
Dion baru saja tiba di rumahnya.
Sudah beberapa bulan berlalu sejak kepulangannya yang terakhir.
Mama Wina terlihat sedang berbincang dengan seseorang yang tak Dion kenal di ruang tengah.
Tadinya Dion tak ingin mengganggu, namun mama Wina yang melihat Dion datang, segera beranjak untuk menyambut Dion.
"Dion, mama senang kamu akhirnya pulang" mama Wina memeluk erat Dion.
"Mama apa kabar?" Tanya Dion berbasa-basi.
"Mama sehat. Kamu sendiri bagaimana? Ayo duduk" mama Wina membimbing Dion untuk ikut duduk di sofa bersama dengan tamu yang tadi berbincang dengannya.
Dion menurut saja.
Mama Wina melanjutkan obrolannya bersama tamunya tadi, sepertinya mereka tengah membahas tentang pernikahan.
Pandangan Dion tertuju pada setumpuk undangan berwarna biru, yang kini berada di meja kecil di samping sofa.
Dion mengambil salah satu undangan tersebut, lalu membukanya.
Dion terkejut saat membaca kedua nama yang ada di dalam undangan tersebut.
'Bagaimana bisa?' Gumam Dion tak percaya.
Tamu mama Wina tadi, sepertinya sudah selesai dengan urusannya. Tampak ia beranjak dan berpamitan pada mama Wina.
Bergegas mama Wina mengantarnya hingga ke pintu depan.
Dion masih duduk di sofa sambil memegang undangan tadi.
Dion masih tak percaya kalau semua akan secepat ini.
"Kevin dan Vira akan menikah bulan depan, Di" mama Wina rupanya sudah kembali.
Ia duduk lagi di sofa di samping Dion.
"Mama harap kamu mau memaafkan Kevin dan melupakan semuanya. Bagaimanapun juga kalian adalah saudara" mama Wina sedikit memohon.
Ia mengelus lembut punggung tangan Dion.
Dion menghela nafas,
"Dion tak tahu kalau Kevin ternyata menjalin hubungan dengan Vira" ujar Dion masih sedikit bingung.
__ADS_1
"Mama juga gak tahu. Tapi kata Kevin, saat dirinya ditahan Vira sering datang menjenguknya. Lagipula Vira adalah putri kandung dari Sarla, teman baik mama. Jadi menurut mama gak ada salahnya mama membiarkan mereka untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius" ujar mama Wina panjang lebar.
Dion masih tak menjawab,
"Ma, bagaimana? Sudah ketemu sama WO nya?" Suara Kevin yang baru datang membuat mama Sarla dan Dion menoleh berbarengan.
Kevin yang sepertinya baru pulang dari kantor. Masih mengenakan setelan jas lengkap dan sebuah tas di tangannya.
Kevin sedikit terkejut mendapati Dion yang sedang duduk di samping mama Wina.
"Mama sudah bicara tadi" mama Wina menjawab pertanyaan dari Kevin barusan dan mencoba mencairkan suasana yang mendadak menjadi tegang.
Dion beranjak dari duduknya. Ia berdiri dan berjalan perlahan menghampiri Kevin.
Tatapan tajam keduanya bertemu.
"Hai, Kev. Selamat ya atas kabar bahagia ini. Aku ikut senang jika akhirnya kamu akan menikah dengan Vira" Dion mengulurkan tangannya, namun matanya masih menatap tajam ke arah Kevin.
Kevin sedikit ragu, namun akhirnya ia menyambut uluran tangan dari Dion.
"Terima kasih, Di" jawab Kevin singkat.
"Apa Tasya juga sudah tahu tentang kabar ini?" Tanya Dion lagi.
Kevin mengendikkan bahu,
Dion mengangguk,
Ia pun beralih menghampiri mama Wina.
"Dion akan ke kamar dulu, ma. Dion lelah" Dion berpamitan pada sang mama.
Mama Wina mengangguk sambil tersenyum.
Dion segera mengambil tasnya dan bergegas naik ke lantai atas untuk segera masuk ke dalam kamarnya.
"Duduklah, Kev. Mama mau bicara" ucap mama Wina pada Kevin yang masih berdiri mematung.
Kevin segera melepas jasnya dan duduk bersama mama Wina.
"Ada apa, ma?" Tanya Kevin bingung.
Mama Wina menarik nafas panjang sebelum mulai berbicara.
"Apa kamu tidak ingin memperbaiki hubunganmu dengan Dion sebelum kamu menikah bulan depan?" Tanya mama Wina serius.
__ADS_1
Kevin berdecak.
"Kevin sudah berusaha, ma. Tapi mama lihat sendiri bagaimana cara Dion memandang Kevin? Dion masih sangat membenci Kevin" jawab Kevin emosi.
Mama Wina menghela nafas,
Ia mengelus lembut punggung anak lelakinya tersebut. Berusaha meredam emosi Kevin.
"Teruslah berusaha. Bagaimanapun juga kalian adalah saudara. Serumit apapun masalah diantara kalian berdua, mama gak mau kalian jadi musuhan begini" ucap mama Wina lembut.
Kevin mengangguk samar. Mama Wina benar, Kevin harus terus berusaha memperbaiki ini semua.
Dulu, dirinya sendiri lah yang membuat hubungannya dengan Dion memburuk.
"Baiklah, Ma. Nanti Kevin akan coba bicara lagi pada Dion" ucap Kevin akhirnya.
Sebuah senyuman langsung tersungging di bibir mama Wina.
"Mandi dan istirahatlah" ujar mama Wina selanjutnya.
Kevin mengangguk dan segera beranjak menuju ke kamarnya.
*****
Dion sedang bermain sendiri di lapangan basket yang ada di roof top rumah nya.
Kevin yang baru saja naik, hanya melihat saudara nya tersebut yang sangat lihai memainkan bola.
Sepertinya Dion belum menyadari kehadiran Kevin di tempat itu.
Kevin mengambil salah satu bola yang ada di pinggir lapangan, mendriblenya ke tengah lapangan, lalu melemparkannya ke dalam ring.
Masuk
Dion yang akhirnya menyadari kehadiran Kevin, segera menghentikan permainannya dan melihat Kevin yang kini ikut asyik memainkan bola.
"Lemparan yang bagus" puji Dion.
Kevin tersenyum simpul.
"Tidak pernah sebagus permainanmu" Kevin merendah.
"Kau hanya perlu lebih banyak berlatih, dan mungkin kau bisa jadi pemain profesional lalu mengalahkanku" ucap Dion sambil terkekeh.
Dion melemparkan bola pada Kevin, memberi kode pada saudaranya tersebut agar bermain bersama.
__ADS_1
Kevin seperti mengerti, ia pun segera menangkap bola dari Dion dan mendriblenya.
Kedua saudara itupun asyik bermain basket bersama hingga matahari turun di garis cakrawala.