Natasya

Natasya
Kecewa


__ADS_3

"Dion" ucap mama Sarla tak percaya.


Sejak kapan Dion berada di rumah sakit ini dan di dekat mereka.


Salsa juga sama terkejutnya dengan mama Sarla.


"Di, apa kamu tahu tentang kehamilan Tasya?" Tanya Ronny menyelidik.


Dion segera menggeleng dengan cepat.


"Tasya tidak pernah menceritakannya kepadaku" ucap Dion lemah. Tampak sekali raut kekecewaan di wajahnya.


"Apa itu adalah..." sekali lagi Ronny bertanya dan menyelidik.


"Aku dan Tasya belum pernah melakukan apapun. Kalo memang usia kehamilan Tasya sekitar tiga bulan, bukankah itu kejadian saat Tasya depresi dan di rawat di rumah sakit" potong Dion dengan cepat.


Deg,


Seketika Ronny terdiam.


Dion benar. Tiga bulan yang lalu adalah saat Tasya mengalami kasus penganiayaan dan pemerkosaan yang dilakukan oleh Kevin.


Apa itu artinya, Tasya hamil anaknya...Kevin.


"Jadi maksud kamu Tasya hamil karena kasus penganiayaan waktu itu?" Tanya Salsa dengan polosnya.


Dion mengangguk samar.


Raut kekecewaan semakin nampak jelas di wajah Dion, sekuat apapun pria itu menyembunyikannya.


"Bagaimana keadaan Tasya?" Tanya Dion mengalihkan pembicaraan.


"Dokter sedang melakukan tindakan," jelas mama Sarla.


Dion hanya mengangguk. Ia pun segera duduk di kursi yang tak jauh dari mama Sarla.


Hati Dion terasa sakit sekarang. Baru kali ini Dion merasakan sebuah kekecewaan yang tidak bisa lagi dijelaskan dengan kata kata.


*****


Tasya sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Kondisinya sudah membaik, namun pengaruh obat biusnya masih belum hilang. Tasya masih terlelap.


Dion yang kini duduk di samping ranjang Tasya hanya menatap kosong pada gadis di depannya tersebut.

__ADS_1


Gadis yang sudah hampir tiga tahun ini selalu menjadi tempatnya menumpahkan segala isi hati. Gadis yang selalu menjadi teman curhat sekaligus sahabat baiknya.


Gadis yang sangat Dion sayangi, Dion cintai dan Dion jaga dengan sepenuh hati.


Dulu, Dion sering cemburu buta saat Tasya dekat dengan laki laki lain. Namun Dion tidak pernah merasa sampe se kecewa sekarang.


Keraguan keraguan yang sejak tiga bulan lalu berusaha Dion hilangkan dari hatinya, mendadak kembali mencuat.


Dion merasa di dihianati. Tentu saja Dion kecewa, kenapa Tasya tak mau jujur kepadanya sedari awal.


Padahal mereka berdua intens berkomunikasi sejak Dion kembali ke Jakarta.


Namun tak ada sedikitpun, Tasya menceritakan tentang kehamilannya ini atau sekedar meminta pendapat dari Dion.


Dion mendadak berpikir,


'Mungkinkah Tasya juga menyimpan perasaan pada Kevin? Sehingga ia memilih untuk mempertahankan kandungannya dan tidak memberitahu siapapun?'


Entahlah, mendadak Dion menjadi jengah memikirkannya.


Dion masih menatap lekat wajah Tasya yang terlihat tenang dalam tidurnya.


Gadis ini...


Dion ingat saat pertama kali dirinya bertemu Tasya. Kepolosan serta senyum tulus Tasya waktu iti mengingatkan Dion pada seorang gadis kecil yang menangis sesenggukan di pinggir jalan.


Saat usia Dion tujuh tahun, papanya pernah membawa Dion bepergian ke sebuah kota. Saat mobil yang ditumpangi Dion berhenti fi lampu merah, Dion melihat seorang gafis yang sedang menangis sesenggukan entah apa penyebabnya.


Dion meminta izin pada papanya untuk menolong gadis tersebut.


Rupanya gadis itu menangis karena kue yang akan dia jual tak sengaja terjatuh. Dan gadis itu sedih karena akan pulang tanpa membawa uang.


Saat itulah, rasa iba di hati Dion kecil muncul. Dion memberikan beberapa lembar uang yang ada di sakunya untuk gadis malang itu.


Sejak saat itu, Dion terus mengingat wajah gadis kecil itu.


Dan sejak berjumpa dengan Tasya, entah mengapa hati kecil Dion merasa yakin kalau Tasya adalah gadis kecil itu.


Sejak saat itulah, Dion berjanji untuk selalu menjaga dan menyayangi Tasya.


Meskipun Dion mengakui kalau dirinya adalah pengecut saat itu.


Dion enggan mengumumkan tentang hubungannya dengan Tasya.

__ADS_1


Dion lebih memilih untuk menyembunyikan status pacarannya dengan Tasya.


Imej Dion sebagai cowok dingin dan ketus, membuat Dion tidak percaya diri.


Dion takut, Tasya akan dijauhi oleh teman temannya karena berpacaran dengan cowok aneh seperti dirinya.


Dan itu adalah suatu hal bodoh yang pada akhirnya Dion sesali.


Mungkin jika saat itu Dion jujur dan terbuka sejak awal tentang hubungannya dengan Tasya, mungkin Kevin tidak akan menaruh harapan besar pada Tasya.


Dan tentu saja Kevin tidak akan patah hati lalu melakukan hal nekat itu. Dan sekarang...


Semuanya sudah terlanjur. Dion bahkan masih tak mengerti kenapa saat itu dirinya mengambil keputusan bodoh semacam itu.


Tapi menyesali semuanya, sepertinya juga sudah tak ada gunanya sekarang. Sekuat apapun Dion meyakinkan dirinya sendiri, tetap saja kekecewaan di hati Dion tidak bisa hilang.


Dion kecewa kenapa Tasya tidak mau jujur atau terbuka kepadanya tentang ini semua. Bahkan Tasya menyimpan rapat semuanya.


Mimpinya beberapa hari terakhir ternyata memanglah sebuah firasat.


Mungkin Tasya memang tak lagi percaya kepadanya.


Mungkin Tasya sudah mulai ragu pada cinta Dion.


"Dion?" Tasya yang baru saja membuka matanya terkejut saat mendapati Dion yang kini tertunduk lesu di samping ranjangnya wajah dan penampilan Dion terlihat berantakan.


"Kau sudah bangun?" Tanya Dion dengan nada lembut.


Sebesar apapun rasa kecewa di hatinya, Dion tetap berusaha untuk bersikap lembut pada Tasya.


Dion masih takut Tasya terguncang seperti sebelumnya.


Namun kali ini sepertinya gadis ini terlihat lebih tegar.


"Kapan kamu sampai disini?" Tanya Tasya bingung.


"Aku disini sejak tadi siang. Aku turut prihatin dengan apa yang terjadi pada dirimu dan calon bayimu" ucap Dion dengan suara bergetar.


Seketika Tasya langsung terdiam.


Dion pasti sudah tahu semuanya. Apa yang harus Tasya lakukan sekarang?


Raut kekecewaan tampak jelas di wajah Dion.

__ADS_1


Kini Tasya merasa bersalah.


__ADS_2