
Dua bulan berlalu,
Dion sudah kembali menjalani rutinitasnya sebagai pemain profesional di kota yang berbeda dengan Tasya.
Keduanya kembali menjalani hubungan jarak jauh.
Sebisa mungkin, Dion mencurahkan perhatiannya pada Tasya.
Dion benar benar ingin memperbaiki semuanya dan menghilangkan keraguan di hatinya.
Kevin sedang menjalani hukumannya sekarang.
Papa Rian marah besar saat mendengar perbuatan Kevin dan enggan membela anaknya tersebut.
Berbeda dengan Mama Wina, meskipun ia marah dan terpukul, mama Wina tetap menangis saat tahu Kevin harus masuk ke dalam jeruji besi.
Tasya belum pulih sepenuhnya, namun sesuai saran dari psikiater yang menanganinya, Tasya kembali melanjutkan kuliahnya.
Tasya tetap harus melanjutkan hidupnya meskipun semuanya tak pernah sama lagi.
Kak Ronny semakin ketat menjaga Tasya.
Ia tak mau kecolongan untuk kedua kalinya.
Salsa dan Tasya kuliah di kampus yang sama, tentu saja ini semakin memudahkan Ronny dalam mengawasi Tasya.
Hubungan Ronny dan Salsa juga semakin membaik belakangan ini.
Ronny mendapatkan dukungan penuh dari kedua orang tua Salsa. Hal ini tentu saja menjadi angin segar bagi Ronny.
Meskipun Salsa masih sering cuek dan acuh terhadap dirinya, namun Ronny tetap tak menyerah.
"Bagaimana hubunganmu dengan Dion?" Tanya Salsa pada Tasya.
Kedua gadis ini baru saja keluar dari kelas terakhir untuk hari ini.
Seperti biasa, keduanya akan pulang bersama.
"Sejauh ini baik. Dion masih bersikap manis padaku" jelas Tasya dengan mata berbinar binar.
Jelas sekali kalau Tasya kini bahagia meskipun harus menjalin hubungan jarak jauh dengan Dion.
"Syukurlah kalau begitu. Aku ikut senang" ucap Salsa tulus.
"Kau sendiri, bagaimana hubunganmu dengan kak Ronny? Apa sudah ada kemajuan berarti?" Tasya mengalihkan pembicaraan.
Salsa mendengus kesal.
"Aku tak mengerti kenapa papa dan mama bersemangat sekali mendukung hubunganku dengan kak Ronny. Aku hanya menganggapnya teman, atau mungkin kakak atau om karena memang dia sudah om om" jawaban dari Salsa sontak membuat Tasya tergelak.
"Tapi, bukankah kalian sudah dekat beberapa bulan ini" Tasya masih belum menyerah.
"Memang kalau dekat berarti pacaran, trus bentar lagi nikah gitu" Salsa memutar bola matanya. Mendadak hatinya sedikit kesal.
Tasya hanya terkikik.
__ADS_1
"Pulang yuk" ajak Salsa, keduanya sudah sampai di tempat parkir rupanya.
Salsa segera mengambil motornya. Setelah memastikan sahabatnya sudah naik ke atas motor, Salsa segera melajukan motornya dan pulang.
*****
"Hai, Dion" Julian menepuk punggung Dion yang sedari tadi terlihat melamun.
Dua sahabat tersebut kini bermain di klub yang sama.
"Hai, Ju. Kau sudah makan?" Tanya Dion berbasa basi.
"Ada masalah apa?" Tanya Julian ingin tahu.
Sejak kembali dari cuti kemarin, Dion terlihat aneh dan sering melamun.
"Tidak ada. Semua baik baik saja" ucap Dion berbohong. Ia sedang tidak mau membahas tentang masalahnya saat ini.
Julian menghela nafas,
"Baiklah, kau bisa menceritakannya padaku kapan kapan. Aku siap mendengarkannya" ucap Julian tulus. Ia tahu kalau sahabatnya itu sedang ada masalah. Namun Julian juga tidak mau memaksa Dion untuk bercerita semuanya.
Mungkin Dion masih butuh waktu.
Julian berlalu dan meninggalkan Dion.
Dion masih termenung. Beberapa hari belakangan, Dion sering bermimpi tentang Tasya.
Ia sudah berusaha untuk menghapus semua keraguan dari hatinya, namun entahlah. Mimpinya belakangan ini seperti sebuah firasat yang Dion sendiri tak bisa mengartikan maknanya.
*****
Ketakutannya akhirnya menjadi kenyataan.
Namun kali ini tak ada air mata ataupun jeritan histeris dari Tasya.
Gadis itu sudah berubah menjadi gadis yang tegar.
Ini bukan kemauan Tasya, namun tetap saja Tasya tak bisa menolak ini semua.
Tasya meraih tas selempangnya dan bergegas keluar dari dalam kamarnya.
Rumahnya sepi. Mama Sarla sudah bekerja seperti biasa dan Vira sudah berangkat kuliah sedari tadi.
Hari ini Tasya tidak ada jadwal kuliah.
Namun Tasya akan pergi ke tempat lain.
Mungkin Tasya akan mengakhiri semua ini. Tasya sudah muak dengan segala hal yang berhubungan dengan Kevin.
Tasya tidak mau Dion meninggalkannya. Tasya tak mau menanggung semua ini sendirian.
Sebuah Taksi sudah menunggu Tasya di depan rumahnya. Tasya naik dengan tergesa. Setelah menyebutkan nama satu tempat, supir taksi itu mengangguk dan segera melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat.
*****
__ADS_1
Tasya masih duduk dengan bimbang di kursi sebuah ruang tunggu.
Beberapa pasangan yang keluar dari ruangan di depan Tasya selalu saja tersenyum bahagia.
Ponsel Tasya berbunyi,
"Halo, Dion" rupanya Dion yang menelponnya. Jantung Tasya berdegup tak beraturan.
"Kamu lagi dimana, Nat?" Tanya Dion lembut.
"Aku... aku lagi di perpustakaan kampus, Di. Ada apa?" Ucap Tasya berbohong. Tidak biasanya Dion menelpon dirinya pagi pagi begini.
"Tidak, aku hanya bertanya. Aku sedikit khawatir dengan keadaanmu jadi aku menelponmu" ucap Dion lagi.
Tasya menghela nafas.
"Aku baik baik saja, Di. Bagaimana kuliahmu?" Tanya Tasya berbasa basi. Ia mencoba untuk membahas hal lain.
"Kuliahku lancar sejauh ini. Aku ada kelas sebentar lagi. Aku tutup dulu ya telponnya" akhirnya Dion berpamitan. Tasya merasa sedikit lega.
"Iya, jaga dirimu, Di. Jangan pulang larut malam" pesan Tasya pada Dion.
"Kau juga, jaga dirimu baik baik. Nanti malam aku telpon lagi" pungkas Dion sebelum akhirnya menutup teleponnya pada Tasya.
Tasya menyimpan kembali ponselnya dan menerawang jauh ke arah jendela yang tak jauh dari ruang tunggu tersebut.
Mendadak dirinya menjadi dilema.
Tadinya ia datang kesini karena ingin mengakhiri semuanya.
Namun setelah mendengar percakapan beberapa pasangan yang ada di sampingnya, mendadak Tasya menjadi bimbang.
Tasya memang tidak menginginkannya, bahkan Tasya membenci orang yang sudah melakukan hal itu padanya. Namun apa Tasya akan setega ini untuk membunuhnya bahkan sebelum ia sempat melihat dunia?
Tasya juga adalah seorang anak yang tidak diinginkan. Kedua orangtuanya meninggalkan Tasya di sebuah panti asuhan saat Tasya baru lahir.
Tasya selalu berpikir jika orangtuanya adalah orang jahat dan egois.
Bahkan hingga kini, Tasya tidak pernah tahu siapa kedua orangtuanya. Dan kini, Tasya juga akan menjadi orang tua yang jahat dan egois.
Tasya akan membunuh calon bayi tak berdosa ini hanya demi keegoisan dan kebahagiannya sendiri.
Tasya memang takut kehilangan Dion, tapi apakah harus dengan cara seperti ini?
Butir bening jatuh di pipi Tasya. Buru buru gadis itu menyekanya.
"Maaf..." hanya kata itu yang keluar dari bibir Tasya.
"Aku akan mempertahankan dan merawatmu, meskipun aku tak pernah menginginkan kehadiranmu" gumam Tasya lirih.
Seorang perawat memanggil nama Tasya,
Buru buru Tasya berdiri dan masuk ke dalam ruang periksa.
Tasya tidak akan melakukan perbuatan keji itu...
__ADS_1
Tasya akan mempertahankannya, meskipun nanti Dion akan meninggalkannya.