Natasya

Natasya
Bukan Om Om


__ADS_3

"Sore nanti mau ikut nonton basket gak?" Tanya Tasya sedikit berbisik pada Salsa.


"Emang boleh?" Salsa malah balik bertanya.


"Boleh dong. Sekalian nemenin gue" jawab Tasya cengengesan hingga tak menyadari kalau Silvi dan Vina yang duduk di depan mereka mendengar kata-kata Tasya barusan.


"Nemenin ke mana, Sya? Kita berdua gak diajak?" Tanya Silvi penasaran.


Sontak Tasya langsung salah tingkah dan pura-pura tak paham pada pertanyaan Silvi.


"Kemana emang? Siapa yang mau pergi?" Tanya Tasya pura-pura ****.


Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Lah, bukannya tadi elo yang mau pergi minta ditemenin sama Salsa?" Silvi ikut-ikutan bingung sekarang.


"Eee kita mau..." Tasya bingung harus alasan apa kali ini.


"Kita mau ke toko buku. Kalian mau ikut?" Potong Salsa dengan cepat.


"Males. Mending nonton atau ke kafe," jawab Silvi cepat.


Salsa tersenyum samar.


Ia paham betul kedua sahabatnya ini alergi dengan toko buku. Jadi alasan ke toko buku memang selalu bisa Salsa andalkan.


"Nanti aku jemput kamu, oke" kata Salsa selanjutnya. Tasya mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.


*****


Sore di lapangan basket. Suasana riuh rendah pendukung kedua tim terdengar dari tribune penonton.


Salsa dan Tasya sudah duduk diantara penonton yang bersorak-sorai meneriakkan nama tim yang di dukungnya.


"Sya, gue ke toilet bentar ya" kata Salsa setengah berteriak demi mengimbangi suara berisik di kiri kanannya.


"Mau gue antar?" Tanya Tasya menawarkan.


"Gak usah. Loe disini aja, jagain tempat gue. Nih nitip tas" Salsa memberikan tas nya pada Tasya dan langsung beranjak meninggalkan tempat duduknya.


Sedikit tergesa Salsa berlari menuju toilet karena merasa sudah tak dapat menahan lagi rasa ingin buang airnya.


Selang beberapa saat, Salsa sudah keluar dari bilik toilet dan menarik nafas lega.


Tasya berjalan sedikit santai kali ini.

__ADS_1


Namun tiba-tiba...


Bugh!


Seorang pria berperawakan tinggi besar menabrak Salsa dan tanpa minta maaf langsung kabur gitu aja menuju toilet pria.


Hal itu sontak membuat Salsa jadi meradang.


"Woy, kalo jalan liat-liat dong" teriak Salsa kesal.


Namun pria itu acuh saja.


Karena kesal, Salsa pun menyusul pria itu.


Sampai di depan toilet pria, Salsa berdiri bersedekap dan memasang wajah kesal.


Salsa menunggu pria resek itu keluar.


Tak berselang lama pria yang ditunggu Salsa akhirnya keluar.


Pria itu melihat heran pada Salsa dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Pandangannya terkesan meremehkan.


Tanpa berkata apapun, pria itu sudah akan meninggalkan Salsa yang melotot tajam kepadanya.


Ia balas menatap tajam pada Salsa.


"Kamu panggil saya om? Kamu pikir saya ini sudah om-om?" Tukas pria itu kesal.


Salsa sedikit menahan tawanya.


"Trus saya harus panggil apa dong? Bapak? Kakek?" Jawab Salsa mengejek.


Pria itu nampak semakin kesal. Ia pun berjalan mendekati Salsa sambil memandang tajam ke arah Salsa.


Salsa yang awalnya tertawa mengejek, kini mulai ketakutan. Pria itu terus mendesak Salsa untuk mundur hingga akhirnya Salsa menabrak tembok di belakangnya dan terpojok.


"Om mau ngapain, saya teriak lho" ancam Salsa sambil ketakutan.


Gantian pria itu yang tertawa mengejek


"Hei anak kecil, aku bukan om kamu. Jadi stop manggil aku om" pria itu menyentil dengan pelan kening Salsa.


Gadis itu memejamkan mata karena ketakutan.

__ADS_1


Entah mengapa, saat melihat ekspresi ketakutan di wajah Salsa, mendadak pria itu menjadi gemas dan tersenyum sendiri.


"Toilet cewek di sebelah. Kamu salah masuk" ucap pria itu selanjutnya sambil berlalu meninggalkan Salsa yang masih bersandar ketakutan di tembok.


Salsa membuka matanya dan melihat pria itu sudah pergi meninggalkannya.


Salsa menjadi kesal sekarang. Wajahnya merah padam antara menahan malu dan menahan kesal.


Namun Salsa bisa apa sekarang?


Pria itu sudah pergi dan tidak terlihat lagi.


Salsa menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.


Akhirnya ia putuskan untuk kembali saja ke dalam lapangan dan lanjut menonton pertandingan.


"Loe nyasar ke mana Sal? Lama banget di toilet" ujar Tasya saat melihat Salsa yang baru kembali dari toilet.


Wajah Salsa masih tampak kesal. Membuat Tasya mengernyitkan dahi tak mengerti.


"Sebel gue" ucap Salsa sambil mencebikkan bibir dan sedikit menghentak-hentakkan kakinya.


"Loe kenapa? Kok keliatan kesel gitu?" Tanya Tasya penasaran.


Sesekali Tasya melihat ke arah court. Para pemain sudah memasuki area lapangan.


Dion melambaikan tangan ke arah Tasya. Tampaknya ia senang sekali melihat Tasya yang kembali hadir sore ini.


Tasya hanya membalasnya dengan tersenyum ke arah Dion.


"Gue ketemu om-om resek di toilet" jawab Salsa masih berapi-api.


Tasya sedikit kaget.


Namun akhirnya dia tertawa karena merasa lucu dengan cerita dari Salsa.


"Ish, kok malah ketawa sih, Sya. Gue kan kesel" Salsa mencebik.


"Om nya ganteng gak? Awas ntar naksir" goda Tasya sambil masih terkekeh.


"Ih, amit-amit. Bukan selera gue" jawab Salsa sambil memutar bola matanya.


Tasya hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya tersebut.


Salsa mengedarkan pandangan ke arah court. Saat ia melihat ke arah bangku pemain dari tim sekolahnya, ia merasa kaget.

__ADS_1


Pria berkaus putih yang tadi sempat membuatnya kesal, sedang duduk santai di bangku pemain.


__ADS_2