Natasya

Natasya
Memberi Jawaban


__ADS_3

Tasya masuk ke dalam gedung olahraga itu sendirian.


Quarter kedua baru saja berakhir.


Tasya datang terlambat karena kelas terakhir yang dia ikuti baru saja selesai.


Tasya mengedarkan pandangannya, mencari posisi yang pas untuk dia duduk dan yang masih kosong tentu saja.


Courtside sudah penuh, jadi Tasya memutuskan untuk duduk saja di tribun.


Pandangannya langsung mengarah ke bench dari tim Dion.


Tasya mengernyit heran, penampilan Dion tak seperti biasanya. Pria itu terlihat kacau dan berantakan.


Ada apa sebenarnya?


Tasya masih bingung dengan sikap dingin Dion kemarin, dan sekarang Tasya dibuat semakin bingung.


Quarter ketiga sudah dimulai.


Pandangan Tasya tak lepas dari Dion yang bermain lumayan kacau hari ini.


Meskipun kacau, namun tim Dion masih unggul sejauh ini.


Tasya sungguh tak mengerti.


Ada apa dengan Dion?


Tasya,bahkan belum memberikan jawaban apapun, tapi kenapa Dion mendadak sudah seperti ini?


Di seri sebelumnya, penampilan Dion masih baik-baik saja.


Apa Dion tertekan karena Tasya yang tak kunjung memberikan jawaban?


Peluit panjang tanda pertandingan berakhir membuyarkan semua lamunan Tasya.


Para pemain sudah kembali ke bench masing masing.


Tim Dion berhasil menang tipis.


Samar-samar masih bisa Tasya dengar keluh kesah dari para penonton yang menyayangkan permainan Dion hari ini.


Benar-benar bukan Dion yang biasanya.


Tasya menghela nafas, sedikit merasa bersalah karena secara tak langsung dirinya yang mungkin sudah membuat Dion menjadi kacau seperti saat ini.


Tasya masih duduk diam di tempatnya semula.


Perlahan, suasana di dalam gedung olahraga mulai terasa lengang.


Para pemain juga sudah meninggalkan lapangan. Tasya masih duduk termenung.


Tasya masih menunggu...


*****


Julian yang baru selesai membersihkan diri dan mengganti bajunya, segera membuka ponsel yang sedari tadi ia abaikan.


Benar-benar permainan yang kacau. Beberapa kali Julian dengar, sang pelatih yang marah pada Dion karena pria itu yang bermain semaunya sendiri dan tak mengikuti arahan sang pelatih.

__ADS_1


Julian melihat Dion yang masih duduk termenung di sudut ruang ganti.


Julian menghela nafas, Dion tak pernah se kacau ini sebelumnya.


Bahkan saat Tasya pamit pergi dan mengakhiri hubungan mereka, Dion masih bersikap profesional dan tak mempengaruhi performanya.


Tapi hari ini...


Entahlah, Julian benar-benar tak habis pikir pada sahabatnya tersebut.


Julian mengecek satu persatu pesan yang masuk di ponselnya.


Hingga ada satu pesan dari sebuah nomor baru yang membuat Julian mengernyitkan dahi.


[Hai, Ju. Aku Tasya. Bisa sampaikan ke Dion aku menunggunya di tribun sekarang. Aku ingin bicara hal penting]


Demikian bunyi pesan itu.


Bergegas Julian menghampiri Dion dan menunjukkan pesan dari Tasya tersebut.


Dion hanya berekspresi datar saat membaca pesan dari Tasya.


Entahlah...


Sepertinya pria itu sudah putus asa.


"Apa menurutmu dia menemuiku karena akan memberikan undangan pernikahannya?" Tanya Dion pada Julian dengan melantur.


Julian berdecak,


"Bagaimana aku bisa tahu?" Julian malah balik bertanya.


"Mungkin sebaiknya aku tidak usah menemuinya" jawab Dion putus asa.


"Kau bisa menemuinya dan mengatakan kalau aku sedang tidak enak badan" usul Dion berusaha acuh.


"Temui dia, dan selesaikan semuanya, Di. Berhenti jadi pria pengecut" ucap Julian tegas dengan nada setengah berteriak.


Dion menghela nafas,


Julian benar. Dion tak bisa terus-terusan jadi pengecut dan lari dari semuanya.


Ia harus menghadapi ini.


Dion beranjak berdiri dan mendorong Julian dengan kasar.


Dion berjalan menuju ke arah court yang sudah sepi.


Dion melihat Tasya yang duduk sendirian di atas tribun.


Sedikit ragu, Dion melangkahkan kakinya dan naik ke atas tribun untuk menghampiri Tasya.


Dion memilih untuk duduk di barisan yang ada di depan Tasya.


Entahlah, Dion masih enggan duduk berdampingan dengan Tasya.


"Dion, terimakasih sudah datang, aku..." Tasya tak jadi melanjutkan kata-katanya karena Dion sudah memotong ucapan Tasya.


"Aku sudah tahu." Potong Dion ketus

__ADS_1


Tasya mengernyit bingung. Ia bahkan belum berkata apapun, kenapa Dion sudah ketus begini?


"Kau sudah menemukan pria lain dan kau menolak untuk memperbaiki hubungan diantara kita, bukan begitu?" Ucap Dion dingin.


Tasya hanya diam. Ia masih mencoba untuk mencerna kata-kata Dion barusan. Tasya bingung, kenapa mendadak Dion berasumsi seperti itu?


"Aku tak mengerti" ucap Tasya sambil mengernyit bingung.


"Pria yang kemarin mengantarmu pulang, bukankah itu pacar barumu? Aku tak menyangka, kamu akan move on secepat itu" jawab Dion dengan nada kecewa.


Sejenak Tasya ingat kejadian kemarin siang saat Dion bersikap dingin kepadanya di rumah tante Desi.


Saat itu Tasya memang baru pulang dan dia memang di antar oleh... kak Egi?


"Jika yang kamu maksud adalah kak Egi, aku tidak ada hubungan apapun dengannya" jawab Tasya tegas.


"Aku tidak peduli siapa namanya dan siapa dia. Yang jelas kau tak perlu menyangkalnya jika memang kau sudah benar-benar move on" Dion berbalik dan menatap tajam ke arah Tasya.


Gadis itu berdecak, mendadak hatinya merasa kesal.


"Kak Egi memang menyatakan perasaannya padaku kemarin, namun aku menolaknya dengan tegas, karena aku pikir ada seseorang yang sedang menungguku," Tasya menghela nafas sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Seseorang yang dulu pernah berjanji akan selalu menjagaku dan selalu ada untukku, seseorang yang selama beberapa tahun terakhir berusaha aku hindari dan aku lupakan, namun ia selalu saja hadir di setiap mimpiku, seseorang yang..." Tasya tak sanggup lagi melanjutkan kata katanya. Airmatanya sudah jatuh di kedua pipinya.


"Kemarin kau bilang ingin memperbaiki semuanya, kau juga bilang akan menunggu sampai aku memberi jawaban, tapi sekarang... kau memilih menarik kesimpulanmu sendiri.


Aku pikir kau sudah dewasa namun ternyata..." Tasya sejenak terdiam. Raut kekecewaan tampak jelas di wajahnya. Airmatanya sudah jatuh bercucuran, entah karena kecewa atau hal lain.


"Kau masih saja seperti dulu, belum berpikir dewasa dan tidak mau mendengarkan orang lain. Kau selalu menyimpulkan semuanya sendiri tanpa mau bertanya atau mendengarkan pendapat orang lain." Tasya menangis sesenggukan.


Dion masih diam mematung.


Tasya benar, Dion tak pernah berpikir dewasa.


"Tadinya aku ingin menerima penawaranmu untuk memperbaiki semuanya dan memulai lagi dari awal. Namun melihat sikapmu yang sekarang aku benar-benar kecewa" Tasya beranjak dari duduknya dan sudah berbalik untuk pergi, namun Dion segera menarik tangan gadis itu dan mencegahnya pergi.


"Maaf..." hanya kata itu yang sanggup Dion ucapkan. Mendadak lidahnya terasa kelu.


Dion mendekat dan segera memeluk Tasya.


"Jangan pergi lagi, Nat. Aku sayang sama kamu. Aku sungguh minta maaf atas sikapku selama ini" ucap Dion memelas.


Dion sungguh menyesal karena lagi lagi dirinya sudah bersikap buruk pada Tasya


Tasya tak menjawab. Ia masih menangis sesenggukan di pelukan Dion


"Seharusnya aku tak membiarkanmu pergi saat itu. Seharusnya aku tetap menjagamu dan menerimamu apa adanya" ucap Dion penuh penyesalan.


Tasya melepaskan pelukan Dion. Gadis itu menggeleng.


"Seharusnya aku juga jujur kepadamu saat itu. Kita saling salah paham dan akhirnya semuanya jadi berantakan begini" tutur Tasya sesenggukan.


Dion menangkup wajah Tasya dengan kedua tangannya.


"Kita akan memperbaiki semuanya, melupakan semua hal buruk yang pernah terjadi dan memulai lagi dari awal" ucap Dion bersungguh sungguh sambil menatap dalam pada netra milik Tasya.


Tasya mengangguk mantap. Gadis itu langsung menghambur lagi ke pelukan Dion.


Langit di luar gedung olahraga perlahan berubah menjadi hitam, menandakan hari sudah beranjak malam.

__ADS_1


Dion menggandeng Tasya keluar dari gedung olahraga tersebut.


Tak ada lagi kesalah pahaman, kini hanya ada senyuman di bibir keduanya.


__ADS_2