Natasya

Natasya
SEASON KEDUA: Maaf... Dion


__ADS_3

Acara makan malam romantis itu sudah berakhir. Kini Tasya dan Dion duduk berdua di sofa yang ada di ruang tengah.


Tasya yang duduk bersandar di dada Dion sibuk mengotak-atik laptop yang ada di pangkuannya


Melihat kembali foto-foto kenangan mereka berdua saat masa SMA hingga kini. Sesekali Tasya akan bercerita mengenai foto-foto itu dan Dion akan mendengarkannya atau menanggapinya.


"Kau punya foto lainnya?" Tanya Tasya sambil mendongak dan menatap wajah Dion.


Wajah yang kini sudah tampak lebih dewasa. Sangat berbeda dengan Dion yang dulu Tasya kenal saat masih duduk di bangku SMA.


Saat itu mungkin Dion masih mencari jati diri dan emosinya belum stabil. Dulu Tasya dan Dion selalu meributkan hal-hal kecil.


Ah, mengingat masa itu kadang membuat Tasya tersenyum sendiri.


"Coba lihat disini" Dion mengambil alih laptop di pangkuan Tasya dan membuka beberapa file.


Dan...


Banyak foto Tasya yang sepertinya di ambil diam-diam oleh Dion.


Tasya sedikit terkejut,


"Kapan kau mengambil fotoku seperti ini" Tasya langsung protes dan mencebik.


Bagaimana mungkin Dion menyimpan banyak foto dirinya dalam berbagai pose yang sulit di jelaskan.


Bukannya menjawab, Dion malah tertawa puas.


"Dulu, aku penggemar beratmu. Jadi aku suka mengambil foto dirimu" ujar Dion masih tertawa.


"Dan kau masih menyimpannya sampai sekarang?" Tasya bersedekap dan melotot tajam ke arah Dion.


"Apa salahnya. Bukankah akhirnya kamu juga mau jadi istriku." Ucap Dion percaya diri.


Sontak Tasya langsung memukul lengan Dion.


"Ya, ya, ya. Kamu yang selalu mengejarku dulu. Jadi aku terpaksa menerima dirimu. Aku tak mau kamu nangis guling-guling karena aku meninggalkanmu" ujar Tasya tak mau kalah.


"Hmmmm, tapi bukan aku yang minta buru-buru dilamar" timpal Dion sedikit menyindir.


Tasya yang tadi sudah terkekeh kembali mencebik sekarang.


"Digantung itu sakit, Di" Tasya membela diri.


Dan Dion malah tertawa renyah.


"Memangnya siapa yang menggantung gadis cantik seperti dirimu? Apa laki-laki itu sungguh tak tahu diri?" Dion menatap lekat wajah Tasya.


"Mungkin, laki-laki itu terlalu sibuk dengan benda bulat berwarna oranye. Jadilah aku selalu dia abaikan" Tasya balik menatap ke arah manik mata milik Dion.


Dion tersenyum simpul,


"Aku tak akan mengabaikanmu malam ini" ucap Dion berbisik.


Suasana apartemen yang masih gelap, tak mengganggu mereka berdua.


Hanya ada cahaya lampu dari jalanan sekitar yang menelusup masuk melalui tirai yang menutupi jendela besar di samping sofa.


Namun, bagi Dion cahaya itu sudah lebih dari cukup.


Dion mulai membuka kancing kemeja yang di kenakan oleh Tasya.


Perlahan, Dion menyusuri setiap inchi tubuh istrinya tersebut, membuat Tasya menggeliat kegelian.


"Tunggu, kita akan melakukannya di sini?" Tanya Tasya sambil tertawa kecil.


"Apa masalahnya? Kita sudah pernah melakukannya di semua sudut rumah. Apa kamu ingin kita pindah ke balkon? Sepertinya kita belum pernah melakukannya di sana" Tanya Dion mulai nakal.


"Kau gila!" Ucap Tasya setengah berteriak.


"Kamu yang membuatku menjadi gila, Nat" Dion ikut-ikutan berteriak sebelum akhirnya pria itu menyatukan bibir miliknya dengan bibir milik Tasya.


Keduanya kini larut dalam sebuah pergelutan untuk melepaskan hasrat dan gairah dengan penuh cinta.


*****


Suasana di apartemen itu kini sudah berubah menjadi hening. Hanya ada suara detak jarum jam yang kini sudah menunjukkan pukul satu malam.


Dion dan Tasya masih terbaring di sofa ruang tengah yang lebih mirip kapal pecah saat ini.


Dion memeluk erat tubuh Tasya yang mungkin sudah tertidur sekarang karena pergelutan panjang tadi.


Dion masih terjaga, pikirannya menerawang. Sesekali Dion menciumi atau sekedar menghirup aroma tubuh Tasya yang entah sejak kapan menjadi aroma favoritnya.


Tangan Dion menyusuri tubuh polos milik Tasya, turun kebawah, dan kini berhenti tepat di perut Tasya yang rata dan datar.


"Semoga kamu akan segera hadir disana" bisik Dion seraya mengusap lembut perut Tasya.


Dion tak tahu, jika sebenarnya Tasya juga masih terjaga. Tasya memang memejamkan matanya, namun Tasya belum tertidur.


Tasya masih bisa mendengar dengan jelas saat Dion mengucapkan kata-kata itu.


Air mata Tasya jatuh tanpa permisi. Dadanya benar-benar terasa sesak sekarang.


Dion benar-benar merindukan kehadiran seorang anak.


Tasya semakin merasa bersalah sekarang.


Dion selalu berusaha membuat Tasya bahagia, namun Tasya selalu saja membuat Dion merasa kecewa.


Bahkan untuk keinginan Dion yang satu ini, Tasya tak jua bisa mewujudkannya.


Sungguh Tasya benar-benar merasa menjadi istri yang tidak berguna.


Tasya bisa merasakan nafas Dion yang mulai teratur sekarang. Sepertinya pria itu sudah terlelap dalam tidurnya. Membawa semua mimpi dan harapannya yang entah kapan akan terwujud.


*****


Tasya menarik nafas panjang sebelum turun dari dalam mobil.


Tasya dan Dion baru saja tiba di rumah keluarga Dion.


"Nat," Dion membukakan pintu mobil untuk Tasya dan membantu istrinya tersebut melepaskan sabuk pengaman.


Dion tahu, ini pasti berat untuk Tasya.


Namun Tasya juga yang kemarin bersikeras untuk tetap datang.


"Tetaplah berada di dekatku" pesan Dion setelah Tasya turun dari mobil.


Tasya hanya mengangguk dan segera menggamit lengan suaminya tersebut.


Keduanya masuk ke dalam rumah besar yang kini sudah di sulap menjadi bernuansa merah muda.


Ya, anak kedua Kevin dan Vira memang berjenis kelamin perempuan.


Dion dan Tasya datang terlambat, acara utama sepertinya sudah selesai. Kini para tamu sedang menikmati jamuan.


"Kalian datang?" Mama Wina langsung menyapa dan memeluk Tasya.


"Maaf, Ma. Kami sepertinya terlambat" ujar Dion berbasa-basi.


"Tak apa, ayo bergabung dengan yang lain!" Mama Wina menggandeng tangan Tasya dan mengajak Tasya menyapa beberapa kerabat jauh mereka. Dion tetap setia mengekor di belakang kedua wanita tersebut.


Satu per satu kerabat yang datang, Tasya sapa dengan ramah. Beberapa masih menanyakan tentang kehamilan, tapi Tasya tak mau terlalu ambil pusing. Tasya memilih untuk menanggapinya dengan santai.


Meskipun tak dapat di pungkiri, jauh di dalam hatinya Tasya masih merasakan rasa sakit itu.


"Sya," sebuah suara yang tak asing menyapa Tasya.


"Hai, Sil. Kamu datang juga" Tasya langsung memeluk erat sahabat lamanya tersebut.


Sudah cukup lama keduanya tak bersua.


"Bagaimana kabarmu sekarang?" Tanya Silvi berbasa-basi.


"Baik. Kamu sendiri?" Tasya balik bertanya.


"Kamu lihat, aku baik juga" jawab Silvi tersenyum hangat.


"Hai, Sya." Julian yang kini menggendong seorang anak laki-laki ikut menyapa Tasya.


"Hai, Ju! Lama tak berjumpa" Tasya mengusap punggung anak kecil yang kini sedang terlelap di gendongan Julian.


"Aku akan membawanya ke kamar sebentar" pamit Julian pada Silvi dan Tasya.


Kedua wanita itu hanya mengangguk.


"Putramu sudah besar" Tasya kembali berbasa-basi.


"Ya, waktu cepat berlalu. Semoga kamu dan Dion juga segera menyusul, Sya" Silvi menggenggam erat tangan sahabat lamanya tersebut, seakan memberikan kekuatan pada Tasya.


"Amin," jawab Tasya lirih


"Hai, Silvi. Mana Julian?" Dion yang baru bergabung langsung menyapa Silvi dan menanyakan Julian yang tak kelihatan batang hidungnya.


"Julian sedang menidurkan anak kami di kamar" jawab Silvi menjelaskan.


Dion mengangguk paham.


Tak berselang lama, Julian sudah kembali dan bergabung lagi dengan Tasya dan Silvi.


Julian yang melihat Dion juga ada di sana langsung mengajak tos sahabat lamanya tersebut.


"Hai, bro! Lama tak berjumpa" Julian terlihat senang berjumpa dengan Dion.

__ADS_1


Setelah menikah dengan Silvi, Julian memang pensiun dari dunia basket.


Sesuai permintaan dari papanya Silvi, Julian langsung mengambil alih perusahaan keluarga Silvi.


Jadilah sekarang Julian sang bos besar.


"Gue kangen main basket bareng loe" ucap Julian kembali mengenang saat dulu dirinya masih satu tim dengan Dion.


"Gue juga, belum ada yang se keren loe di lapangan" ujar Dion berlebihan.


"Mungkin kapan-kapan kalau ada waktu kita bisa coba one x one" usul Julian.


Dion mengangguk,


"Ide bagus. Gue tunggu kabar dari loe." Jawab Dion sambil tersenyum lebar.


Hari sudah beranjak sore. Acara sudah hampir selesai. Tasya dan Dion memutuskan untuk menginap di rumah mama Wina malam itu.


*****


Hari beranjak malam, suasana di rumah besar itu sudah sepi. Mungkin penghuninya kelelahan setelah acara hari ini.


Tasya turun ke dapur untuk mengambil minuman dan cemilan. Dion sedang mandi tadi.


"Sya," suara Kevin yang entah sejak kapan sudah ada di dapur membuat Tasya terlonjak kaget.


Suasana rumah sudah sepi, dan kenapa mendadak Kevin juga ada di situ?


"Hai, Kev. Kamu butuh sesuatu?" Tanya Tasya berbasa-basi.


Kevin menggeleng,


"Aku ingin bicara denganmu sebentar," ujar Kevin ragu-ragu.


"Ya, bicara tentang apa?" Tanya Tasya lagi.


Tasya masih sibuk menyiapkan cemilan yang akan ia bawa ke kamar.


Kevin tampak menggaruk kepalanya yang tak gatal, sepertinya pria itu bingung mau berbicara mulai darimana.


"Sya, aku sungguh minta maaf" terdengar nada penyesalan dan rasa bersalah dari cara Kevin berbicara.


Tasya menatap Kevin dan mengernyit bingung.


"Maaf... untuk apa?" Tanya Tasya bingung.


"Untuk semua perbuatanku di masa lalu..." Kevin bingung bagaimana harus melanjutkan kalimatnya.


Kevin hanya merasa, masalah yang di hadapi oleh Dion dan Tasya saat ini yang belum juga dikaruniai momongan ada hubungannya dengan perbuatan buruk Kevin pada Tasya di masalalu. Mungkin saja kandungan Tasya bermasalah karena hal waktu itu.


Tasya terlihat menarik nafas panjang,


"Apa kamu berpikir penyebab aku belum hamil sampai sekarang karena perbuatanmu waktu itu?" Tasya langsung bisa menebak arah pembicaraan Kevin.


Kevin mengendikkan bahu,


"Kurang lebih begitu, pikiran itu selalu saja menghantuiku" ujar Kevin.


Sekali lagi Tasya menarik nafas panjang.


"Ini tidak ada hubungannya dengan semua itu, Kev. Aku dan Dion sudah menemui dokter dan kami sedang ikut program hamil sekarang..." Tasya menjeda kata-katanya sekedar untuk menyusun kalimat yang tepat sebelum mengucapkannya.


"...dan soal masalaku di antara kita, aku benar-benar tak mau mengingatnya. Kita sudah sama-sama menikah dan memiliki jalan hidup masing-masing. Jadi aku harap kamu tidak akan pernah kagi membahas itu semua" untuk kalimat yang terakhir, Tasya mengucapkannya dengan nada memohon.


Kevin hanya tertunduk, pria itu merasa semakin bersalah sekarang.


Tasya benar, itu hanyalah masalalu. Tidak segarusnya Kevin kembali mengungkit-ungkit semua itu.


"Baiklah, aku benar-benar minta maaf, Sya. Aku sungguh tak bermaksud..." ucap Kevin dengan nada menyesal.


Tasya mengangguk,


"Ini benar-benar tak ada hubungannya dengan semua itu, Kev. Jadi jangan pernah membahasnya lagi. Itu semua benar-benar hanya masalalu" pinta Tasya sekali lagi.


Kevin mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu, aku akan pergi. Selamat malam, Tasya" ucap Kevin berpamitan.


"Selamat malam, Kev" balas Tasya lirih.


Setelah kepergian Kevin, pikiran Tasya kembali menerawang, mengingat pembicaraannya dengan Elena beberapa waktu yang lalu...


Flashback...


"*Sebenarnya aku pernah melakukan kuret sebelum menikah, apa karena itu aku jadi susah hamil sekarang?" Tanya Tasya sedikit ragu.


Tasya memang menemui Elena untuk ke sekian kalinya. Namun kali ini Tasya sengaja datang sendiri tanpa Dion karena Tasya ingin membahas tentang hal sensitif ini.


Hal yang seharusnya Tasya lupakan, karena ini adalah kenangan pahit sepanjang hidupnya.


Elena tentu saja terkejut dengan pengakuan Tasya kali ini,


"Kamu pernah kuret? Tapi kamu tak pernah membahas hal ini sebelumnya" ujar Elena dengan nada terkejut.


"Ya, ini hanya soal kenangan pahit di masa lalu, El..." Tasya belum selesai dengan kalimatnya, namun Elena sudah memotong dengan cepat.


"Baiklah, bukan hakku untuk menghakimi. Tapi aku benar-benar harus bertanya dan aku harap kamu mau berkata jujur" Elena terlihat menarik nafas panjang.


Tasya hanya mengangguk.


"Kamu keguguran waktu itu?" Tanya El dengan nada sedatar mungkin, El benar-benar tidak mau menghakimi ataupun membuat Tasya merasa tidak nyaman.


"Ya" jawab Tasya singkat.


"Berapa usia kandunganmu saat itu?" Tanya Elena lagi.


"Kurang lebih duabelas minggu" jawab Tasya mencoba mengingat-ingat.


"Apa kamu terjatuh atau ada hal lain yang menyebabkan kamu mengalami keguguran?" Entah mengapa Elena sedikit merasa kurang nyaman menginterogasi Tasya seperti ini.


"Aku mengalami kecelakaan. Aku terserempet sepeda motor, lalu aku jatuh dengan keadaan terduduk, dan aku mengalami pendarahan" Tasya memilih untuk langsung menceritakan saja semuanya secara detail.


Elena tampak mengangguk.


"Baiklah, kita akan lihat sekali lagi kondisi rahimmu" El beranjak berdiri dari kursinya, dan berjalan menuju ruang USG.


Tasya mengikuti El dan langsung berbaring di atas ranjang yang ada di ruangan itu.


Kali ini Elena memeriksa dengan lebih detail.


"Apa ada masalah?" Tanya Tasya sedikit khawatir.


"Tidak, semuanya normal." Ujar Elena masih memperhatikan gambar di layar monitor.


"Apa kamu masih stress belakangan ini?" Tanya Elena lagi.


"Kadang," Tasya sudah bangun dan duduk di ranjang serba putih tersebut.


"Itulah masalah utamanya, Sya. Kamu harus santai. Cobalah untuk berlibur atau berbulan madu bersama Dion. Aku rasa kalian membutuhkan itu" Elena memberikan saran.


"Kami sudah berbulan madu setiap hari di apartemen, El" jawab Tasya sedikit terkekeh.


"Maksudku carilah suasana baru, agar pikiranmu tidak stress terus-terusan" El mengetuk kening Tasya dengan pulpen yang ada di tangannya.


Bukannya kesakitan, Tasya malah terkekeh.


"Baiklah, aku akan menuruti semua saranmu, Dokter Elena" Tasya masih saja terkekeh, membuat Elena sedikit geram*.


Flashback off...


Tasya menarik nafas panjang sekali lagi.


Ya, ini bukanlah salah Kevin. Mungkin ini adalah takdir kehidupan atau ujian untuk rumah tangga Tasya dan Dion.


Tasya benar-benar tak mau menyalahkan siapapun atas apa yang terjadi.


Tasya sudah selesai dengan urusannya di dapur. Wanita itu bergegas keluar dari dapur dan membawa nampan yang berisi minuman dan makanan untuk ia bawa ke dalam kamarnya.


Mungkin Dion sudah selesai mandi. Sepertinya Tasya terlalu lama berada di dapur.


Dion yang sedari tadi berdiri di dekat pintu masuk dapur segera bersembunyi agar Tasya tak melihatnya.


Ya, Dion bahkan mendengar semua pembicaraan Tasya dan Kevin di dapur tadi.


Tadinya, Dion ingin mengejutkan Tasya yang sedang berada di dapur.


Namun, justru Dion yang merasa terkejut saat tahu Tasya sedang mengobrol dengan Kevin di dapur.


Dion cemburu?


Tentu saja tidak.


Dion menguping?


Ya, apa salahnya. Dion hanya ingin tahu apa yang mereka berdua bicarakan.


Sejujurnya, meskipun kini Tasya sudah menjadi istri Dion, kadang Dion masih menaruh rasa cemburu saat Tasya dekat atau sekedar mengobrol dengan Kevin.


Apalagi jika mengingat apa yang pernah terjadi di antara Tasya dan Kevin di masa lalu, rasa cemburu itu akan semakin menjadi-jadi.


Karena itulah Dion jarang mengajak Tasya berkunjung ke rumah ini. Dan Dion akan selalu mengekori Tasya saat mereka sedang di rumah ini.


Huh, apa cinta memang serumit ini?


*****

__ADS_1


Tasya baru saja tiba di kamar Dion.


Tapi wanita itu tidak melihat tanda-tanda keberadaan Dion.


"Dion," Tasya membuka pintu kamar mandi yang ada di kamar Dion.


Kosong.


Tasya ganti memeriksa balkon kamar, dan nihil juga.


'Kemana pria itu?' Tasya bertanya pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba Tasya ingat sesuatu.


Rooftop,


Ya, pasti Dion ada di sana. Kemana lagi memangnya?


Tasya bergegas keluar dari kamar dan segera naik ke tangga yang menuju ke arah rooftop.


Sesaat setelah Tasya pergi, Dion masuk ke kamarnya.


Tasya tidak ada. Namun makanan yang tadi di bawa Tasya ada di atas nakas. Berarti Tasya tadi memang sudah masuk ke kamar.


Dion mencari-cari Tasya di srkitar kamar, namun nihil.


Kemana wanita itu?


*****


Tasya sudah sampai di rooftop rumah besar itu.


Hanya ada minicourt kesayangan Dion di atas sana.


Tadinya Tasya sudah bersemangat ingin mengomel pada Dion. Namun, Tasya harus menahan hasrat mengomelnya, karena disini juga kosong dan sepi.


Dion tak ada disini.


Ini aneh


Tasya menarik nafas panjang dan memilih untuk duduk di bangku panjang yng ada di tempat itu.


Sesaat Tasya lupa dengan keinginannya untuk mengomel pada Dion. Tadya akan mencari Dion nanti saja, toh annti pasti juga Dion yang akan menemuinya. Laki-laki itu mana tahan berjauhan dengan dirinya saat ada di rumah ini?


Tasya tersenyum sendiri mengingat tingkah konyol Dion yang semakin menjadi-jadi sejak mereka menikah.


Dion seakan tak peduli dengan omongan orang lain atau tentang mereka yang tak kunjung mendapatkan momongan.


Sikap Dion tetap saja romantis sejak awal mereka menikah, hingga kini saat usia pernikahan sudah masuk tahun keempat.


Tasya benar-benar bersyukur memiliki Dion sebagai suaminya. Mungkin Tasya adalah wanita paling beruntung di dunia ini.


"Kau di sini? Aku mencarimu" suara Dion yang baru saja datang membuyarkan semua lamunan Tasya.


"Aku juga mencarimu tadi. Kamu tidak ada di kamar, jadi aku pikir kamu sedang berlatih disini" Tasya mengendikkan bahu.


Dion tersenyum simpul.


"Sedang memikirkan apa? Kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu?" Skakmat, rupanya Dion tadi memergoki Tasya yang tengah melamun sambil senyum-senyum sendiri.


"Gak ada" jawab Tasya sambik menunduk dan berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai merona merah.


Dion semakin senang tentu saja. Ini adalah hal favorit Dion. Menggoda Tasya dan membuat wajah istrinya tersebut menjadi semerah tomat.


"Mikirin aku ya?" Ucap Dion percaya diri.


Sontak Tasya langsung memutar bola matanya dan memukul lengan suaminya tersebut.


"Geer" Tasya mencibir.


"Uuuh, ada yang gak mau ngaku dan sok jual mahal" Dion langsung membekap tubuh mungil Tasya, membuat wanita tersebut kaget dan sedikit menjerit.


"Lepas, Dion!" Tasya berusaha memberontak, meskipun tak sepenuhnya.


"Hmmmm, gak mau. Aku akan melakukan ini sampai pagi" Dion mulai bertingkah konyol lagi.


"Kita tidak sedang di apartemen, Di. Bagaimana jika ada yang memergoki?" Ujar Tasya menakut-nakuti.


"Biar saja, kita kan sudah menikah. Memangnya kalau ada yang memergoki kenapa? Kita akan dinikahkan lagi begitu" Dion berkata sambil tertawa.


"Gak lucu, Di" ujar Tasya geram.


"Trus apa dong yang lucu? Begini?" Dion mulai menggelitiki Tasya, membuat wanita itu menggeliat dan meronta-ronta di dekapan Dion.


"Hentikan, Di!" Ucap Tasya galak.


Dion masih saja tertawa dan tidak merasa bersalah sama sekali.


"Hei, aku punya ide. Bagaimana kalau kita mencobanya disini" Dion menaik turunkan alisnya, memberi kode nakal pada Tasya.


Tasya langsung melotot horor pada Dion,


"Jangan aneh-aneh. Ini tempat terbuka. Dasar mesum!" Tasya yang sudah lepas dari dekapan Dion kini bersedekap dan memasang wajah marah.


Namun Dion masih tak berhenti menggoda istrinya tersebut.


"Apa kamu tahu, kamu semakin cantik dan menggairahkan kalau sedang marah" ucap Dion berbisik di telinga Tasya lalu lanjut menciumi tengkuk istrinya tersebut.


Tasya memejamkan matanya. Otaknya ingin menolak semua ini, namun raganya malah diam dan justru menikmati setiap sentuhan nakal dari Dion.


Dion tersenyum puas sekarang,


"Aku akan berlatih sebentar. Kamu ingin menemaniku?" Dion menghentikan begitu saja tingkah mesumnya barusan, dan langsung mengambil bola untuk berlatih.


Terang saja hal itu langsung membuat Tasya menggeram kesal. Tentu saja Tasya kesal. Tadi Dion bersemangat sekali menggodanya. Dan sekarang, Dion malah mengacuhkannya dan memilih "berselingkuh" dengan benda bulat berwarna oranye itu.


Ingin rasanya Tasya melempar seluruh bola yang ada di rak itu ke kepala Dion.


"Aku akan tidur" ucap Tasya dengan nada kesal.


Masih bisa Dion lihat, Tasya yang menghentak-hentakkan kakinya sebelum menuruni tangga.


Dion benar-benar ingin tertawa keras sekarang.


Sekali lagi, pria itu berhasil membuat Tasya kesal.


Bergegas Dion menyusul istrinya turun dari rooftop dan masuk menuju kamarnya.


*****


Di dalam kamar,


Tasya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Sepertinya wanita itu benar-benar sedang marah.


Dion yang baru saja masuk ke dalam kamar langsung melompat ke tempat tidur untuk mulai menggoda istrinya itu lagi.


"Natasya" panggil Dion dengan nada mesra.


Tasya memilih untuk mengabaikannya dan berpura-pura tidur.


Dion menyibak selimut yang menutupi tubuh Tasya,


"Nat," Dion masih tak menyerah untuk menggoda istrinya tersebut.


Dion melingkarkan lengannya di pinggang Tasya, dan langsung ditampik oleh Tasya.


Dion ganti mengelus lembut pundak dan leher Tasya.


"Nat, aku mencintaimu" bisik Dion mesra.


Tasya menahan senyum di bibirnya.


"Dasar gombal" ucap Tasya masih dengan mata terpejam.


"Boleh aku minta jatah malam ini? " tangan Dion sudah menyusup masuk ke dalam baju tidur yang di kenakan Tasya.


"Dalam mimpimu. Minta saja pada bola oranye mu itu. Aku masih marah" Tasya menghentikan tangan Dion yang mulai meraba-raba daerah sensitifnya.


Matanya melotot tajam pada Dion.


"Kenapa kamu jahat sekali" Dion berkata dengan memelas.


"Kamu yang mulai tadi" Tasya mendengus kesal.


"Baiklah, aku minta maaf. Tadi aku hanya usil" Dion menunjukkan jarinya yang membentuk huruf V.


"Aku belum memaafkanmu" jawab Tasya enteng.


Dion langsung berguling dan menindih tubuh Tasya.


"Aku akan memaksamu kalau begitu" Dion menatap tajam ke arah netra milik Tasya.


"Jangan coba-coba!" Tasya tak kalah tajam melotot ke arah Dion.


Namun sia-sia. Dion bahkan membuka baju tidur Tasya dengan paksa hingga baju itu sobek.


"Dion!!!" Tasya menggeram marah.


"Diamlah. Atau aku akan melakukannya semalaman" Dion langsung membungkam bibir Tasya dengan ciuman bertubi-tubi.


Baiklah, Tasya benar-benar tak bisa melawan malam ini.


Suaminya ini benar-benar usil dan mesum.


******

__ADS_1


__ADS_2