Natasya

Natasya
SEASON KEDUA: Mencoba


__ADS_3

Langit di luar gedung apartemen itu sudah berubah gelap.


Semburat oranye yang ditinggalkan sang matahari sebelum terbenam tak lagi terlihat.


Tasya masih sibuk di dapur mungilnya, mengolah beberapa bahan menjadi sajian untuk makan malam dirinya dan Dion.


Penampilan santai Tasya yang mengenakan kaos longgar, celana selutut, serta rambut yang di cepol ala kadarnya sudah mampu membuat Dion betah memandangi istrinya itu berlama-lama.


"Kau bisa membantuku mencuci peralatan daripada hanya memandangiku seperti itu" Tasya yang sadar kalau dirinya tengah di perhatikan oleh Dion langsung berkata to the point.


"Apa aku boleh minta bonus malam ini jika aku membantumu?" Dion membuat persyaratan.


Sejenak Tasya menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Dion yang masih duduk santai di atas kursi yang tak jauh dari meja makan.


"Tak bisakah kamu istirahat dari pikiran-pikiran mesum itu?" Tasya melotot horor pada Dion.


Dion segera beranjak dari tempatnya semula dan langsung menghampiri Tasya.


"Kamu yang selalu membuatku berpikir mesum" Dion melingkarkan kedua tangannya di pinggang Tasya dan menyandarkan dagunya di ceruk leher sang istri.


"Hentikan, Dion. Aku sedang memasak" Tasya mencoba untuk mengelak.


Namun bukannya berhenti, Dion malah terus melancarkan aksinya dan kini mulai menciumi leher jenjang Tasya, membuat wanita itu merasa kegelian.


"Matikan saja kompornya. Kita ke kamar sekarang" ujar Dion bersemangat.


"Aku lapar dan aku ingin makan" jawab Tasya sedikit galak.


"Nat..." terdengar nada merayu di sana.


Tasya memilih untuk mengabaikan tingkah Dion dan tetap melanjutkan aktivitas memasaknya meskipun dia sendiri merasa risih sekarang.


Suaminya ini benar-benar mesum.


Dan situasi ternyata sedang berpihak pada Tasya, tepat saat Dion mencoba merayunya, bel berbunyi.


Dion langsung berdecak kesal.


Tasya menahan tawanya, sepertinya wanita itu merasa puas melihat wajah kesal Dion.


"Bisa tolong bukakan pintu, suamiku. Sepertinya ada yang datang" ujar Tasya dengan nada sedikit merayu, seakan sedang menyindir tingkah Dion sebelumnya.


"Baiklah, nanti kita lanjutkan" Dion berhasil mencuri satu kecupan singkat dari bibir Tasya sebelum beranjak meninggalkan dapur untuk membukakan pintu depan.


Dion membuka pintu depan,


Seorang pria dengan tubuh tinggi tegap langsung menyapa Dion dengan penuh semangat.


"Hai, Bro!" Sapa pria itu bersemangat.


Pria itu mengangkat tangan kanannya dan memberi kode pada Dion untuk melakukan tos.


Dion segera membalasnya. Jadilah keduanya melakukan tos sebelum akhirnya berpelukan.


Sepertinya mereka cukup dekat dan sudah lama tak berjumpa.


"Kapan balik ke sini? Kok gue gak tahu sih" Dion merangkul pria tersebut dan mengajaknya masuk ke dalam apartemennya.


"Baru tadi siang. Loe gak ada di mess jadi gue cariin kesini" pria itu terkekeh.


Keduanya duduk di sofa yang ada di ruang tamu sekaligus ruang keluarga apartemen tersebut.


"Hai, nyonya Dion. Sedang memasak?" Pria itu menyapa Tasya yang kini sudah menyelesaikan masakannya dan sedang menatanya di atas meja makan.


Tasya tersenyum,


"Ya. Mau ikut makan malam disini?" Tasya menawarkan.


Tasya menghampiri dua pria tersebut,


"Aku Vian, teman Dion di klub basket" pria itu memperkenalkan dirinya pada Tasya.


"Tasya" jawab Tasya sambil menyambut uluran tangan dari Vian. Keduanya berjabat tangan sebagai tanda perkenalan.


Namun Tasya seperti tidak asing dengan wajah Vian. Tasya seperti pernah bertemu sebelumnya dengan pria ini,


"Apa kita pernah bertemu sebelum ini? Wajahmu terasa tidak asing" Tasya mencoba mengingat-ingat.


"Ya aku datang saat pesta pernikahan kalian" jawab Vian santai.


"Sudah setahun ini Vian cuti dari klub karena cedera, Nat. Jadi mungkin kau sedikit lupa" Dion menengahi.


Tasya hanya mengendikkan bahu. Tapi sekilas wajah Vian kenapa mirip dengan Elena?


Mungkin perasaan Tasya saja.


"Ayo kita makan malam!" Ajak Tasya pada kedua pria tersebut.


Dion dan Vian segera bangkit dari sofa dan berjalan mengekori Tasya menuju ke arah meja makan.


Ketiganya makan malam sambil berbincang santai.


"Tadinya aku berencana untuk menjengukmu, tapi kau malah sudah kembali kesini" Dion yang sudah menyelesaikan makan malamnya, memilih untyk membuka obrolan.


Vian berdecak.


"Maksudmu, kau ingin ke kota itu lagi? Aku penasaran kenapa sejak dulu kau suka sekali berkunjung kesana" Vian meneguk air putih yang ada di gelasnya hingga tandas.


Tasya sudah berdiri dan membereskan piring serta peralatan lain yang tadi mereka gunakan, lalu membawanya ke dapur.


Tak berselang lama, Tasya sudah kembali dan duduk di sebelah Dion.


"Karena dulu aku kuliah di kota itu." Tasya yang menjawab pertanyaan dari Vian.


Vian langsung mengangguk paham.


"Kalau sekarang? Kenapa kau ingin berkunjung kesana lagi. Bukankah istrimu sudah bersamamu sepanjang hari? Terlalu berlebihan jika tujuanmu hanya untuk menjengukku" Vian seperti bisa membaca isi pikiran Dion.

__ADS_1


"Aku ingin sekalian mengunjungi tanteku yang tinggal di sana" jawab Dion singkat.


"Maksudmu, kita akan ke rumah tante Desi akhir pekan ini?" Tasya memastikan sekali lagi tentang pernyataan Dion yang barusan ia dengar.


Dion mengangguk,


"Ya"


"Bro, aku sudah di sini. Kenapa kau malah ingin meninggalkanku?" Vian protes dan merasa tak terima.


"Hey, aku bukan baby sittermu. Jadi untuk apa aku peduli padamu?" Ujar Dion santai.


"Baik,baik. Kau memang kejam, Dion." Vian pura-pura mencebik.


Namun hal itu malah membuat Tasya dan Dion jadi tertawa geli.


"Oh aku jadi ingin menikah" lanjut Vian lagi.


"Ya, itu bagus. Aku dan Tasya akan senang saat mendapat undangan darimu dan dari pacarmu yang juga atlet itu siapa namanya..." Dion mencoba mengingat-ingat nama dari pacar Vian yang sering pria itu pamerkan di akun medsosnya.


"Rena" Vian mengingatkan.


Dion mengangguk.


"Ya, itu dia" ujar Dion lagi.


"Kapan kalian berangkat? Mungkin aku akan pulang lagi kesana, hahahaha" Vian tertawa sumbang.


"Weekend ini. Bagaimana koncdisi lututmu?" Dion balik bertanya.


Ya, seperti yang Dion tahu Vian cuti selama setahun belakangan ini karena cedera yang menimpa lututnya.


"Sudah membaik. Aku tak akan mungkin kembali ke sini jika lututku masih sakit" jawab Vian sedikit terkekeh.


Dion ikut terkekeh.


Obrolan ringan itupun berlanjut hingga hari beranjak malam.


*****


Tasya langsung memeluk erat tante Desi, sesaat setelah keduanya berjumpa.


Tasya dan Dion baru saja tiba di kota tersebut, dan tante Desi dengan senang hati menjemput keduanya di bandara kota.


"Bagaimana kabar kalian?" Tanya tante Desi hangat.


"Kami sehat. Tante sendiri bagaimana?" Tasya masih merangkul wanita paruh baya tersebut.


"Seperti yang kamu lihat, tante juga sehat" jawab tante Desi sambil tersenyum.


Mereka bertiga segera berjalan menuju ke arah parkiran untuk selanjutnya pulang ke rumah tante Desi.


******


"Jadi, kamu merasa tertekan begitu?" Tanya tante Desi sesaat setelah mendengar cerita Tasya tentang kehamilan.


Sedangkan Dion sudah tertidur sejak pria itu tiba di sini.


Wajar jika Dion kelelahan.


Tadi sore Tasya dan Dion langsung terbang kesini sesaat setelah pertandingan Dion usai.


Tasya mengendikkan bahu,


"Tasya hanya merasa kurang nyaman saat ada yang menanyakannya" ucap Tasya lirih.


Tante Desi tersenyum simpul tentu saja ia paham bagaimana perasaan Tasya sekarang.


Tante Desi pun pernah ada di posisi Tasya dulu, saat tahun-tahun pertama pernikahan dan dirinya tak kunjung hamil.


Pertanyaan hingga cibiran tak pernah luput dari telinganya.


Namun sekarang, di usia pernikahannya yang sudah masuk seperempat abad, ketidakhadiran momongan tak lagi menjadi masalah dalam rumah tangganya.


Tante Desi memilih untuk menikmati saja hidupnya.


Toh ada Tasya dan Dion yang sudah ia anggap lebih dari anak kandungnya.


"Tante paham perasaanmu, Sya" tante Desi menggenggam erat tangan wanita di sampingnya tersebut.


"Kadang Tasya bertanya-tanya, bagaimana tante bisa sekuat ini. Tasya yang baru setahun mrnghadapi ini saja sudah stress begini" tukas Tasya sambil tertawa sumbang.


"Jadi kamu pikir tante juga gak stres?" Tante Desi tertawa kecil sebelum melanjutkan ceritanya.


"Dulu di tahun pertama tante juga stress, ilmu sekecil apapun selalu tante coba demi memperoleh kesempatan itu..." tante Desi menghela nafas panjang.


"...lalu tahun demi tahun berlalu dan garis dua itu tak kunjung datang. Akhirnya..." tante Desi sesaat terdiam. Matanya menerawang.


Tasya masih setia menyimak dan tak ingin memotong cerita tante Desi.


"Hingga akhirnya tante merasa udah cukup. Ini semua sudah cukup. Tante tidak mau lagi terlalu berharap hanya karena mendengar omongan-omongan orang di luar sana. Lagipula, ini hidup tante. Tante yang menjalaninya, kenapa harus memikirkan omongan orang lain" tante Desi menyeka butir bening yang menggenang di sudut matanya sebelum jatuh ke pipinya.


"Tante menyerah?" Tasya tak tahan lagi untuk tidak bertanya.


"Dalam usaha dan berbagai program mungkin tante menyerah. Namun dalam doa, tante tak pernah menyerah. Hingga detik ini tante masih terus memanjatkan doa itu" ujar tante Desi bijak.


"Tapi kamu dan Dion masih terlalu muda untuk menyerah, Sya. Kalian berusahalah dulu, semoga kamu dan Dion akan segera mendapatkan kesempatan itu. Tante hanya bisa membantu lewat doa" tante Desi mengelus lembut kepala Tasya.


"Aamiin" Tasya mengaminkan ucapan tante Desi


*****


Tasya merebahkan tubuhnya di samping Dion yang sudah tertidur lelap.


Setelah membuka ponselnya, Tasya mencari-cari kontak Elena.


Mungkin ia akan bertemu Elena besok, mumpung dirinya sedang berada di kota ini.

__ADS_1


"Halo, Sya. Apa kabar?" Suara Elena di seberang sana setelah Tasya melakukan panggilan.


"Baik. El, apa kamu ada waktu besok? Aku ingin bertemu dan membahas tentang program hamil itu" Tasya langsung menyampaikan maksudnya.


"Kau di kota ini? Baiklah akan aku atur pertemuan untuk besok." Ujar Elena antusias.


"Terima kasih, El" ucap Tasya.


"Sama-sama, Sya. Sampai jumpa besok" balas Elena sebelum mengakhiri telepon dari Tasya.


Setelah menutup panggilan pada Elena, Tasya segera menyimpan ponselnya.


Tasya membenarkan posisi tidurnya, menarik selimut dan segera memejamkan matanya.


'Semoga akan segera ada kabar baik setelah ini' Gumam Tasya penuh harap.


*****


"Aku membawa hasil tes kami berdua" Tasya menyodorkan sebuah map pada Elena.


Tasya dan Dion sudah berada di rumah sakit tempat El bekerja.


El melihat dan membaca isi map itu dengan seksama.


"Jadwal haidmu teratur?" Tanya El pada Tasya.


"Kadang teratur, kadang juga terlambat saat aku sedang banyak pikiran" jelas Tasya.


El mengangguk.


"Kalau kau Dion, masih aktif di klub basket?" El ganti bertanya pada Dion.


"Ya, aku masih jadi pemain aktif" jawab Dion.


"Berdasarkan hasil tes ini, kalian berdua sama-sama tidak ada masalah.


Aku akan memberimu obat dan vitamin dulu, Sya" ujar El sambil.menuliskan resep.


"Tapi aku sarankan agar kau menghindari stress. Buang saja semua pikiran-pikiran negatif itu" nasehat El panjang.


Tasya tersenyum simpul. Sepertinya El paham sekali kalau dirinya memang stress belakangan ini.


"Aku sudah sering mengatakan itu pada Tasya. Tapi dia tidak pernah mau mendengarkan" Dion ikut menimpali.


"Mulailah berpikir positif, Sya" tambah El lagi.


"Baiklah akan ku lakukan sesuai saranmu" ucap Tasya akhirnya.


"Apa Kiki praktek di rumah sakit ini juga?" Tasya tiva-tiba ingat pada teman kuliahnya itu.


"Ya, tapi Kiki di UGD jadi dokter jaga. Biasanya dia shift malam. Jadi kalau siang begini dia di rumah mengasuh Rhea..." ujar El menjelaskan.


"Mampirlah ke rumah kalau ada waktu, Sya. Kiki pasti senang berjumpa lagi denganmu" tambah Elena lagi.


"Ya. Aku akan mampir nanti" jawab Tasya singkat.


Dion mengedarkan pandangannya ke ruangan yang tak terlalu besar tersebut.


Pandangan Dion berhenti di sebuah foto yang ada di lemari di samping meja kerja Elena


Foto tersebut terasa tak asing bagi Dion. Ada foto El bersama dua laki-laki.


Tunggu...


Dion mengenal laki-laki di foto itu.


"Itu siapa?" Dion bertanya pafa Elena sekaligus menunjuk ke arah foto tadi.


El mengambil foto tadi sebelum menjawab.


"Aku bersama dua abangku" ucap Rlena sambil menunjukkan foto itu pada Dion dan Tasya.


"Bukankah itu Vian?" Tasya langsung bisa mengenali salah satu dari dua lelaki yang ada di foto tersebut.


"Ya. Ini abang Vian. Apa kalian kenal?" Elena sedikit kaget.


"Vian teman satu kamarku saat dulu kami tinggal di mess. Kami satu klub" Dion yang menjawab kebingungan El.


Sejenak El terdiam, sampai akhirnya wanita itu menepuk keningnya.


"Astaga, aku sungguh tidak tahu. Aku tidak menyangka semuanya bisa kebetulan seperti ini" ucap El masij tak percaya.


"Aku juga baru tahu kalau Vian adalah abangmu, El. Pantas saja saat melihat wajahnya aku seperti melihat wajahmu. Kalian berdua sungguh mirip" Tasya ikut menimpali.


"Ya, semua orang mengatakan begitu." Tambah El lagi.


Dion melihat arlojinya.


"Sepertinya kita harus pulang sekarang, Nat. Jam praktek El sudah habis" kata Dion pada Tasya.


El ikut melihat arlojinya.


"Ya, kau benar." Ujar El terkekeh.


"Baiklah, makasih buat semuanya El" Tasya memeluk erat sahabatnya tersebut sebelum berpamitan.


"Aku senang bisa membantu. Aku tunggu kabar baik dari kalian berdua" ujar El.


Tasya hanya mengangguk.


Setelah berpamitan seperlunya, Tasya dan Dion bergegas meninggalkan ruangan Elena.


*****


Hahaha author udah kehabisan cast..


Jadi cuma di puter sana puter sini cast nya.

__ADS_1


Semoga kalian gak bingung🙈


__ADS_2