
Egi sedang fokus memeriksa beberapa email yang masuk, saat tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangannya dengan tidak sopan.
Tanpa salam dan tanpa mengetuk, orang tak tahu diri itu langsung saja masuk ke dalam ruangan Egi dan merebahkan dirinya di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Huh... akhirnya aku bisa bernafas lega sekarang. Semua masalah tentang perusahaan Dion sudah selesai aku tangani" ucap Raka sambil memejamkan matanya dan memasang senyuman aneh.
Egi memutar bola matanya dan sedikit mendengus kesal,
"Bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke ruanganku?" Tukas Egi dengan nada galak.
Raka membuka matanya dan menatap tajam ke arah Egi.
"Ini juga ruanganku, boss. Jadi aku rasa aku tak perlu mengetuk pintu" Raka mencari alasan.
Egi berdecak dan tak mau menanggapi lagi karena mendadak ponselnya menyala dan ada pemberitahuan masuk.
Egi membaca serius pesan di ponselnya.
"Ini ruanganmu, bukan begitu?" Tanya Egi tiba-tiba pada Raka yang masih duduk nyaman di sofa.
Raka mengangguk dengan santai.
Egi bangkit dari tempat duduknya.
"Baiklah kalau begitu. Itu artinya kau juga akan menggantikan pekerjaanku hari ini" Egi melemparkan tablet yang sedari tadi ada di tangannya ke arah perut Raka.
Pria itu mengaduh tapi dengan sigap meraih tablet yang di lempar oleh Egi barusan.
"Hei, kau mau kemana?" Tanya Raka sedikit protes.
"Aku akan jalan-jalan sebentar mencari hadiah untuk istriku" jawab Egi santai sambil merapikan kemeja yang ia kenakan.
Raka berdecak tak percaya,
"Oh, ayolah, Gi. Aku baru saja akan bersantai" sekali lagi Raka melayangkan protes.
Egi tersenyum licik,
"Aku akan memberimu cuti dan waktu bersantai sebulan penuh jika kau sungguh-sungguh menikah tahun ini" tukas Egi dengan nada mengejek.
Pria itu sudah membuka pintu dan siap untuk keluar,
"Bagaimana dengan tiket bulan madunya, kau juga yang akan membelikannya?" Tanya Raka dengan cepat.
Egi mengendikkan bahu.
"Ya tentu saja. Jadi bekerjalah dulu hari ini!" Pungkas Egi sebelum akhirnya benar-benar keluar dan meninggalkan ruangan itu.
Raka berdecak sekali lagi.
"Baiklah. Aku akan menagihnya" balas Raka setengah berteriak.
Egi hanya tertawa mendengar jawaban dari Raka. Pria itu terus saja melangkah meninggalkan ruang kerjanya untuk pergi ke mall yang ada di pusat kota.
*****
Dion sedang menemani Tasya jalan-jalan sekaligus berbelanja perlengkapan bayi di mall yang ada di pusat kota.
"Ayo, mampir sebentar ke sini!" Ajak Dion saat melewati toko pakaian dalam wanita.
"Jangan konyol! Aku sudah punya banyak di rumah" tolak Tasya sedikit sebal.
Dion tertawa,
"Kita cari model lain yang pas untukmu. Ayolah, sayang!" Dion sedikit memaksa.
"Apa kau sedang meledekku sekarang?" Tasya bersedekap dan memasang wajah kesal.
Dion tergelak.
Dan wajah Tasya terlihat semakin kesal.
"Baiklah, ampun. Aku minta maaf." Dion menjewer telinganya sendiri dan memasang wajah seimut mungkin membuat Tasya tak tahan untuk tidak ikut tertawa.
"Tapi mungkin kau bisa membelikanku satu gaun malam untuk kupakai malam ini. Ayo!" Tasya menarik Dion masuk ke dalam toko tadi.
Aneh memang, tadi jelas-jelas Tasya menolak tapi sekarang wanita itu malah memaksa masuk ke dalam.
Saat sedang memilih-milih, Tasya tak sengaja melihat Egi yang sepertinya sedang memilih-milih gaun malam juga.
Apa Egi bersama Elena?
Tasya menyenggol lengan Dion untuk memberitahu keberadaan Egi.
Dion yang paham, segera menyapa sahabatnya tersebut.
"Hai, Gi. Sedang berbelanja juga?" Sapa Dion berbasa-basi.
Egi sedikit kaget mendengar Dion yang menyapanya. Pria itu juga jadi salah tingkah apalagi saat tahu ternyata Dion bersama dengan Tasya.
"Apa kau sedang mengantar Elena? Di mana dia?" Tasya ikut-ikutan bertanya.
Egi semakin salah tingkah, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal demi menutupi rasa gugupnya.
"Sebenarnya..."Egi sedikit ragu untuk melanjutkan kalimatnya, tapi mungkin Tasya bisa membantu masalahnya kali ini.
Bukankah Tasya dan Elena adalah teman dekat?
"Sebenarnya aku sedang mencari hadiah untuk Elena, entahlah tapi aku sedikit bingung" ujar Egi sedikit terkekeh.
"Kau bisa minta bantuan Tasya jika bingung. Dia ahlinya dalam memilih pakaian seperti ini" saran Dion ikut terkekeh.
Sontak Tasya langsung memukul lengan suaminya tersebut menggunakan tas tangan yang sedari tadi ia bawa.
Dion mengaduh kesakitan dan Egi hanya menahan tawanya.
"Kau tidak keberatan jika aku meminta saran dari istrimu?" Tanya Egi sedikit ragu.
Dion tertawa renyah,
"Tentu saja tidak, Tasya kan sahabatnya Elena jadi dia pasti paham apa yang disukai oleh Elena" jawab Dion santai.
Tak berselang lama ponsel Dion berbunyi,
"Kevin menelpon, mungkin urusan pekerjaan. Aku akan mengangkatnya sebentar. Kau bisa membantu Egi dulu" ujar Dion sambil berlalu meninggalkan Egi dan Tasya.
Tasya pun membantu Egi memilih hadiah untuk Elena. Sesekali keduanya bersenda gurau saat membahas tentang hadiah mana yang pas untuk Elena.
Dan semua pemandangan itu tak luput dari netra milik Elena.
Tadinya Elena mampir ke toko ini karena melihat ada tawaran diskon yang menggiurkan, namun yang Elena lihat sekarang benar-benar membuat hati Elena sakit dan panas.
Egi dan Tasya sedang tertawa mesra sambil memilih-milih pakaian wanita?
Apa mereka berdua sedang berselingkuh sekarang?
Mendadak atmosfer di sekitar Elena terasa panas. Hati Elena juga ikut panas.
__ADS_1
'Kak Egi itu tidak pernah jatuh cinta pada kak El. Kak Egi itu mencintai Tasya. Dia menikah dengan kak El hanya untuk pelarian cintanya yang tak pernah terbalas pada Tasya'
Mendadak kata-kata Kiki beberapa tahun silam, menari-nari di kepala Elena.
Apa benar selama ini Tasya dan Egi berselingkuh di belakangnya?
Apa benar selama ini Egi memang tidak pernah mencintainya dan hanya menjadikannya sebagai pelarian semata?
Apa benar Egi masih menaruh rasa cinta pada Tasya?
Semua pertanyaan-pertanyaan itu terus saja berkelebat di dalam kepala Elena, hingga tanpa Elena sadari, butir bening itu sudah jatuh di kedua pipinya.
"Kamu jahat, Gi" desis Elena sebelum meninggalkan toko tersebut.
Hati Elena terasa sakit dan terluka sekarang.
Suami dan sahabat baiknya ternyata diam-diam menusuknya dari belakang.
*****
Dion sudah selesai menerima telepon dan kembali masuk ke dalam toko menghampiri Tasya dan Egi yang masih mengobrol.
"Bagaimana? Sudah dapat?" Tanya Dion berbasa-basi.
Egi mengangguk,
"Ya, sudah dapat hadiahnya, sekarang sedang di bungkus" jawab Egi sambil menunjuk ke arah kasir.
"Kau sendiri?" Dion ganti bertanya pada Tasya. Wanita itu langsung menggeleng dengan cepat.
"Aku rasa aku tidak jadi membeli baju saja. Bagaimana kalau kita langsung ke perlengkapan bayi saja" Tasya menggamit lengan Dion dan berbicara dengan nada sedikit merayu.
Dion berdecak.
Perasaannya saja atau sejak hamil Tasya memang suka plin plan seperti ini?
"Baiklah, tuan putri. Apapun itu hamba menurut saja" jawab Dion berlebihan membuat Tasya dan Egi tertawa bersamaan.
"Gi, aku duluan ya. Nurutin tuan putri dulu" pamit Dion pada Egi.
Egi mengangguk,
"Makasih ya. Udah bantuin tadi" jawab Egi tulus.
Dion mengacungkan jempolnya.
Tapi baru berjalan beberapa langkah, Dion kembali berbalik dan menunjuk ke arah Egi,
"Jangan lupa untuk membawa sebuket bunga dan sekotak coklat untuk Elena. Istrimu pasti akan merasa sangat bahagia" Dion memberikan saran kepada Egi yang langsung di sambut oleh senyuman serta sebuah anggukan.
"Terima kasih, sarannya. Di" ujar Egi sambil tersenyum.
"Sukses ya, kencan makan malamnya" tukas Dion sebelum berlalu meninggalkan Egi yang masih menunggu hadiah untuk Elena.
Dion dan Tasya melanjutkan langkah mereka dan masuk ke toko perlengkapan bayi.
"Dasar bucin!" Tasya lagi-lagi memukul lengan besar Dion.
"Bucin, tapi kau suka, kan?" Jawab Dion setengah menggoda.
Tasya hanya mencibir.
"Aku hanya terpaksa saja menikahimu, karena kamu terus-menerus mengejarku" balas Tasya usil.
Dion mencebik,
Sontak Tasya langsung tertawa melihat ekspresi lucu di wajah Dion.
"Sudah cukup, ayo! Banyak yang harus kita beli" sekali lagi Tasya menarik tangan Dion dan mengajaknya menyusuri setiap rak yang ada di toko tersebut.
Hingga hari menjelang sore, Tasya dan Dion baru keluar dari pusat perbelanjaan tersebut dengan tangan yang penuh dengan kantong belanja.
*****
Elena sedang menyiram bunga di taman depan saat mobil Egi memasuki halaman rumah tersebut.
Elena berusaha untuk acuh dan mengabaikan kedatangan suaminya tersebut.
"Sore, sayang" sapa Egi pada Elena. Baru saja Egi akan mencium kening istrinya tersebut, namun Elena sudah mengelak dengan cepat.
Bahkan Elena membanting selang air yang sedari tadi ia pakai untuk menyiram tanaman.
Mata Elena mendelik, menatap tajam ke arah Egi.
"El, ada apa?" Tanya Egi bingung.
Tapi bukannya menjawab, Elena malah langsung berlalu dari hadapan Egi dan masuk ke dalam rumah.
Meninggalkan Egi yang saat ini sedang terbengong-bengong dengan sikap sang istri.
"El, Elena!" Egi berusaha untuk mengejar Elena. Dan kini pria itu sudah berhasil meraih tangan Elena.
"Apa?" Jawab Elena dengan nada ketus. Wajah wanita itu sudah merah padam sekarang menandakan kalau dirinya sedang marah.
"El, ada apa?" Tanya Egi merasa bingung.
Elena mendengus,
"Kenapa kau menikahiku jika memang kau tidak pernah mencintaiku, kenapa tidak menikah saja dengan Tasya?" Sergah Elena berapi-api, seakan sedang melupakan emosi yang membuncah di dadanya.
Egi semakin mengernyit tak mengerti.
Kenapa mendadak Elena membawa-bawa Tasya?
"Sekarang aku mengerti kenapa sejak kemarin kamu antusias sekali membantu mereka. Rupanya kamu masih menyimpan perasaan pada Tasya. Dan bahkan kalian bermain di belakangku. Berbelanja bersama, tertawa bersama. Kamu pikir aku tidak tahu? Aku tahu semuanya" lanjut Elena masih emosi dan menunjuk-nunjuk ke wajah Egi.
"El, kamu salah paham. Aku tidak ada hubungan atau perasaan apapun pada Tasya" Egi mencoba menjelaskan.
"Mana ada orang selingkuh yang mau ngaku" timpal Elena pedas.
Egi berdecak tak percaya.
Sejak kapan istrinya menjadi aneh seperti ini?
Hari ini anniversary pernikahan Egi dan Elena yang ke enam tahun. Dan Elena malah bersikap seperti orang kesetanan seperti ini.
Ada apa sebenarnya?
"El, dengarkan dulu penjelasanku..." belum selesai kalimat yang akan di ucapkan Egi, Elena memotongnya dengan cepat.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan" Elena masuk ke dalam kamar dan membanting pintu dengan kasar.
Egi menghela nafas tak percaya.
Bahkan pria itu mengusap kasar wajahnya berulang-ulang kali.
Enam tahun menikah dengan Elena, baru kali ini Egi mendapatkan murka dari Elena hanya karena alasan yang tidak masuk akal.
__ADS_1
Egi berselingkuh dengan Tasya?
Yang benar saja. Egi bahkan sudah tak punya perasan apapun pada Tasya sejak wanita itu menikah dengan Dion.
"Kak, ada apa?" Teguran dari Kiki sontak membuyarkan semua lamunan Egi.
"Kiki, sejak kapan kamu ada di sini?" Tanya Egi salah tingkah.
"Kiki baru saja datang, dan kak Egi terlihat melamun. Jadi Kiki menegur kakak. Ada apa sebenarnya?" Tanya Kiki khawatir.
Egi menghela nafas dan segera duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
Kiki ikut duduk di samping kakaknya tersebut.
"Elena" ucap Egi lirih. Pria itu kembali mengusap wajahnya.
"Ada apa dengan kak Elena? Bukankah hari ini anniversary pernikahan kalian berdua?" Tanya Kiki semakin bingung.
"Itulah, kakak juga tidak tahu. Kakak baru saja pulang dari kantor dan Elena tiba-tiba sudah marah dan menuduh kakak berselingkuh dengan Tasya. Bukankah itu aneh?" Egi memulai ceritanya.
"Elena juga menyebut-nyebut soal aku yang pernah punya perasaan pada Tasya di masa lalu. Heh, entah darimana Elena mendapat informasi konyol itu" tambah Egi lagi.
Sesaat Kiki terdiam.
Kiki kembali ingat perdebatannya dengan Elena beberapa tahun silam. Waktu itu Kiki memang sempat mengungkit tentang Egi yang pernah menyimpan rasa pada Tasya dan menyebut kalau Elena hanyalah pelarian cinta dari Egi.
Kiki benar-benar merasa bersalah sekarang.
Secara tak langsung ia sudah membuat hubungan Egi dan Elena bermasalah.
"Ki, kok kamu malah ngelamun?" Tegur Egi pada sang adik.
"Eh, enggak kak. Apa kakak bertemu Tasya hari ini?" Tanya Kiki menyelidik.
"Ya, tadi kakak bertemu Tasya dan Dion di pusat perbelanjaan. Mereka membantu kakak memilih hadiah untuk Elena" jawab Egi menjelaskan.
"Mungkin gak sih, tadi kak Elena mergokin kakak lagi berduaan sama Tasya dan mengira kalau kalian ada sesuatu. Bisa saja kan kak El tidak melihat keberadaan Dion. Jadi kak El mengira kalau kalian hanya berdua" Kiki mengemukakan asumsinya.
Egi tampak berpikir sejenak.
Ucapan Kiki mungkin memang ada benarnya.
"Mungkin dugaanmu itu benar, baiklah kakak akan bicara pada El nanti. Saat dia sudah sedikit tenang" putus Egi pada akhirnya.
"Ngomong-ngomong bagaimana kuliahmu" Egi mengalihkan topik pembicaraan. Tangannya terulur untuk merangkul pundak adik kecilnya tersebut.
Rasanya sudah lama ia dan Kiki tidak bicara dengan akrab seperti ini. Pekerjaan seperti menyita semua waktu Egi dan Kiki.
"Hampir selesai. Bulan depan Kiki sudah wisuda. Tinggal nunggu undangan saja" jelas Kiki sedikit tersenyum.
"Secepat itu? Maaf karena Kakak terlalu sibuk di kantor hingga tak banyak waktu untuk bicara denganmu" ucap Egi merasa bersalah.
"Kiki sudah besar, kak. Dan Kiki sangat berterima kasih karena kak Egi dan kak El masih saja membiayai kuliah Kiki kali ini" ucap Kiki tulus.
Egi sungguh tak menyangka jika Kiki sudah bisa bersikap sedewasa sekarang ini.
Masih lekat di benak Egi, beberapa tahun yang lalu Kiki yang masih labil dan sering berdebat dengan Elena hanya karena hal -hal sepele.
Namun sekarang tampaknya mereka berdua sudah akrab dan tidak pernah terlibat percekcokan lagi.
"Apa itu artinya kau juga sudah siap menikah setelah wisuda nanti?" Tanya Egi sedikit terkekeh.
Kiki tak langsung menjawab. Sesaat raut wajahnya berubah sedih.
Kiki masih bingung dengan hati dan perasaannya.
"Entahlah, Kiki belum memikirkan tentang pernikahan" jawab Kiki lesu.
Egi menatap prihatin pada adik semata wayangnya tersebut.
"Apa kamu tidak punya pacar saat ini?" Tanya Egi serius.
Kiki menggeleng,
"Kuliah dan pekerjaan Kiki lumayan menyita waktu, Kak. Kiki tidak ada waktu untuk pacaran" Kiki mencari alasan.
Egi cukup terkejut dengan jawaban Kiki kali ini.
Selama ini Egi pikir Kiki sudah punya pacar atau mungkin calon suami yang siap Kiki kenalkan pada Egi. Namun nyatanya...
"Kak," panggil Kiki lirih.
Egi menatap adiknya tersebut.
"Boleh Kiki tanya sesuatu?" Tanya Kiki sedikit ragu.
Egi mengangguk,
"Ya, tentu. Kau ingin bertanya apa?" Jawab Egi sesantai mungkin.
"jika kita pernah menyakiti hati seseorang apa menurut kakak orang tersebut akan bisa memaafkan kesalahan kita di masa lalu?" Tanya Kiki berusaha merangkai kata dengan baik dan benar.
Egi tampak berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari Kiki.
"Bukankah setiap orang pernah berbuat salah? Kakak rasa jika kita minta maaf dengan tulus dan sepenuh hati, orang yang pernah kita sakiti sekalipun akan bisa memaafkan kita" jawab Egi berusaha bijak.
Kiki menghela nafas,
Meskipun jawaban dari kakaknya terdengar bijak dan mmenyejukkan, tapi tetap saja rasa bersalah di hati Kiki tidak bisa hilang begitu saja.
Andai Kiki bisa memperbaiki semuanya.
"Kiki, kamu sudah dewasa. Kakak rasa sudah satnya kamu memikirkan untuk menikah dan membentuk sebuah keluarga" nasehat Egi sekali lagi.
Kiki hanya diam.
Dalam hati Kiki juga ingin segera menikah.
Hampir semua teman-temannya sudah menikah dan mempunyai anak, hanya Kiki yang sampai saat ini masih betah dengan status lajangnya.
"Kakak tahu, kamu sudah bisa memilih mana pria yang baik untuk masa depan kamu. Kakak tidak akan ikut campur. Itu sepenuhnya adalah hak kamu untuk memilih siapa yang ingin kamu jadikan pendamping hidup" tambah Egi lagi.
Kali ini Kiki mengangguk.
"Kiki akan mulai memikirkannya, Kak" janji Kiki pada sang kakak.
Egi tersenyum, lalu mengacak rambut adik semata wayangnya tersebut.
Egi percaya Kiki akan menemukan pria yang baik untuk masa depannya kelak.
*****
Hai, ada yang mampir baca hari ini?
Cuma mau mengingatkan kalau ini hari Minggu dan sudah waktunya "CEO CANTIK" update.
Jadi jangan lupa untuk mampir ke sana dan baca kisah Mia yang semakin menyebalkan.
__ADS_1
Happy Reading