Natasya

Natasya
Sebuah Pilihan


__ADS_3

Tasya berulang kali menatap pada layar ponsel yang kini ada di tangannya.


Pesannya pada Dion sejak semalam, tak ada satupun yang Dion balas.


Tasya menarik nafas panjang.


Satu hal yang dulu selalu Tasya takutkan, kini benar-benar terjadi.


Setahun belakangan, atau lebih tepatnya setelah dirinya berjumpa dengan Dion untuk terakhir kalinya di rumah sakit, sikap Dion memang berubah.


Dion sudah jarang menelepon. Kalaupun mengobrol lewat chat, Dion hanya membalasnya dengan jawaban jawaban pendek dan seperlunya.


Bahkan sampai sekarang Dion masih betah saja tinggal di Jakarta dan seperti tidak ada keinginan untuk pulang menemui Tasya.


Karier Dion memang lumayan melesat sekarang. Bahkan Dion sudah masuk ke jajaran utama pemain basket nasional, seperti yang selalu Dion impikan.


Tentu saja Tasya paham, kalau sebenarnya Dion kecewa padanya. Dion pasti merasa di khianati.


Sebenarnya, Tasya sudah menyiapkan hatinya untuk ini semua. Hanya saja, kenapa Dion tak kunjung memberinya kepastian?


Tasya sudah siap seandainya Dion memutuskan untuk pergi dan mengucapkan kata "putus". Namun statusnya yang kini hanya di gantung oleh Dion malah menjadikan hati Tasya bimbang.


Dion seakan masih memberi harapan pada Tasya, meskipun Tasya tahu harapan itu sangatlah kecil.


Tasya tak ingin lagi membebani Dion ataupun menghalangi langkah Dion untuk menggapai semua mimpinya.


Dion memang pantas dapat yang terbaik, dan Tasya yakin kalau itu bukanlah dirinya.


Tasya kini tak pantas lagi untuk Dion.


Tasya meletakkan ponselnya dan kembali fokus pada tumpukan kertas di hadapannya.


Tasya ingin menyibukkan diri saja, agar dirinya tak terlalu memikirkan Dion.


*****


"Tasya, baru pulang?" Sebuah suara yang terdengar familiar menyapa Tasya yang baru saja masuk ke halaman rumahnya.


Tasya menoleh ke arah sumber suara.


"Tante Desi? Kapan datang?" Tasya bergegas menghampiri tante Desi yang kini berdiri di halaman rumahnya.


Hanya ada pagar pembatas setinggi paha yang menghalangi rumah Tasya dan rumah tante Desi.


"Tadi pagi baru nyampe. Kamu apa kabar? Tante kangen sekali sama kamu" ucap Tante Desi senang.


Tante Desi memang ikut sang suami sejak beberapa tahun yang lalu. Jadi sudah lama dia tidak bertemu dengan Tasya.


"Apa kau sedang sibuk?" Tanya,tante Desi lagi.


"Enggak, tan. Tasya mau mandi trus istirahat saja" jawab Tasya.

__ADS_1


"Mainlah ke rumah setelah mandi. Tante ingin ngobrol banyak sama kamu" pinta Tante Desi sedikit memohon.


Tasya tersenyum dan tampak berpikir sejenak,


"Baiklah, nanti Tasya ke rumah" jawab Tasya akhirnya.


"Tante tunggu" ucap tante Desi senang.


Tasya pun segera berpamitan untuk masuk ke dalam rumah dan membersihkan dirinya.


Matahari perlahan bergulir ke arah barat, menunjukkan hari sudah sore.


Tasya sudah selesai dengan ritual membersihkan dirinya.


Ia bergegas keluar dan menuju ke rumah tante Desi.


Seperti janjinya tadi, Tasya akan menemani tante Desi mengobrol sore ini.


"Duduk, Sya" tante Desi langsung mempersilahkan Tasya untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumahnya.


Tasya segera mendaratkan bokongnya ke atas sofa empuk itu.


"Bagaimana hubunganmu dengan Dion?" Tanya tante Desi memulai obrolan.


Pertanyaan yang membuat Tasya bingung untuk menjawabnya.


Hubungannya dengan Dion sekarang tak bisa dibilang sedang baik baik saja. Hubungannya sedang genting. Mungkin sebentar lagi mereka berdua akan berpisah.


Tante Desi tersenyum kecil. Sebenarnya ia sudah mendengar semua dari papa Rian. Tentang hubungan Dion dan Tasya yang sepertinya sedang ada masalah.


Juga tentang hal buruk yang menimpa Tasya. Tante Desi sungguh merasa prihatin.


"Apa Dion tak lagi menghubungimu?" Tebak tante Desi.


Tasya menghela nafas dan menggeleng dengan ragu.


"Semuanya akan baik baik saja, Sya. Mungkin Dion hanya sedang butuh waktu" ucap tante Desi mencoba menenangkan hati Tasya.


Tasya memaksa untuk tersenyum.


"Bagaimana kuliahmu?" Tanya tante Desi lagi.


"Sejauh ini lancar, tant. Semoga tahun ini Tasya sudah bisa lulus" jawab Tasya penuh harap.


Tante Desi menyodorkan sebuah brosur pada Tasya.


Tasya mengernyit tak mengerti.


"Apa ini tante?" Tanya Tasya bingung.


"Beasiswa" jawab Tante Desi singkat.

__ADS_1


Tasya membaca brosur tersebut dengan seksama.


"Dion pernah cerita ke tante, kalau kamu ingin menjadi seorang dokter. Itu kesempatan kamu, Sya" jelas tante Desi.


Tasya menggeleng ragu.


"Tapi tante, ini pasti butuh biaya yang tidak sedikit" ucap Tasya ragu.


"Tidak. Lihat ini! Asal kamu berprestasi, mereka memberikan beasiswa penuh" tante Desi menjelaskan dengan detail.


Tasya membaca brosur itu sekali lagi.


"Tapi kota ini jauh dari sini." Ucap Tasya lirih.


Tante Desi malah tersenyum.


"Ya. Tapi itu dekat dengan tempat tinggal tante yang sekarang. Kau bisa tinggal bersama tante disana" ucap tante Desi memberikan solusi.


Tasya tersenyum kecil.


"Tidak tant, Tasya tidak bisa menerima ini" Tasya berusaha menolaknya.


"Sya, ini kesempatanmu" tante Desi masih berusaha membujuk Tasya.


"Tapi, tante..." Tasya masih merasa ragu. Ia takut jika ini ada hubungannya dengan Dion. Tasya sungguh tidak ingin bergantung lagi dengan Dion.


"Dengar. Ini inisiatif tante sendiri. Dan Dion tidak tahu menahu soal ini semua. Tante hanya berharap bisa membantumu untuk mewujudkan mimpimu. Kamu sudah tante anggap sebagai putri tante" ucap Tante Desi tulus.


Tasya menatap lekat wajah wanita paruh baya itu.


Tante Desi dan suaminya memang sudah lama menikah namun mereka belum dikaruniai seorang anak.


Tasya tahu, tante Desi pasti sekarang merasa kesepian hidup di kota yang baru.


"Apa Dion benar benar tidak tahu soal ini?" Tanya Tasya masih ragu.


Tante Desi menggeleng.


"Apa Tasya bisa memikirkannya dulu?" Ucap Tasya akhirnya.


Tante Desi benar, ini adalah kesempatan bagus untuknya. Mungkin Tasya akan mencobanya.


"Tentu saja. Kau bisa menghubungi tante jika berubah pikiran" ujar tante Desi sambil tersenyum bahagia.


"Terima kasih tante" jawab Tasya tulus.


Tasya segera memeluk erat tante Desi.


Tasya merasa beruntung sekarang karena di kelilingi oleh orang orang baik.


Di balik semua masalah yang menimpanya, ternyata kini ada secercah harapan untuk Tasya.

__ADS_1


__ADS_2