
Tasya menghambur ke pelukan Dion yang baru saja tiba di bandara kota tersebut.
Tasya menumpahkan segala kerinduannya dan segala kesedihannya beberapa hari belakangan ini.
Kenyataan tentang papa kandungnya yang mendadak muncul, membuat Tasya sedikit tertekan belakangan ini.
Tasya ingin menangis, hatinya terasa sesak.
Tasya tak tahu harus mengungkapkan segala isi hatinya kemana.
Tasya tak mau membebani mama Sarla yang sedang fokus mempersiapkan pernikahan Vira.
Pun dengan sahabat-sahabatnya, Tasya tak bisa lagi leluasa bercerita pada mereka seperti dulu.
Karena mereka semua kini sudah berumah tangga, dan tentu saja mereka pasti punya masalahnya masing-masing.
Kini hanya ada Dion, satu-satunya tempat dimana Tasya bisa mengungkapkan semua keluh kesahnya.
Hanya Dion yang bisa memahami Tasya.
Tasya menangis sesenggukan di pelukan Dion.
Tentu saja hal ini membuat Dion bertanya-tanya.
"Nat, ada apa?" Tanya Dion sedikit bingung. Ia mengusap lembut kepala Tasya yang kini masih menangis di pelukannya.
Rasanya terlalu berlebihan jika Tasya menangis seperti ini hanya karena Tasya merindukan Dion.
Tasya mengangkat kepalanya, mencoba menghapus airmata yang jatuh bercucuran di kedua pipinya.
"Aku bingung" ujar Tasya lirih nyaris tanpa suara.
Bisa Dion lihat, ada raut kesedihan mendalam di wajah Tasya.
"Ayo" Dion membimbing Tasya untuk segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.
Dion paham, Tasya sedang menghadapi masalah yang berat saat ini. Dion akan mengajaknya ke tempat yang lebih nyaman, agar gadis itu bisa menumpahkan semua masalah yang mengganggu dirinya.
Tasya hanya diam sepanjang perjalanannya. Gadis itu sibuk memandang keluar jendela, melihat pepohonan yang seolah berlarian melawan arah mobil yang ia kendarai.
Dion membiarkan Tasya larut dalam pikirannya sendiri. Ia memilih untuk fokus menyetir dan melihat jalan di depannya.
Dion paham bagaimana Tasya, gadis itu pasti akan menceritakan semua masalahnya saat dirinya sudah siap.
Mobil yang membawa keduanya memasuki kawasan taman kota yang sudah lama tidak mereka kunjungi.
Mobil berhenti di salah satu sisi taman yang cukup sepi.
Dion dan Tasya masih sama-sama diam.
__ADS_1
"Ada masalah apa, Nat?" Dion akhirnya tak bisa lagi menahan dirinya.
Tasya mengeluarkan sebuah liontin dari dalam sakunya.
Sebuah liontin dengan nama "Natasya".
Dulu bu Ranti memberikan itu padanya saat usianya tujuh tahun.
Tasya selalu mengira jika itu hanyalah sebuah hadiah dari bu Ranti.
Namun nyatanya, semua itu tidaklah benar.
Bu Ranti menemukan liontin itu bersamaan dengan saat beliau menemukan bayi Natasya di teras panti asuhan.
Dan itulah juga alasan kenapa bu Ranti kemudian memberikan nama Natasya pada bayi itu.
Nama Natasya adalah nama pemberian kedua orangtua kandung Tasya.
Tasya menunjukkan liontin itu pada Dion, membuat Dion semakin mengernyit bingung.
"Bagaimana jika, orang tua yang dulu pernah membuangmu, tiba tiba muncul kembali di hadapanmu dan meminta untuk memperbaiki semuanya?" Tasya berkata dengan nada yang datar. Namun tampak sekali kebingungan dan kemarahan dari sorot wajahnya.
"Apa maksudmu, Nat? Apa orang tua kandungmu menemuimu?" Tanya Dion menerka-nerka.
Tasya menghela nafas panjang,
"Ya..." Tasya menjeda kata-katanya.
Ucapannya terdengar membingungkan untuk Dion.
"Apa yang mengganggumu?" Tanya Dion bingung.
"Aku hanya berpikir, papa kandungku pastilah orang jahat. Karena dia telah meninggalkanku di teras sebuah panti asuhan, membiarkanmu kedinginan, kenapa dia melakukan itu, Dion?" Tasya menatap tajam ke arah Dion.
Air mata sudah jatuh bercucuran di kedua pipi gadis itu.
"Dia pasti punya alasan, Nat. Apa kamu sudah menanyakannya?" Tanya Dion sembari menghapus air mata Tasya.
Dion mengusap lembut kepala Tasya seolah berusaha untuk menenangkan gadis tersebut.
Tasya menggeleng,
"Aku tidak mau mengetahuinya" jawab Tasya lirih.
"Kamu tidak boleh egois seperti itu. Kalau memang dia ingin membuangmu, kenapa dia meninggalkanmu di panti asuhan? Dan lihatlah sekarang, dia mencarimu. Itu artinya selama ini dia tidak pernah melupakan dirimu" Dion mencoba mengambil kesimpulan bijak.
Tasya masih diam.
Tasya sudah merasa bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Lalu kenapa mendadak orang yang mengaku papa kandungnya, muncul di hadapannya dan membuat semuanya menjadi runyam.
__ADS_1
"Kamu harus menemuinya, Nat. Kamu berhak untuk bertanya semuanya" Dion menggenggam erat tangan Tasya.
"Aku takut, Di" ucap Tasya lirih.
"Semuanya akan baik-baik saja, Nat" sekali lagi Dion mengusap lembut kepala Tasya demi membuat gadus itu tenang.
Dion tahu, pasti Tasya merasa terkejut dengan semua ini.
"Bagaimana jika kedua orang tuaku ternyata adalah orang jahat?" Sekali lagi Tasya berasumsi. Gadis itu sepertinya masih sulit sekali menerima sebuah kenyataan.
"Kamu gadis yang baik, Nat. Jadi pasti kedua orang tuamu juga orang yang baik" Dion terus berusaha untuk meyakinkan Tasya.
"Tapi kata mama Sarla..." belum selesai Tasya berbicara, Dion sudah memotongnya.
"Dengar, kamu gak akan tahu sampai kamu menanyakan semuanya, Nat. Berhentilah berpikiran negatif seperti itu. Itu sungguh tidak perlu" Dion sedikit geram.
Namun ia tetap berusaha menjaga nada bicaranya agar tak terkesan menggurui dan menyinggung perasaan Natasya yang sepertinya sedang kacau.
Tasya menarik nafas panjang. Mencoba mengendalikan emosinya dan mengikuti saran Dion untuk membuang semua pikiran buruk yang berkecamuk di kepalanya.
"Apapun latar belakang kedua orang tuamu, aku tidak akan mempermasalahkannya. Kamu akan tetap jadi Natasya ku. Oke" Dion meraih kedua tangan Tasya dan menciumnya berulang kali.
Hal sederhana yang mampu membuat Tasya sedikit bernafas lega.
"Tersenyumlah, Nat" ucap Dion memohon.
Dion baru saja bertemu dengan Natasya setelah hampir dia pekan mereka terpisah jarak.
Dion sungguh rindu senyuman gadis itu.
Tasya sama sekali belum tersenyum sejak mereka keluar dari bandara.
Tasya memaksakan sebuah senyuman di bibirnya untuk Dion. Meskipun hati dan perasaannya masih kacau sekarang.
Entahlah, Tasya bingung.
Haruskah ia menuruti kata-kata Dion barusan dan pergi menemui papa kandungnya?
Atau sebaiknya Tasya menghindar saja dan tak perlu menemuinya?
"Nat..." Dion menepuk lembut bahu Tasya, membuyarkan semua lamunan gadis itu
"Iya?" Jawab Tasya sedikit terkejut
"Kita pulang sekarang ya. Hari hampir malam" ujar Dion.
Tasya mengangguk saja.
Langit memang sudah berubah dan menunjukkan semburat oranye.
__ADS_1
Matahari sudah mulai menuruni garis cakrawala. Sebentar lagi langit akan berubah menjadi hitam dan malam akan mulai menjelang.
Mobil yang membawa Tasya dan Dion sudah melaju meninggalkan taman kota.