
Matahari sudah turun melewati garis cakrawala, meninggalkan semburat oranye di langit senja menjelang malam.
Dion dan Kevin masih duduk di rooftop menikmati senja sambil melepas peluh. Keduanya baru selesai bermain basket.
"Aku tidak tahu jika kau menjalin hubungan dengan Vira" Dion membuka obrolan diantara dirinya dan Kevin.
Kevin mengendikkan bahu.
"Aku juga bingung. Dulu aku membenci Vira. Namun saat diriku terpuruk, justru Vira yang datang dan memberiku semangat untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik" cerita Kevin sambil menerawang jauh. Mengamati gedung gedung tinggi yang berada di sekitar rumahnya.
Saat duduk di lantai paling atas rumahnya tersebut, Kevin bisa melihat gedung gedung itu dengan jelas.
Mobil-mobil yang melintas di jalanan terlihat sangat kecil sekarang.
"Apa kau mencintai Vira?" Tanya Dion lagi.
Sesaat Kevin terdiam. Ia bingung harus menjawab bagaimana. Kevin sendiri masih tidak tahu, apa dia benar-benar mencintai Vira atau ini hanya sebatas pelarian dari perasaannya?
"Aku berusaha untuk mencintainya." Jawab Kevin akhirnya berusaha diplomatis.
Dion mengangguk,
"Bagaimana dengan perasaanmu pada Tasya" tanya Dion setengah memancing. Yang Dion tahu, Kevin pernah tergila-gila pada Tasya.
Dion berpikir, mungkinkah Kevin hanya menjadikan Vira pelarian dari cintanya yang tak pernah terbalas pada Tasya?
Kevin menggeleng.
"Tasya tidak akan pernah menjadi milikku sampai kapanpun. Entahlah, saat itu aku pikir aku hanya bernafsu untuk memiliki Tasya, aku sungguh minta maaf atas sikap burukku itu, Dion. Aku benar-benar minta maaf karena sudah membuat hubunganmu dan Tasya menjadi kacau" nada bersalah tampak jelas dalam kata kata Kevin.
Dion beranjak dari duduknya. Ia belum menjawab, tapi matanya menerawang jauh.
Hubungannya dengan Tasya memang menjadi rumit dan kacau sejak insiden buruk itu.
"Semuanya sudah terlanjur, Kev. Tapi aku rasa kamu perlu bicara dengan Tasya sebelum kamu memulai kehidupan barumu. Bagaimanapun, pernah ada sesuatu di antara kalian" ucap Dion masih menerawang.
"Aku tidak yakin, Tasya mau bicara denganku. Meskipun kata Vira, Tasya sudah memaafkanku, tapi tetap saja aku masih merasa ragu" jawab Kevin pesimis.
Dion berdecak
"Kamu gak akan tahu sebelum mencobanya. Tasya gadis yang baik dan pemaaf. Sekalipun kamu telah menghancurkan hidupnya aku yakin, Tasya tetap akan memaafkanmu" ucap Dion sambil menepuk punggung Kevin.
Dion segera berlalu dari tempat itu dan hendak masuk ke dalam rumah, meninggalkan Kevin yang masih berdiri mematung.
Namun, sesaat Dion menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Kevin.
"Kamu akan datang saat pesta pernikahan Silvi lusa kan?" Tanya Dion pada Kevin.
__ADS_1
"Ya, tentu saja aku datang" jawab Kevin.
"Aku yakin Tasya juga pasti akan datang. Kau bisa bicara padanya dan memberikan undangan pernikahanmu" kata Dion sebelum benar benar pergi meninggalkan Kevin.
Langit perlahan berubah menjadi hitam.
Kevin masih berdiri di tempat menikmati malam yang perlahan mulai datang
Kevin menatap jauh ke arah kelap kelip lampu di kota tersebut
"Aku mencintai Vira, aku akan berusaha mencintainya" gumam Kevin pada dirinya sendiri.
Kevin terus merapalkan kalimat itu dan meyakinkan hatinya bahwa ia sungguh sungguh mencintai Vira dan tidak menjadikan gadis itu pelarian dari cintanya.
Pernikahannya dengan Vira tinggal menghitung hari, Kevin harus terus meyakinkan hatinya.
Setidaknya, Vira sudah mau menerima Kevin apa adanya bersama semua masa lalu kelamnya, dan gadis itu tentu berhak bahagia.
Jadi sudah menjadi tugas Kevin untuk membahagiakan Vira.
"Aku akan berusaha" tekad Kevin dalam hati.
Langit malam semakin gelap, bintang bersinar dengan malu-malu.
Kevin menarik nafas panjang sebelum akhirnya turun dan menyusul Dion meninggalkan tempat tersebut.
Dion baru saja masuk ke dalam kamarnya, saat ia mendengar ponselnya berbunyi.
Bergegas Dion mengangkat telpon yang rupanya dari Tasya.
"Hai, Dion" sapa Tasya dari seberang. Wajahnya terlihat segar. Sepertinya gadis itu baru selesai mandi.
Sengaja Dion menyalakan video call agar bisa melihat wajah Tasya.
"Hai, sudah lama menelpon?" Tanya Dion berbasa-basi.
"Lumayan, kamu darimana?" Tanya Tasya sedikit mencebik.
"Latihan di atas, maaf ponsel aku tinggal jadi gak tahu kalo kamu nelpon" jawab Dion merasa bersalah.
Dion hendak membuka kaosnya karena merasa gerah.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Tasya setengah melotot.
"Aku mau mandi, jadi aku buka kaos dulu biar keringatku hilang" Dion mencari alasan.
"Jangan lakukan itu, atau aku tutup sekarang telponnya" ancam Tasya galak.
__ADS_1
Dion tergelak,
"Ayolah, kamu sudah pernah melihatnya. Kenapa harus malu?" Dion mulai menggoda.
Sontak Tasya langsung mencebik
"Aku serius" Tasya bersedekap dan memasang wajah marah, membuat Dion semakin terpingkal.
"Baiklah, baiklah tuan putri aku tidak akan melakukannya" ucap Dion masih terkekeh.
Tasya bernafas lega sekarang.
"Jadi, kamu akan kesini kapan? Aku sudah sangat merindukanmu" Dion mengalihkan topik pembicaraan.
"Mungkin besok sore, masih banyak tugas yang harus kuselesaikan" jawab Tasya
"Acaranya lusa, lalu kamu baru kesini besok sore? Lalu kapan kita akan berkencan?" Dion mulai mengeluh.
Tasya hanya tertawa,
"Seharusnya kamu kesini menjemputku sebelum pulang kerumah, jadi kita bisa berkencan disini" ucap Tasya masih tertawa
"Baiklah aku akan menjemputmu besok" ucap Dion bersungguh-sungguh.
"Astaga, apa kamu serius? Tapi aku bisa datang sendiri Di. Jadi kamu gak perlu repot repot" Tasya mengibaskan tangannya, berharap ucapan Dion barusan hanyalah omong kosong dan tidak serius.
Tasya sungguh tidak ingin merepotkan.
Lagipula dirinya akan bertemu Dion di pesta pernikahan Silvi lusa.
"Baiklah, aku akan menjemputmu di bandara kalau begitu" Dion memberi penawaran.
Kali ini Tasya mengangguk.
"Sampai jumpa besok. Cepatlah mandi sskarang" ucap Tasya berpamitan.
"Bisakah kamu memberiku ciuman selamat malam sebelum menutup telpon?" Ucap Dion sedikit genit
"Dalam mimpimu. Aku tidak mau mencium orang yang belum mandi" jawab Tasya sambil terkikik.
"Ayolah, Nat. Hanya lewat telpon" Dion memohon.
Tasya semakin terpingkal.
"Selamat malam Dion. Sampai jumpa besok" Tasya langsung mematikan telponnya.
Dion hanya bisa mendengus. Antara gemas dan kesal.
__ADS_1
Dion segera menanggalkan kaosnya dan masuk ke kamar mandi. Ia butuh mandi air dingin sekarang.