
Mobil yang membawa Vian dan Dion masuk ke sebuah rumah serba putih dengan halaman yang luas.
Ada Elena yang sedang menemani seorang gadis kecil bermain sepeda di halaman rumah tersebut.
Mungkin itu Rhea, putri Elena dan Egi yang sepertinya seusia dengan Zhia.
Ah, lagi-lagi Dion teringat pada Zhia.
Vian turun terlebih dahulu, dan Elena langsung bersedekap melihat kedatangan abang kesayangannya tersebut.
"Sarapan sudah habis, abangku sayang" kata-kata dari Elena sontak membuat Dion yang baru membuka sabuk pengamannya menahan tawa. Ternyata minta sarapan gratis memang sudah jadi hobi dan kebiasaan seorang Vian.
"Hei, hei. Begitukah caramu menyambut kedatangan abangmu ini?" Vian terlihat kesal sekarang.
Elena memutar bola matanya,
"Memangnya aku harus bagaimana? Abang juga bukan seorang raja" ujar Elena ikut kesal.
Dion sudah turun dari dalam mobil Vian dan segera menghampiri kakak beradik yang sedang berdebat tersebut.
"Pagi, El" sapa Dion pada Elena.
Elena kaget bukan main melihat Dion yang datang ke rumahnya pagi-pagi begini bersama dengan Vian.
"Hai, Dion. Wah... wah. Apa Tasya datang bersama kalian juga?" Tanya Elena sambil celingukan ke dalam mobil milik Vian.
"Kami hanya berdua, El" jawab Dion tersenyum hangat.
Elena hanya mengangguk.
"Apa Egi ada?" Tanya Vian kemudian.
"Ya, dia sedang di dalam. Masuklah!" Jawab Elena sambil berlalu. Wanita itu lanjut bermain bersama dengan sang putri.
Sepertinya Elena sudah paham kalau mereka berdua datang ke sini untuk bicara pada Egi.
Vian langsung masuk ke dalam rumah Egi, dan Dion mengekor di belakang Vian.
"Hai, adik ipar. Sedang sibuk?" Sapa Vian pada Egi yang kini sedang duduk di sofa ruang tengah.
Egi sedang sibuk dengan tablet di tangannya dan segelas kopi di hadapannya.
Egi langsung menoleh ke sumber suara dan tersenyum sumringah saat mendapati ternyata Vian dan Dion yang datang ke rumahnya.
"Ada apa ini? Tiba-tiba dua pria tampan datang berkunjung ke rumahku di hari Sabtu pagi" Egi sudah bangkit dari duduknya dan segera menyambut kedatangan Vian dan Dion.
Vian dan Dion tertawa renyah mendengar gurauan dari Egi.
Setelah saling bertanya kabar dan berbasa-basi sebentar, ketiga pria itu segera duduk kembali di sofa.
"Kau sedang sibuk?" Tanya Dion masih sedikit canggung pada Egi.
"Tidak juga. Hanya memeriksa beberapa email yang masuk" jawab egi sambil menunjukkan layar tabletnya.
Dion mengangguk,
"Sebenarnya aku kesini ingin minta bantuanmu" lanjut Dion lagi.
Egi terlihat mengernyit,
"Apa ada masalah?" Tanya Egi bingung.
Dion mengeluarkan beberapa map dari dalam tas yang tadi ia bawa dan menyerahkannya pada Egi.
"Kata Om Bimo kamu tahu keluarga ini" tukas Dion kemudian.
Egi membaca sekilas map yang tadi diberikan oleh Dion.
"Ya, aku tahu. Apa perusahaanmu bermasalah dengan perusahaan besar mereka?" Tebak Egi.
Dion langsung mengangguk cepat.
"Sebenarnya perusahaan milik papaku yang sedang mereka porak-porandakan sekarang. Aku tahu ini hanya soal persaingan bisnis. Tapi masalahnya mereka juga merampas satu persatu kantor cabang milik kami" cerita Dion panjang lebar.
Egi mengangguk paham.
"Jadi, kamu ingin bertemu dengan pimpinannya? Begitu?" Tebak Egi sekali lagi.
"Aku rasa mustahil bisa membicarakan hal ini dengan mereka dan mencapai kesepakatan damai" jawab Dion pesimis.
"Sudah berapa kantor cabang yang mereka ambil alih?" Tanya Egi penasaran.
Dion menggeleng,
"Hampir semuanya. Hanya tinggal satu kantor cabang kami yang masih bertahan dan itu ada di kota ini. Aku baru saja ingin memperbaikinya, tapi kata kakakku mereka sudah mulai mengincarnya juga..." Dion menghela nafas sebelum melanjutkan kata-katanya.
"...dan berita buruk lainnya, mereka ternyata tinggal di kota ini." Lanjut Dion lirih.
Dion tak mengerti ada dendam apa sebenarnya kenapa perusahaan sebesar itu bernafsu sekali menghancurkan perusahaan milik papa Rian yang tak seberapa. Lagi pula setelah Dion telusuri tak pernah ada masalah atau konflik apapun di antara dua perusahaan itu.
Egi meletakkan map tadi ke atas meja. Pria itu mengusap wajahnya beberapa kali sebelum mulai berbicara.
Elena datang membawa nampan berisi dua kopi dan camilan untuk kedua tamunya.
Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Elena.
Wanita itu seakan bisa merasakan aura ketegangan yang tengah melingkupi tiga pria di depannya.
Setelah Elena kembali ke dalam dan tak terlihat lagi, Egi mulai berbicara,
"Aku memang tahu perusahan itu, aku juga tahu direkturnya yang sekarang menjabat. Tapi aku belum pernah sekalipun bekerja sama atau berurusan dengan perusahaan itu..." Egi menjeda kalimatnya sekedar untuk menarik nafas panjang.
"...Selentingan kabar yang ku dengar, pimpinannya yang sekarang memang tipe orang yang ambisius dan gila kerja" lanjut Egi lagi.
Dion menghela menghela nafas putus asa. Apa itu artinya tidak akan ada harapan baginya untuk menyelamatkan perusahaan sang papa?
"Aku hanya ingin bertemu dan bicara dengan pimpinan mereka, tapi sulit sekali sepertinya" ujar Dion lirih.
"Mereka memang orang yang sulit" tambah Egi lagi.
Pria itu tampak berpikir sejenak.
"Tapi aku tahu siapa yang bisa membantumu" tukas Egi selanjutnya.
Dion langsung menyimak dengan antusias, semoga ini memang sebuah harapan.
"Siapa memang?" Tanya Vian kepo.
"Raka" jawab Egi singkat.
__ADS_1
Dion mengernyit bingung,
Siapa Raka?
Apa dia yang akan menjadi malaikat penyelamatnya sekarang?
Vian terlihat berdecak,
"Bukannya Raka masih di luar negeri mengurus cabang perusahaanmu yang ada di sana?" Tanya Vian tak mengerti.
"Aku menyuruhnya pulang. Mungkin lusa dia sudah ada di sini" jawab Egi santai.
"Patah hatinya sudah sembuh?" Tanya Vian sekali lagi.
"Aku rasa kita tak perlu membahas yang itu. Kita sedang membahas bisnis, Bang" pungkas Egi sedikit malas.
Abang iparnya ini, sejak kapan suka bergosip. Seperti ibu-ibu saja.
Dion masih merasa bingung dan tak mengerti,
Siapa Raka?
Mengapa patah hati?
Ada apa sebenarnya?
Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Dion dan Dion tak tahu harus bertanya pada siapa.
"Raka pernah bekerja untuk perusahaan Wijaya selama beberapa tahun, jadi aku rasa dia cukup dekat dengan keluarga itu. Raka akan membantumu bertemu dengan pimpinan dari perusahaan itu" Egi seperti bisa menangkap kebingungan di wajah Dion, jadi pria itu segera memberi penjelasan.
"Kau yakin?" Tanya Dion ragu.
Egi mengangguk.
"Ya. Aku akan mengabarimu jika Raka sudah kembali ke kota ini" wajah Egi menunjukkan raut keyakinan.
Dion sedikit bernafas lega, semoga ini memang jalan keluar untuk semua masalah yang rumit ini.
"Ngomong-ngomong, kalian benar pindah ke kota ini sekarang?" Egi mengalihkan topik pembicaraan.
Dion mengangguk,
"Ya. Kami masih menunggu rumah baru kami siap untuk di tempati." Jawab Dion menjelaskan.
"Baguslah kalau begitu. Rhea akan punya teman bermain sebentar lagi" ujar Egi sedikit terkekeh. Dion ikut terkekeh.
"Kenapa kalian tidak membuatkan adik saja untuk Rhea? Dengan sedikit adegan hot diranjang dan jadilah... " Vian mulai usil.
Egi berdecak sedikit malas.
Baru saja Egi akan menjawab pertanyaan konyol dari Vian, namun sebuah serbet sudah melayang dan tepat mendarat di wajah Vian,
Ternyata diam-diam Elena menguping pembicaraan para pria tersebut.
Dan sekarang Elena sedang berdiri berkacak pinggang sambil melotot ke arah Vian.
"El, apa-apain, sih?" Protes Vian tak terima.
"Apa memang?" Elena pura-pura tidak tahu.
Egi dan Dion menahan tawa mereka.
Lagi-lagi kakak beradik itu berselisih paham. Seperti kucing dan tikus saja jika mereka bertemu.
Bergegas Dion mengangkatnya
"Halo, Nat. Ada apa?" Tanya Dion setelah tahu yang menelpon adalah sang istri.
"Kamu di mana, Di?" Tasya balik bertanya di seberang sana.
"Aku sedang di rumah Egi bersama Vian. Apa kamu sudah pulang?" Jawab Dion menjelaskan.
"Iya, aku udah pulang. Yaudah aku cuma tanya. Hati-hati pulangya" pesan Tasya sebelum menutup telepon.
"Siap. Sampai jumpa nanti" pamit Dion sebelum telpon terputus.
Dion sudah kembali duduk bersama Egi dan Vian. Elena sudah tak terlihat lagi. Sepertinya sedang memasak di dapur.
"Dicariin istri tercinta?" Tebak Vian sok tahu.
Dion hanya terkekeh,
"Baiklah sebaiknya aku mengantarmu pulang sebelum istrimu mengamuk dan menelponmu lagi" Vian ikut terkekeh dan segera beranjak dari duduknya.
Dion ikut beranjak. Kedua pria itupun berpamitan pada Egi.
Egi mengantar keduanya hingga ke teras depan.
"Aku akan secepatnya menghubungimu jika Raka sudah tiba" ucap Egi sekali lagi sambil menepuk punggung Dion.
Dion mengangguk,
"Terima kasih untuk semuanya, Gi" jawab Dion tulus.
Dion dan Vian masuk ke dalam mobil dan segera melaju meninggalkan rumah Egi.
Jalanan sudah mulai padat, mungkin orang-orang akan pergi berlibur atau sekedar menghabiskan waktu bersama keluarga di luar. Weekend memang adalah waktu yang tepat.
"Ngomong-ngomong, tim sedang butuh asisten pelatih saat ini. Apa kau tidak berniat untuk mencobanya?" Vian membuka obrolan anatar dirinya dan Dion.
Di beberapa titik, laju mobil yang mereka tumpangi sedikit tersendat.
Dion tersenyum simpul,
"Aku sudah pensiun, Vi. " jawab Dion singkat.
"Itu hanya asisten pelatih, Di tidak akan sepadat saat kamu jadi pemain profesional" Vian masih mencoba membujuk sahabatnya tersebut.
Dion menggeleng cepat,
"Tidak untuk saat ini. Tapi mungkin di lain waktu aku akan memikirkannya. Sedang banyak masalah yang harus aku selesaikan sebelum mencoba hal baru sebagai asisten pelatih" tukas Dion mencoba berpikir bijak.
Vian tak menyahut lagi.
Dalam hati Vian membenarkan kata-kata Dion.
Mungkin Vian terlalu memaksakan kehendak.
Mobil yang membawa Dion dan Vian sudah berhenti sekarang di depan rumah tante Desi.
__ADS_1
"Bro, gue langsung balik. Ada urusan penting." Ujar Vian tanpa turun dari mobil.
Dion hanya mengangguk dan bergegas turun dari mobil milik Vian.
"Salam buat Tasya dan tante Desi" tambah Vian lagi.
"Oke. Makasih bro udah antar" Dion melambaikan tangan pada Vian, dan mobil Vian pun melaju meninggalkan rumah tante Desi.
Dion segera masuk ke dalam rumah.
*****
"Ada urusan apa bertemu Egi?" Tanya Tasya kepo.
Dion dan Tasya sedang duduk santai di halaman belakang rumah tante Desi menikmati angin sore yang terasa sepoi-sepoi.
Tadi tante Desi pamit untuk menjemput om Bimo ke kantor dan mereka akan langsung pergi makan malam di luar bersama beberapa klien om Bimo.
"Urusan bisnis. Kau tidak akan paham" jawab Dion asal.
Sontak hal itu langsung membuat Tasya mencebik.
Dion yang merasa gemas langsung mencolek hidung Tasya dengan mesra.
"Istriku semakin cantik kalau sedang ngambek" ujar Dion dengan nada menggoda.
"Dasar gombal" Tasya tak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak tertawa.
"Aku pikir kamu dan Egi masih musuhan" Tasya kembali terkekeh.
Dion mengernyit tak mengerti.
"Memang kapan kami musuhan?" Dion pura-pura tak paham.
"Tak perlu berpura-pura. Bukannya dulu kamu suka cemburu kalau aku ngobrol sama Egi" Tasya terkikik mengingat saat Dion cemburu buta pada Egi.
Dion berdecak,
"Itu kan dulu. Sekarang kamu sudah jadi istriku. Berarti kan aku yang menang, jadi gak perlu cemburu buta lagi" jawab Dion dengan nada sombong.
Tasya hanya mencibir
"Ngomong-ngomong Elena tadi mencarimu" Dion memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh, ya. Aku belum bertemu dengannya sejak kita ke sini." Ujar Tasya sedikit menerawang.
Berkas tentang kehamilannya yang kemarin dititipkan oleh Dokter Ina juga belum Tasya serahkan kepada Elena.
"Kapan kita akan menengok anak-anak kita lagi?" Tanya Dion antusias.
Tasya mengendikkan bahu,
"Aku baru kontrol seminggu yang lalu, masa harus kontrol lagi? Aku gak ada keluhan juga" sepertinya Tasya sedikit keberatan.
"Tapi aku suka melihat mereka, Nat. Mendengarkan detak jantung mereka..." Dion meletakkan kepalanya dipangkuan Tasya dan mulai membelai perut istrinya tersebut. Mendengarkan dengan seksama mungkin saja anak-anaknya akan kembali bergerak atalu sekedar memberikan sebuah tendangan.
"Kenapa mereka diam saja, Nat?" Tanya Dion sedikit kecewa.
"Mungkin mereka kekenyangan. Aku kan habis makan banyak tadi" jawab Tasya asal.
"Badanku semakin gemuk saja belakangan ini" Tasya mulai mengeluh.
"Kata siapa? Menurutku kamu semakin seksi sekarang" Dion mencoba menghibur istrinya.
Dion sendiri tidak terlalu mempermasalahkan tentang perubahan bentuk tubuh Tasya.
Bukankah Tasya sedang mengandung anak kembarnya?
Jadi menurut Dion wajar saja jika Tasya sedikit gemuk sekarang.
"Kamu memang paling pintar merayu" ujar Tasya seraya tertawa kecil.
"Dan kamu paling suka dirayu" sekali lagi Dion mencolek hidung istrinya.
Pipi Tasya sudah merona merah sekarang, membuat Dion semakin gemas dan ingin mengecupnya.
"Kamu tahu satu fakta yang baru saja ku baca." Ujar Dion sedikit berbisik.
"Apa itu?" Tasya balik bertanya dan merasa penasaran.
"Kalau sedang hamil disarankan untuk seting-sering bercinta" ucap Dion berbisik di telinga Tasya.
"Mesum!" Tasya langsung mencubit perut Dion, membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Ayolah, Nat mumpung rumah sedang sepi" bujuk Dion tak menyerah.
Tasya beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah sambil menahan tawanya,
"Masih sore, Dion" jawab Tasya sambil berlalu masuk ke dalam rumah.
Dion berjalan menyusul istrinya tersebut.
"Bagus kalau begitu. Kita bisa lembur sampai besok pagi." Dion masih mengekor di belakang Tasya.
"Enggak" Tasya tak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak tertawa.
"Ayolah!" Dion tetap berusaha.
"Enggak" Tasya terus berlalu menuju ke arah kamar.
"Aku akan memaksamu kalau begitu" Dion sudah meraih tubuh Tasya dan menggendongnya ke atas pundaknya.
"Dion lepaskan!" Tasya memukul-mukul punggung suaminya tersebut.
"Tidak akan" Dion berjalan masuk ke dalam kamar sambil masih membopong Tasya yang menjerit-jerit.
"Kamu akan memperkosaku?" Tanya Tasya sambil tertawa lepas
"Kamu yang memaksa" timpal Dion ikut tertawa.
Setelah berhasil masuk ke kamar segera Dion menutup pintu di belakangnya.
*****
Jangan lupa untuk mampir dan membaca "ISTRI KEMBARANKU" sebelum lanjut ke bab berikutnya...
Dan kalian akan paham siapa pimpinan dari perusahaan Wijaya yang ambisius dan gila kerja.
Oh ya, author juga mau ngemis Vote sesekali.
__ADS_1
Khusus minggu ini (tanggal 11 Juni- 20 Juni) author minta sumbangan vote ya dari kalian para pembaca yang budiman dan baik hati.
Gak harus banyak, 10 vote pun berarti dan author akan sangat berterima kasih.