
Kevin masih tak bergeming.
Bentakan dari mama Sarla ia abaikan.
Tasya sudah menangis ketakutan di dalam pelukan sang mama.
Sekarang Tasya mulai meracau lagi.
Suara motor yang mendekat ke arah rumah Tasya membuat mama Sarla menoleh ke arah sumber suara.
Rupanya Dion yang datang.
Dion yang melihat Kevin berdiri di depan rumah Tasya mendadak menjadi emosi.
Dion memarkirkan motornya sembarangan dan langsung menghampiri Kevin.
"Loe mau ngapain lagi kesini? Belum puas loe udah bikin Tasya kayak gitu?" Ucap Dion galak sambil menarik kerah baju Kevin.
"Gue mau bicara sama Tasya, Di. Gue mau minta maaf" ucap Kevin dengan nada memohon.
"Simpan permintaan maaf loe. Setelah semua perbuatan bejat loe pada Tasya, jangan harap Tasya bakal maafin loe" ucap Dion setengah berteriak.
Tasya masih menangis sesenggukan di pelukan mama Sarla.
"Suruh dia pergi, Ma. Tasya gak mau melihat nya lagi" ucap Tasya terbata bata di sela isak tangisnya.
"Loe denger sendiri kan? Tasya udah gak mau lihat muka loe." Ucap Dion lagi.
"Pergi loe dari sini sebelum gue panggil polisi" usir Dion sambil mengancam.
Kevin langsung tertunduk lesu.
Sirna sudah harapannya untuk bisa memiliki Tasya.
Bahkan kini Tasya membencinya dan takut melihat wajahnya.
Kevin segera masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Tasya.
Setelah kepergian Kevin, Dion menghampiri Tasya yang masih menangis sesenggukan.
Tasya langsung menghambur ke pelukan Dion.
"Syukurlah kamu segera datang, Di" ucap mama Sarla lega.
Dion hanya mengangguk.
Ia masih mencoba untuk menenangkan Tasya.
Dion membimbing Tasya agar duduk di kursi yang ada di teras rumahnya.
"Tenang, Nat. Aku disini. Kevin gak akan gangguin kamu lagi" bujuk Dion pada Tasya.
__ADS_1
"Jangan tinggalin aku, Di" ucap Tasya lirih. Ia terus membenamkan kepalanya di dalam pelukan Dion.
Sepertinya Tasya masih merasa ketakutan.
Dion hanya bisa menghela nafas panjang. Ia tak tahu kalo akhirnya akan serumit ini.
"Bukankah Ronny sudah membuat laporan? Kenapa Kevin belum ditahan dan masih berkeliaran kesini?" Tanya mama Sarla heran.
"Entahlah, Dion juga tak mengerti Tante." Jawab Dion sedikit ragu.
Mungkin dirinya harus secepatnya menemui Ronny untuk memastikan keamanan Tasya.
Tasya sudah tertidur di pelukan Dion.
Dion segera menggendong tubuh mungil Tasya yang semakin hari semakin kurus itu masuk ke dalam kamarnya.
Mama Sarla membantu membukakan pintu kamar Tasya.
"Tante akan siapkan makan siang untukmu, Di" ucap mama Sarla sambil berlalu keluar dari kamar Tasya.
Dion masih terdiam dan memandang lekat wajah Tasya.
Dion sudah akan beranjak dan keluar dari kamar Tasya, namun tangan gadis itu menahan tangan Dion, seakan tidak rela jika Dion meninggalkannya sendirian di kamar.
Dion menoleh ke arah Tasya,
"Apa kau akan meninggalkaku setelah aku sembuh?" Tanya Tasya menatap tajam pada kedua netra milik Dion.
Dion kembali duduk di ranjang Tasya dan membelai lembut kepala Tasya.
"Aku akan tetap bersamamu, Nat. Kita akan melupakan semua ini dan melanjutkan hubungan kita" ucap Dion penuh keyakinan. Meskipun dalam hati Dion masih merasa ragu.
"Aku takut, Di. Aku takut kau tak akan lagi bisa menerimaku" ucap Tasya menangis sesenggukan.
Dion menghela nafas panjang. Hatinya terasa nyeri setiap kali melihat Tasya menangis seperti ini.
"Aku mencintaimu. Akan terus begitu sampai kapanpun. Kita tidak perlu lagi membahas ini semua, Nat. Semuanya akan segera berlalu" ucap Dion tulus. Ia segera meraih Tasya ke dalam pelukannya.
Dion sungguh tak sampai hati meninggalkan gadis ini. Tasya sudah rapuh sekarang. Kalau dia meninggalkan Tasya, maka hidup Tasya akan semakin hancur.
"Lusa aku harus kembali ke Jakarta. Kamu akan baik baik saja disini. Kak Ronny akan menjagamu" ucap Dion lagi.
Ia tahu ini berat untuk Tasya, tapi Dion tetap harus menyampaikannya.
Dion sudah terlanjur menanda tangani kontrak untuk tiga tahun ke depan.
Jadi mau tak mau Dion harus bersikap profesional.
"Kau sudah makan?" Tanya Dion lembut.
Tasya menggeleng.
__ADS_1
"Baiklah. Kita makan sekarang, lalu aku akan menenuhi janjiku untuk mengajakmu keluar jalan jalan." Dion memberi penawaran.
Tasya langsung mengangguk setuju.
Dion menggandeng tangan Tasya dan mengajaknya menuju ke ruang makan.
*****
*Aku takut kehilangan dirimu
Aku takut takut kehilanganmu
Aku takut kehilangan cintamu
Aku takut hidup tanpa dirimu
Aku tak akan bisa
Aku yang bisa gila
Bila kau pergi meninggalkanku*
Lagu itu berulang kali diputar oleh Tasya seperti ungkapan hati Tasya saat ini.
Tasya memandang tajam ke arah mata Dion yang masih terus mendengarkan lagu tersebut.
Tasya seakan mengajak Dion bicara lewat tatapan matanya.
Melihat tatapan memohon dari Tasya, hati Dion kembali bimbang.
Rasa ragu itu seakan menguap entah kemana.
Salsa benar, Dion harus tetap bertahan.
Tasya harus bahagia.
Meskipun Dion harus berkorban perasaan, bukankah sekarang yang terpenting adalah kebahagiaan Tasya?
Dion menarik nafas panjang sembari memejamkan matanya sejenak.
Suasana senja yang sepi tidak seperti biasanya.
Dion masih duduk bersama Tasya di atas hamparan rumput hijau.
Tasya menyandarkan kepalanya di bahu Dion, semakin memperjelas bahwa saat ini Tasya masih membutuhkan Dion.
Mungkin Tasya egois, namun hanya Dion yang bisa membuat hati Tasya tenang.
Tasya terlalu bergantung pada Dion.
Entahlah...
__ADS_1
Apa cinta memang sebuta ini?