
"Vina? Kamu kenapa menangis disini?" Tasya merangkul sahabatnya tersebut.
Vina masih menangis sesenggukan.
"Sya..." tangisan Vina semakin pecah. Ia memeluk erat Tasya.
Tasya semakin bingung dan tidak mengerti. Ada apa sebenarnya?
Dion yang masih berdiri di dekat kedua gadis tersebut ikut ikutan bingung.
Kenapa mendadak hari ini semua orang menangis?
"Vin, ada apa?" Tanya Tasya bingung
Vina menyodorkan sebuah kertas kepada Tasya.
Tasya membuka kertas tersebut dan membacanya sekilas. Dion ikut melihat dan membacanya juga.
Saat tahu isinya, sontak kedua remaja itu terkejut tak percaya.
"Vin, bagaimana bisa?" Tanya Tasya tak percaya.
Vina menggeleng.
"Gara gara kebodohan gue, Sya. Semua jadi kayak gini. Papi pasti marah besar sama gue. Gue takut, Sya" Vina kembali menangis sesenggukan.
Tasya segera memeluk Vina demi menenangkan sahabatnya tersebut.
"Tapi, siapa cowok yang melakukannya sama kamu? Apa dia sudah tahu?" Tanya Tasya sedikit ragu.
"Denny belum tahu," jawab Vina lirih.
"Denny? Jadi ini semua perbuatan Denny?" Dion yang mendengar nama sahabatnya itu disebut mendadak emosi.
"Bukan sepenuhnya kesalahan Denny, Di. Kami berdua sama sama mabuk malam itu. Jadi ini memang kesalahan kami" jelas Vina sambil menunduk. Rasa bersalah jelas membuncah di hatinya sekarang.
Dion dan Tasya saling bertatap pandang. Berbagai pertanyaan memenuhi benak keduanya.
Dion mengeluarkan ponselnya, lalu menelpon seseorang.
"Di, kamu telpon siapa?" Tanya Tasya khawatir.
"Denny harus tahu, Nat" ucap Dion tajam.
Telpon tersambung...
"Halo, Den. Lagi dimana?" Tanya Dion.
"Lagi dirumah aja Di. Ada apa?" Denny balik bertanya di seberang sana.
"Bisa datang ke rumah sakit sekarang gak? Ada yang penting" ucap Dion serius.
"Loe sakit Di? Di rumah sakit mana?" Tanya Denny khawatir.
"Enggak. Gue baik baik saja. Loe kesini dulu aja. Gue kirim lokasinya" ucap Dion berusaha menahan emosinya.
"Oke gue kesana sekarang." Pungkas Denny sebelum Dion menutup telponnya.
Dion menghampiri Tasya yang masih memeluk dan menenangkan Vina.
"Kita ajak ke ruang perawatan saja" usul Dion.
Tasya mengangguk.
"Vin, ikut kita yuk" ajak Tasya lembut pada Vina.
__ADS_1
Gadis itu mengangguk. Tasya membimbing Vina menuju ke arah ruang perawatan Ronny.
Dion mengekor di belakang kedua gadis tersebut.
Ceklek,
Suara pintu yang terbuka, membuyarkan lamunan Salsa yang sedang duduk di kursi disamping ranjang Ronny.
Salsa menoleh kearah pintu masuk dan terkejut saat tahu yang datang bukan hanya Tasya dan Dion. Tapi juga ada Vina yang penampilannya terlihat kacau.
'Tunggu, ada apa dengan Vina?' Gumam Salsa bingung.
Tasya membimbing Vina agar duduk di sofa yang ada di sudut ruangan.
Dion mengambilkan segelas air putih untuk Vina.
"Minum, Vin" Tasya menerima gelas berisi air putih dari tangan Dion, lalu memberikannya pada Vina yang masih menangis sesenggukan.
Salsa bergegas menghampiri Tasya dan Vina. Dia ikut duduk bersama dua sahabatnya tersebut.
"Vina kenapa, Sya?" Tanya Salsa khawatir.
Baru saja Tasya akan menjawabnya, tiba tiba terdengar suara ketukan di pintu.
Dion berjalan ke arah pintu masuk dan membukakan pintu.
Rupanya Denny yang datang.
"Masuk Den" Dion mempersilahkan Denny untuk masuk kedalam ruangan tersebut.
"Di, apa semuanya baik baik saja? Siapa yang sakit?" Tanya Denny khawatir.
Ia mengedarkan pandangan ke dalam ruangan tersebut.
Ada pelatih Ronny yang sedang terbaring diatas ranjang rumah sakit.
Denny tak mengerti.
"Apa yang terjadi pada pelatih?" Tanya Denny bingung. Ia menatap tajam pada Dion.
Dion berdecak.
"Pelatih Ronny mengalami kecelakaan kecil. Tapi tenang saja keadaannya sudah membaik" jawab Dion santai.
Dion memberi kode pada Denny agar mendekat ke arah tiga gadis yang sedang duduk di sofa.
Denny memperhatikan ketiga gadis tersebut. Sepertinya ada yang tidak beres.
Saat matanya bertatap pandang dengan Vina, seketika Vina langsung membuang pandangannya ke arah lain.
Namun dapat Denny tangkap mata sembab dan wajah sendu Vina.
'Apa yang sebenarnya terjadi?' Gumam Denny tak mengerti.
"Duduk, Den" Dion menyodorkan sebuah kursi untuk Denny duduk.
Dion dan Denny duduk di depan para gadis itu. Ada meja yang menjadi penghalang diantara mereka.
Tasya menyodorkan sebuah kertas pada Denny, membuat cowok itu semakin mengernyit bingung.
Namun Denny tetap membuka kertas tersebut lalu membacanya.
Sesaat wajah bingung Denny berubah menjadi raut terkejut.
"Ini beneran, Vin?" Tanya Denny masih tak percaya
__ADS_1
"Ya iya bener, emang kamu pikir aku ngarang semua itu hanya buat deketin cowok playboy kayak kamu" jawab Vina penuh emosi.
Tasya menepuk lembut punggung Vina, berusaha untuk menangkan gadis tersebut.
Denny menarik nafas panjang.
"Aku kan cuma nanya" ucap Denny merasa bersalah.
Dion menarik nafas panjang sebelum mulai berbicara. Sepertinya ia yang harus menengahi ini semua.
"Aku gak mau ikut campur. Aku anggap ini kesalahan kalian berdua.
Dan...Denny" Dion menatap tajam.ke arah sahabatnya tersebut.
"Kamu sahabatku. Aku percaya kamu adalah lelaki yang bertanggung jawab. Jadi aku harap kalian berdua akan membicarakannya baik baik dan mencari jalan keluarnya bersama sama" ucap Dion bijak.
"Papi bakalan marah besar sama gue" ucap Vina putus asa.
"Aku yang akan jelasin ke papi kamu, Vin." Denny tiba tiba sudah berlutut dihadapan Vina.
Tasya dan Salsa segera berpindah tempat, mencoba memberi ruang pada pasangan itu untuk berdiskusi.
"Dengar, aku gak akan kabur. Aku akan bertanggung jawab, oke!" Denny menggenggam erat tangan Vina.
Berusaha meyakinkan gadis di depannya tersebut.
Salsa yang berdiri di dekat Tasya masih merasa penasaran karena hanya mendapatkan informasi setengah setengah.
"Bagaimana bisa terjadi kayak gini?" Tanya Salsa sambil berbisik pada Tasya.
Tasya mengendikkan bahu.
"Kata Vina mereka berdua sama sama mabuk" jawab Tasya ikut ikutan berbisik.
"Nekat banget si Vina. Padahal bentar lagi udah mau lulus" ucap Salsa menyayangkan.
"Bukan hak kita menghakimi mereka berdua" jawab Tasya mencoba bijak.
Salsa hanya mengangguk dan membenarkan ucapan sahabatnya tersebut.
"Kak Ronny gimana?" Tasya mengalihkan topik pembicaraan.
"Masih belum sadar. Tapi kata dokter kondisinya sudah stabil." Jawab Salsa menjelaskan.
"Syukurlah kalo begitu" ucap Tasya lega.
Salsa mendekat ke ranjang perawatan Ronny untuk melihat keadaan Ronny.
Tasya mendekati Dion yang sedari tadi hanya diam.
Dion melihat sebentar ke arah Tasya, lalu meraih dan memggenggam erat tangan Tasya.
"Di, gue anter Vina pulang dulu" Denny sudah berdiri sambil menggandeng tangan Vina. Mereka berdua berpamitan pada Dion dan Tasya.
"Hati hati. Jagain tu anak orang" pesan Dion.
Denny mengangguk.
"Makasih ya bro, buat semua kalimat kalimat bijaknya" ucap Denny seraya terkekeh.
Dion ikut terkekeh. Kedua,sahabat itu berusaha mencairkan suasana yang sedari tadi terasa tegang.
"Aku balik dulu, Sya. Makasih buat semuanya" Vina berpamitan sambil memeluk erat Tasya.
"Hati hati. Semuanya akan baik baik saja. Oke" Tasya mencoba memberikan semangat pada sahabatnya tersebut.
__ADS_1
Vina juga berpamitan dan memeluk Salsa erat.
Setelah itu, Vina dan Denny segera berlalu meninggalkan ruang perawatan tersebut.