
Flashback on
Dion mengendari mobil milik Denny dengan kecepatan sedang.
Suasana di dalam mobil hening. Baik Tasya maupun Dion, tak ada yang berniat untuk memulai obrolan terlebih dahulu.
Matahari sore mulai menampilkan semburat oranye dan sudah tenggelam sebagian di garis cakrawala.
Langit perlahan berubah menjadi hitam.
Tasya menarik nafas panjang. Ia tahu Dion pasti marah padanya karena insiden di panti tadi.
"Di, apa kamu baik baik saja?" Tanya Tasya khawatir.
"Ya" jawab Dion singkat. Tak ada basa basi atau kalimat usil lainnya.
Tasya jadi merasa serba salah.
"Di, apa kau marah soal sikap kak Ronny tadi?" Tanya Tasya lagi.
Kali ini Dion tak langsung menjawabnya.
Dion membelokkan mobil masuk ke area kompleks perumahan Tasya. Mengurangi kecepatan mobil lalu berhenti tepat di depan rumah Tasya.
"Kenapa aku harus marah? Bukankah dia kakak angkatmu?" Dion menjawab pertanyaan Tasya barusan.
Ada nada sedikit ketus dari cara Dion mengatakannya.
Tasya tertunduk. Tak tahu harus berkata apalagi.
"Sudah sampai. Apa kau tak mau turun?" Dion mengusir Tasya secara halus, berharap gadis itu segera turun dari mobil.
"Makasih udah nganterin aku hari ini" ucap Tasya masih sambil menunduk.
Tasya bergegas turun dan tak menoleh lagi ke arah Dion.
Kesedihan mendadak menyelimuti hatinya. Tasya sungguh takut saat Dion marah lalu mendiamkannya.
Airmata yang sedari tadi ia tahan, akhirnya jatuh juga di pipinya tepat saat kakinya melangkah memasuki teras rumahnya.
Tasya menghapus airmata itu. Ia tak mau mama Sarla melihatnya pulang dalam keadaan menangis.
Dion masih memperhatikan Tasya dari dalam mobil.
Bisa Dion lihat, Tasya yang terus saja menunduk menyembunyikan wajah murungnya.
Mungkin Dion bersikap terlalu berlebihan.
Tasya dan Ronny sudah lama tak bertemu, jadi wajar kalau mereka berdua bersikap seperti di panti tadi.
Harusnya Dion bisa memaklumi dan tak perlu menganggapnya serius.
Dion menarik nafas panjang.
Dia sudah akan pulang, namun saat melihat tante Desi yang keluar dari rumahnya, mendadak Dion memutuskan untuk mampir sejenak dirumah tantenya tersebut.
Sudah lama ia tak berkunjung.
Mungkin ia juga bisa sedikit menenangkan pikirannya sebelum melanjutkan pulang ke rumah.
__ADS_1
Dion membelokkan mobilnya menuju halaman rumah tante Desi.
Tante Desi sedikit terkejut melihat mobil asing masuk ke halaman rumahnya.
Tante Desi menunggu si empunya mobil keluar.
Dion membuka pintu mobil dan segera keluar.
"Sore tan" sapa Dion pada tante nya tersebut.
"Mobil baru, Di?" Tanya tante Desi sedikit terkejut karena mendapati keponakannya tersebut memakai mobil yang lain dari yang biasanya.
"Punya teman, tan" jawab Dion santai.
"Oh. Masuk Di" tante Desi masuk ke dalam rumah dan Dion mengikuti di belakangnya.
"Kebetulan kamu datang. Tante mau bicara penting sama kamu" Tante Desi masuk ke dalam ruang makan. Dion masih tetap mengikutinya dan duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan tersebut.
Tante Desi mengambil pudding dari dalam kulkas dan menyajikannya di depan Dion.
"Makanlah, Di" ucap Tante Desi. Ia pun ikut duduk di kursi yang berada tak jauh dari Dion.
"Katanya mau bicara. Soal apa tan?" Tanya Dion penasaran.
Pudding di depannya tampak menggoda, Dion segera menyendok pinggiran pudding tersebut untuk mencicipinya.
Tante Desi menarik nafas panjang sebelum memulai berbicara.
Ia berharap, kali ini Dion akan mendengarkannya.
"Apakah kamu bisa berhenti bersikap ketus dan dingin pada mama Wina?" Terdengar seperti sebuah permohonan.
Kini pudding di hadapannya tersebut tak lagi terlihat memggoda.
Dion kehilangan selera makannya.
"Apa papa yang meminta tante melakukan ini?" Tanya Dion datar.
Ia berusaha keras menahan emosinya agar tidak ribut dengan tantenya.
"Tante hanya ingin menceritakan sebuah kebenaran pada kamu, Di.
Tante gak mau kamu terus terusan salah paham pada mama Wina" ucap Tante Desi dengan tegas.
Dion bisa saja meninggalkan meja makan beserta tante Desi saat itu juga. Tapi entah mengapa hati kecilnya mengatakan bahwa Dion harus tetap duduk dan mendengarkan kebenaran macam apa yang akan di sampaikan oleh tantenya.
"Kebenaran apalagi yang harus Dion dengar. Dion sudah melihat semuanya sendiri. Dion menyaksikan sendiri saat wanita itu mulai hadir di antara papa dan mama dan semuanya mendadak hancur. Dion melihatnya" Dion tak dapat lagi menahan emosinya.
Tante Desi hanya menarik nafas panjang. Sudah ia duga sebelumnya kalau Dion akan menumpahkan emosinya. Ia paham betul bagaimana watak keponakannya tersebut.
"Berapa usiamu saat semua itu terjadi?" Pertanyaan dari tante Desi membuat Dion sedikit bingung.
Kenapa tante Desi malah membahas soal umur.
"Sepuluh tahun. Apa tante pikir Dion belum paham saat itu? Dion paham semuanya" jawab Dion ketus.
"Baiklah tante tak tahu dan tak mau tahu siapa yang sebenarnya sudah meracuni pikiranmu. Yang tante tahu, kamu harus dengerin penjelasan dari tante sekarang" ucap tante Desi dengan tegas.
Dion mendengus kesal.
__ADS_1
Namun ia sama sekali tak ada niat untuk beranjak dari posisinya saat ini.
Dion akan mendengarkan tantenya kali ini.
"Apa kamu pernah berpikir, kenapa Kevin lebih tua dari kamu kalo memang mama Wina merebut papa Rian dari mama Devi bukankah seharusnya kalian sepantaran atau usia Kevin lebih muda darimu?" Tante Desi membuka ceritanya.
Deg,
Sejenak Dion terdiam.
Ia bukannya tidak pernah memikirkan hal itu.
Pernah dulu Dion berpikir kenapa Kevin satu tahun lebih tua usianya daripada dirinya. Bagaimana sebenarnya hubungan mama Wina dan papa Rian?
Dion pernah memikirkan hal itu, namun lagi lagi kebencian terlalu membutakan mata hatinya. Dion memutuskan untuk melupakannya tanpa pernah bertanya pada papa Rian maupun mama Wina.
"Tante tak membela siapapun disini, tapi asal kamu tahu. Papa Rian lebih dulu menikahi mama Wina ketimbang mama kamu.
Kamu bisa menanyakan detail hubungan mereka pada papa Rian. Tante yakin papa Rian akan bercerita jujur dan tak akan menutupi apapun darimu" lanjut tante Desi.
Dion masih diam tapi dalam hatinya berkecamuk berbagai macam pertanyaan.
"Kalau memang papa Rian sudah menikah dengan mama Wina? Kenapa dia harus menikah lagi dengan mama Devi?" Tanya Dion tak mengerti.
"Perjodohan bisnis. Kakekmu yang mengatur semuanya. Papa Rian terpaksa melakukan hal itu karena kakekmu mengancam akan mencelakakan mama Wina dan Kevin jika ia menolak" jelas tante Desi.
Dion terdiam. Ia tak pernah tahu kalau dulu keluarganya serumit itu ternyata.
"Tante tahu,kamu sedih karena kehilangan mama kamu, Di. Tante juga sedih.
Tapi jangan jadikan kesedihan itu sebagai kebencian yang menutupi hati kamu. Mama Wina menyayangimu dengan tulus. Sama halnya dia menyayangi Kevin. Bukankah selama ini papa Rian dan mama Wina memperlakukanmu dengan baik? Mereka menuruti semua keinginanmu. Buka hati kamu, Dion. Lihatlah kebaikan mereka dan buang jauh jauh kebencian kamu." Nasehat tante Desi panjang lebar.
Matanya berkaca kaca menahan rasa sesak di dadanya.
Sifat Dion yang keras hati memang sama persis dengan almarhumah mamanya.
Dion hanya diam. Mencoba mencerna semua cerita dari tantenya tersebut.
Hingga akhirnya Dion pamit pulang, berbagai pertanyaan masih saja memenuhi kepalanya.
Flashback off
*****
Dion tak tahu harus bagaimana sekarang. Pikirannya buntu.
Cahaya matahari masuk melalui jendela kamarnya.
Pagi sudah menjelang. Dion masih saja memikirkan kata kata tante Desi kemarin.
Entahlah,
Hari ini dia bahkan tidak bersemangat untuk pergi ke sekolah.
Namun ia tetap harus pergi dan tidak boleh membolos.
Dion segera bangkit dari tempat tidurnya.
Meraih handuk dan pergi ke kamar mandi untuk bersiap siap ke sekolah.
__ADS_1