
Seorang gadis berkacamata yang terlihat lugu merasa kebingungan saat Rizky membawanya ke sebuah ruangan yang ada di sekolah tersebut.
Gadis itu tidak seperti gadis pada umumnya. Penampilannya sedikit culun memakai kacamata dengan frame tebal dan rambutnya yang di kuncir dua ala gadis desa semakin memperlihatkan kecupuannya.
Rizky membawa gadis itu ke sebuah ruangan yang ada di balik gudang sekolah.
Ya, tak banyak yang tahu kalau ruangan itu masih berfungsi dengan baik.
Letaknya yang berada di pojokan membuat ruangan itu jarang di kunjungi.
Itulah ruangan tempat berkumpulnya tim basket sekolah itu.
Ruangan yang memang hanya diketahui oleh beberapa siswa saja. Tak ada yang berani masuk sembarangan ke dalamnya.
"Ada apa ini?" Tanya gadis itu kebingungan.
Dion yang sedari tadi sudah menunggu di dalam ruangan segera menghampiri gadis itu.
"Gak usah pura-pura polos, Rara" ucap Dion ketus.
Ia menarik paksa kacamata yang dipake gadis itu.
Dion tahu siapa sesungguhnya gadis di depannya ini.
Gadis yang dulu pernah di bully satu sekolah karena terang-terangan menyatakan perasaannya pada Kevin.
Dan Kevin langsung menolaknya mentah-mentah.
Gadis yang entah apa alasannya begitu tergila-gila dengan Kevin, hingga siapapun yang dia ketahui dekat dengan Kevin, akan langsung ia sakiti dengan semena-mena.
Dan agar demi tetap diterima di sekolah ini, gadis sadis yang berpura-pura polos ini menyamar menjadi gadis lugu, polos, berkacamata tebal dan berpenampilan culun.
Tapi tetap saja, hati gadis di depannya ini masih sejahat dulu. Tak pernah berubah.
"Apa urusan, loe?" Sahut Rara galak.
"Loe, kalo ada masalah sama Silvi atau Kevin selesaikan dengan mereka berdua. Jangan menyakiti orang lain hanya karena dia dekat dengan Silvi dan Kevin" ucap Dion tak kalah galaknya.
"Oh, jadi sekarang loe mo jadi pahlawan buat anak baru yang sok keganjenan itu?" Ucap Rara sinis
Dion melayangkan tangannya dan sudah akan menampar Rara.
Tapi Dion mengurungkan niatnya.
Dia bukan cowok pengecut yang suka memukuli wanita.
"Tasya gadis baik-baik. Jadi jaga ucapanmu itu" ucap Dion sambil menunjuk ke wajah Rara.
"Inget ya, masalah loe tu sama Silvi dan Kevin. Jadi jangan coba-coba buat nyakitin Tasya lagi.
Kalo gue tahu loe nyakitin Tasya lagi, gue jamin loe bakal dikeluarin dari sekolah ini" Ancam Dion.
Rara hanya berdecak.
"Cih! Loe pikir gue takut?" ucap Rara santai sambil pergi meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Dion membiarkannya pergi kali ini.
Tapi Dion tetap akan terus mengawasinya.
*****
Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa waktu yang lalu.
Beberapa murid masih tampak bergerombol di depan kelas masing-masing.
Dion dan tim nya sudah berkumpul di lapangan.
Mereka akan berlatih siang ini.
"Gue gak nyangka kalo pelakunya gadis cupu dan lugu itu" Julian membuka obrolan. Masih membahas seputar Rara.
Sungguh merupakan topik yang hangat di antara tim basket itu.
"Lugu? Tampangnya aja lugu hatinya jahat sekali"ujar Rizky sedikit kesal.
"Intinya, jangan menilai orang hanya dari tampang dan penampilannya" timpal Bagas sok bijak.
Dion dan yang lainnya hanya manggut-manggut mendengar kata-kata mutiara dari Bagas.
*****
Tasya, Silvi, Salsa, dan Vina baru keluar dari kelas.
Sedikit terlambat karena mereka harus melaksanakan piket membersihkan kelas terlebih dahulu.
Seharusnya mereka datang pagi keesokan harinya untuk membersihkan ruang kelas sebelum anak-anak yang lain datang. Namun karena tidak yakin bisa datang pagi-pagi mereka memutuskan untuk mengerjakannya hari ini agar besok bisa bersantai.
"Jadi gimana, Sya. Kelanjutan hubunganmu sama kak Kevin?" Silvi membuka obrolan
"Hah?" Tasya tampak kebingungan.
Tentu saja Tasya bingung.
Ia merasa tak punya perasaan apapun pada Kak Kevin.
Bagaimana mungkin teman temannya ini mengira Tasya bakal jadian sama kak Kevin.
"Yaelah, dia pura pura polos. Kak Kevin naksir sama loe, Sya" Vina memperjelas pertanyaan dari Silvi barusan.
Salsa yang merasa teman temannya terlalu ribut dan berisik, memilih untuk menyumpal telinganya menggunakan headset.
"Trus? Gue gak ada apa-apa sama kak Kevin" jawab Tasya polos.
"Yakin? Kak Kevin ganteng lho" Silvi menaik turunkan alisnya.
Entahlah Tasya tetap tak paham arah pembicaraan dua sahabatnya itu.
Jadi Tasya memilih menggeleng saja.
"Gue mau fokus sekolah aja. Gak mau mikirin pacar" ucap Tasya diplomatis.
__ADS_1
Silvi dan Vina memilih untuk tak melanjutkan perkataan mereka.
Sedikit rasa kecewa karena tadinya mereka berdua ingin nyomblangin Tasya dan kak Kevin.
*****
Sementara itu di lapangan basket,
Kevin sedikit tergesa berjalan mendekati Dion.
"Di, loe disuruh pulang sama papa" ucap Kevin dengan nada selembut mungkin.
Dion acuh saja terhadap perkataan Kevin.
"Di, gue lagi ngomong sama loe." ucap Kevin dengan nada yang lebih tinggi karena merasa diabaikan oleh Dion.
"Berisik loe. Gue pasti pulang" ucap Dion ketus.
Kevin menarik nafas panjang mencoba mengumpulkan kesabarannya.
Selalu begini kalau dirinya berbicara dengan Dion.
Nada ketus dan sedikit kasar yang selalu Dion lontarkan.
Sangat berbeda saat Dion berkumpul bersama tim basketnya. Dion akan menjadi sosok yang mudah tertawa dan selalu bercanda.
Kevin tak pernah mengerti kenapa selalu seperti ini.
Keempat teman Dion memilih untuk menjauh ke pinggir lapangan.
Memberi ruang pada kakak beradik itu agar bisa leluasa berbicara.
"Di, papa khawatir sama loe.
Loe itu masih tanggung jawabnya papa. Jadi jangan kelayapan sesuka hati kayak gini" nasehat Kevin.
Dion mendengus kesal.
"Gue gak kelayapan. Gue nginep di rumah tante gue apa itu salah?" Ucap Dion dengan nada lumayan tinggi.
Tasya, Silvi, Vina, dan Salsa yang sedang berjalan di koridor pinggir lapangan mendadak menghentikan langkah mereka karena mendengar Dion yang sepertinya sedang berseteru dengan Kevin di tengah lapangan basket.
"Terserah loe deh. Gue cuma nyampein pesan dari papa" ucap Kevin pada akhirnya.
Ia merasa malas jika harus ribut dengan adik tirinya tersebut.
Kevin berlalu meninggalkan Dion yang masih emosi.
Silvi menghentakkan kakinya ke lantai.
"Selalu begitu. Tu orang gak bisa apa kalau gak ketus begitu sama saudaranya" Silvi menggerutu.
"Gue juga heran. Mereka saudaraan tapi sifatnya beda jauh. Kevin yang kalem dan penyabar beda banget sama Dion yang galak dan ketus begitu" Vina menimpali.
Tasya sedikit terkejut dengan ucapan Vina barusan.
__ADS_1
"Hah, Dion sama kak Kevin saudaraan?" Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Tasya.