
Dion tak lagi memiliki ikatan dengan Tasya.
Dion beranjak berdiri.
Masih bisa ia lihat sang matahari yang turun melewati garis cakrawala.
Dion berjalan meninggalkan pantai tersebut. Membuang jauh semua bebannya selama ini.
Namun, jauh di sudut hatinya, Dion merasakan sebuah kehampaan.
Seperti ada sesuatu yang sudah hilang dari dalam hatinya.
Rasa bersalah juga tiba tiba membuncah di dadanya.
Apakah dirinya sudah menyakiti hati Tasya?
Dion menggeleng gelengkan kepalanya, dan berusaha membuang jauh perasaan itu.
__ADS_1
Dion ingin melanjutkan hidupnya, menikmati kesendiriannya, dan meraih yang terbaik di karier basketnya saat ini.
Dion akan berusaha melupakan Tasya.