Natasya

Natasya
Terlambat


__ADS_3

"Kak Kevin?" Ucap Tasya tak percaya saat mendapati siapa pria misterius yang bersandar di mobil milik Dion.


"Hai, Tasya. Lama tak berjumpa. Bagaimana kabarmu?" Tanya Kevin berbasa basi.


Tasya tampak salah tingkah.


Perasaannya mulai tidak enak. Ia ingin secepatnya pergi dari tempat ini.


"Aku baik, kak Kevin ngapain disini?" Tasya balik bertanya.


"Nungguin kamu pulang. Aku ingin bicara berdua denganmu" jawab Kevin.


Tasya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia merasa ada yang tidak beres.


"Bisa kita bicara di dalam saja, kak?" Usul Tasya sedikit ragu sambil menunjuk ke arah dalam kafe.


Kevin tak menjawab. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman parkir.


Suasana sudah sepi. Gerimis perlahan turun membasahi bumi.


"Masuk, Sya" Kevin malah membuka pintu mobil dan menyuruh Tasya masuk ke dalamnya.


Kalau Dion yang melakukan hal ini, tenti saja Tasya akan langsung menurut. Tapi ini Kevin, Tasya tampak semakin ragu.


"Aku akan mengantarmu pulang, sambil kita mengobrol" tawar Kevin.


Sekilas Tasya mencium bau khas alkohol dari mulut Kevin.


'Apa Kevin sedang mabuk?' Gumam Tasya tak percaya


"Tidak perlu, kak. Aku akan dijemput kak Ronny sebentar lagi" ucap Tasya cepat sambil melangkah mundur. Ia harus secepatnya pergi dari tempat ini.


"Masuk, Sya!!" Kevin menarik tangan Tasya dengan kasar dan memaksa gadis itu masuk ke dalam mobil.


Tasya menjerit antara kaget dan sakit karena Kevin mendadak bersikap kasar kepadanya.


Tasya sudah ingin menjerit minta tolong. Namun terlambat, Kevin membungkam mulut Tasya dengan sapu tangan yang entah diberi cairan apa.


Tasya segera merasa pusing dan semuanya menjadi gelap. Tasya pingsan tak sadarkan diri.


Kevin masuk ke dalam kursi kemudi dan segera tancap gas meninggalkan kafe tersebut.


*****


Ronny membelokkan mobilnya masuk ke halaman parkir kafe.


Suasana sudah sepi.


Ia sedikit terlambat menjemput karena tadi harus menghadapi kemacetan di beberapa titik.


Ronny dan Salsa segera turun dari mobil dan masuk ke dalam kafe.


Suasana di dalam juga sudah sedikit sepi.


Hanya ada beberapa pengunjung yang masih menikmati minuman mereka atau sekedar mengobrol dengan teman.


"Malam pelatih, tumben kesini" Denny yang juga baru datang beberapa saat yang lalu menyapa Ronny dan Salsa.

__ADS_1


"Hai, Den. Kita berdua mau menjemput Tasya" ucap Ronny.


Denny mengernyitkan kedua alisnya.


"Tasya bukannya udah pulang sedari tadi?


Kata karyawanku tadi Tasya sudah dijemput kakaknya" jawab Denny sedikit bingung.


Ronny dan Salsa langsung ikut terkejut.


"Tapi kami baru sampai, Den. Siapa yang jemput Tasya?" Tanya Salsa bingung.


Bergegas Ronny mengambil ponselnya dan menghubungi nomer Tasya.


Nomer tidak aktif. Hanya ada suara operator di seberang sana.


"Nomernya Tasya tidak aktif" ucap Ronny cemas.


"Den, bisa panggilkan karyawanmu yang tadi melihat Tasya keluar?" Pinta Ronny pada Denny.


"Baiklah akan ku panggilkan" Denny bergegas masuk ke dalam.


Beberapa saat kemudian, Denny sudah keluar lagi bersama seseorang yang memakai seragam pelayan.


Mereka berdua segera duduk bersama Salsa dan Ronny di satu meja.


"Jadi, siapa yang menjemput Tasya?" Tanya Ronny sambil memandang tajam pada anak muda di depannya tersebut.


"Entahlah. Orang itu memakai jaket dan naik mobil warna hitam. Saya kira itu kakaknya Tasya." Jawab karyawan itu.


Ronny tampak berpikir sejenak.


Karyawan itu mengangguk. Denny segera memberikan kode pada karyawan itu agar kembali bekerja.


Ronny mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.


Mencoba menerka-nerka siapa sebenarnya yang sudah menjemput Tasya.


"Apa tidak sebaiknya kita periksa ke rumahnya saja, kak? Mungkin Tasya sudah sampai di rumah" usul Salsa.


Ronny mengangguk.


"Baiklah kita kerumah Tasya sekarang." Ronny bangkit dari kursinya dan segera diikuti oleh Salsa.


"Pelatih, boleh saya ikut?" Tanya Denny. Ia juga khawatir pada Tasya.


Bagaimanapun, Tasya menghilang saat di kafe miliknya. Denny tidak mau sesuatu yang buruk menimpa Tasya.


"Baiklah, ayo!" Ucap Ronny sambil berlalu dan keluar dari kafe tersebut.


Ketiganya bergegas masuk ke dalam mobil Ronny dan mereka segera melaju menuju rumah Tasya.


Di Rumah Tasya,


Salsa mengetuk pintu rumah Tasya.


Setelah menunggu beberapa saat, Vira membuka pintu dan keluar.

__ADS_1


"Salsa, ada apa?" Tanya Vira bingung.


"Vir, Tasya udah pulang belum?" Tanya Salsa langsung pada intinya.


"Sepertinya belum," jawab Vira sedikit ragu.


"Sebentar aku periksa kamarnya" lanjut Vira akhirnya.


Ia tidur lebih awal tadi dan Tasya biasanya membawa kunci cadangan. Jadi mungkin Tasya sudah pulang tanpa Vira tahu.


Salsa mengangguk. Vira segera masuk kembali ke dalam rumah untuk memeriksa kamar Tasya.


Kosong


Tasya memang belum pulang.


Vira kembali ke depan untuk menemui Salsa.


Dan sekarang tidak hanya Salsa yang ada di terasnya. Melainkan ada Ronny dan Denny juga.


"Gimana, Vir?" Tanya Salsa masih cemas. Ia berharap Tasya sudah tidur lelap di kamarnya sekarang.


Vira menggeleng,


"Tasya belum pulang, Sal. Apa ada masalah?" Vira mulai cemas.


"Tasya menghilang dari kafe. Tadi kata salah satu karyawan di kafe ada orang misterius yang menjemput Tasya dan mengaku sebagai kakaknya," jelas Salsa.


Vira terkejut tak percaya. Masalah apalagi ini?


"Mama kamu kemana?" Tanya Ronny pada Vira.


"Mama ada tugas keluar kota. Mungkin minggu depan baru pulang. Apa sebaiknya aku menelpon mama?" Tanya Vira sedikit panik.


"Tidak. Jangan telpon mama kamu dulu. Kami akan mencari Tasya malam ini. Bisakah kamu menghubungiku kalau nanti Tasya pulang" pesan Ronny pada Vira.


Vira segera mengangguk.


"Ya," jawab Vira singkat.


"Baiklah, kami pergi dulu, Vir. Jaga dirimu baik baik" pesan Salsa pada Vira.


"Hati hati" balas Vira pada ketiga orang tersebut.


Salsa, Ronny, dan Denny segera masuk kembali ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Tasya.


Kekhawatiran tampak jelas di wajah ketiganya.


"Sal, aku antar kamu pulang dulu ya, udah larut. Aku takut mama papa kamu nyariin" Ronny memecah keheningan diantara mereka bertiga.


"Pelatih benar, Sal. Baiknya kamu pulang aja. Biar aku sama pelatih yang nyari Tasya" Denny ikut menimpali.


Salsa menghela nafas panjang.


"Baiklah, tapi bisakah kalian menghubungiku saat Tasya sudah ketemu? Aku sungguh khawatir" pesan Salsa penuh harap.


"Aku akan segera menghubungimu" ucap Ronny sambil mengelus lembut tangan Salsa.

__ADS_1


Ronny berusaha menenangkan gadis disampingnya tersebut meskipun jauh dalam hatinya juga ada kekhawatiran besar mengenai keberadaan Tasya.


Seharusnya Ronny menjaga Tasya, tapi hari ini entah bagaimana dirinya bisa kecolongan.


__ADS_2