Natasya

Natasya
SEASON KEDUA: EGI


__ADS_3

Flashback...


Egi sedang di kantornya, memeriksa beberapa berkas dan dokumen.


Raka baru saja tiba di kantor Egi.


"Pagi" sapa Raka sambil tersenyum hangat pada Egi.


"Pagi, Raka. Tumben kamu terlambat" ucap Egi tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan kertas yang ada di hadapannya.


"Macet" jawab Raka singkat sambil menampilkan senyuman garing.


Raka menyalakan laptop di atas meja kerjanya yang berada tak jauh dari meja kerja Egi.


Ya, dua orang itu memang bekerja di satu ruangan yang sama.


Meskipun dalam jabatan di perusahaan Egi adalah atasan dari Raka, namun Egi tak pernah bersikap kaku.


Egi lebih senang menganggap Raka sebagai rekan kerja.


Egi baru mengenal Raka setahun sebelum dirinya menikah dengan Elena.


Devan, abangnya Elena lah yang mengenalkan Egi pada Raka.


Saat itu Raka baru saja keluar dari perusahaan tempatnya bekerja karena satu alasan, dan Raka sedang mencari pekerjaan baru.


Devan yang merupakan sahabat Raka, langsung mengenalkan Raka pada Egi.


Pengalaman kerja Raka yang luas, membuatnya menjadi rekan kerja yang cocok untuk Egi.


"Apa Elena punya saudara yang bernama Adrian?" Tanya Raka tiba-tiba.


Egi yang tadinya fokus memeriksa berkas, langsung meletakkan kertas di tangannya dan menatap tajam pada Raka.


"Adrian siapa?" Egi malah balik bertanya.


Raka mengendikkan bahu.


"Aku bertemu Elena kemarin sore di pemakaman kota" Raka mulai bercerita.


Egi diam dan menyimak cerita dari sahabatnya tersebut.


"Aku melihat El berlutut dan menangis di sebuah makam, dan saat aku menyapanya, El langsung pergi meninggalkan makam itu" lanjut Raka panjang lebar.


"Lalu kau merasa penasaran dan melihat nisan di makam itu?" Egi mulai menebak.


Raka langsung mengangguk.


"Namanya Adrian. Meninggal sekitar empat tahun yang lalu" Raka menambahkan.


Egi tak menyahut, pria itu hanya diam sambil melihat ke arah luar jendela kantornya.


Pikiran Egi berkelana.


Yang Egi tahu, Elena hanya tiga bersaudara dan tak ada saudara laki-lakinya yang lain selain Devan dan Vian.


Nama Adrian sebenarnya juga tak asing lagi di telinga Egi.


Beberapa kali Egi mendapati Elena menyebut nama itu dalam tidurnya.


Siapa Adrian?


"Kau sendiri? Apa yang kau lakukan di pemakaman?" Tanya Egi menyelidik.


Sepertinya pria itu memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.


Raka berdecak


"Mengunjungi makam sahabatku. Apalagi? Kau pikir aku membuntuti istrimu?" Jawab Raka berapi-api.


Egi hanya tersenyum simpul.


"Aku hanya bertanya, Ra. Kenapa kamu emosi begitu?" Ujar Egi tak mengerti.


"Dan aku hanya memberimu informasi. Sudahlah! Pekerjaanku masih banyak" Raka memilih untuk menyudahi obrolannya dengan Egi.


Masih banyak email dan berkas yang harus Raka periksa.


Egi masih berdiri di tempatnya semula.


Pikirannya menerawang jauh, mengingat semua yang terjadi di kehidupannya.


*****


Egi baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun saat kedua orangtuanya mengalami sebuah kecelakaan.

__ADS_1


Sebuah titik balik di kehidupan Egi. Karena kecelakan tersebut langsung merenggut nyawa kedua orangtuanya.


Egi merasa sedih dan terpukul.


Saat itu usia Kiki baru dua belas tahun.


Kiki sama terpukulnya dengan Egi.


Bahkan gadis yang ceria itu sempat murung dan mengurung diri selama hampir sebulan.


Namun saat itu Egi sadar, kalau dirinya dan Kiki tetap harus melanjutkan hidup.


Untunglah ada beberapa sahabat dari kedua orangtuanya yang peduli pada Egi dan Kiki.


Merekalah yang menjadi orang tua asuh untuk Egi dan Kiki.


Saat Egi lulus SMA, Egi sudah harus belajar tentang menjalankan bisnis yang ditinggalkan oleh sang ayah.


Egi kuliah sambil bekerja dan juga mengambil peran sebagai orang tua untuk Kiki.


Egi selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Kiki. Karena bagi Egi, Kiki adalah segalanya saat itu.


Egi bekerja keras juga untuk Kiki.


Kebahagiaan Kiki adalah yang menjadi tujuan seorang Egi saat itu.


Egi bahkan lupa pada kebahagiaannya sendiri.


Egi tak pernah memikirkan tentang dirinya, hingga tanpa ia sadari usianya kian hari kian bertambah.


Egi bahkan tak pernah memikirkan tentang pacar atau jatuh cinta.


Hingga suatu hari Egi bertemu dengan Tasya, yang saat itu adalah teman kuliah Kiki.


Egi langsung terpesona saat pertama kali memandang wajah ayu Tasya. Egi juga merasakan perasaan yang dia sendiri tak tahu perasaan macam apa itu.


Egi ingin mendekati Tasya dan menyatakan perasaannya, namun gadis itu seperti menutup diri.


Hingga akhirnya Egi mendapati sebuah fakta bahwa Tasya memang sudah ada yang punya.


Apa Egi terlambat?


Entahlah.


Yang jelas saat itu Egi merasa kecewa dan sakit hati.


Egi memilih untuk membuang jauh perasaannya pada Tasya dan melupakan gadis itu, meskipun rasanya sulit.


Egi selalu menyibukkan dirinya dengan semua pekerjaannya di kantor, demi melupakan rasa sakit hatinya.


Egi hanya bekerja, bekerja, dan terus bekerja.


Lalu suatu malam, teman-teman SMA nya mengajak reuni kecil-kecilan di rumah Devan.


Saat itulah, Egi bertemu dengan Elena.


Devan mengenalkan Egi pada Elena.


Elena ternyata juga mengenal Kiki, adik Egi.


Dan sejak pertemuan itu, Egi mulai intens menghubungi Elena.


Egi sebenarnya juga tak tahu bagaimana perasaannya pada Elena saat itu.


Namun Egi merasa nyaman setiap kali dirinya bersama gadis itu.


Belum lagi keluarga besar Elena yang mendukung hubungan Egi dan Elena, akhirnya membuat Egi mantap meminang Elena sebagai istrinya.


Kedekatan Elena dengan Kiki juga membuat Egi semakin yakin kalau Elena adalah calon istri yang ideal.


Egi tak pernah mengorek atau mencari tahu tentang masa lalu Elena.


Keluarga besar Elena pun tak pernah menceritakan tentang masa lalu Elena atau tentang cinta pertama yang mungkin pernah dimiliki Elena.


Namun sejak awal Egi mengenal Elena, Egi seperti menangkap sebuah kesedihan di mata gadis itu.


Belum lagi sikap Elena yang saat itu selalu cuek dan acuh setiap Egi menghubunginya atau mengajaknya jalan.


Namun semua sikap acuh Elena itu berubah saat Egi mulai menyatakan perasaannya pada Elena.


Egi dan Elena akhirnya bertunangan dan mulai menjalani hubungan normal selayaknya orang yang sedang berpacaran.


Sejak saat itu juga, Egi tak pernah lagi memikirkan tentang Tasya.


Egi memilih untuk fokus dengan perasaannya pada Elena.

__ADS_1


Enam bulan setelah Egi dan Elena bertunangan, mereka pun menikah.


Dan semua berjalan seperti semestinya.


Elena mengambil peran yang baik sebagai seorang istri dan sebagai seorang kakak ipar untuk Kiki.


Kebahagiaan Egi semakin terasa lengkap dengan hadirnya Rhea, di tengah-tengah keluarga kecilnya.


Tiga wanita yang ia sayangi, hidup rukun dan saling menyayangi.


Sebuah kebahagiaan yang tak bisa di lukiskan dengan kata-kata.


Semuanya berjalan baik-baik saja, hingga malam itu...


Egi yang lembur menyelesaikan beberapa berkas, baru masuk ke kamar lewat tengah malam.


Elena dan Rhea sudah tertidur pulas.


Namun, saat Egi baru saja merebahkan tubuh lelahnya, Egi mendengar Elena menangis dalam tidurnya.


Elena menangis tersedu-sedu namun matanya tetap terpejam.


Dan saat itulah, Egi mendengar sebuah nama disebut oleh Elena secara berulang-ulang.


"Adrian"


Egi baru malam itu mendengar nama Adrian.


Egi tidak tahu siapa Adrian dan ada hubungan apa antara Adrian dan Elena.


Ingin rasanya Egi menanyakan perihal Adrian ini kepada Devan atau Vian. Namun Egi takut. Egi takut jika dia mengetahui kenyataan yang sebenarnya tentang Adrian, perasaannya pada Elena akan berubah.


Mati-matian Egi meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mencintai Elena. Namun jauh di lubuk hatimya masih saja ada keraguan tentang perasaannya pada Elena.


Kadang terbersit juga di pikirannya kalau Elena hanyalah pelarian dari perasaan Egi pada Tasya yang tak pernah terbalas.


"Gi!" Panggilan dari Raka yang lumayan keras membuyarkan semua lamunan Egi.


Egi menatap pada Raka.


"Ponsel loe bunyi" Raka menunjuk ke arah ponsel Egi yang tergeletak di atas meja kerjanya.


Bergegas Egi mengambil ponsel itu dan mengangkat telepon yang ternyata dari Elena.


Flashback off


*****


"Siapa Adrian?" Tanya Egi pada Elena yang sekarang berdiri mematung di hadapan Egi.


Tatapan Egi dan Elena saling bertemu, namun Elena tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan dari Egi.


Egi berdecak,


Mendadak ada nyeri di sudut hatinya.


"Apa Raka yang mengadu padamu?" Bukannya menjawab dan menjelaskan pada Egi, malah pertanyaan itu yang El lontarkan.


"Tidak juga" jawab Egi sambil menekan kuat-kuat pinggiran meja kerjanya. Egi ingin melampiaskan emosi yang mendadak membuncah di dadanya.


"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang," ucap Elena lirih. Butir bening sudah jatuh di pipi wanita itu.


"Kenapa? Apa dia orang istimewa di hatimu?" Egi tak dapat lagi menahan diri untuk tidak menaikkan nada bicaranya.


El semakin tergugu.


Tentu saja Adrian istimewa.


Rasa cinta El pada Adrian begitu besar, Adrian akan selalu menjadi yang teristimewa di sudut hati Elena yang paling dalam.


"Itu hanya masa lalu, Gi" Elena akhirnya membuka suara dan mencari pembenaran.


"Dan kau tidak pernah menceritakannya kepadaku?" Egi masih pada pendiriannya.


"Karena aku tak mau lagi mengingatnya. Terlalu sakit jika aku mengingat semuanya. Aku hanya berusaha untuk move on dan membuka hatiku untukmu. Aku berusaha untuk lepas dari semua masa lalu itu. Tapi nyatanya aku tak pernah bisa melupakan itu semua. Aku tak pernah bisa, Gi. Maaf" El keluar dari ruang kerja Egi dengan airmata bercucuran.


Elena langsung masuk ke dalam kamarnya.


Elena menangis untuk meluapkan semua kesedihan di hatinya.


Elena sudah berusaha, namun mimpi tentang Adrian selalu saja menghampirinya belakangan ini.


Dan sekarang, Egi mulai membahas dan bertanya tentang Adrian.


Elena bukannya tidak mau terbuka pada Egi, namun Elena hanya merasa belum siap jika harus menceritakan semua itu pada Egi sekarang.

__ADS_1


Di tambah pria itu sepertinya sedang emosi, Elena tak mau menyulut api pertengkaran di antara dirinya dan Egi.


__ADS_2