Natasya

Natasya
Tak Ingin Menjadi Beban


__ADS_3

Bim bim,


Suara klakson dari mobil Silvi sudah terdengar.


Tasya belum selesai bersiap. Ia menengok jam yang melingkar di tangannya. Tidak biasanya Silvi menjemput pagi pagi.


Tasya baru saja keluar dari kamar.


Rupanya Vira juga sudah siap ke sekolah, mengenakan seragam yang sama seperti yang di pakai Tasya.


"Vira bareng sama Tasya sekalian ya" kata mama Sarla sembari merapikan rambut Vira.


Tasya sedikit terkejut,


Bagaimana ia akan menjelaskan pada mama Sarla?


Silvi bisa ngamuk ngamuk kalau ia memaksa untuk mengajak Vira.


Tasya menggaruk rambutnya yang tak gatal.


"Gak usah, Ma. Vira berangkat sendiri aja naik angkot" akhirnya Vira angkat bicara.


Gadis itu memasang wajah polos. Sungguh berbeda dengan wajah ketus yang selalu ia tampilkan saat berbicara atau berhadapan dengan Tasya.


"Loh, kok gitu? Bareng mama aja gimana?" Tawar mama Sarla pada akhirnya.


Vira mengangguk dan segera menggandeng tangan mama Sarla.


Tasya cukup mengekor di belakang mereka berdua sambil menahan kesedihan.


Mereka berjalan menuju ke teras.


Mobil Silvi masih menunggu Tasya di depan rumah.


"Tasya berangkat dulu, Ma" Tasya meraih dan mencium punggung tangan mama Sarla.


"Hati hati, Sya" jawab mama Sarla sambil tersenyum bahagia.


Mama Sarla juga segera naik ke atas motor bersama Vira.


Tasya berjalan dengan lesu ke arah mobil Silvi.


"Pagi, Sya" ucap Vina dengan riang.


Tasya tak menjawab dan duduk begitu saja di jok belakang bersebelahan dengan Salsa.


"Sya, loe baik baik aja?" Tanya Salsa khawatir. Wajah Tasya terlihat murung.


Silvi dan Vina ikut menoleh ke jok belakang. Mereka ikut khawatir melihat wajah murung Tasya.


"Sya, ada apa?" Tanya Silvi.


Tasya masih diam.


Suara klakson dari motor mama Sarla membuat Silvi dan Vina kaget.


Serentak kedua gadis itu menoleh ke arah motor mama Sarla.


Dan seseorang yang tengah dibonceng oleh mama Sarla membuat mereka semakin terkejut.


"Itu bukannya Rara?" Vina yang terlebih dahulu buka suara.

__ADS_1


Silvi menatap tajam ke arah Rara yang kini duduk di jok belakang motor mama Sarla


"Rara ngapain di rumah kamu, Sya? Trus kok dia berangkat bareng mama kamu?" Tanya Vina pada Tasya secara bertubi tubi.


"Sya, sebenarnya ada apa?" Tanya Silvi juga tak sabaran.


Pagi ini tiba tiba semuanya menjadi aneh.


Tasya tak menjawab. Ia menangkupkan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya. Sekarang Tasya mulai menangis lagi.


"Sya ada apa?" Salsa merangkul pundak Tasya berusaha menenangkan sahabatnya tersebut.


Tasya benar benar terlihat kacau pagi ini.


Salsa merasa prihatin.


"Sil, buruan jalan. Nanti kita terlambat" Salsa akhirnya buka suara.


Mereka sudah terlalu lama di depan rumah Tasya.


Jika terus terusan menunggu Tasya memberikan jawaban bisa bisa mereka terlambat datang ke sekolah.


Silvi segera melajukan mobilnya menuju ke sekolah. Tasya masih menangis sesenggukan. Salsa tak berhenti merangkul Tasya demi menenangkan gadis tersebut.


Kini mereka sudah sampai di halaman parkir sekolah.


Tangisan Tasya sudah reda. Matanya sembab.


Ketiga temannya tak lagi bertanya atau memaksa Tasya untuk memberikan jawaban seputar Rara tadi.


Mereka akan menunggu hingga Tasya siap untuk menceritakan semuanya sendiri.


Tasya turun dari mobil Silvi dengan lesu.


Sekilas Dion menatap wajah Tasya dan menemukan mata sembab itu.


"Apa Tasya menangis lagi?" Gumam Dion khawatir.


Namun Dion hanya diam dan tak menyapa Tasya.


Dion hanya memperhatikan Tasya yang kini berjalan menuju kelas bersama ketiga sahabatnya.


Di kelas Tasya,


"Sya, loe mending ke UKS deh, keadaan loe kacau begini" usul Silvi prihatin.


Vina dan Salsa mengangguk membenarkan usul dari Silvi.


"Gue anter ke UKS ya, ntar biar gue yang bilang ke guru kalo loe sakit" ujar Salsa lembut.


Ia membimbing Tasya untuk berdiri dan menuju ke UKS.


Tasya menurut saja.


Di depan kelas mereka berpapasan dengan Julian.


"Kalian mau kemana?" Tanya Julian sedikit galak.


"Gue mau antar Tasya ke UKS. Dia gak enak badan, Ju" jawab Salsa.


Julian melihat ke arah Tasya. Gadis itu terlihat kacau.

__ADS_1


Julian mengernyitkan dahi.


Ping,


Ponsel Julian berbunyi. Buru buru ia membuka pesan yang masuk.


Salsa dan Tasya sudah akan berjalan meninggalkan ketua kelasnya tersebut, namun Julian menghentikan keduanya.


"Sal, Tasya kenapa?" Tanya Julian serius.


Salsa mengendikkan bahu. Ia pun tak tahu masalah apa yang tengah dihadapi Tasya.


"Loe mending anter Tasya ke ruang loker deh. Ada Dion di sana. Biar Dion yang tenangin Tasya. Barusan Dion chat gue" ucap Julian sedikit berbisik.


Salsa menatap Julian sesaat sebelum akhirnya mengangguk.


Salsa pun segera membimbing Tasya menuju ruang loker.


*****


Dion mengusap wajahnya dengan kasar.


Tasya baru saja selesai bercerita semuanya termasuk kata kata Vira mengenai anak pungut kemarin pagi.


Dion sedikit emosi. Menurutnya Vira benar benar keterlaluan.


"Bagaimana soal pekerjaan part time itu, Di?" Tasya mengubah topik pembicaraan.


Kemarin Tasya sempat meminta bantuan pada Dion untuk mencarikannya sebuah pekerjaan.


Tasya ingin mandiri dan tak terus terusan bergantung pada mama Sarla. Tasya tak ingin menjadi beban bagi mama Sarla.


Apalagi sekarang mama Sarla sudah menemukan putri kandungnya.


Tasya tak ingin meminta lebih lagi pada mama Sarla.


Karena bagaimanapun juga Vira yang lebih berhak mendapatkan semua yang mama Sarla berikan.


Selama ini, Tasya bukanlah gadis hedon yang suka berfoya foya. Ia sadar betul, mama Sarla hanya karyawan biasa.


Meskipun Tasya bergaul dengan Silvi dan Vina yang berasal dari keluarga berada, namun Tasya selalu berusaha mengontrol dirinya sendiri.


Dion menarik nafas panjang.


"Ada, tapi bukankah sebaiknya kami minta izin dulu pada mama Sarla?" Nasehat Dion lembut.


Tasya mengangguk membenarkan kata kata Dion.


"Iya aku akan minta izin nanti" jawab Tasya lirih.


"Nat, aku tahu ini semua berat bagi kamu. Tapi pliss berhentilah bersedih. Berusahalah untuk cuek dengan semua kata kata dari Vira" Dion menggenggam erat tangan Tasya mencoba menyalurkan kekuatan.


Mudah memang berkata kata, tapi saat menjalaninya tidak semudah saat diucapkan.


Dion menyadari hal itu.


Namun dia tetap berharap Tasya akan menjadi gadis yang tegar dan kuat.


"Akan ku coba. Makasih ya, Di. Kamu selalu mau mendengar keluh kesah aku" ucap Tasya tulus. Sebuah senyuman sudah tersungging di bibirnya kini.


Dion ikut tersenyum senang.

__ADS_1


"Aku sayang sama kamu, Nat" Dion mengecup tangan Tasya.


Ucapan yang benar benar tulus dari Dion untuk Tasya.


__ADS_2