Natasya

Natasya
SEASON KEDUA : Izin Praktek


__ADS_3

Dion dan Tasya baru saja menikmati menu makan malam yang tadi mereka pesan.


Vian sudah kembli dari urusannya.


"Hai, gimana menunya?" Tanya Vian yang langsung duduk di kursi kosong di depan Dion dan Tasya.


"Enak, apalagi gratis makin enak lah, Vi" jawab Dion sambil terkekeh.


Tasya memilih untuk fokus menikmati makanannya dan membiarkan dua pria itu saja yang berbicara.


"Aku akan keluar sebentar. Kalian tidak buru-buru pulang, Kan?" Tanya Vian lagi.


"Mau kemana memang?" Tanya Dion kepo.


"Adalah. Nanti kalian juga tahu. Aku kembali sebentar lagi. Bye!" Pamit Vian sambil berlalu dan keluar dari pintu utama resto tersebut.


Dion hanya mengendikan bahu dan lanjut menikmati makanan yang ada di piringnya.


Dan benar saja, tak berselang lama Vian sudah kembali bersama seorang wanita.


Dion dan Tasya sendiri sudah selesai menikmati makan malam gratis mereka.


Vian mengajak wanita tadi duduk bergabung bersama Dion dan Tasya.


"Hai, Rena" Dion menyapa wanita yang tadi di bawa Vian yang ternyata adalah Rena, calon istri Vian.


Tapi bagaimana Dion bisa tahu?


"Hai, Di. Bagaimana kabarmu?" Rena membalas sapaan dari Dion.


"Baik, kenalkan ini istri aku, namanya Tasya" Dion merangkul pundak Tasya dan memperkenalkannya pada Rena.


Dua wanita itupun saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing.


"Kalian sudah saling mengenal?" Tanya Tasya heran.


"Kami dulu teman kuliah, Sya" Rena yang menjawab pertanyaan dari Tasya.


Dan Tasya hanya mengangguk sambil tersenyum


"Kata Vian kalian pindah ke kota ini sekarang?" Tanya Rena lagi.


Dion mengangguk,


"Ya. Aku sudah pensiun bermain basket, jadi tidak ada lagi alasan untuk tetap tinggal di kota metropolitan itu" jawab Dion sambil terkekeh.


Rena menyesap minuman yang baru saja di sajikan oleh seorang pelayan. Lalu mengedarkan pandangannya ke sudut lain dari resto milik calon suaminya tersebut.


Matanya menangkap Elena dan Egi yang sepertinya sedang berbincang dengan bevetapa orang di meja tak jauh dari tempat duduk Rena.


"Yang, bukannya itu Elena?" Rena menunjukkan pada Vian meja yang kini di tempati oleh Elena, Egi, dan dua orang asing.


Vian menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Rena.


"Ya, itu memang El, mereka sedang bertemu kliennya Egi" jawab Vian menjelaskan.


"Tadi mereka juga menyapa kami" tambah Tasya ikut menimpali.


"Kau dekat juga dengan Elena?" Tanya Rena tak percaya.


Tasya mengangguk,


"Ya, bisa dibilang kami sahabatan" jawab Tasya


"Mereka sama-sama dokter, Yang. Jadi akrab" ujar Vian menambahkan. Tangan Vian terulur untuk merangkul pundak Rena.


"Oh" hanya itu yang keluar dari bibir Rena.


Selang beberapa saat, Elena dan Egi sudah selesai dengan acara mereka.


Saat melewati meja Dion dan Tasya, mereka terkejut karena mendapati Vian dan Rena yang juga sudah berada di sana.


"Wah... wah. Lagi ghibah atau lagi kumpul keluarga ini?" Ucap Elena sambil menyapa satu persatu orang yang ada di meja tersebut.


"Sembarangan kamu, El. Kumpul sini. Kita ghibah bareng-bareng" jawab Vian yang membuat semua yang ada di meja itu tertawa.


Egi menarik dua kursi dari meja sebelah yang sudah kosong untuk Elena dan dirinya duduk.

__ADS_1


Kini enam orang itu sudah berkumpul di satu meja. Seorang pelayan kembali mengantarkan minuman dan camilan untuk mereka berenam.


Dan mereka pun melanjutkan obrolan hingga hari beranjak malam.


Dion dan Tasya merasa senang dan beruntung. Karena meskipun mereka baru saja pindah ke kota ini, mereka sudah mendapatkan banyak sahabat yang terasa seperti saudara.


Mereka dikelilingi oleh orang-orang baik di tempat yang baru ini.


*****


Di Rumah Sakit,


Tasya yang di dampingi oleh Dion masih duduk di ruang tunggu poli kandungan.


Sejak kemarin, Dion dan Tasya sudah menempati rumah baru mereka yang tak jauh dari rumah sakit ini.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya nama Tasya di panggil.


Bergegas Tasya masuk ke dalam ruang periksa diikuti oleh Dion.


Ada Elena di dalam yang memang sedang praktek hari ini.


"Hai, selamat pagi" sapa Elena sambil melemparkan senyuman hangat pada kedua sahabatnya tersebut.


"Pagi, El" Tasya membalas sapaan dari Elena.


Ia dan Dion segera duduk di kursi yang ada di depan Elena.


Tasya mengangsurkan map yang dulu dititipkan olrh Dokter Ina pada Elena.


Elena membaca sejenak isi dari map tersebut, sebelum mulai memeriksa Tasya.


"Ada keluhan?" Tanya Elena selanjutnya.


"Tidak ada sejauh ini. Hanya saja badanku terasa lebih berat." Jawab Tasya sedikit terkekeh. Elena ikut terkekeh.


"Wajarlah, Sya. Kamu hamil bayi kembar. Bisa aja kamu bercandanya" Elena sudah beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang USG.


Tasya dan Dion mengikuti Elena.


Seperti sudah hafal, Tasya segera naik keatas ranjang dan berbaring.


"Dokter Ina belum memberitahu kemarin" jawab Tasya.


"Apa kami bisa mengetahuinya sekarang?" Tanya Dion tak sabar.


Elena tersenyum,


"Ya..." Elena memperhatikan layar monitor sekali lagi,


"Satu laki-laki satu perempuan. Selamat untuk kalian berdua" ucap Elena tersenyum lebar.


Saat itu juga mata Dion berbinar menatap ke arah monitor. Melihat bagaimana dua makhluk kecil itu bergerak-gerak di dalam rahim Tasya.


Dion sungguh tak sabar untuk segera bertemu dengan mereka beberapa bulan lagi.


"Dokter Elena" sebuah suara terdengar dari arah pintu masuk ruang praktek.


Elena yang sudah selesai memeriksa Tasya segera ke depan untuk melihat siapa yang memanggilnya.


Dion membantu Tasya bangun dan mereka ikut ke depan menyusul Elena.


"Dok, ada pasien rawat inap yang memaksa untuk bertemu dengan dokter anak" ujar seorang perawat yang tadi memanggil Elena.


"Dokter anak baru datang nanti sore. Apa kamu tidak menjelaskannya?" Jawab Elena


"Sudah, tapi mereka memaksa bertemu sekarang" kata perawat itu lagi.


Elena berdecak,


Jabatan baru Elena di rumah sakit ini terkadang membuatnya harus memikirkan hal-hal kecil seperti ini.


"Baiklah, aku urus itu nanti. Aku masih ada beberapa pasien lagi" jawab Elena akhirnya.


Perawat itu pun mengangguk dan pamit keluar.


Tasya dan Dion sudah duduk di depan Elena. Melihat Elena yang sepertinya sedang memikirkan banyak hal membuat Tasya tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

__ADS_1


"Apa ada masalah?" Tanya Tasya ingin tahu.


Elena mengendikkan bahu,


"Ya. Sebenarnya kami sedang kekurangan dokter spesialis anak di sini karena dua orang dokter spesialis anak mendadak harus ikut seminar dan pelatihan di luar kota sebulan ke depan." Jelas Elena panjang lebar.


"Apa aku bisa membantu?" Mendadak jiwa penolong Tasya meronta. Bukankah Tasya seorang dokter spesialis anak?


"Nat, kamu sedang hamil. Aku tidak mau kamu kelelahan" Dion langsung saja melayangkan protes.


"Hanya untuk satu bulan, Di. Lagipula aku sedikit jenuh karena tidak ada kegiatan di rumah" Tasya mencoba memberikan alasan.


"Lebih tepatnya tiga minggu. Para dokter baru akan kembali tiga minggu lagi" Elena mengkoreksi.


"Tidak," Dion masih pada pendiriannya.


"Ayolah, sayang. Aku sudah sehat belakangan ini dan tidak pernah mual muntah lagi" Tasya masih berusaha membujuk Dion.


Elena menahan senyum.


Sepertinya perdebatan di antara Tasya dan Dion tidak akan berakhir dalam waktu dekat.


"Baiklah, Sya. Kondisimu baik sekarang. Kedua janinmu juga sehat dan tumbuh normal. Kau bisa kembali dua minggu lagi" ujar Elena menengahi perdebatan di antara Dion dan Tasya.


"El, aku tak keberatan menggantikan dokter anak yang sedang cuti" sergah Tasya cepat pada Elena.


Dion berdecak tak percaya.


"Nat..." ucapan Dion tertahan karena Tasya langsung mengangkat tangannya dan memberi kode pada Dion agar tidak ikut campur


Elena bingung harus menjawab bagaimana.


"Baiklah aku akan bicara pada direktur rumah sakit. Aku akan menghubungimu nanti" jawab Elena pada akhirnya.


Semoga Dion tidak marah dengan Elena yang mendukung keputusan Tasya ini.


"Baiklah, kami pulang dulu, El. Selamat pagi" pamit Tasya dengan wajah girang.


Dion yang sedikit kesal akhirnya ikut berpamitan pada Elena.


Sepanjang perjalanan pulang, Dion memasang wajah masam.


Bahkan hingga mereka berdua tiba di rumah, tidak ada obrolan sama sekali di antara mereka.


"Sayang, jangan marah begitu" Tasya menggamit lengan Dion dan berusaha membujuk suaminya tersebut.


"Nat, kamu sedang mengandung anak-anak kita. Dan lihatlah perutmu sudah besar begini. Kenapa malah kamu ingin praktek lagi di rumah sakit" Dion mengeluarkan semua hal yang mengganjal di hatinya.


"Sia-sia aku dulu menyuruhmu resign" lanjut Dion lagi kali ini dengan ekspresi mencebik.


"Hanya tiga minggu, Di. Aku tidak akan melahirkan dalam waktu tiga minggu ke depan." Ujar Tasya sedikit terkekeh.


"Lagipula dulu kamu memintaku resign karena aku mabuk berat dan selalu lemas setiap pagi. Sekarang kamu lihat, aku sudah sehat dan gak mabuk lagi" Tasya berkata dengan penuh keyakinan.


Dion mendengus, sepertinya sia-sia saja usahanya melarang Tasya kali ini. Istrinya ini keras kepala sekali.


"Baiklah, baiklah. Tapi berjanjilah satu hal padaku" Dion akhirnya mengalah dan mengajukan syarat tentu saja. Masih ada rasa khawatir di hati Dion.


"Apa itu?" Tanya Tasya antusias.


"Jika kamu mersa lelah atau mual kamu akan berhenti. Aku tidak mau terdjadi sesuatu dengan anak-anak kita" Dion mengusap lembut perut Tasya.


Sebuah senyuman langsung merekah di bibir Tasya,


"Baiklah aku berjanji" jawab Tasya girang.


"Dan satu hal lagi, aku akan mengantar jemput kamu. Aku tidak mau kamu pergi sendiri ke rumah sakit" tambah Dion sekali lagi.


"Siap suamiku sayang. Terima kasih karena memberiku izin" Tasya mengecup mesra pipi Dion.


Dan sebuah senyuman langsung terkembang di bibir Dion.


Dion sungguh tidak tahu kalau hal seperti ini bisa membuat Tasya bahagia.


Dan, sore harinya Tasya mengabari Elena kalau dirinya sudah siap untuk praktek menggantikan dokter anak yang sedang cuti.


Kabar baiknya, setelah Elena berbicara pada direktur utama rumah sakit, ternyata mereka juga memberikan izin pada Tasya.

__ADS_1


Elena memberi tahu Tasya jika besok pagi Elena akan menjemput Tasya dan mengurus izin praktek sementaranya.


__ADS_2