
Salsa menyusuri rak demi rak di sebuah swalayan dengan sedikit malas.
List belanjaan yang diberikan oleh mamanya lumayan panjang, dan Salsa bukan tipe gadis yang suka berbelanja.
Menurutnya berbelanja adalah hal membosankan dan membuat capek saja.
Kalo bukan karena dipaksa oleh sang mama, Salsa tak akan mau pergi ke swalayan ini sekarang.
Ia akan memilih untuk membaringkan tubuhnya di kasur empuknya sambil mendengarkan lagu-lagu favoritnya.
Sampai di rak bumbu dapur, Salsa sedikit kebingungan memilih bumbu dapur yang sesuai dengan yang ada di catatan.
Saat sedang fokus memilih, Salsa tak sengaja menabrak seorang wanita paruh baya.
"Maaf, Bu. Aku gak sengaja" ucap Salsa menyesal sambil membantu memunguti beberapa barang belanjaan ibu tadi yang tercecer di lantai.
"Gak apa-apa, Nak. Ibu juga gak lihat barusan" jawab ibu itu sambil tersenyum.
Salsa merasa tidak asing dengan suara yang ia dengar.
Sembari memberikan barang-barang ibu tadi, Salsa mendongak dan melihat wajah ibu yang barusan ia tabrak tadi.
"Loh, tante Sarla" ucap Salsa senang saat tahu ternyata ia mengenal wanita paruh baya tersebut.
"Eh, Salsa. Lagi belanja juga? Rajinnya" puji mama Sarla yang tak menyangka akan bertemu Salsa di tempat tersebut.
Salsa hanya tersipu malu mendengar pujian dari tante Sarla.
__ADS_1
"Tasya mana, Tan?" Tanya Salsa kemudian.
Ia ingat tadi siang Tasya mengatakan akan menemani mamanya berbelanja. Tapi sekarang, Salsa tak melihat keberadaan Tasya.
"Loh, Tasya kan nonton basket bareng Dion. Kamu gak nonton?" Mama Sarla malah balik bertanya.
"Hah, Dion?" Tanya Salsa sambil melotot kaget.
"Iya, Dion yang suka main basket itu. Kok kaget gitu?" Mama Sarla sedikit heran dengan reaksi Salsa saat mendengar nama Dion.
"Sejak kapan Tasya dekat sama Dion?" Gumam Salsa lirih. Tapi sepertinya mama Sarla masih bisa mendengarnya.
"Tasya dan Dion kan deket udah lama, Sal. Sejak Tasya baru masuk di sekolah barunya seingat tante" jelas mama Sarla.
Sontak jawaban dari mama Sarla semakin membuat Salsa kaget dan tak percaya.
Bahkan Tasya tak pernah membahas Dion selama ini.
"Tan, Salsa duluan ya. Udah dapat semua ini barangnya" pamit Salsa akhirnya. Pikirannya mendadak tidak fokus karena kabar mengejutkan soal Tasya dan Dion.
"Oh, iya, Sal."jawab singkat mama Sarla.
Salsa segera pergi meninggalkan mama Sarla dan bergerak menuju kasir untuk membayar belanjaannya.
'Aku harus bicara pada Tasya' janji Salsa pada dirinya sendiri.
*****
__ADS_1
Salsa masih mondar mandir di kamarnya.
Ponselnya sedari tadi sudah ia genggam.
Ia bingung apakah harus memberitahu rahasia besar ini pada Silvi dan Vina, atau membicarakannya terlebih dahulu pada Tasya sebelum memberitahu kedua sahabatnya tersebut.
Salsa memijit pelipisnya, mendadak kepalanya menjadi pening memikirkan ini semua.
'Kok bisa sih, Tasya sama Dion?' Pertanyaan itu berulang kali singgah di kepala Salsa membuatnya semakin pening saja.
Salsa kembali mengingat, belakangan ini memang Tasya selalu mengatakan sibuk atau ada urusan bersama mamanya saat dirinya mengajak Tasya untuk hang out atau sekedar nongkrong di kafe.
Bahkan saat jam istirahat, kadang Tasya menolak diajak ke kantin.
Salsa mulai mengait-ngaitkan semuanya.
"Apa Tasya menemui Dion secara diam diam selama ini saat jam istirahat? Tapi saat mereka berdua berpapasan di sekolah, reaksi Dion dan Tasya biasa aja. Pintar sekali mereka berakting" Salsa mulai berasumsi sendiri.
'Aku akan memastikannya sendiri' gumam Salsa dalam hati.
Ia memutuskan untuk tak memberitahu Silvi dan Vina terlebih dahulu.
Apalagi dua sahabatnya tersebut sepertinya akan mencomblangkan Tasya dengan Kak Kevin. Salsa tak mau semuanya menjadi rumit nantinya.
Biarlah dirinya yang memastikan ada hubungan apa sebenarnya antara Dion dan Tasya.
Setelah semuanya jelas, barulah Salsa akan memberi tahu Silvi dan Vina.
__ADS_1